Seorang ibu dan seorang ayah yang baru saja menjadi ibu dan ayah dalam beberapa belas jam terakhir duduk saling menyandarkan kepala. Mereka menatap bayi sangat kecil milik mereka, yang diberi pancaran sinar hangat transparan agar tidak mati kedinginan. Di ruangan itu hanya mereka bertiga. Diam saja. Tidak ada yang berbicara.

Romantis, meresahkan, menyedihkan, hangat sekaligus dingin.

Tiga laki-laki yang tidak saling mengenal, tidak mendapat tempat menginap di negara orang karena kesalahan pemesanan via internet dan pihak hotel. Mereka lalu berkenalan dan membiarkan kamar satu-satunya kosong daripada menuruti rasa egois mereka. Kafe dan masjid bersejarah menjadi tempat mereka bernaung malam itu.

Kepercayaan, rasa terima kasih, lelah, kesal, jam-jam yang hangat sekaligus dingin.

Seorang bijak yang tidak pernah lama jauh dari keluarganya harus tidur sendiri malam itu. Dalam kesendiriannya ia sadar bahwa menjadi sendiri tidak seburuk yang dibayangkannya. Membuat markas rasa nyaman sendiri lalu terlelap. Hal terakhir yang ia lihat adalah karat-karat kelabu di jeruji rapat yang menjaganya agar tetap di dalam.

Kesepian, kesadaran, amarah, dingin sekaligus hangat.

Seorang laki-laki manja tidak bisa tidur. Lalu seorang wanita menyanyikan lagu untuknya agar malam yang seharusnya panjang jadi lebih bisa dinikmati. Telapak tangannya jadi merah seperti seseorang yang baru berpegangan tangan dengan sahabat barunya. Lehernya nyeri dan kaku karena menahan beban kepala wanita yang pertama kali tidur sepanjang malam di lengannya. Nyeri dan kaku leher itu dinikmatinya seharian.

Kebahagiaan, kesepian, dan kerinduan yang dingin sekaligus hangat.

Sebuah perasaan yang gagal didefinisikan dengan kata-kata, bukanlah sebuah kegagalan dan kebohongan. Sebuah perasaan yang gagal disampaikan dengan nada dan gerakan, bukanlah sebuah kesalahan dan kedangkalan. Sederhana, bahwa manusia dan interaksi di antaranya terlalu menyilaukan, yang harus dihadapi sendiri, dialami dengan wajah tegak lurus hingga mata berair dan kulit memerah. Berbalik sesekali, dengan punggung yang lalu hangat, lalu sadar bahwa silau itu tidak terlalu buruk, namun memberi kesan pada sisi yang kini dingin.

Saya siap untuk perasaan-perasaan menyilaukan yang dunia ini bisa berikan.

Kehidupan adalah tentang perubahan. Kematian pada hal yang tidak lebih baik, tepat, atau bugar—terjemahan harfiah dari fit—sepatutnya terjadi demi ketersediaan ruang bagi hal yang lebih baik. Pada konteks Darwin: pemberian ruang bagi individu lebih bugar, agar bisa melanjutkan kode genetik, yang diharapkan lebih ideal.

Kehidupan harus lebih baik. Seperti seorang putra yang hidup lebih baik dari ayahnya. Seperti sebuah kota yang lebih baik ketika satu nyawa hidup di dalamnya. Meninggalkan dunia, jika tidak jadi lebih baik, paling tidak sama dengan ketika kehidupan belum menyentuhnya. 

Lantas, ketika kehidupan telah sampai di puncak. Dalam rentang kebahagiaan dua hari sebelum hari raya dan satu hari sesudah hari raya, perubahan dengan sangat halus, mencari tempat, meringkuk tidak disadari, kerap kali tidak berarti: perubahan enggan diberi tempat.

Dua hari atau lebih sebelum hari raya. Saat kehidupan berputar pada liburan yang entah singkat atau akan panjang, bersiap dari siang, lalu menghabiskan sore dengan mengepak barang. Berangkat untuk perjalanan yang ditunggu sejak awal bulan menjelang.

Keluarga kecil atau besar. Bernostalgia dalam tempat-tempat dan memori berjangkar. Berfoto lalu bercerita setelah sholat ashar. Dalam perjalanan yang melelahkan, yang meski pada satu waktu menyebalkan, adalah harga yang sangat tinggi untuk sebuah kenangan.

Satu hari sebelum hari raya. Saat makanan yang sama, dimasak oleh anggota keluarga yang sama, lalu berbelanja dan berkumpul pada lengangnya jalan kota. Meski tidak serta merta dialami oleh semua dengan serupa, adalah pengulangan yang setia menjadi cerita.

Malam hari setelah bulan sabit tipis. Setipis pembatas antara rasa bahagia dan rasa ingin menangis, ia timbul dan tidak sia-sialah seharian yang habis. Milik nenek dan tante dan bude dan teteh yang mengiris tipis-tipis entah apa komposisi makanan asin pedas untuk hari yang manis.

Di antaranya bergumam dan berbising canda, keponakan, sepupu, dan sebutan lainnya. Di antaranya menguar harum masakan tiga per empat matang. Namun bersamanya, perasaan-perasaan matang menjadi hidangan utama.

Pagi hari raya yang penting, ketika detil tidak lagi perlu diambil pusing. Sebab pakaian, uang warna-warni, dan masakan sudah tersaji di piring. Berjalan bersama orang-orang asing, yang bersalaman meski tidak kenal, adalah penyempurna romantisasi malam tadi yang bising.

Kehidupan pasti berubah.

Sepuluh tahun, lima belas tahun, saat tiba waktunya berkurang sesuatu dari rumah ini, mungkin beliau dengan surat wasiatnya, dan kertas dinding terkelupas pertanda tiba waktu penggantiannya, kita adalah coretan dinding yang membuat rumah ini berharga sebagaimana yang pernah terjadi.”

Di atas sofa lembab yang tidak pernah dibersihkan, tahta sungkeman stereotip keluarga menengah, sebuah tanda perubahan melesak dalam-dalam.

Satu hari sesudah hari raya yang riuh rendah, makanan kemarin yang sudah tidak berkuah, dipanaskan sambil ditambah air, berharap sisa-sisa warna masih bisa menjadi rasa. Hangat, tidak tawar, tidak hambar, hanya seperti rahasia. Menolak hari ini dan sesudahnya. Malu-malu dan enggan menjadi dirinya.

Kehidupan harus berubah.

Demi tempat yang lebih baik bagi hal-hal baik di waktu berikutnya.

Kehidupan harus selalu berubah menjadi lebih baik.

Untuk kali pertama, sebuah perubahan dipertanyakan. Ketika kehidupan belum mau berubah. Ketika kehidupan sudah baik.

Kemanggisan akan berubah.

 

 

SADARkah kamu bahwa kita tidak pernah menyentuh apapun? 

Kita terdiri dari sekian pangkat atom yang bekerja sama, entah dengan kesadaran atau tidak. Atom-atom tersebut menyusun kita semua, termasuk saya, orangtua saya, paman saya yang baik, paman saya satu lagi yang pernah kesetrum radio, pemilik Camry yang mengemudi sambil merokok tadi siang, satpam yang bingung karena setiap hari saya kasih uang parkir beda-beda–kadang 2000, 2500, 3000, 5000, 2800, 7000, 3500, 2200– beserta koin-koin tersebut dengan segenap keluarga kuman di permukaannya, semua terbentuk dari atom.

Sahabat-sahabat atom yang kecilnya sulit dipahami itu memiliki kerabat dalam lingkup kecilnya yang laten; proton, neutron, elektron, deutron, atau apapun itu sebelum seseorang yang belajar fisika mengkritisi saya. Teman-teman atom itu berada pada jarak yang jauh satu sama lain, relatif terhadap ukuran mereka. 

Dari sekian milyar benda yang ada, semua itu terbentuk dari atom yang pada dasarnya adalah kosong. Kosong seperti benar-benar kosong. Tanpa materi atau mungkin antimateri, atau ranah lain yang tidak perlu disebut sebelum Professor Planck bangkit dari kubur.

Ketika saya memeluk ibu saya tadi pagi sebelum berangkat ke Puskesmas, atom-atom kami memberikan perlawanan satu sama lain. Dengan muatan lemah dalam tiap jarak terkecil, menolak atom-atom kami untuk ikut berpelukan. 

Ketika saya bercengkerama dengan dua sahabat saya di hembusan asap Perkedel Bondon untuk ke sekian kalinya, obrolan kami mengosong ke udara seperti perkedel dan uang di kantong kami. Menjadi kosong dan tidak tersentuh lagi. Sama dengan atom yang nihil dan tidak pernah bisa tersentuh.

Saya dan kamu mungkin sebanding dengan jarak antara elektron dan proton. Namun ketika saya dan kamu dibatasi oleh sungai dan jalanan Jasa Marga, proton dan neutron hanya diisi kekosongan.

Saya dan kamu tidak bersentuhan, namun begitu pula ketika bertemu dan bersalaman.

Saya dan kamu sejauh dan sekosong seperti yang sudah terjadi sebelumnya.

When two highly feelings atoms collided, turbulences can occur.

Jika atom tidak membuatmu frustasi, saya tidak tahu apa yang bisa.

Kamu seharusnya kagum. Pada besarnya kombinasi nada, ritme, progresi kord, dan penekanan yang menyebabkan lagu akan selalu baru bagi mereka yang mau mendengar. Aku berharap begitu.

Pada jutaan kombinasi pembukaan permainan catur dan jutaan kemungkinan pengocokan kartu remi. Kekalahanku bermain catur dengan adik kelas dan kocokan kartu sulap murahan penggaet wanita sekian tahun lalu tidak akan pernah terulang lagi.

Wajah sombong namun bangga teman masa remajaku yang berhasil menyelesaikan kubus rubik dengan algoritma itu mungkin bisa terulang. Tapi warna-warna yang berputar waktu itu tidak akan pernah lagi. Bahkan mungkin senyumnya pun tidak akan terulang, mengetahui bahwa kehidupan setelah wisuda tidak semudah kubus rubik dengan panduan algoritma yang dapat dibeli di toko buku diskon. Atau karena mengetahui bahwa kubus rubik kesayangan berlumur daki telah hilang dan sekarang harganya lebih mahal dari ongkos kereta api Bandung-Jakarta.

Kubus rubikku juga hilang.

Kalau tidak salah benda itu punya enam warna. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Putih, dan Hitam. Sejujurnya saya lupa warna mana yang ada dan warna mana yang tidak ada. Tapi menentukan dua warna yang akan saya hapus dari daftar-warna-yang-ada-di-kubus-rubik juga sama sulitnya. Sehingga lebih baik saya sebut semua karena mengecewakan warna bukan sesuatu yang baik. Apalagi mengecewakan manusia yang menyayangi kita. Seperti Ibu, Ayah, adik, kakak, pacar, teman-teman, satpam Puskesmas, Pak Budi, Iwan Fals, dan junjungan bumi alam Rasulullah S.A.W.

Dalam kubus rubik enam sisi dan sembilan warna terdapat empat puluh sekian sesuatu dengan digit yang jumlahnya terlalu sulit untuk dikomprehensi. Namun pengetahuan bahwa terdapat kombinasi sebesar itu didapat dari perenungan seorang ahli matematika yang tidak bisa tidur karena baru saja bertengkar dengan pasangannya dan kebetulan waktu maghrib baru minum cappuccino yang ternyata kurang susu sehingga sebenarnya bisa dikategorikan sebagai espresso berwarna pucat. Lagipula saya yakin ahli matematika banyak berasal dari negara radius kurang dari 2000 kilometer dari asal usul nama cappuccino.

Anggap satu sisi dari kubus rubik adalah hidupmu. Atau hidupku juga jika misalnya nanti kita punya satu kehidupan dengan segala kerumitan dan bunga-bunganya. Sayangnya jika kita menganalogikan kehidupan kita menjadi satu dalam satu sisi kubus, perbuatan itu akan mengontradiksi analogi yang akan dibuat.

Anggap satu sisi dari kubus rubik adalah hidupmu.

Di tengah sana ada kotak kecil berwarna merah atau jingga atau kuning atau hijau atau biru atau ungu atau putih atau hitam. Kotak itu keras kepala. Jika kamu putar dengan sekuat tenaga maka yang berputar adalah seluruh kubus itu terhadap tangan atau meja. Sampai sini kita setuju bahwa kotak kecil entah berwarna apa di tengah kubus itu adalah keras kepala sekaligus dirimu.

Lihat ke sebelah kirimu, lalu kanan, lalu depan, belakang, dan kalau bisa ke segala arah. Semua yang kamu lihat adalah buah perbuatan satu sama lain. Entah dalam kendalimu, atau dari luar sana sehingga tidak bisa diintervensi.

Buku-buku yang bertumpuk di meja, gorden yang berdebu, nyamuk yang hinggap, lagu yang berkumandang, sejadah yang terbentang, anggota keluarga yang memanggil barusan, dan notifikasi dari alat elektronik, bisa berada di tempat itu adalah karena perbuatan.

Pengetahuan, risiko, bahasa, kebudayaan, agama, keluarga, hubungan.

Kamu yang keras kepala dan berwarna entah apa, sangat sah untuk diam saja dan menunggu kedatangan warna-warna lain yang kadang cocok namun sering kali tidak. Sehingga kamu memindahkan sejadah, mengganti lagu, menepok nyamuk sesuai keinginanmu, dan lalu membuka bintik merah notifikasi.

Tanpa sadar kamu menggeser itu semua, ke dalam ranah lain yang kamu tidak ketahui seperti apa pengaruhnya. Kamu yang dengan sadar menarik apa yang kamu perlukan. Ke dalam lingkup kecilmu yang sesempit 3 x 3 meter.

Ketika kamu sudah menyempurnakan itu semua. Menjadi seorang paripurna yang bukunya bersih dari debu dan plastik pembungkus, gorden yang bersih, kamar yang bebas nyamuk, lagu yang bahasanya adalah bahasa kelimamu, sejadah dengan kompas kiblat presisi, anggota keluarga yang sehat, dan notifikasi yang tidak ada.

Maka ada buah perbuatan di tempat lain yang terjadi.

Sangat sulit menyempurnakan kehidupan, dan sekarang kamu tahu, itu berharga mahal pada kehidupan orang lain. Mungkin seharga kebebasan untuk memiliki sejadah berkompas kiblat presisi dan gorden warna biru milik orang dengan warna favorit hijau.

Kita bisa membuat semua sempurna. Dengan variabel sebanyak sekian ribu kali kubus rubik. Berakibat pada kombinasi yang lebih tidak mungkin lagi untuk dikomprehensi.

Butuh kerja keras. Serta algoritma lebih canggih yang mungkin hanya dijual di toko buku kredibel non diskon bersampul keras.

Jika kamu belum sempurna,

Saya adalah merah muda yang paling keras kepala.

 

 

 

 

Mengapa kita merayakan ulang tahun?

Bukanlah sebuah prestasi untuk sekedar terlahir. Untuk hidup dari tahun ke tahun. Untuk keseharian yang tiga ratus enam puluh lima. Tidak sulit pada zaman teknologi dan globalisasi untuk sekedar bertahan hidup. Lain halnya jika kita hidup pada abad pertengahan, di mana harapan hidup tidak sejauh ini, dan untuk bisa menembus usia paruh baya  pun adalah sebuah peraihan spektakuler.

Di dunia yang beracun. Ketika kita tidak terancam oleh peperangan, penyakit dan wabah, lingkungan yang rusak, kejahatan karena kebencian, banjir di stasiun dan rumah sakit, target rasisme, dijatuhkannya pejabat-pejabat yang hebat, motivator yang kehilangan integritas, kekurangan makanan, tornado, kekerasan dalam rumah tangga, dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri. Kita berhasil hidup untuk satu tahun lagi. Bahkan sangat mungkin untuk tahun-tahun berikutnya. Maka, selamat ulang tahun.

Ulang tahun hanyalah satu hari yang sama seperti hari-hari lainnya. Matahari sama panasnya, hujan sama basahnya, dan udara poliklinik sama pekat pesakitannya. Sebuah obligasi untuk menghargai setiap hari sebagai sebuah berkah, dengan rasa syukur, karena setiap menit adalah kebaikan dari yang maha kuasa.

Hidup ini sudah hiruk-pikuk dan padat. Tidak ada salahnya kita menghias perjalanan tidak masuk akal ini dengan kue, hiasan, dan barang-barang yang dibungkus kertas warna-warni. Sangat boleh pula kita menghias rumah yang sudah penuh, berantakan, dan padat isi.  Tentu tidak akan memburuk jika ditempel pita-pita lucu. Toh jika setiap hari adalah sama, tidaklah salah memberi nama pada satu selasa, atau rabu, atau kamis, yang kebetulan beruntung, dan menjadikannya hari bebas marah dan gelisah dari dini hari sampai selimut ditarik ke muka pada pukul 11 malam yang lelah. Maka, selamat ulang tahun.

Hidup ini sementara, dan kita sangat rentan terhadap rasa kehilangan. Kita takut kehilangan rasa nyaman, orang yang disayang, dan dunia. Sehingga kita beranggapan ada kehidupan sesudah kematian, berharap setelah kita meninggal akan bertemu dengan orang-orang yang sudah lebih dulu berada di langit surga sejuk. Bahwa hidup sementara, kefanaannya membuat ini kurang berharga.

Tapi bahkan jika kita hanyalah satu kerlip lampu di bentangan bumi ketika batas antara malam dan siang berputar. Bukankah lampu itu pun sempat menyala dan menjadi lampu yang menjadi tanda eksistensi kita. Menjadi kerlip yang berada dalam kumpulan lampu-lampu lainnya dalam penglihatan astronot yang mengambang-ngambang melamun. Maka, selamat ulang tahun.

Seorang ibu, dan seorang ayah, dan anak, dan bibi, dan paman, dan siapapun itu. Terbingung ketika ditanya kapan ulang tahunnya, kapan lahirnya, hari apa ketika ia pertama kali menjadi seorang ayah atau ibu. Hidup yang penuh durjana, hidup dari tangan ke mulut, dari subuh sampai maghrib, diselingi shalat 5 waktu berharap adanya keadilan dari Gusti yang maha kuasa. Boro-boro mengingat ulang tahun, nama lengkap kamu siapa? Ah anak saya terlalu banyak. Dagangan saya juga banyak, yang tidak laku.

Jika hidup dalam kesendirian dan kesulitan. Menjadi waktu untuk menyortir ulang hal-hal yang diperlukan, sekaligus yang tidak perlu. Merapikan mimpi-mimpi yang terlupakan di bagasi. Mencatat ulang hal-hal yang terlewat dalam daftar belanjaan. Mengingat kebahagiaan yang sedikit, yang pernah terjadi. Bahwa di tanggal ini saya pernah merasa bahagia. Menjadi jangkar atas rasa syukur dari potongan-potongan berkah yang dibagi oleh si Gusti yang maha kuasa.

Ulang tahun adalah sebuah propaganda keburukan dan keduniawian, hidup kita yang sebentar ini sesungguhnya hanya berkurang. Satu tahun menuju kematian yang lebih dekat. Satu tahun menuju ajal dan segala siksaan dua meter di bawah tanah.

Sama seperti sebuah gelas yang setengah kosong dan setengah penuh.  Hidup kita bertambah satu tahun lagi, atau berkurang satu tahun lagi. Bukan itu isunya. Sebuah ulang tahun tidak mesti menjadi pengharapan bagi tahun-tahun yang akan datang. Hal-hal buruk yang sudah dilewati, ujian-ujian berat yang berhasil dialami, dan momen-momen yang sudah ditabung, butuh untuk dipeluk dan diberi apresiasi. Bahwa yang tahun lalu tentu berbeda dengan yang hari ini.

Sibuk. Butuh efektivitas dan kebermanfaatan.

Sibuk. Butuh rasa syukur, perenungan, sedikit kebahagiaan ekstra, keluarga, kebaikan.

 

 

Tulisan miring adalah saya. Tulisan tidak miring adalah saya. Beberapa hari yang lalu saya mendapat notifikasi bahwa blog saya berulang tahun yang keenam. Berdekatan dengan ulang tahun keempat Nostra. Berjeda satu bulan setelah kepelikan ulang tahun Ibu dan Puput di mana saya  merasa saya gagal memberi kebahagiaan dan balasan pada kebaikan mereka. Sulit menjadi orang yang nihilis, optimis, pemalas, sekaligus sentimental di masa penuh ulang tahun. Tepatnya, bukan mengapa, tapi bagaimana. Bagaimana kita merayakan ulang tahun? Saya memilih dengan sederhana. Dengan penuh syukur dan sedikit rasa kenyang.

 

 

Minggu lalu Ompung dari Padang datang. Tidak disangka. Saya hanya pulang dan berharap bertemu orang-orang rumah seperti biasa. Namun terkejut waktu beliau keluar dari toilet rumah. Agak memendek, dan lebih kurus dari waktu terakhir bertemu 6 tahun yang lalu. Langsung saya peluk. Beliau mengajak saya mengobrol di atas. Waktu itu saya sangat mengantuk, pukul 10.30 malam, dan banyak tugas yang belum saya kerjakan dengan deadline besok pagi.

Saya berakhir di lantai, duduk bersila mendengarkan beliau bercerita. Cerita tentang dokter, kedokteran, dan cara menjadi sehat. Tentang anak-anak Ompung, dan pendapat-pendapat saya tentang beberapa hal. Sembari diam-diam menyalakan perekam suara di handphone, saya terus mendengarkan. Ompung beberapa kali lupa bahwa beliau berbicara dengan orang Bandung berdarah setengah Sumatera, Ompung berbicara bahasa Padang.

Saya menyalakan perekam suara di handphone saya, bagaikan mendengarkan seorang artis atau pernyataan pejabat publik. Kenyataannya, kata-kata Ompung itu suatu hari akan jauh lebih berharga.

Sampai jam 12 malam. Tanggung. Toh memang biasa saya kurang tidur dan kembali bangun jam 4.30. Ompung batuk-batuk jam 1 pagi waktu itu. Saya temani minum. Ompung seperti sesak dan kelelahan. Saya lupa berapa umurnya. Jam 5 saya bangunkan Ompung untuk shalat subuh. Beliau kaget karena kesiangan. Saya bilang kalau saya sudah shalat. Padahal belum.  Sudah lama sekali saya tidak shalat subuh. Beliau shalat sendiri sementara saya membereskan barang dan berpakaian, bersiap untuk berangkat lagi ke rumah sakit. Waktu pamit Ompung bilang “sungguh perjuangan”.  Meski yakin, Ompung dulu lebih keras perjuangannya, sekarang memang sudah waktunya bersantai di rumah saudara-saudara. Katanya Ompung pulang hari ini.

Saya berangkat lebih semangat dari biasanya. Sedikit sedih.

Sempat bimbang untuk tidak mengambil tawaran menarik jaga malam hari itu. Akhirnya tetap diambil juga. Ompung tidak jadi pulang hari ini. Saya kembali ke rumah pukul 11 malam. Mengintip kamar yang Ompung tiduri. Ternyata ada anak Ompung yang paling muda. Sudah tidur juga. Bang Seno terlentang. Ompung terlentang. Saya juga terlalu lelah, hanya ingin tidur cepat supaya bisa bangun jam 4 lalu mengobrol di perjalanan ke Masjid.

Agak sedikit kecewa, mungkin karena perjalanan nanti subuh ke Masjid tidak akan hanya berdua, Bang Seno pasti ingin ikut.

Lebih kecewa,karena saya tidak terbangun jam 4 pagi. Begitu pula Ompung dan mungkin Bang Seno.

Saya bersiap, mandi, mengintip ke kamar yang Ompung tiduri lagi. Ompung sedang mengobrol dengan Bang Seno. Saya tidak ingin bertemu dulu sebelum benar-benar akan berangkat. Akhirnya saya pamit, harus berangkat. Saya peluk Ompung erat-erat. Maaf Ompung, rencana saya dalam hati untuk shalat berjamaah di Masjid gagal. Rencana mengobrol di jalan sambil kedinginan subuh-subuh gagal. Gagal untuk kembali jadi anak kecil yang hanya mendengarkan Ompungnya bercerita. Saya peluk Ompung, kalau Ompung ke Bandung lagi, pasti saya ajak jalan-jalan dan makan-makan. Mengobrol di kendaraan. Lupa kemacetan. Cuma ingin kalau nanti Ompung ke Bandung lagi adalah akhir pekan.

Mungkin saya sudah lebih dewasa. Lebih ingin menghargai momen. Lebih ingin memanfaatkan waktu. Lebih butuh banyak wejangan dan sekedar cerita dari orang bijak. Dari pria-pria tua yang kebanyakan sudah pada pergi. Yang dulu saya tidak dengarkan ceritanya.

Saya berangkat kurang semangat dari biasanya.  Banyak sedih.

Klik suara lampu dimatikan
Pengunjung pulang
Penonton pulang
Tokoh utama pula kembali

Rangkumannya
Jenaka cerita perjalanannya
Berselimut tirai pertunjukkan
Yang ditunggu untuk ditutup
Barangkali tanpa sabar

Terbuka jari-jari
Menahan nyeri
Pedih silau pertunjukkan malam
Mengisi meja yang ditinggal
Waktu klik suara lampu dimatikan

Karena nyerinya sulit hilang
Punggungnya lebam
Memanggul perlengkapan untuk penampilannya
Yang sudah lama tidak laku

“Payah, obatnya terlalu manjur”