Rainer Weiss, Kip S Thorne, dan Barry C Barish masing-masing berusia 85, 77, dan 81 tahun ketika mereka meraih penghargaan paling prestisius di muka bumi dan muka mereka. Nobel fisika yang keajaibannya tiap tahun hanya bertambah ajaib tanpa mengurangi keajaiban-keajaiban sebelumnya.

Saya belum mencari tahu seperti apa wajah mereka yang telah mengeluarkan teorema tentang gelombang gravitasi, atau bahkan mungkin mereka sebenarnya tidak membuat formulasi dan teori, tetapi bekerja sebagai pembuat alat pendeteksi gelombang gravitasi, yang notabene pasti memerlukan berbagai macam formulasi dan pengejawantahan matematis. Saya tidak paham. Saya juga tidak tahu jika mungkin ternyata mereka sudah meninggal saat hadiah Nobel 2017 diumumkan dan nama merekalah sebagai pemenangnya.

Saya tidak tahu apakah mereka bertiga berteman baik. Saya tidak tahu jika mereka pernah bertengkar saat mengajukan argumen dan hal-hal yang sama sekali tidak berbau Nobel seperti kopi yang kebanyakan gula atau salah satu dari mereka datang terlambat sehingga membuat kopi yang kebanyakan gula itu tidak terminum karena mereka yang sudah sangat tua tidak mau minum kopi duluan tanpa sahabat fisikawan yang terlambat karena kunci sepedanya lupa disimpan di mana. Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya gambaran romantisasi para peneliti di film yang memberikan gambaran salah pada anak muda di seluruh dunia bahwa ilmuwan punya kantor dan mesin-mesin besar dan rekan kerja yang berbicara di belakang.

Mereka mungkin berpelukan lalu mengundang anggota keluarga masing-masing yang belum meninggal karena komplikasi diabetes dan berharap cucu-cucu mereka yang mampu berkuliah tanpa hutang ke negara bisa datang, juga cucu-cucu yang tidak sepintar itu namun masih bisa diatur untuk acara makan-makan keluarga kakek fisikawan yang nanti melunasi tagihan kalkun dengan hadiah Nobel yang besarnya ratusan ribu mata uang entah apa. Saya banyak tidak tahu. Yang saya tahu para peraih Nobel tidak materialistis dan meributkan biaya transfer antar bank yang besarnya 6500 rupiah.

Mereka mungkin lolos dari berbagai lubang hitam di masa muda. Dengan kebetulan atau dengan keajaiban dan usaha setengah mampus, mereka bisa hidup sejauh itu dan membuat pilihan-pilihan yang syukurnya tidak berujung sial-sial amat. Saya sendiri tidak tahu. Masih elektromagnetik. Gelombang gravitasi bisa lolos dari lubang hitam menembus lengkung ruang dan waktu dan pilihan dan belokan dan lalu tiba menabrak entah di sudut rumah yang mana. Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa sekarang lebih banyak lagi ilmu pengetahuan yang saya tidak tahu dan meskipun kemungkinan manusia bisa piknik ke planet sebelah makin besar, tapi kemungkinan saya pun sekaligus makin kecil.

Mereka mungkin merasa bangga sekali atas pencapaian mereka, lalu makin bersemangat untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa yang punya akun Instagram namun nanti juga punya laman Wikipedia dengan kolom peraihan: Nobel fisika 2042. Saya tidak tahu. Yang saya tahu mereka sangat produktif dan tidak ikut-ikutan voting di bilik suara negara saya ataupun di kotak IG Story teman-teman saya.

Nanti saya akan berusia 82 tahun, itu pun jika belum tewas sengsara karena nyeri pinggang atau kesedihan akibat istri yang berangkat duluan karena komplikasi hipertiroid, mungkin saya akan tidur nyenyak jika nama saya dinobatkan sebagai pemenang Nobel perdamaian, sastra, atau kedokteran.
Nanti mungkin saya yang sudah menjadi gelombang gravitasi bisa tetap bangun dan hidup sehat dengan sepatu Nike hijau-kuning muda yang dijaga terus agar tidak lapuk, karena sudah terlalu banyak yang lapuk bekas jogging via lubang hitam yang bikin masuk angin.

Atau mungkin saya masih tidak tahu.
Atau mungkin saya akan sangat sedih, berharap istri dan orang tua dan sahabat saya belum pergi, karena mereka pasti sujud syukur dan melihat saya dengan penuh kasih, karena beberapa hal memang mustahil terjadi. Seperti cerita peraihan Nobel atau sekedar hidup sampai presiden berganti ke 11 kalinya. Mungkin anak atau cucu saya yang semoga tidak kurang ajar dan nakal masih mau berkunjung membawakan DVD edisi kolektor film drama musikal tahun 2016 lalu menonton dengan bapak dan kakeknya yang pemenang hadiah Nobel tapi masih suka sekali film warna-warni bernyanyi-nyanyi dari 60 tahun yang lalu.

Atau mungkin saya hanya merasa puas lalu tidak melakukan apa-apa lagi. Karena tidak mau apa-apa lagi. Tidak mau lagi mengajar karena akan mengingatkan saya pada masa lalu yang penuh semangat dan impian bersama istri. Pada impian mustahil tentang membangun sekolah dari hadiah uang Nobel yang jika dirupiahkan bisa membangun 37 SD akreditasi A gedung kecil sekaligus staf-stafnya yang harus pintar-pintar. Pada impian-impian berharga yang tidak ada gunanya jika dilakukan sendiri. Pada impian luar biasa yang tidak lengkap jika tidak ada orang tua yang akan melihat lalu bangga dan memeluk saya dengan erat. Lagi-lagi yang menjadi pembeda antara saya dan para kaum peraih.

Saya memang tidak tahu. Belum lagi 21 tahun pun. Juga 24.

Advertisements

Ini adalah respon atas tulisan dan keadaan problematikmu kemarin.

Kami bertemu di Cihampelas setelah maghrib. Sejujurnya saya tidak siap untuk bertemu hanya berdua saja dengannya. Mungkin karena saya belum cukup pandai merengkuh keheningan di antara pembicaraan dan berbasa-basi. Mungkin karena saya sedang marah. Saya selalu marah.

“Boleh ga ini pembicaraan untuk di atas jam 10 aja?”

Dia di gambaran saya adalah orang yang berbeda. Menyimpulkan bahwa saya memang tidak pernah sebenar-benarnya memasuki pikiran dan segala gesturnya dulu. Meski kami pernah sedekat itu; liburan keluarga bersama, 12 orang pertama yang membangun sekolah dasar kami, mandi bersama, mempertengkarkan hal-hal kecil karena kecemburuan, dan krisis-krisis anak kecil yang saat itu terasa sangat penting. Kami sudah sangat berbeda. Dari tinggi badan hingga pemikiran. Dari suara omongan dan juga dandanan. Baru. Tapi tidak asing.

Tidak semua orang cepat panas dan senang diserang sehingga saya menghentikan obrolan dan akhirnya bisa bertemu dengan teman baik yang satu lagi.

Piring-piring kotor dan botol kosong terbentang di antara kami bertiga. Saya yang lepas darinya hampir selama 10 tahun ini diserang rasa penasaran yang pedas.

Saya tidak tahu apa yang merubahnya. Berapa kali ia menangis selama 5 tahun kuliah. Kenapa memutuskan untuk berkarir seperti orang tua kami. Siapa saja yang telah menyakiti hatinya dan menginspirasinya. Bagaimana kabar Bude Rini yang asma dan juga obat-obatannya yang dulu sangat mahal. Saya hanya memandangnya lekat-lekat orang yang dulu memanggil saya dengan panggilan “abang”. Dan kini yang keluar dari pikirannya adalah “Lo kenapa deket banget sama dia, meski seperti pelayanan satu arah.” Seraya saya menuangkan Ginger Ale ke gelas teman di sebelah saya dan menggeser lilin ke arahnya. Kami memang punya peran masing-masing.

Teman di sebelah saya bertanya padanya apakah dia punya adik atau kakak. Sekedar memastikan. Saya mewakilinya dengan kata-kata dari sinetron Aladin bahwa maka dari itu anak adalah investasi paling berharga. Kadang bukan diri sendiri. Dan Ramadhan tidak lagi semagis waktu kita masih kecil.

“Gue nulis duluan itu. Hak cipta atas kekayaan intelektual yang sangat umum. Jangan ngaku-ngaku ramadhan milik sendiri.”

Saya memang menyalahkan diri sendiri atas ide umum yang tidak ditulis duluan sehingga harus seakan berebut pemikiran di antara pecahan tulang ayam.

Teman yang kini menenggak Ginger Ale tawar karena kebanyakan es yang dituang tadi memang sudah tidak menulis lagi. Dia mengaku tidak banyak membaca, tapi ia membaca. Beberapa ucapannya bertransformasi menjadi manusia di kiri dan kanannya kemarin yang sedikit banyak menubuhkan kata-katanya dalam layar digital. Lagi-lagi tentang menilai seseorang. Saya tidak menilai seperti apa dia atas masa lalu yang kita lalui bersama. Atau keluarga dan hal-hal yang dia lakukan sekarang.  Atau tulisan dan persona dalam baris-baris teks yang menggelitik. Atau buku-buku yang dulu kita saling tukar dan diskusikan sesanggupnya.

Dia sadar dan bersyukur atas kesehariannya dulu di sekolah dasar bau krayon dan kotoran kuda. Sekolah kami tidak merubah kami saat itu, tapi ketika kami mengambil beberapa langkah ke belakang, lalu mengulik detail yang terlupakan, maka revelasi dan kebijaksanaan lah yang muncul dari masa-masa singkat penuh persiapan assembly dan lomba sepak bola yang tidak pernah dimenangkan.

Meski tiap bulan puasa, kami bertemu saat suara-suara kecil setiap orang teredam amukannya oleh bising dunia karir luar negeri dan konsep penerbangan teranyar. Baru kali ini suara-suara kecil saling menyerang dan mempertanyakan alasan-alasan di balik pakaian yang kita pakai. Pertemuan kemarin dengan dia, terutama perlintasan dengan salah satu teman tersayang saya yang lebih jauh, adalah bel yang sangat keras. Mengingatkan bahwa dunia lebih menggerahkan dari sofa kontrakan, untuk bangkit namun tidak lupa mengecilkan diri di hadapan kerumunan bukit-bukit padat berlian.

“Ketemu lagi? Minggu? Senin? Nanti kita ga punya cerita lagi sih.”

Harga suatu komoditas melonjak ketika suplai tidak seimbang dengan kebutuhan. Saya punya kebutuhan yang banyak, mungkin beberapa hal tidak akan turun harganya. Namun minggu dan senin akan terasa seperti jersey Thailand kualitas tinggi yang tetap saja dari Thailand. Batas, akan orang-orang berharga yang memukul-mukul tiang listrik. Juga harga pengharapan saya atas teman tersayang di sana, yang sebabnya lah tulisan ini ditulis.

Dia tidak lagi hilang. Dia pulang hanya beberapa belas menit setelah jam 10 namun semua pertanyaan cukup menemukan tempatnya. Kami telah meredakan amarah-amarah masa lalu yang tidak pernah sadar bahwa ia selalu ada. Kami telah saling berkunjung.

 

Anak-anak panuan menabung di buku lusuh mereka yang berisi paraf guru asal-asalan dan angka-angka kecil. Seribu, dua ribu, lima ribu. Tidak ada yang bisa menjawab karena anak-anak itu tidak bertanya dan para guru tidak meminta mereka untuk bertanya.

Lalu terjadi perdebatan tentang rumah yang tidak bergerak namun terus merangkak. Atas pohon di belakang hunian, yang harus setinggi apa agar bisa diajak diskusi. “Kamu harus mulai mengubah cara berpikir dan beraksi.”

Di tempat yang bermacam-macam, Ia meninggalkan ini dan itu dan banyak lagi, untuk membagi hartanya yang sedikit. Karena harga dari hartanya itu juga merangkak dan mulai belajar berjalan. Hingga suatu malam terjatuh, dan memarnya diusap hingga luruh menunjukkan merah dan biru warna-warna keramaian.

Pagi hari ketika bubur ayam pengkolan sedang disantap dan mie ayam pinggiran diseruput atas izin hutang tak berbunga, harga itu merangkak lagi. Tidak jatuh, tidak berjalan, hanya membaca, dan belum bisa bicara.

Dua belas jam hingga empat puluh delapan jam, ketika harga berlari dan bersahut-sahutan atas kebahagiaannya yang tak kunjung menurun. Digenapkannya sesuatu yang dulu merah dan biru warna benturan. “Baik-baik.”

Akhir cerita, siang itu Ia berjalan pulang, berbelanja, dan bertanya.

“Ini berapa harganya?”

“Semua.”

“Saya punya tiga ratus lima puluh ribu rupiah.”

“Boleh.”

“Ada di dalam buku lusuh bergambar Tut Wuri Handayani.”

“Coba ceritakan selengkapnya.”

“Lalu bagaimana jika saya hanya menabung dua ratus ribu rupiah?”

“Semua. Boleh.”

“Saya senang bisa memberi lebih.”

“Terima kasih.”

“Akan saya jaga baik-baik.”

“Baik-baik.”

Seorang ibu dan seorang ayah yang baru saja menjadi ibu dan ayah dalam beberapa belas jam terakhir duduk saling menyandarkan kepala. Mereka menatap bayi sangat kecil milik mereka, yang diberi pancaran sinar hangat transparan agar tidak mati kedinginan. Di ruangan itu hanya mereka bertiga. Diam saja. Tidak ada yang berbicara.
Romantis, meresahkan, menyedihkan, hangat sekaligus dingin.
Tiga laki-laki yang tidak saling mengenal, tidak mendapat tempat menginap di negara orang karena kesalahan pemesanan via internet dan pihak hotel. Mereka lalu berkenalan dan membiarkan kamar satu-satunya kosong daripada menuruti rasa egois mereka. Kafe dan masjid bersejarah menjadi tempat mereka bernaung malam itu.

Kepercayaan, rasa terima kasih, lelah, kesal, jam-jam yang hangat sekaligus dingin.

Seorang bijak yang tidak pernah lama jauh dari keluarganya harus tidur sendiri malam itu. Dalam kesendiriannya ia sadar bahwa menjadi sendiri tidak seburuk yang dibayangkannya. Membuat markas rasa nyaman sendiri lalu terlelap. Hal terakhir yang ia lihat adalah karat-karat kelabu di jeruji rapat yang menjaganya agar tetap di dalam.

Kesepian, kesadaran, amarah, dingin sekaligus hangat.

Seorang laki-laki manja tidak bisa tidur. Lalu seorang wanita menyanyikan lagu untuknya agar malam yang seharusnya panjang jadi lebih bisa dinikmati. Telapak tangannya jadi merah seperti seseorang yang baru berpegangan tangan dengan sahabat barunya. Lehernya nyeri dan kaku karena menahan beban kepala wanita yang pertama kali tidur sepanjang malam di lengannya. Nyeri dan kaku leher itu dinikmatinya seharian.

Kebahagiaan, kesepian, dan kerinduan yang dingin sekaligus hangat.

Sebuah perasaan yang gagal didefinisikan dengan kata-kata, bukanlah sebuah kegagalan dan kebohongan. Sebuah perasaan yang gagal disampaikan dengan nada dan gerakan, bukanlah sebuah kesalahan dan kedangkalan. Sederhana, bahwa manusia dan interaksi di antaranya terlalu menyilaukan, yang harus dihadapi sendiri, dialami dengan wajah tegak lurus hingga mata berair dan kulit memerah. Berbalik sesekali, dengan punggung yang lalu hangat, lalu sadar bahwa silau itu tidak terlalu buruk, namun memberi kesan pada sisi yang kini dingin.

Saya siap untuk perasaan-perasaan menyilaukan yang dunia ini bisa berikan.

Kehidupan adalah tentang perubahan. Kematian pada hal yang tidak lebih baik, tepat, atau bugar—terjemahan harfiah dari fit—sepatutnya terjadi demi ketersediaan ruang bagi hal yang lebih baik. Pada konteks Darwin: pemberian ruang bagi individu lebih bugar, agar bisa melanjutkan kode genetik, yang diharapkan lebih ideal.

Kehidupan harus lebih baik. Seperti seorang putra yang hidup lebih baik dari ayahnya. Seperti sebuah kota yang lebih baik ketika satu nyawa hidup di dalamnya. Meninggalkan dunia, jika tidak jadi lebih baik, paling tidak sama dengan ketika kehidupan belum menyentuhnya. 

Lantas, ketika kehidupan telah sampai di puncak. Dalam rentang kebahagiaan dua hari sebelum hari raya dan satu hari sesudah hari raya, perubahan dengan sangat halus, mencari tempat, meringkuk tidak disadari, kerap kali tidak berarti: perubahan enggan diberi tempat.

Dua hari atau lebih sebelum hari raya. Saat kehidupan berputar pada liburan yang entah singkat atau akan panjang, bersiap dari siang, lalu menghabiskan sore dengan mengepak barang. Berangkat untuk perjalanan yang ditunggu sejak awal bulan menjelang.

Keluarga kecil atau besar. Bernostalgia dalam tempat-tempat dan memori berjangkar. Berfoto lalu bercerita setelah sholat ashar. Dalam perjalanan yang melelahkan, yang meski pada satu waktu menyebalkan, adalah harga yang sangat tinggi untuk sebuah kenangan.

Satu hari sebelum hari raya. Saat makanan yang sama, dimasak oleh anggota keluarga yang sama, lalu berbelanja dan berkumpul pada lengangnya jalan kota. Meski tidak serta merta dialami oleh semua dengan serupa, adalah pengulangan yang setia menjadi cerita.

Malam hari setelah bulan sabit tipis. Setipis pembatas antara rasa bahagia dan rasa ingin menangis, ia timbul dan tidak sia-sialah seharian yang habis. Milik nenek dan tante dan bude dan teteh yang mengiris tipis-tipis entah apa komposisi makanan asin pedas untuk hari yang manis.

Di antaranya bergumam dan berbising canda, keponakan, sepupu, dan sebutan lainnya. Di antaranya menguar harum masakan tiga per empat matang. Namun bersamanya, perasaan-perasaan matang menjadi hidangan utama.

Pagi hari raya yang penting, ketika detil tidak lagi perlu diambil pusing. Sebab pakaian, uang warna-warni, dan masakan sudah tersaji di piring. Berjalan bersama orang-orang asing, yang bersalaman meski tidak kenal, adalah penyempurna romantisasi malam tadi yang bising.

Kehidupan pasti berubah.

Sepuluh tahun, lima belas tahun, saat tiba waktunya berkurang sesuatu dari rumah ini, mungkin beliau dengan surat wasiatnya, dan kertas dinding terkelupas pertanda tiba waktu penggantiannya, kita adalah coretan dinding yang membuat rumah ini berharga sebagaimana yang pernah terjadi.”

Di atas sofa lembab yang tidak pernah dibersihkan, tahta sungkeman stereotip keluarga menengah, sebuah tanda perubahan melesak dalam-dalam.

Satu hari sesudah hari raya yang riuh rendah, makanan kemarin yang sudah tidak berkuah, dipanaskan sambil ditambah air, berharap sisa-sisa warna masih bisa menjadi rasa. Hangat, tidak tawar, tidak hambar, hanya seperti rahasia. Menolak hari ini dan sesudahnya. Malu-malu dan enggan menjadi dirinya.

Kehidupan harus berubah.

Demi tempat yang lebih baik bagi hal-hal baik di waktu berikutnya.

Kehidupan harus selalu berubah menjadi lebih baik.

Untuk kali pertama, sebuah perubahan dipertanyakan. Ketika kehidupan belum mau berubah. Ketika kehidupan sudah baik.

Kemanggisan akan berubah.

 

 

SADARkah kamu bahwa kita tidak pernah menyentuh apapun? 

Kita terdiri dari sekian pangkat atom yang bekerja sama, entah dengan kesadaran atau tidak. Atom-atom tersebut menyusun kita semua, termasuk saya, orangtua saya, paman saya yang baik, paman saya satu lagi yang pernah kesetrum radio, pemilik Camry yang mengemudi sambil merokok tadi siang, satpam yang bingung karena setiap hari saya kasih uang parkir beda-beda–kadang 2000, 2500, 3000, 5000, 2800, 7000, 3500, 2200– beserta koin-koin tersebut dengan segenap keluarga kuman di permukaannya, semua terbentuk dari atom.

Sahabat-sahabat atom yang kecilnya sulit dipahami itu memiliki kerabat dalam lingkup kecilnya yang laten; proton, neutron, elektron, deutron, atau apapun itu sebelum seseorang yang belajar fisika mengkritisi saya. Teman-teman atom itu berada pada jarak yang jauh satu sama lain, relatif terhadap ukuran mereka. 

Dari sekian milyar benda yang ada, semua itu terbentuk dari atom yang pada dasarnya adalah kosong. Kosong seperti benar-benar kosong. Tanpa materi atau mungkin antimateri, atau ranah lain yang tidak perlu disebut sebelum Professor Planck bangkit dari kubur.

Ketika saya memeluk ibu saya tadi pagi sebelum berangkat ke Puskesmas, atom-atom kami memberikan perlawanan satu sama lain. Dengan muatan lemah dalam tiap jarak terkecil, menolak atom-atom kami untuk ikut berpelukan. 

Ketika saya bercengkerama dengan dua sahabat saya di hembusan asap Perkedel Bondon untuk ke sekian kalinya, obrolan kami mengosong ke udara seperti perkedel dan uang di kantong kami. Menjadi kosong dan tidak tersentuh lagi. Sama dengan atom yang nihil dan tidak pernah bisa tersentuh.

Saya dan kamu mungkin sebanding dengan jarak antara elektron dan proton. Namun ketika saya dan kamu dibatasi oleh sungai dan jalanan Jasa Marga, proton dan neutron hanya diisi kekosongan.

Saya dan kamu tidak bersentuhan, namun begitu pula ketika bertemu dan bersalaman.

Saya dan kamu sejauh dan sekosong seperti yang sudah terjadi sebelumnya.

When two highly feelings atoms collided, turbulences can occur.

Jika atom tidak membuatmu frustasi, saya tidak tahu apa yang bisa.

Kamu seharusnya kagum. Pada besarnya kombinasi nada, ritme, progresi kord, dan penekanan yang menyebabkan lagu akan selalu baru bagi mereka yang mau mendengar. Aku berharap begitu.

Pada jutaan kombinasi pembukaan permainan catur dan jutaan kemungkinan pengocokan kartu remi. Kekalahanku bermain catur dengan adik kelas dan kocokan kartu sulap murahan penggaet wanita sekian tahun lalu tidak akan pernah terulang lagi.

Wajah sombong namun bangga teman masa remajaku yang berhasil menyelesaikan kubus rubik dengan algoritma itu mungkin bisa terulang. Tapi warna-warna yang berputar waktu itu tidak akan pernah lagi. Bahkan mungkin senyumnya pun tidak akan terulang, mengetahui bahwa kehidupan setelah wisuda tidak semudah kubus rubik dengan panduan algoritma yang dapat dibeli di toko buku diskon. Atau karena mengetahui bahwa kubus rubik kesayangan berlumur daki telah hilang dan sekarang harganya lebih mahal dari ongkos kereta api Bandung-Jakarta.

Kubus rubikku juga hilang.

Kalau tidak salah benda itu punya enam warna. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Putih, dan Hitam. Sejujurnya saya lupa warna mana yang ada dan warna mana yang tidak ada. Tapi menentukan dua warna yang akan saya hapus dari daftar-warna-yang-ada-di-kubus-rubik juga sama sulitnya. Sehingga lebih baik saya sebut semua karena mengecewakan warna bukan sesuatu yang baik. Apalagi mengecewakan manusia yang menyayangi kita. Seperti Ibu, Ayah, adik, kakak, pacar, teman-teman, satpam Puskesmas, Pak Budi, Iwan Fals, dan junjungan bumi alam Rasulullah S.A.W.

Dalam kubus rubik enam sisi dan sembilan warna terdapat empat puluh sekian sesuatu dengan digit yang jumlahnya terlalu sulit untuk dikomprehensi. Namun pengetahuan bahwa terdapat kombinasi sebesar itu didapat dari perenungan seorang ahli matematika yang tidak bisa tidur karena baru saja bertengkar dengan pasangannya dan kebetulan waktu maghrib baru minum cappuccino yang ternyata kurang susu sehingga sebenarnya bisa dikategorikan sebagai espresso berwarna pucat. Lagipula saya yakin ahli matematika banyak berasal dari negara radius kurang dari 2000 kilometer dari asal usul nama cappuccino.

Anggap satu sisi dari kubus rubik adalah hidupmu. Atau hidupku juga jika misalnya nanti kita punya satu kehidupan dengan segala kerumitan dan bunga-bunganya. Sayangnya jika kita menganalogikan kehidupan kita menjadi satu dalam satu sisi kubus, perbuatan itu akan mengontradiksi analogi yang akan dibuat.

Anggap satu sisi dari kubus rubik adalah hidupmu.

Di tengah sana ada kotak kecil berwarna merah atau jingga atau kuning atau hijau atau biru atau ungu atau putih atau hitam. Kotak itu keras kepala. Jika kamu putar dengan sekuat tenaga maka yang berputar adalah seluruh kubus itu terhadap tangan atau meja. Sampai sini kita setuju bahwa kotak kecil entah berwarna apa di tengah kubus itu adalah keras kepala sekaligus dirimu.

Lihat ke sebelah kirimu, lalu kanan, lalu depan, belakang, dan kalau bisa ke segala arah. Semua yang kamu lihat adalah buah perbuatan satu sama lain. Entah dalam kendalimu, atau dari luar sana sehingga tidak bisa diintervensi.

Buku-buku yang bertumpuk di meja, gorden yang berdebu, nyamuk yang hinggap, lagu yang berkumandang, sejadah yang terbentang, anggota keluarga yang memanggil barusan, dan notifikasi dari alat elektronik, bisa berada di tempat itu adalah karena perbuatan.

Pengetahuan, risiko, bahasa, kebudayaan, agama, keluarga, hubungan.

Kamu yang keras kepala dan berwarna entah apa, sangat sah untuk diam saja dan menunggu kedatangan warna-warna lain yang kadang cocok namun sering kali tidak. Sehingga kamu memindahkan sejadah, mengganti lagu, menepok nyamuk sesuai keinginanmu, dan lalu membuka bintik merah notifikasi.

Tanpa sadar kamu menggeser itu semua, ke dalam ranah lain yang kamu tidak ketahui seperti apa pengaruhnya. Kamu yang dengan sadar menarik apa yang kamu perlukan. Ke dalam lingkup kecilmu yang sesempit 3 x 3 meter.

Ketika kamu sudah menyempurnakan itu semua. Menjadi seorang paripurna yang bukunya bersih dari debu dan plastik pembungkus, gorden yang bersih, kamar yang bebas nyamuk, lagu yang bahasanya adalah bahasa kelimamu, sejadah dengan kompas kiblat presisi, anggota keluarga yang sehat, dan notifikasi yang tidak ada.

Maka ada buah perbuatan di tempat lain yang terjadi.

Sangat sulit menyempurnakan kehidupan, dan sekarang kamu tahu, itu berharga mahal pada kehidupan orang lain. Mungkin seharga kebebasan untuk memiliki sejadah berkompas kiblat presisi dan gorden warna biru milik orang dengan warna favorit hijau.

Kita bisa membuat semua sempurna. Dengan variabel sebanyak sekian ribu kali kubus rubik. Berakibat pada kombinasi yang lebih tidak mungkin lagi untuk dikomprehensi.

Butuh kerja keras. Serta algoritma lebih canggih yang mungkin hanya dijual di toko buku kredibel non diskon bersampul keras.

Jika kamu belum sempurna,

Saya adalah merah muda yang paling keras kepala.