Archive

Monthly Archives: May 2012

Aku terbisu ..
melihat ribuan pelayat pengantar Onyek… 
mereka berulos, 
mereka berjilbab, 
mereka berjas penghormatan, mereka berpeci. 

bertopi haji, mereka hitam, mereka putih sipit, 

mereka menangkupkan tangan khidmat, 
mereka membuat tanda salib… 
mereka menengadahkan tangan…
Kornel… 
Aku takjub, melihat mereka yang mengantarmu… 
mereka adalah Indonesia yang kau impikan…. 
Aku tak ingin menangis hari ini.

Aku, Sahat, dan Jeffrey (sahabat kesayanganmu)
tadi malam berjanji, 
tidak ada lagi airmata… 
namun aku gagal.. 
kembali airmata menetes..

bukan karena sedih..sobatku, bukan karena sedih.. 
tapi karena haru,, 
bangga melihat cinta orang-orang yang mengantarmu hari ini… 
mereka lah refleksi cintamu pada mereka… 

Seorang Pendeta Buddha 
dari forum lintas agama kulihat di sudut terisak dalam tangan yang memeluk tasbihnya.. 
Aku melihat saudara-saudara Tionghoa ku mendoakan dalam tunduk yang dalam, 
Aku terkejut melihat sahabat2 muslim mu yang demikian tulus mengantar.. 

Andai kita bisa melihat Tuhan tersenyum, 
kesinilah kawan2… 
Lihatlah Tuhan kita tengah tersenyum.. 
Berjajar malaikat menjemput ruh yang demikian murni dan lembut penuh cahaya cinta…

Inilah Indonesia yang sejati, dimana Tuhan menitipkan cintaNya yang paling rahasia di hati manusia-manusia sederhana yang penuh kasih.. 

Disinilah aku berurai airmata, bersisian dengan sahabat-sahabat Onye, berikrar.. 
Aku bertekad akan meneruskan semangat dan perjuangan mu.. 
Aku berjanji.. 
Aku berjanji.. 
Maafkan airmataku sahabat.. 
Pulanglah ke pelukan Tuhan yg tak sabar menantimu.. ingin memelukmu.. 
Pulanglah sayang, 
sahabat sayang…

TM Pandu, Bandung
24 Mei 2012

(Illon, Nila Ning)

 

Dibuat oleh Ibuku, untuk Kornelis Onyek Sihombing yang beristirahat di Gunung Salak. Dibacakan di kebaktian GKI minggu dan senin pagi.

Bukan soal kepercayaan, atau iman. Ini pluralisme. Inilah rahmatan lil alamin.

Advertisements

“Orang baik matinya cepet”
Meninggal di Atap Dunia seperti Soe Hok Gie.
Pergi membawa kegelisahan dan mimpi-mimpi besar.
Menempelkan sisa kebaikan dan ketulusan bagi orang-orang yang pernah kenal dengannya.
“Di tengah pertentangan, Ia tegak berdiri demi kemajuan bangsa”

Semoga beristirahat dengan tenang, Prof. Wijajono Partowidagdo. Wamen ESDM. Pemimpin. Pengajar. Pendidik.

Bisa jadi gara-gara dibunuh, assassination gitu deh.
Dari ribuan taun yang lalu juga udah jadi kebiasaan kan. Orang yang membahayakan pihak mana atau nyerempet-nyerempet rahasia gitu deh dibunuh karena kepentingan
sendiri atau rame-rame.

Kayak Bapak Prof ini nih… Dalam pandangan su’udzon realistis penulis. Bapak yang terhormat ini meninggal karena dibunuh. Loh kok bisa.
Bukan dibunuh sama geng motor atau digantung di Monas, tapi beliau ini dibunuh oleh pihak intelejen.
Nahloh ga tau deh ya, gitu deh kata penulis mah. KATA SAYA LOH KATA SAYA.

Kecurigaan saya berawal saat mendengar kabar dari Ibu yang menangis sesenggukan katanya Pak Wied meninggal di Gunung Tambora.
Beliau dosen yang dulu cukup dekat dengan Ibu, rekan yang baik dan visioner lah, dengan kerendahan hati, kenyentrikan dan ide-ide luar biasanya untuk memajukan bangsa.
Katanya sehat-sehat saja, dengan catatan kesehatan yang lumayan baik, tanpa riwayat sakit jantung, pendaki dari mahasiswa.
Meninggal di gunung karena sakit jantung, kehabisan napas. Udah tua memang. Tapi ga masuk akal aja.

Tercium bau konspirasi nih.

Ibu pulang melayat, terus ngobrol-ngobrol dengan temannya. Katanya Pak Wied, karena pejabat negara, dipaksa untuk check-up dan selalu memeriksakan kesehatan di RS.XXXXXXXXX
Dari situ diceritakan kalau data-data kesehatan mungkin diarsipkan semua oleh para Intelejen, sebagai ‘pengontrol’ dan ‘database’ mereka.
Jadi kalo para pejabat negara bertindak aneh-aneh atau membahayakan para mafia, dengan mudah mereka bisa mengetahui segala seluk-beluk mereka.
Dilihat juga kebiasaan-kebiasaannya, Pak Wied biasa kesini-kesitu, main ini-itu, berolahraga dan mendaki..
Ketika ada jadwal mendaki, mereka bertindak, syuuuuuuuuuut. Lalu tiba-tiba kena serangan jantung deh beliau.

Ibu langsung ngasih tau temennya yang Dirut mana gitu. Temen deketnya sih, mudah-mudahan percaya.

Ibu juga pernah cerita tentang teman-temannya yang meninggal karena alasan yang kurang rasional.
Temannya di Freeport misalnya, peneliti nyamuk tapi di Freeport.
Meninggal di kamar hotel setelah dikabarkan sehat-sehat saja. Masih muda. Karena serangan jantung.
Dan ada beberapa kasus lainnya. Kasus pembungkaman diam-diam.

Novel misteri banget ya.

Bukan hanya orang-orang itu saja, tapi banyak di seluruh dunia yang dibunuh diam-diam seperti kecelakaan untuk menghilangkan bukti dan ancaman.
Kayak di novel Sidney Sheldon “The Doomsday Conspiracy”.

Katanya bekas Menkes Bu Siti Fadillah Supari lagi kena skandal korupsi yah?

Oh iya Menkes kita sekarang tiba-tiba kena kanker stadium 3 loh.

Tulisan di atas saya bikin sesudah Pak Wied meninggal. Beberapa minggu ga dipost-post, tiba-tiba Menkes meninggal ajah. Gmana ga serem. Ini mah beneran. Ga dibikin-bikin.