Archive

Monthly Archives: September 2012

Sore ini, sehabis berhura-hura berkaraoke ria dengan para kolega FK Unpad, saya pergi ke masjid bersama-sama. Tiba-tiba aja saya pengen ke masjid. Ngajak para kolega itu. Bukan untuk riya. Bukan cuma untuk ibadah rutin yang kadang tanpa esensi. Tapi ternyata untuk melengkapi takdir bertemu dengan seseorang. Solat maghribnya mungkin akan terlupakan menjadi solat maghrib yang biasa saja yang terjadi setiap hari sepanjang hidup yang cuma 3 rokaat itu. Dia duduk di tangga masuk mesjid.

Ada opik, Taufiq Setiadi, temen SMA. Lumayan deket lah.  Akrab dan terbuka. Temen deket. Dulu seperjuangan, belajar biologi bareng, tim biologi yang oke banget, tim biologi yang sangat kekeluargaanisme. Dia manggil nyapa. Pelukan singkat. Ngobrol kita. Saya lupa dia kuliah dimana, FMIPA atau Pertanian. Kelihatan dia pake pita berwarna asturo nomor 11 di lengannya.  Ternyata sekarang anak FISIP. Ada yang kaget dibuatnya karena pake atribut anak FISIP. Ternyata Opik dipindah ajarkan oleh Unpad karena dia butawarna.  Butawarna yang baru ketahuan setelah lulus SNMPTN diterima di Fakultas Pertanian. FAPET yang menolak manusia butawarna. Saya disuruh solat dulu sama dia karena dia udah. Sesudah solat maghrib yang biasa itu, dia lanjut cerita sembari ditemani udara maghrib berangin, dingin-dingin sendu kayak lorong Kota Kembang.

Agak berkaca-kaca matanya, dia cerita lumayan panjang tidak lebar. Sambil mengagung-agungkan saya yang sudah kuliah di kedokteran dan tinggal di asrama seberang. Rasanya canggung banget. Terus dia ngenalin saya sama teman-temannya. Nama salah satu temannya Deden. Dia pengen pacaran sama anak FK tapi katanya gengsi, beda kasta. Lah saya aja kadang ngerasa beda kasta sama cewek-cewek gaul mahasiswa sefakultas. Kok gitu ya. Padahal saya duduk sejajar sama dia. Tapi dia ngerasa beda kasta. Ga enak loh rasanya. Mereka pergi. Akhirnya saya sama Opik doang. Opik ngerasa laper saya anter dia ke tempat makan asrama tapi katanya segan. Ga enak lagi deh. Yaudah saya ajak makan di Ikapen Pak Haji Anta aja. Saya ga makan, dia aja yang makan. Selesai makan balik lagi ke masjid untuk solat isya. Beres solat isya, dia mau ke kosan temennya di daerah Sayang, 1 km lah dari pintu Unpad. Saya anter deh ke depan pintu Unpad. Kasian udah malem. Sekalian melepas kangen. Dia pergi mau pisah, saya peluk dia, saya usap-usap. Dia juga sama. Dia teriak “Sukses Kaf!”.  Saya juga sama.

                Di perjalanan pulang saya merasa kesepian lagi. Tapi kesepian dengan semangat bersyukur. Apa yang terjadi sekitar 2 jam yang lalu ditambah obrolan panjang yang tak putus. Jarang sekali saya ngobrol tidak putus. Apalagi dengan orang yang niatnya cuma salam sapa lalu solat dan bubar. Ternyata jadi obrolan cukup lama. Di perjalanan pulang itu saya merenung lagi dan kembali bersyukur.

                Bagaimana rasanya kalau kita dinyatakan butawarna? Bagaimana rasanya jadi Opik? Yang udah keterima di Fakultas Pertanian Unpad tapi lalu ditolak karena vonis butawarna. Bagaimana rasanya ketemu teman seperjuangan yang sudah keterima di kampus impian tapi sendirinya gagal bukan karena kurang pintar? Bagaimana rasanya cerita kayak gitu di suasana maghrib kelabu ditemani temannya yang kadang terlihat kurang empati? Bagaimana rasanya terjebak di antara teman-teman FISIP yang mungkin dia tidak suka? Betapa Tuhan yang maha baik tidak memberikan ujian lebih dari yang tidak bisa diterimanya, dan Dia memberikan pelajaran kepada saya, manusia yang kurang bersyukur lewat Opik. Agar saya bisa merenung lagi dan kembali bersyukur di perjalanan pulang menuju Bale yang dingin.

2 bulan tepat pasca 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN. Berujar tiap hari, berterima kasih kepada Allah SWT yang dengan kuasanya bisa meluluskan aku ke FK Unpad.  Ternyata tidak ada aftermath, yang ada hanyalah nomath. Fakultas Kedokteran yang didamba-dambakan banyak orang, yang menggugurkan mimpi ribuan orang, yang menolak ribuan siswa dari penjuru negeri, yang akhirnya dihuni oleh Kafi Harridhi Khaibar. Ternyata besar sekali kebanggaan para penghuni kampus sunda ini. Ternyata besar sekali kekeluargaan antar warganya. Ternyata erat sekali ikatan yang telah diciptakan antar warga dan ikatan baru yang ingin diciptakan dengan warga baru. Ternyata nikmat sekali berkuliah disini, dengan kebanggaan dan fasilitas, dengan nama besar dan budaya di dalamnya.

                Test drive di Bale Padjajaran, waktu awal Agustus rasanya ga betah banget.  Ingin pulang melulu.  Ninggalin zona nyaman, rumah yang sedang nyaman-nyamannya. Ibu ayah yang sedang baik-baiknya.  Adik-adik yang sedang asik-asiknya. Teman-teman yang sedang mesra-mesranya.  Tapi ninggalin zona nyaman untuk 3 hari aja ternyata berat. Disini ga punya teman. Cuma ada beberapa kenalan, dan teman lama yang ga bisa diajak main. Ditambah lagi suasana bulan puasa yang enaknya dinikmati di rumah. Belom betah sama sekali. Akhirnya pulang, dijemput sahabat paling top, si Tito. Akhirnya ngerasa nyaman lagi, main sama dia. Trus dianter pulang, ketemu lagi sama ibu ayah dan keluarga. Ternyata nikmat, punya orang-orang yang dicintai dan mencintai balik.

                Bulan puasa yang sangat indah dan menyimpan cerita panjang nan manis pun akhirnya lewat. Begitulah bulan ramadhan tiap tahunnya selalu berkesan dan menyimpan nuansa tersendiri di antara sel-sel otak. Begitu pula lebaran, lebaran yang terus dihantui perasaan takut berpisah dan takut untuk mulai kuliah. Ketika akhirnya tiba detik-detik terakhir pindah ke Bale, rasanya seperti anak kecil yang takut masuk sekolah lagi setelah lama liburan. Memang perasaan yang sama. Aku pun berangkat, diantar semua orang di rumah. Seperti anak mami yang selalu diberi apapun. Dimanja dan ditimang, padahal kenyataannya ga seperti itu. Sejenak rasanya menyesal, sangat menyesal mesti kuliah disini, jauh dan susah. Dingin dan asing.

                Hari pertama, hari kedua, hari ketiga. Beberapa hari disini, belum juga ketemu teman sejati. Teman yang benar-benar saling membutuhkan.  Teman yang merasa nyaman satu sama lain kita berada bersama. Akhirnya ada yang nangis sembari disiram air super dingin Jatinangor subuh hari pada hari kedua ospek, tangisan kesepian yang ga dibuat-buat. Tangisan kedinginan. Tapi apa yang dikatakan senior saat memberikan inspirasi pagi? Katanya, kita harus bersyukur. Bersyukur atas segalanya, atas rizki luar biasa yang dititipkan ke kita, atas anugerah bisa menjadi bagian dari FK Unpad.  Ada yang merasa tiba-tiba bertenaga, tiba-tiba terharu. Ternyata Allah langsung memberi nasihat langsung di pagi hari, melalui kakak kelas yang enerjik itu. 

                Sekarang hari ketiga belajar, sudah beberapa hari sejak rangkaian ospek yang megah dan berkesan, ospek yang mendidik aku sangat banyak, dan sekarang aku mulai merasa nyaman. Bertemu teman-teman, mulai akrab dan bisa bergabung dalam pembicaraan. Aku merasakan rumah ketika kembali ke komplek asrama. Aku memang bukanlah orang yang mudah bersyukur, bukan orang yang gampang menyadari kenikmatan, dan bukan orang yang mudah beradaptasi. Tapi tempat inilah dimana aku dipanggil. Aku terpanggil dan mengikuti panggilan itu. Walaupan mungkin akan selalu sulit, tapi inilah jalannya. Ketika nanti ada yang menangis lagi ingin pulang, sudah selayaknya nanti menangis sambil menggumamkan syukur, Alhamdulillah, puji Allah pemilik segala sesuatunya aku bisa nangis di asrama FKUP. Lalu jika ada yang merasa disusahkan oleh Allah, maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?