Archive

Monthly Archives: August 2013

Lebaran datang terlalu cepat, lagi. Serius, kurang lebih minggu depan udah bulan syawal. Saya yakin banyak orang ngerasain hal yang sama. Kebingungan karena lebaran datang terlalu cepat. Ibu-ibu yang bingung ngatur pengeluaran rumah tangga, bapak-bapak yang bingung ngurus kerjaan mepet lebaran dan persiapan mudik, maba-maba yang resah karena saat tiba akhir ramadhan mereka akan menghadapi kehidupan baru dan tugas-tugas ospek, anak-anak yang gelisah karena libur dan semi-libur mereka akan segera habis, dan malaikat-malaikat yang mungkin akan berkurang lagi jumlahnya di bumi. Tipikal.

Memang sih pada akhirnya yang dibahas hal duniawi lagi. Kayak hal-hal tadi, dan mudik yang bahkan dalam agama islam itu ga ada hukumnya, dan pakaian-pakaian baru alhamdulillah untuk dipakai di hari raya. Atau tentang sang anak yang lapar bertanya ke ayahnya, “kenapa mesti berlapar-lapar puasa?” Untunglah nak, minggu depan kita akan mencret-mencret karena rendang nenek dan santan intolerance.

Sejujurnya, setiap ramadhan, saya jarang dapet hidayah atau pengalaman spiritual yang bener-bener patut diceritain. Belum pernah dapet malah. Adanya cuma sedih-sedih karena si ramadhan lewat tanpa ibadah yang berarti dan perasaan ga yakin tiap tahun apakah benar-benar puasa saya diterima setiap harinya. Saya ingin tau lebih dalam nikmatnya ibadah ramadhan seperti apa. Seperti apa rasa puasa yang sebenar-benarnya. Seperti apa rasa nikmat sujud ekstra 11 kali setiap malam.

Tapi yaudahlah, saya masih jadi orang yang menikmati sahur dengan tertawa liat orang cari duit di TV atau ngobrol ga penting. Menunda solat subuh, lalu langsung melipat sajadah selepas salam ke kiri. Menghabiskan pagi dengan asik sendiri. Menunda-nunda solat dzuhur dan ashar, kadang sampe kelewat. Siangnya pacaran. Main entah kemana, duniawi lagi. Sorenya sibuk kemana-mana memenuhi undangan buka bareng. Solat maghrib atau tidak tergantung dengan siapa saya berada saat itu. Solat isya sebelum imsak. Terdengar fana dan dibenci Allah sih memang. Biarlah jadi bilik pengakuan dosa aja.

Padahal ini akhir jaman. Akhir-akhir ramadhan juga. Kepada saudara-saudara muslim di seantero jagat, saya nitip doa ya. Doanya terserah kalian, saya tahu kalian orang-orang baik. Semoga saudara muslim yang belum dapet kedisiplinan beribadah segera mendapatkannya. Semoga orang kayak saya masih diberi cahaya dan naungan di hari akhir. Ya Allah, saya ga pantas masuk surgaMu tapi saya ga sanggup masuk nerakaMu. Raihan aja bilang begitu. Apalagi saya, yang doa serius aja jarang. Doa cuma pas dekat-dekat ujian. Sehina-hinanya hamba Allah nih. Atas nama peci berdebu, Al-Quran yang terlupakan, duit yang tak tersedekahkan, dan ayat kursi yang tak terhapalkan. Kabulkan doa akhir jaman kami ya Rabb.

Ibu saya ga suka peliharaan. Menurutnya kasihan. Kasihan kenapa mesti kita pelihara dan dikasih kasih sayang dari spesies yang beda. Ya gak apa-apa sih. Kata Pi Patel di buku ‘Life of Pi’ juga kalo hewan yang biasa di rumah lalu dilepaskan mungkin rasanya kayak kita udah biasa di rumah atau dikurung di penjara dengan nyamannya, tiba-tiba diusir; “Ayo keluar, rasakan sejuknya angin Bandung Utara dan panasnya Jalan Jakarta bada dzuhur!” Pasti bakalan bingung dan ngerasa ga tenang. Sama halnya kayak binatang rumahan. Tapi saya tau ibu saya ga suka peliharaan karena ga mau kehilangan. Dulu beliau pernah miara monyet, diajak main kemana-mana. Kayak daemon di dunia Golden Compass. Tapi terus monyetnya mati keracunan buah. Ibu nangisnya lama. Ibu juga banyak miara kucing, si Beng-beng salah satunya. Kucing buntut bengkok yang dipungut dari sungai dan matinya 3 Mei 1994, sehari sebelum saya lahir. Ga sedramatis itu sih kayaknya, yang pasti Beng-beng mati kelindes pas ibu lagi hamil saya. Ibu nangis juga.

Saya sendiri inget sedihnya kehilangan peliharaan waktu anak ayam saya mati. Waktu itu masih TK. Pokoknya itu anak ayam mati terus dikubur. Saya nangis heboh digendong ayah ngebasahin baju sama pundaknya. Terus Cosmo, kucing peranakan persia-anggora-kampung-tasik-timur tengah-himalaya-texas apalah itu. Warnanya abu-abu. Baru dipiara beberapa minggu, kelindes gara-gara dia nyelinap tidur di atas ban mobil tetangga. Saya ngeraung-raung waktu itu.

Tapi namanya manusia ga pernah kapok. Niat melihara binatang pasti ada terus. Lalu ada kejadian beberapa hari lalu. Saya dan Puput lagi keliling Bandung malam hari. Mau nyari petshop. Nyari peliharaan. Tiba-tiba ada anak kucing kecil lewat depan mobil. Langsung saya ke pinggirkan mobilnya. 5 detik turun dari mobil. Anak kucingnya lalu dilindas di depan mata saya. Dilindas Harrier putih besar. Ada seperti suara derak tulang dan ngeong yang keras. Dia terpental sedikit dan menggelinding. Kontan saya teriak. Saya ambil dia. Dari mulut dan hidungnya keluar darah. Saya nangis, mungkin bukan nangis sedih. Tapi nangis karena abis liat sesuatu yang bener-bener mengerikan. Bisa juga nangis sedih, nangis karena sebegitu ajaibnya sebuah kebetulan, dan nangis karena sebenarnya kucing itu bisa terhindar dari kelindas kalau saya 30 detik lebih awal ada di tempat itu.

Kucingnya hidup. Luar biasa. Manusia aja kalo dilindas Harrier belom tentu bisa selamat. Benar kalau kucing punya jatah ‘near death experience’ sampe sembilan kali. Kita rawat sampe pagi. Dikasih makan, minum, dan matahari pagi. Pagi-pagi masih kelihatan sehat, bisa jalan-jalan dan berjemur lucu. Kita kasih nama Sugar. Sebagai representasi kejadian manis yang terjadi. Langsung aja ke akhirnya, sekitar jam 2 siang dia mati. Sudah kaku seluruh badannya. Saya kubur tanpa menggunakan sihir, secara fisik dan pakai sekop. Seperti Eragon Shadeslayer yang menggali makam Brom Holcombson menggunakan tangan. Itu tanda penghormatan. Penghormatan karena sudah memberikan cerita, pengalaman, renungan, dan kesempatan untuk saya dan Puput. Kesempatan merawat, merasakan punya peliharaan bersama walau hanya beberapa jam, belanja keperluan “anak” kucing, dan sedih berdua di malam hari.

Saya sendiri ngga terlalu sedih saat nguburin dia. Malah saya merasa seperti hewan biadab. Cengar-cengir saat ngegali dan merasa jijik saat menggeser mayatnya. Sejak kapan manusia merasa superior? Kapan manusia memutuskan ada yang namanya peliharaan? Kenapa kita ga jadi pihak yang dipelihara organisme lain? Padahal kita cuma unggul di aspek bahasa dan agama. Mungkin karena kita bisa mikir lalu membedakan manusia dengan hewan, padahal secara klasifikasi biologi aja kita satu kerajaan dengan para kucing. Animalia.

“Ability to think deeply is what makes human species something special.”