Archive

Monthly Archives: November 2013

Cokelat panas dan green tea disajikan hari minggu sore itu untuk kami di salah satu kafe favorit saya di Bandung. Mencari wi-fi dan suasana yang enak. Dia bilang “ayo kerjain dulu”, sambil saya sibuk main hape dan ngobrol-ngobrol bercanda. Saya lanjutkan mengisi form dan essay. Gigs musik jazz sedang digelar disitu dan bikin suasana agak bising. Malam mulai datang dan saya belum juga selesai mengerjakan segala formulir.

Saya jadi mikir kalau misalnya saya tetap seperti ini, tidak punya kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan urusan dengan cepat maka nanti akan banyak hal dalam hidup saya yang semakin kacau. Saya kembali berusaha menyelesaikan. Makanan dan minuman datang dan pergi sampai akhirnya sudah cukup malam dan belum selesai juga. Banyak hal memenuhi pikiran saya, tugas-tugas kepanitiaan dan amanah-amanah yang belum saya selesaikan. Saya pun pulang dengan badan lemas. Saya sadar akan sesuatu malam itu. Bahwa fokus adalah benar-benar penting. Bahwa berpikir-menulis-belajar di tempat umum bukanlah gaya saya. Bahwa saya adalah orang dengan kecanggungan dan keribetan tinggi. Bahwa tak selamanya kita bisa mengandalkan wifi gratis. Bahwa cokelat panas itu tidak menghilangkan haus. Bahwa saya sering sekali salah memesan minuman. Bahwa manajemen waktu yang baik adalah dengan totalitas saat berkegiatan. Totalitas nongkrong-cucus, totalitas main, totalitas belajar, atau totalitas di kamar sendirian mengerjakan tugas apapun itu.

Di jalan pulang saya minta tolong ke mantan teman sekamar saya untuk membuatkan surat rekomendasi. Saya jadi mikir, apa kabarnya si mantan teman sekamar saya ini. Dulu tiap hari main bareng, tidur bareng, minggu-minggu pertama kemana-mana berdua. Sekarang walaupun kamarnya cuma beda beberapa lantai, dan kita masih bisa dibilang satu geng tapi kerasa jauh banget. Untungnya dia senang-senang aja saya mintain tolong. Beberapa hari sebelumnya saya juga udah minta tolong ke salah seorang sahabat saya dari kecil, dan dia sangat senang tapi agak susah untuk ketemu. Kalo diingat-ingat sudah hampir 3 minggu kita ga ketemu. Akhirnya pagi-pagi sekali hari senin saya diantar sang wanita-baik-hati-partner-terbaik ke rumah sahabat saya itu untuk mengambil surat. Sekalian silaturahmi. Rumah yang sudah saya hafal betul isi dan penghuninya. Saya langsung masuk tanpa mengetuk, dan dia baru bangun. Tulisan tangannya jelek. Dia bilang walaupun jelek dan sedikit tapi ini mendeskripsikan kamu banget. Kami lalu berpelukan hangat. Saya jadi merenung, sungguh beruntungnya saya bisa punya orang yang sangat mengenal saya seperti dia. Sesampainya di kampus saya mencari sang mantan teman sekamar. Saya tidak menyangka ternyata dia membuat dengan rapih dan format yang seharusnya. Saya terharu, dia yang bikin LI sering seadanya saja atau mengerjakan sesuatu kadang lupa tapi bisa menyelesaikan surat rekomendasi dengan sepatutnya. Kita berpelukan di ruang skills lab tahun 1. Teringat kalau dulu kita sering sekali berpelukan dan teringat kalau kita satu-satunya pasangan roommate yang saling memanggil aku-kamu. Makasih bro. Saya jadi melankolis lagi.

Di tengah hingar-bingar hari itu saya sadar kalau saya punya orang-orang spesial yang selalu siap membantu. Dan apa yang terjadi beberapa puluh jam kebelakang sangat berkesan dan bisa merubah saya. Bahwa proses adalah suatu hal yang penting. Bahwa kalaupun apa yang kita kerjakan tidak selesai atau tidak sebagus yang orang harapkan, lihatlah ke belakang, apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah kita sadari dan mana yang belum kita syukuri.