Archive

Monthly Archives: December 2013

Tidak ada niat apa-apa dari saya yang selalu memanggil Argya Nareswara dan Christian Prijana dan setengah lusin senior lainnya dengan sebutan ‘Bang’. Saya juga tidak tahu apakah mereka senang dengan panggilan tersebut. Dan banyak orang bertanya kenapa saya memanggil beberapa senior dengan ‘Bang’. Saya menggunakan panggilan tersebut karena saya ingin merasa dekat, ingin merasa punya sosok yang lebih tua dan bisa diandalkan. 

Waktu itu saya jadi penanggung jawab pembawa massa ke ‘Hearing Calon Ketua PH Kema FK Unpad”. Saya bertanggung jawab untuk membawa paling tidak 50 orang dari angkatan saya, dari lingkaran pergaulan yang berbeda-beda, untuk nantinya menyuarakan aspirasi. Sampai di hari H saya datang terlambat dan massa yang datang sangat sangat sedikit. Saya merasa bersalah. Saya menyepelekan tugas. Sampai ketua KPUnya marah-marah ke saya, Kak Argya Nareswara. Saya dimarahi dan dinasihatin cukup panjang lebar oleh beliau di depan teater. Kami berdiri. Saya cuma menunduk, merasa kecil, merasa bodoh dan tidak berpengalaman, sementara beliau terus bicara ke saya dan memberi perintah pada akhirnya. “Tulis pengalaman ini di blog”

Saya lalu pulang dan berterimakasih kepada beliau, makasih bang. Sudah menjadi sosok yang mendidik, Kalau kata Bangge sendiri “Seorang sosok yang bakal ngerangkul dia, ngetawain sambil ngatain, tapi tetep nemenin dan ngacak ngacak rambutnya sambil ngabisin quality time berdua. Hanya sekedar perasaan ingin didominasi dan damai dalam menghadapi hidup. Tapi, buat dia, itu sesuatu yang besar.” Ya buat saya hal seperti ini adalah hal yang besar. Sosok yang tidak ada dalam hidup saya, sosok seseorang yang lebih tau banyak hal dan selalu bisa diandalkan, sosok keabangan. Beliau dan senior-senior lain mungkin tidak melihat saya sebagai siapa-siapa. Tapi saya melihat mereka sebagai sebenar-benarnya kakak. Mungkin inilah yang membuat saya bersikap cenderung ‘childish’ pada orang-orang tertentu. Yang saya takutkan hanya orang-orang beranggapan saya menjilat, atau sok akrab. Padahal ini hanya psychological disorder saya (lebay). Sekarang beberapa orang ikut-ikutan memanggil beliau Bangge, Bangker, dan saya senang.

Hari itu saya introspeksi. Saya ingin jadi orang yang lebih ‘baleg’ lagi. Saya ingin nanti saya punya imej “Kafi profesional, gawe’. Saya akan lebih dewasa. Saya ingin jadi kakak yang sangat jauh lebih baik lagi bagi adik-adik kandung tercinta saya dan adik-adik angkatan saya.

Advertisements

Pertama kali melihat buku ini adalah waktu dibaca oleh Kang Age di LKO P3K. Saya sangat tertarik dengan tema buku tersebut. Saya meminjamnya waktu itu dan membacanya barang 5-10 menit. Saya tidak tahu kalau buku ini nantinya akan dijadikan tugas oleh beliau, tugas membaca dan merangkumnya. Saya memang senang sekali membaca, walaupun setahun terakhir ini buku yang saya baca benar-benar sedikit. Dan ketika saya diberi tugas ini, saya kaget. Saya tidak bisa membaca di bawah tekanan. Dengan tuntutan harus dirangkum dan selesai dalam jangka waktu tertentu. Sampai akhirnya belum selesai juga walaupun saya bawa kemana-mana. Saya merasa bersalah ketika Kang Age bilang, "kok belum selesai padahal kamu yang minta". Saat itu saya berjanji dalam hati, saya akan menyelesaikan buku ini dan membuat review panjang lebar nanti.

Selasa siang hari itu ada forum angkatan, ceritanya musyawarah pemilihan ketua kekeluargaan Nostra. Forum-forum kecil dan diskusi udah pernah diadakan sebelumnya, dan saya sudah diajukan menjadi calon sejak lama. Sejak ketua kekeluargaan yang lama mundur tanpa musyawarah karena beliau takut memegang amanah di P&K PH. 

Beliau pernah didiskusikan oleh kami, seberat apa sih amanah di organisasi dan menjadi bapak kekeluargaan angkatan. Seberat apa sampai beliau mesti mundur tanpa diskusi dan persetujuan angkatan. Banyak yang agak menyangsikan beliau mundur, dan mundurnya beliau juga jadi pembahasan hangat bagi kami di seksi solid kolega PH. 

Ketika saya maju, dan akhirnya saya menjadi calon tunggal, salah satu teman saya, Nabilah Syahidna Amelia bertanya. “Kaf kalo lo jadi repre AMSA gmana dong bla bla bla”. Saya jawab langsung. “Saya ga akan ngilang, saya kan ada dimana-mana.” dan sebagainya dan sebagainya. Lalu resmilah saya jadi ketua kekeluargaan Nostra, dan saya pulang membawa amanah. Amanah untuk menjadikan 268 anggota keluarga saya yang tercinta ini untuk menjadi keluarga yang utuh. 

Beberapa minggu kemudian ketika saya melamun dan melihat ke salah satu sisi kamar. Saya terbayang kata-kata Bella yang membuat saya berpikir lagi. Betapa bodohnya saya ketika beliau, ketua kekeluargaan yang lama mundur karena amanah yang akan diembannya. Sementara saya maju dan sekaligus menjadi calon repre AMSA Unpad. Saya merasa rendah. Saya merasa egois. Saya merasa terlalu banyak mengiyakan kata orang. Saya merasa mendzalimi kata ‘visioner’ yang selalu saya labelkan terhadap diri saya. Saya sadar dan terpukul. Disini saya merasa terlalu banyak memohon. Ya Allah, jika ini memang jalannya maka ya beginilah. Jadikanlah saya orang yang lebih baik.

Pemilihan sebentar lagi. Di poster terpasang foto saya ketika jadi MC di acara angkatan. Foto yang sama yang pernah dipakai di poster pemilihan calon ketua FK Unpad Fair. Potret yang saya anggap fotogenik. Diambil oleh Sarah Khanza Nabilah. Disini teman-teman saya bercanda. Jangan dapet medali perak lagi dong, Kaf. Bosen kan jadi mantan calon. Calon ketua angkatan, calon ketua FK Unpad Fair, calon ketua kontingen Forsi, calon pacar seseorang. Saya cuma bisa tersenyum dan berkata. "Amanah datang dan pergi, dan ketika amanah datang, itu ga pernah salah."

Saya baru sadar kalo saya adalah manusia yang gampang panik. Saya dikasih tugas, panik. Saya nunda tugas, panik. Ga dapet apa yang saya pengen, panik. Terus masih juga jadi deadliner. Bagus sih punya prinsip “gapapa menunda/mengakhirkan tugas, yang penting tugasnya kelar sebelum deadline”. Tapi jadinya rusuh dan bikin masalah sama orang-orang. Pemburukan citra juga. 

Diberi tugas wawancara ke suhu-suhu keorganisasian FK Unpad. Saya terinspirasi oleh tiap-tiap kata yang narasumber berikan. Saya perhatikan setiap kata yang mereka lontarkan. Di titik ini saya merasa rendah, merasa belum tau apa-apa. Belum tau banyak. Dan disini saya bisa membuang ego saya yang selalu menggampangkan tugas dan menganggap mereka cuma lebih tua satu tahun. Ternyata memang benar, mereka cuma lebih tua satu tahun. Bahkan ada yang lebih muda. Tapi pengalaman dan wisdom ga cuma didapat dari umur fisik. Ada narasumber yang saya kagumi, dan saya ingin menjadikannya teman dekat. Ada narasumber yang sangat asik, yang membuat saya sampai ingin terus mengobrol dengannya sampai pagi menjelang. Ada narasumber yang lugu, namun saya yakin di kepalanya banyak pemikiran hebat.

Saya masih hijau sekali, sampai titik ketika ide-ide dan pendapat dari narasumber-narasumber itu bertumpuk dan membanjiri saya, dan saya sadar. Menjadi seorang pemimpin (Repre dalam hal ini) sama sekali bukan hal yang sederhana. Saya panik. Dan ketika saya pulang mewawancarai narasumber terakhir malam hari itu. Saya melihat ke langit malam dan berharap masa depan kami tidak sekeruh langit malam Jatinangor.