Archive

Monthly Archives: January 2015

Malam tahun baru. Sudah 3 malam tahun baru, saya melaluinya bersama keluarga. Kumpulsasmita, becandaan nama eyang entah darimana, yang mungkin membuat kami selalu berkumpul di momen seperti ini. Kembang api, makanan yang dibakar, gerimis, gitar, dan gelak tawa. Tidak ada yang absen lagi tahun ini.
Dan setiap tahun pula, saya selalu merasa kekurangan. Kurang menghayati tiap momennya, tiap menit yang berharga, yang lalu tiba-tiba jadi tanggal 2. Tiap hari yang berharga pula, yang lalu tiba-tiba sudah malam tahun baru lagi.

“Lo mellow ga”, saya bertanya ke salah satu teman baik saya. Tidak dibalas. Mungkin dia sibuk, mungkin dia sakit. Siapa pula yang butuh saya di malam tahun baru, ketika semua orang menikmati tempatnya masing-masing, dengan kebisingannya masing-masing. Kebisingan kembang api, acara TV spesial, atau hanya riuh suara obrolan.

“Aku butuh temen ngobrol”, saya berkata ke teman baik saya yang lain lagi. “Ya ngobrol lah, Kaf.” Bukan itu, saya mau ngobrol sama kamu, saya kesepian, kesepian di antara keluarga yang sangat saya sayang sedunia.

“Bena sayang bena” lalu berlanjut ke obrolan hangat, tapi sulit koheren. Sinyal disini lemah.

“A udah minorthesis belom, skripsi”, saya bertanya. Selalu ingin ada obrolan hati ke hati, tapi sulit. Sepupuku nomor 1. Kebanggaan para Kumpulsasmita. Kita hanya memandangi api unggun dari puluhan kilo kayu. Sampai sepertiga malam, sampai cuma abu yang abu-abu tertinggal. “Ayo tidur, A”

“Happy new year”, dan banyak variasi lainnya. Terimakasih sudah mendoakan. Kalian mungkin lupa kalau itu adalah doa. Semoga tidak lupa bilang amin.

Terimakasih, saya bahagia awal tahun ini. Mungkin karena doa semua orang, mungkin karena saya bisa bersyukur, mungkin saya sebaiknya tidak menyesali waktu yang terlewat di tahun sebelumnya, mungkin sebaiknya tidak setiap malam tahun baru saya merasa kekurangan. Meskipun janji awal tahun hanya akan lewat. Kita masih bisa menghitung hal kecil. Mandi pertama tahun ini. Baju pertama tahun ini. Makan siang pertama. Lalu tulisan pertama. Lalu kita lupa bahwa ini tahun baru, dan sudah tidak menghitung lagi.

Saya tidak tahu apakah Julius Caesar yang membuat pergantian hari Masehi pada malam hari. Tapi terimakasih. Kembang api lebih indah malam-malam, dan impian lebih optimis pada pagi hari saat kita semua terbangun. Itu jika kita sudah bangun dari tahun lalu. Bangun dari reruntuhan impian yang lagi-lagi lewat. Reruntuhan yang bisa kita tumpuk jadi tinggi, dan membuat kita berdiri di tempat lebih tinggi.