Archive

Monthly Archives: June 2015

Teman baik saya, jika tidak bisa dibilang sahabat, baru merasakan yang namanya kehilangan.

Teringat hari itu. Hari jum’at 7 tahun lalu. Ketika ayah bersandar ke lemari tuanya saat aku pulang sekolah, dan terlihat muka gelap menahan cekat tenggorokan. Dipeluk erat oleh ibu. Lalu perjalanan hening di tol dan lagu-lagu yang disetel keras untuk menyamarkan duka. Juga wajah ompung di balik batik.

Kata dia, rasanya aneh. Aku juga merasakannya. Dari kabar pertama datang. Sampai keramaian keluarga yang tidak dikenal. Teriakan-teriakan histeris yang tidak perlu. Lalu lelucon yang mulai keluar di hari kesekian. Hingga seakan semua pura-pura lupa. Di akhir, menghibur satu sama lain. Di akhir, seakan hidup kita baik-baik saja tanpa yang pergi.

Aku bertemu orang mirip engkong di warung tenda. Teringat hari itu. Entah hari apa 4 tahun lalu. Saat aku merasa dibohongi. Menangis di paha Amah. Kehilangan si Pak Tua yang sekarang dompetnya kupakai sudah 3 tahun. Engkong baik, yang selalu menawari makan dan mengobrol dengan siapapun. Bahkan dengan semut dan sendok-sendok kecil yang selalu ia bersihkan. Aku bertemu bapak ini, yang makan heboh pakai tangan. Akrab dengan penjualnya. Lalu melucu dan menawari makanan di piringnya. Aku ingin menjadi seperti engkong, dan bapak tak dikenal itu. Ramah. Hangat. Bijak. Makan dengan semangat.

Penyesalan akan selalu ada kalau dicari. Aku yang tak pernah diskusi tentang sosialisme, nasionalisme, dan dunia kedokteran Padang. Aku yang tak tahu wejangan apalagi yang mereka punya dan lawakan-lawakan khas. Aku yang tak pernah belajar banyak tentang budaya mandarin dan keluargaku yang lain. Aku yang belum dewasa waktu itu. Aku yang belum sempat memberi mereka kisah.

Mungkin. Rasa duka lah yang membuat peradaban manusia. Tak ingin kehilangan, merekam sejarah, dan upaya menyembuhkan. Rasa duka yang membuat kita berpikir. Hingga ketika kita diberi kesempatan terakhir untuk berdiskusi. Akan kewalahan rasanya menghadapi kesempatan itu. Bertanya tentang apa saja. Berbicara tentang siapa saja.

Waktu, klise banget. Tapi memang waktu kan, inti dari semua ini. Semoga aku lah satu dari tiga amal jariyah kalian. Maaf aku jarang sholat. Apakah doanya sampai mpung, kong?

Sebelum hilang mood nulis.
Sebelum tidur.
Sebelum tulisan panjang sesudah ini.
Tentang pertemanan. Tentang rasa iri dan dengki. Lagi-lagi tentang itu.
Sudah jarang aku bikin tulisan yang bahkan menurut aku sendiri bagus. Mungkin karena makin skeptis dalam menghadapi hidup. Juga karena tulisanku makin sendu dari waktu ke waktu. Kayak pernah bikin tulisan bener aja, Kaf.
Katanya mau nulis tentang waktu lalu. Tentang ayah. Tentang teman-teman. Tentang kejadian. Tentang usia. Banyak omong ya kamu, Kaf.
Iya, kata orang aku banyak omong. Semoga banyak nulis juga ya, Kaf. Toh Rasulullah pun yang tersisa hanya omongan dan tulisannya. Itu pun bukan tulisan beliau. Argumen tadi ga cacat logika, kan?
Makin jelek aja tulisan kamu, Kaf. Tapi apalah hari ini, cuma kejadian tidak penting. Wanita cilik yang berlarian, ke dekat ayahnya yang pedagang baso bakar. Dikecup oleh ayahnya. Lalu kembali berlarian.
“Pedes ga, A?”
Dagangan boleh tidak manis. Kecupan untuk anaknya harus manis.