Archive

Monthly Archives: January 2016

Pak tua di belakang suka geram
Siapa peduli, asal nyawa tidak terancam
Pak polisi di pinggir suka marah
Siapa beli, acap jalanan jadi tong sampah

Bukan embun pagi
Apalagi cahaya bulan
Refleksi perjuangan akhir hari
Tertabung di kaca belakang

Redup pijar ini
Menghangati yang tak berada
Pecah nyala warna-warni
Jadi hiasan jalan-jalan kota

Dicaci muda mudi pongah
Rezeki direbut dicari-cari
Dimarahi orang-orang gerah
Dipatok ayam duluan kita yang nyeri

Bising sekali bapak
Di jalan di surat kabar
Pusing namun pula muak
Jalanan jahat jadi gemetar

Sekedar ngasih tahu
Jok hitam berdaki ini saksi kelabu
Atas anak yang gelisah
Dan ibu yang terguyur resah

Punya kita diletup dimusnah
Lantaran bapak butuh lahan basah
Tapi saya cukup sudah
Malam-malam di rumah bikin bantal basah

Hari ini naik angkot lagi.
Jadi angkot sekarang susah. Digadang-gadang akan lenyap.
Aku coba jadi supir angkot, walau tidak harfiah.
Tetap sedih.

Advertisements

Seingin-ingin aku merubah dunia, sekonyong-konyong aku berakhir membayangkan diriku yang tua, bersandar di halaman, dengan nyeri punggung, menenggak kopi enak, dan memainkan gitar dengan lagu yang itu-itu lagi.

Paling akan dihakimi oleh pohon yang kutanam di halaman. Egois, hipokrit, katanya.

Mimpi saja dikubur angan.
Dan angan disimpan di pekarangan.

Lalu kumarahi pohon itu.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka.”

Kuseruput kopi berharap ampasnya tidak ikut tertelan. Bunyi ting dari gelas kosong yang ditaruh. Gelas itu tidak menghakimiku, pun kopinya.

Mereka hanya bertanya heran.
Mengapa aku berbicara dengan pohon.

Tatkala senang jadi perhatian
Keringat dingin mengalir enggan
Tidak bisa disuruh berhenti menetesi
Siang hari waktu lima pasang mata menghakimi

Konon suka baca buku
Tapi dibilang kurang baca melulu
Sebab musabab lagi tak pandai berkata
Dan telinga berdenging diri payah percaya

Ngaku cinta pengetahuan
Tapi pegal hati capek tangan
Ngerjakan yang itu-itu lagi
Berdoa yang besok tidak kelima kali

Bilangnya senang mengobrol
Kaki selonjor telinga nonjol
Disuruh datang ujian lagi nanti
Karena tidak nanya agama orang di warung kopi

Obrolan mereka terganggu dengan suara deruan mobil yang lewat tepat di bawah balkon. Mata Amir tak lepas dari mobil yang lewat barusan, tak akan berpaling sampai lepas dari pandangan. Katanya, jika ada sesuatu yang bergerak, dia tidak bisa jika tidak melihatnya, atau paling tidak, sekedar memikirkannya. Butuh waktu bagi Amir dan Farhan untuk bisa memulai lagi obrolan. Kata Amir melantur, jika ada satu hal yang bisa menyatukan adik dan kakak yang sedang bertengkar hebat, hanyalah kematian ayah atau ibu mereka. Itu pun jika semua biaya pemakaman dan tetek bengek perdukaan sudah diurusi. Jika tidak, ribut lagi adanya mempermasalahkan uang siapa yang akan dipakai. Bagus-bagus kalau uang tidak jadi masalah, tapi tentu ada alasan mengapa hak waris dibagi sedemikian rinci dalam agama. Sama seperti alasan mengapa agama langit diturunkan di tanah arab, yang namanya wahyu diturunkan untuk menyelesaikan masalah. Adik kakak bisa seperti binatang di situasi seperti itu.

Farhan tidak mau duduk di lantai, di sebelah Amir. Bagi Amir tidak mengapa, yang penting lanturannya didengar dan ditanggapi. Amir mengaku rindu dengan teman-teman lamanya. Kata Amir, teman-temannya itu sombong, hanya manis di mulut, manis di wajah, namun diajak ketemu susah. Lanturan sulit berhenti. Menurut Amir, mereka tidak menyombongkan apa-apa padanya, tapi seakan tidak memerlukan Amir, itu namanya sombong, mengajak Amir mengobrol jika ada kepentingannya saja. Amir bahkan berandai andai, jika ada kematian seorang penting bagi Amir, dan juga penting bagi teman-temannya yang sombong itu, maka mereka dapat bertemu lagi, seperti pertemuan adik dan kakak yang sudah lama tidak berkirim kabar. Mungkin kematian ibu pengurus asrama mereka dulu saat di pesantren kilat. Darah tingginya sudah berkepanjangan, kaki beliau pun bengkak lunak-lunak dibuat si penyakit. Tidak terlalu mengagetkan jika beliau meninggal, pingsan saja sudah jadi rutin. Tentu sangat sedih jika sekalinya berkirim kabar, hanya untuk berita kematian.

Amir tidak menganggap Farhan sombong, sehingga kematian orang yang penting dengan mereka berdua tidak diperlukan. Farhan hanya heran bagaimana Amir bisa seajaib itu memandang hidup. Kendati Amir pasti bukan keping salju yang sangat spesial dan unik di dunia ini, Farhan tetap kagum. Gerimis tidak jatuh sore itu, tapi mereka masuk ke rumah menghindari angin maghrib yang tidak enak. Kata orang tua, angin sore banyak penyakitnya, selesema akut dan rematik, banyak jin keluar di pucuk maghrib. Amir tahu itu hanya akal-akalan orang tua, Farhan masuk ke kamar. Menghindari angin maghrib yang membawa jin, mencegah kata-kata buruk terhembus ke pengetahuan takdir.

Orang tua jaman baheula, jika tidak selalu, sangatlah sering menakut-nakuti anak mereka biar patuh. “Habisi nasimu, nanti Dewi Sri dan petani tua akan menggedor-gedor rumah menyuruhmu mengaduk sampah.”, waktu sedang berlayar mereka akan marah jika anak-anaknya bising. “Diam kau sedikit, jangan berisik di atas kapal, sang laut tidak suka orang berkepala besar, nanti kau ditenggelamkan ombaknya sembari membawa kami yang sudah diam.” Waktu di tempat angker mereka melarang macam-macam. “Jangan becanda yang tidak-tidak, nanti tiba saatnya kau didatangi hantu betulan, bisa lepas kemaluanmu saking kaget.” Farhan tahu, tidak ada asap jika tidak api. Amir pulang meninggalkan lawan bicaranya. Hari yang sangat biasa.

Sudah beberapa hari berlalu, Amir tidak tahu menahu perbuatan apa yang angin maghrib waktu itu lakukan padanya, hingga dijangkiti batuk, mengelap ingus sampai lecet. Waktu itu pagi hari sekali, saat seorang seharusnya terpejam nyenyak atau membasahi wajah dengan air wudhu sepertiga malam. Amir hanya gelisah, badannya kegerahan, punggungnya meninggalkan jejak di seprai kasur. Perjuangan Amir melawan rasa gerah dipecah oleh pesan dari salah seorang teman lamanya. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, tlh brpulng ibu hj. tati, smg dtrma iman islmny, dmaafkn dosa2ny, dikhlaskn htg2 kslhnnya.” Kata-kata itu terasa seperti penyetrum bagi Amir. Diambilnya air sejuk dari kulkas lalu dicampurnya dengan sedikit air panas. Amir suka dengan suhu air yang tanggung. Seraya memerhatikan air jatuh ke gelas, Amir berbisik sangat pelan, yang dirinya pun tidak mendengar apa yang dia katakan.

Seorang kembar, cenderung dapat merasakan apa yang dirasakan oleh kembarannya. Katanya juga pada pasangan yang sudah berjalan bertahun, atau teman yang bersama dari kecil. Ilmuwan bilang, itu getaran atom yang berjalan satu frekuensi. Satu kumpulan gelisah, sekumpulan teman atomnya pun dapat gelisah. Amir terganggu dengan cahaya lampu kamarnya, tapi nafas Amir makin teratur, mata terasa berat.

Lantai itu tanah, lembab, dan Amir selalu berjinjit. Dipeluknya seorang wanita tua gemuk yang matanya berbercak abu. Baunya tak jauh beda dengan bau orang-orang tua yang Amir kenal. Baju wanita itu merah, baju Amir abu-abu, tapi kali ini baju mereka tidak jelas warnanya. Wanita itu meminta maaf, tidak bisa mengusahakan yang terbaik. Amir meminta maaf, dirinya hanya beban dan sebuah kerepotan. Amir meneteskan air mata. Hidung dan mata Amir memerah, menahan malu karena lelaki dewasa hanya menangis jika sangat sedih, dan Amir tidak boleh sedih semudah itu. Amir memeluk semakin erat wanita tua itu, kakinya tidak lagi jinjit. Amir bersimpuh dan wanita itu duduk di kursi plastik. Menangisi yang sedang terjadi. Terbayang olehnya nenek Amir, yang sedang menonton TV atau mungkin membersihkan pekarangan. Bahkan dia tidak pernah menangis ketika memeluk para nenek yang sering menyelipkan uang di tangan Amir sebelum pergi. Amir tidak bisa menahan tangis, hanya suara yang bisa diredam. Amir berbisik, sama seperti bisikannya di depan dispenser. Rumah sangat sepi di sepertiga malam. Punggung Amir basah oleh keringat, bantalnya pun basah. Amir sesak dan mengerang. Di mimpi, Amir sesenggukan.

Pagi tiba dan bantal kasur sudah lupa dirinya basah malam tadi. “Bukankah ini yang kuinginkan?”. Tidak seperti ini, tidak ada asyiknya. “Ternyata aku tidak sejahat itu.” Farhan berkirim pesan, “Padahal ini yang kau inginkan.”

Margarin mendesis ketika dilemparkan ke atas penggorengan. Amir menggoreng dengan khusyu, pikirannya berusaha fokus. Dia letakkan daging asap, lalu sosis sisa, lalu dicampur telur ceplok, lalu roti, lalu saus sambal, disatukan bersama margarin berasap putih. Pikirannya terganggu oleh notifikasi handphonenya. Amir masih batuk. Amir kesal, pikirnya akibat dia mengobrol maghrib-maghrib. Sarapan itu adalah sarapannya yang paling gelisah.

Pagi masih sama, sompralannya entah terbawa angin dan disampaikan penghuninya. “Jangan suka ngomong ngaco kalau maghrib, pamali didengar setan.” Amir mengecek handphone. Dibacanya berulang kali. Lalu Amir berkemas. Di balik setir, Amir berteriak hingga percikan ludahnya membasahi kaca depan. Amir kembali berbisik yang sama. “Maafkan aku.” Handphone Amir jatuh ke bawah kursi penumpang karena rem mendadak. Layarnya menyala pelan belum pun dimatikan. “Mir k IGD RSXX skrng, farhan bru jtoh dr balkon lg maen hp kt ttngganya”

Ada saatnya aku lelah. Kembali ke rumah setelah hari yang panjang. Berhasil dengan selamat melewati ratusan angkot dan ribuan motor tanpa goresan. Aku masih merasa ajaib tentang itu.
Ada saatnya aku sangat lelah. Mengelilingi kota di setiap liuk-liuknya. Melihat ke dalam kepalaku pun sama kusutnya. Sama seperti liuk di hati orang-orang. Tidak pernah aku tidak ingin tahu apa yang ada di hati mereka.
Ada saatnya aku terlalu lelah. Terlalu lelah bahkan untuk bersyukur dan meminta pertolongan. Pada akhirnya hanya bercerita, bukan pada siapa-siapa, berharap ada yang paham.

Tapi, aku selalu sakit.