Archive

Monthly Archives: March 2016

Kemarin Bestie diadopsi orang.

Teman, kucing.

Nangisnya lama, sekarang pun kalau mau nangis bisa.

Kalau diangkat-angkat diam saja. Diusap-usap suka. Dipukul tambah manja. Senang air. Minum selalu berantakan. Mukanya ditutup tidak bisa napas, tapi ga berontak.

Saya tidak pernah bersihin kotorannya, mandiinya. Tapi suka tidur bersama. Masih banyak kucing di sana. Juga di rumah saya. Tapi saya maunya yang ini.

Anggap saja ya sudah pergi. Kayak Cosmo. Sugar. Tiger. Sule. Nanti ada Bebi, Boni, Bobi.

Kalau pacar diambil orang, orang mengerti, lagunya banyak dibikin orang. Kalau teman diambil orang, sudah basi, banyak ceritanya, sudah pernah merasakan.

Bestie pasti tidak ingat saya. Bestie jahat.

Tapi Bestie, Terbaik.

 

Waktu kelas 4 SD, saya pernah duduk sedih dan bermasalah dengan seorang guru, duduk di bangku selasar menghadap lapangan rumput. Saya dihampiri seorang guru, bertanya, kenapa, apakah saya bosan.

Bertahun lewat, kadang saya masih merasakan perasaan waktu itu. Sedih, bosan, seperti ada yang tidak selesai.

Waktu umur 16, saya ingin lebih rajin, pintar, teratur.

Waktu umur 17, saya ingin lebih sopan, ramah, manis.

Waktu umur 18, saya ingin lebih memberi manfaat, diingat, juara.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sampai waktu umur 21. Saya masih merasa ada yang belum selesai. Di tahun-tahun yang lewat, di waktu yang tersia-siakan.

Tapi, sadar bahwa semua orang mengalami krisis ketidakjelasan hidup membuat saya merasa agak lebih baik. Putus asa mencari petunjuk entah dari mana datangnya.

Sampai di Quora, tempat orang asing yang semoga bijak. Paling tidak saya merasa seakan-akan lebih baik.

  1. Dunia ini sangat besar. Titik biru pucat di alam semesta. Kenapa mesti tidak bahagia, kenapa mesti tidak membuat orang lain bahagia. Mengetahui hidup kita pun tidak penting-penting amat. Tidak semua hal mesti punya tujuan. Kalaupun misalnya mati jadi debu dan tak ada kelanjutannya, ya begitulah nasib.
  2. Setiap waktu yang lewat, memang lewat, jangan terlalu terobsesi.
  3. Menjadi baik. Kata-kata yang selalu diucapkan Ibu pada saya. Lebih baik punya anak cacat tolol miskin kurap buruk rupa yang baik tulus hatinya. Daripada segala kebalikan itu tapi miskin manfaat, pelit kebaikan.
  4. dan seterusnya

Bahagia itu dari dalam ya. Pada saat kita dewasa, tidak meraih apa-apa, lalu menyerah pada keadaan. Lalu berusaha bahagia dari kata-kata orang asing di laut seberang. Padahal jati dirinya runtuh. Tapi masih berusaha bahagia, mencari kegiatan yang inginnya melawan rutinitas. Lalu nyangkut lagi nyangkut lagi di jalan yang sama. Lalu tiba-tiba sudah 21 tahun. Tapi masih pura-pura bahagia, karena katanya bahagia dari dalam. Bahagia dari kata-kata dan simpulan yang sudah ditulis sendiri. Lalu jadi bahagia. Bahagia yang justru paling sedih.

Saya cuma ingin orangtua saya bahagia.