Archive

Monthly Archives: April 2016

Bapak tidak mau lihat kemari
Lihat keringat teman kami
Kaus basah dorong-dorongan
Susah payah hujan-hujanan

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke dalam yang menyala-nyala
Hingga kan terbakar menari-nari
Seperti pedansa yang menggila

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke bingkai kelam televisi
Balita yang menghisap palsunya nubuat
Tersesat

Bapak tidak mau lihat kemari
Hati dikubur rapat-rapat
Takut lihat pakai mata sendiri
Nyatanya sudah pada cacat

Bapak pasti akan lihat kemari
Saat keluarga bapak
Mati

Bapak perokok
Yang baru akan berhenti
Ketika terlambat

“Ga akan sedetik pun lebih sayang sama Istri dibanding sayang sama Ibu.”

Ibu diam, mungkin senyum tapi tidak kelihatan. Mungkin gelisah karena anaknya naif sekali.

Beberapa tahun ke belakang, kadang saya tidak betah jika menghabiskan akhir minggu bersama keluarga. Kadang ingin main saja bersama teman-teman, atau teman spesial, begitulah. Mungkin karena krisis eksistensi dan pergaulan.

Tapi baru beberapa tahun akhir ini, saya benar-benar menunggu akhir minggu, untuk jumat malam sampai minggu malam yang akan dipenuhi cerita-cerita, haha-hihi ga jelas, dan omelan-omelan kecil Ibu Ayah. Jalan-jalan keliling Bandung, yang tempatnya memang ke situ situ lagi. Makan makanan yang itu lagi. Saya tidak peduli. Saya akan terus bersama mereka. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan di Bandung tanpa mereka.

Mereka hidup saya.