Memunggungi Api Unggun

Seorang ibu dan seorang ayah yang baru saja menjadi ibu dan ayah dalam beberapa belas jam terakhir duduk saling menyandarkan kepala. Mereka menatap bayi sangat kecil milik mereka, yang diberi pancaran sinar hangat transparan agar tidak mati kedinginan. Di ruangan itu hanya mereka bertiga. Diam saja. Tidak ada yang berbicara.
Romantis, meresahkan, menyedihkan, hangat sekaligus dingin.
Tiga laki-laki yang tidak saling mengenal, tidak mendapat tempat menginap di negara orang karena kesalahan pemesanan via internet dan pihak hotel. Mereka lalu berkenalan dan membiarkan kamar satu-satunya kosong daripada menuruti rasa egois mereka. Kafe dan masjid bersejarah menjadi tempat mereka bernaung malam itu.

Kepercayaan, rasa terima kasih, lelah, kesal, jam-jam yang hangat sekaligus dingin.

Seorang bijak yang tidak pernah lama jauh dari keluarganya harus tidur sendiri malam itu. Dalam kesendiriannya ia sadar bahwa menjadi sendiri tidak seburuk yang dibayangkannya. Membuat markas rasa nyaman sendiri lalu terlelap. Hal terakhir yang ia lihat adalah karat-karat kelabu di jeruji rapat yang menjaganya agar tetap di dalam.

Kesepian, kesadaran, amarah, dingin sekaligus hangat.

Seorang laki-laki manja tidak bisa tidur. Lalu seorang wanita menyanyikan lagu untuknya agar malam yang seharusnya panjang jadi lebih bisa dinikmati. Telapak tangannya jadi merah seperti seseorang yang baru berpegangan tangan dengan sahabat barunya. Lehernya nyeri dan kaku karena menahan beban kepala wanita yang pertama kali tidur sepanjang malam di lengannya. Nyeri dan kaku leher itu dinikmatinya seharian.

Kebahagiaan, kesepian, dan kerinduan yang dingin sekaligus hangat.

Sebuah perasaan yang gagal didefinisikan dengan kata-kata, bukanlah sebuah kegagalan dan kebohongan. Sebuah perasaan yang gagal disampaikan dengan nada dan gerakan, bukanlah sebuah kesalahan dan kedangkalan. Sederhana, bahwa manusia dan interaksi di antaranya terlalu menyilaukan, yang harus dihadapi sendiri, dialami dengan wajah tegak lurus hingga mata berair dan kulit memerah. Berbalik sesekali, dengan punggung yang lalu hangat, lalu sadar bahwa silau itu tidak terlalu buruk, namun memberi kesan pada sisi yang kini dingin.

Saya siap untuk perasaan-perasaan menyilaukan yang dunia ini bisa berikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: