Reuni Mahardika

Ini adalah respon atas tulisan dan keadaan problematikmu kemarin.

Kami bertemu di Cihampelas setelah maghrib. Sejujurnya saya tidak siap untuk bertemu hanya berdua saja dengannya. Mungkin karena saya belum cukup pandai merengkuh keheningan di antara pembicaraan dan berbasa-basi. Mungkin karena saya sedang marah. Saya selalu marah.

“Boleh ga ini pembicaraan untuk di atas jam 10 aja?”

Dia di gambaran saya adalah orang yang berbeda. Menyimpulkan bahwa saya memang tidak pernah sebenar-benarnya memasuki pikiran dan segala gesturnya dulu. Meski kami pernah sedekat itu; liburan keluarga bersama, 12 orang pertama yang membangun sekolah dasar kami, mandi bersama, mempertengkarkan hal-hal kecil karena kecemburuan, dan krisis-krisis anak kecil yang saat itu terasa sangat penting. Kami sudah sangat berbeda. Dari tinggi badan hingga pemikiran. Dari suara omongan dan juga dandanan. Baru. Tapi tidak asing.

Tidak semua orang cepat panas dan senang diserang sehingga saya menghentikan obrolan dan akhirnya bisa bertemu dengan teman baik yang satu lagi.

Piring-piring kotor dan botol kosong terbentang di antara kami bertiga. Saya yang lepas darinya hampir selama 10 tahun ini diserang rasa penasaran yang pedas.

Saya tidak tahu apa yang merubahnya. Berapa kali ia menangis selama 5 tahun kuliah. Kenapa memutuskan untuk berkarir seperti orang tua kami. Siapa saja yang telah menyakiti hatinya dan menginspirasinya. Bagaimana kabar Bude Rini yang asma dan juga obat-obatannya yang dulu sangat mahal. Saya hanya memandangnya lekat-lekat orang yang dulu memanggil saya dengan panggilan “abang”. Dan kini yang keluar dari pikirannya adalah “Lo kenapa deket banget sama dia, meski seperti pelayanan satu arah.” Seraya saya menuangkan Ginger Ale ke gelas teman di sebelah saya dan menggeser lilin ke arahnya. Kami memang punya peran masing-masing.

Teman di sebelah saya bertanya padanya apakah dia punya adik atau kakak. Sekedar memastikan. Saya mewakilinya dengan kata-kata dari sinetron Aladin bahwa maka dari itu anak adalah investasi paling berharga. Kadang bukan diri sendiri. Dan Ramadhan tidak lagi semagis waktu kita masih kecil.

“Gue nulis duluan itu. Hak cipta atas kekayaan intelektual yang sangat umum. Jangan ngaku-ngaku ramadhan milik sendiri.”

Saya memang menyalahkan diri sendiri atas ide umum yang tidak ditulis duluan sehingga harus seakan berebut pemikiran di antara pecahan tulang ayam.

Teman yang kini menenggak Ginger Ale tawar karena kebanyakan es yang dituang tadi memang sudah tidak menulis lagi. Dia mengaku tidak banyak membaca, tapi ia membaca. Beberapa ucapannya bertransformasi menjadi manusia di kiri dan kanannya kemarin yang sedikit banyak menubuhkan kata-katanya dalam layar digital. Lagi-lagi tentang menilai seseorang. Saya tidak menilai seperti apa dia atas masa lalu yang kita lalui bersama. Atau keluarga dan hal-hal yang dia lakukan sekarang.  Atau tulisan dan persona dalam baris-baris teks yang menggelitik. Atau buku-buku yang dulu kita saling tukar dan diskusikan sesanggupnya.

Dia sadar dan bersyukur atas kesehariannya dulu di sekolah dasar bau krayon dan kotoran kuda. Sekolah kami tidak merubah kami saat itu, tapi ketika kami mengambil beberapa langkah ke belakang, lalu mengulik detail yang terlupakan, maka revelasi dan kebijaksanaan lah yang muncul dari masa-masa singkat penuh persiapan assembly dan lomba sepak bola yang tidak pernah dimenangkan.

Meski tiap bulan puasa, kami bertemu saat suara-suara kecil setiap orang teredam amukannya oleh bising dunia karir luar negeri dan konsep penerbangan teranyar. Baru kali ini suara-suara kecil saling menyerang dan mempertanyakan alasan-alasan di balik pakaian yang kita pakai. Pertemuan kemarin dengan dia, terutama perlintasan dengan salah satu teman tersayang saya yang lebih jauh, adalah bel yang sangat keras. Mengingatkan bahwa dunia lebih menggerahkan dari sofa kontrakan, untuk bangkit namun tidak lupa mengecilkan diri di hadapan kerumunan bukit-bukit padat berlian.

“Ketemu lagi? Minggu? Senin? Nanti kita ga punya cerita lagi sih.”

Harga suatu komoditas melonjak ketika suplai tidak seimbang dengan kebutuhan. Saya punya kebutuhan yang banyak, mungkin beberapa hal tidak akan turun harganya. Namun minggu dan senin akan terasa seperti jersey Thailand kualitas tinggi yang tetap saja dari Thailand. Batas, akan orang-orang berharga yang memukul-mukul tiang listrik. Juga harga pengharapan saya atas teman tersayang di sana, yang sebabnya lah tulisan ini ditulis.

Dia tidak lagi hilang. Dia pulang hanya beberapa belas menit setelah jam 10 namun semua pertanyaan cukup menemukan tempatnya. Kami telah meredakan amarah-amarah masa lalu yang tidak pernah sadar bahwa ia selalu ada. Kami telah saling berkunjung.

 

Advertisements

Author: Kafi Khaibar

Percayalah pada dongeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s