Kata Pengantar

Esai atau essay atau artikel adalah kumpulan kalimat yang disusun sedemikian rupa demi mencapai keinginan penulisnya yaitu menyampaikan ide atau pemikiran serta kadang dibuat untuk memenuhi ego. Menjadi penulis esai atau editorial dengan baik tidak akan membuat anda menjadi petualang yang berkeliling dunia seperti Tintin. Lagipula jarang sekali saya melihat Tintin menulis artikel, sementara hampir di setiap buku, Tintin mengalami gegar otak. Saya tidak yakin betul apa saja perbedaan jenis tulisan tersebut meski guru Bahasa Indonesia masa remaja awal saya yang sangat baik pernah bercerita tentang perbedaan “tajuk rencana”, “lirik Ebiet G. Ade”, “editorial”, “artikel”, “sinopsis”, dan “kunci gitar As Tears Go By”. Yang saya ingat sampai sekarang hanya bagian G, A mayor bukan minor, C, dan D saja.

Waktu saya SD, selain ada ujian multiple choice dalam worksheet atau midterm exam, hampir pasti exam disertai dengan esai pendek, fill in the gaps, cross words, atau gambar balon udara dengan stripped lines untuk diisi dengan uraian panjang, yang pada dasarnya adalah esai pendek juga namun dikemas dengan lebih menyenangkan. Kadang merepotkan karena fotokopiannya tidak jelas dan saya tidak yakin harus menulis di atas bercak hitam yang sebelah kiri atau bercak hitam yang sedikit di bawah. Kalau work sheet tidak selesai nanti disimpan di dalam tray yang isinya unfinished assignments. SD saya adalah SD inklusif terbaik di kota Bandung yang keminggris berbudaya barat non-zionis non-yahudi meski guru-gurunya tidak sehandal itu berbahasa Inggris. Paling tidak kami semua pernah berusaha.

Hal tersebut yang seakan meninggalkan kesan bagi saya bahwa uraian panjang adalah upaya panjang memanjang-manjangkan topik yang kita tidak paham betul isinya apa yang penting semua garis terisi penuh. Entah bagaimana ada pula sedikit kesan yang tertinggal dalam diri saya, yang waktu itu selalu mendapat nilai sekadarnya, bahwa uraian atau esai panjang adalah hal yang mendebar-debarkan. Saya bukan anak yang cemerlang meski didukung ini itu dan ikut ini itu, karena kalau benar saya cemerlang pasti buku saya sudah beredar sebagai salah satu serial “Kecil-kecil Punya Karya” (meski mungkin akan agak malu sekarang) atau menang lomba matematika tingkat Kotamadya. Buktinya saya hanya anak SD yang bahagia hujan-hujanan lalu pilek. Sudah pilek masih bahagia juga karena dibuatkan teh jahe dan wedang ronde ke sekian.

Konon generasi di atas saya yang berada di lantai dua, punya asumsi bahwa generasi di bawahnya tidak lebih baik daripada generasinya yang mendengarkan lagu-lagu Queen dan Scorpion. Sebuah asumsi yang subjektif, basi, dan tipikal bahwa generasi yang lebih muda akan selalu dianggap tidak lebih baik. Terbukti dengan anggapan saya terhadap adik saya yang sembilan tahun lebih muda. Waktu saya seumur dia, saya jadi buronan tetangga Bapa Om Haji karena meledakkan petasan di punggung anak balita. Sekarang adik saya baru pandai main ponsel. Kalau tidak salah, konsep prasangka buruk yang tidak lekang oleh waktu ini sudah ada sejak zaman Aristoteles atau Plato.

Namun konon pula, katanya generasi saya yang merem melek teknologi ini pernah merasakan yang namanya hidup tanpa ponsel, lalu hidup dengan ponsel monokrom, lalu hidup dengan internet colok yang tidak stabil, hingga akhirnya bisa membajak film macam-macam via udara. Generasi saya ini konon adalah generasi yang manja dan merasa bahwa kita adalah pusat dunia. Meski generasi di atas saya yang di lantai dua belum tentu berpikir demikian, apalagi generasi di bawah saya yang buta huruf. Saya saja kaget betul waktu membaca ide-ide dan asumsi tentang generasi saya. Loh, saya bukan pusat dunia ya? Padahal ibu dan ayah selalu bilang begitu tiap saya ulang tahun.

Kembali ke esai pendek, saya masih ingat perasaan ketika menulis esai-esai pendek atau uraian pendek yang saya buat waktu SD. Perasaan bingung, kadang bersemangat, dan kadang perasaan licik ketika saya membesar-besarkan huruf dan memperbanyak konjungsi agar supaya yang namanya merupakan adalah sebuah lembar isian menjadi penuh. Kebiasaan buruk ini, selain kesan yang tertinggal tadi, juga mengerak hingga saya bertumbuh jadi dewasa muda yang produktivitasnya semu. Ketika saya dihadapkan dengan keinginan untuk menulis artikel di media sebanyak 750-1000 kata, sekitar 300-400nya adalah kalimat opini yang dicatut dari paragraf-paragraf sebelumnya. Juga ketika saya dihadapkan dengan kewajiban menulis esai untuk beasiswa atau pendaftaran sesuatu, sekitar setengahnya adalah cerita tentang betapa saya sangat senang makan sate padang dan cita-cita saya untuk jadi bapak RW.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, dipuji untuk sebuah tulisan yang kita tulis sangatlah mudah. Tinggal masukkan diksi-diksi yang lumayan indah, topik yang akrab di mata pembaca, dan kalimat penutupan yang agak pamungkas. Langkah berikutnya adalah dipamerkan di media sosial kemudian tinggal menunggu teman-teman kita yang tidak bisa dipinjam uangnya memberi komen jenaka atau pujian setinggi langit tentang betapa berbakatnya kita dalam menulis dan memelihara kucing. Hal ini pernah membuat saya tenggelam selama beberapa bulan, mempercayai bahwa saya adalah seorang penulis yang berbakat karena selalu dipuji dan tidak pernah dikritik dengan keras. Karena, sayangku, membuat kalimat yang bernada itu sulit. Apalagi bercerita tentang hari ini yang nanti kita cerita tentang hari ini, cerita tentang kartun Doraemon yang tidak ada tamatnya, apalagi Detektif Conan, sayang. Sini aku ceritakan di pangkuan senja dan lukisan Braga yang kehujanan ketika matahari bangkrut menyinari Ramayana, mari kita kutip dan jadikan pedoman-pedoman bagi mudi-muda yang berbuka puasa di tempat makan waralaba, sayang. Nanti kita cerita tentang hari ini, sayang, yang bertengkar di dalam mobil LCGC panorama primadona dekade kedua satu abad sebelum abad dua puluh dua.

Tidak akan ada habisnya jika bicara soal pendidikan, baik yang pernah saya alami atau akan saya alami nanti. Terlebih karena ingatan saya dan teman-teman saya soal pendidikan masa kecil kami penuh dengan bias dan subjektivitas anak-anak. Di satu situasi saya mengingat hal kecil yang tidak penting, namun teman saya tidak ingat lalu terjadilah ketidakcocokan cerita yang berujung jadi berbau kebohongan. Seperti sekali waktu kami diajak wali kelas saya ke semak dan kebun kavling kosong untuk mencari serangga lalu dibuat resume dan esai pendek mengenai serangga yang ditemukan serta kegiatan yang telah dilakukan. Saya cukup yakin tidak ada teman saya yang mengingat hal tersebut tapi  saya sangat yakin semua teman masa kecil saya ingat siapa yang pernah BABnya jatuh di pojok karpet kelas. Anak-anak memang jahat.

Sulit sekali melawan fenomena Duning-Kruger. Satu saat anda sadar betapa jeleknya anda, tidak secara harfiah, namun satu saat anda sadar bahwa anda ternyata lebih baik dalam mengerjakan sesuatu dari kebanyakan orang. Paradoks akan terus terjadi dan hanya bisa dilawan dengan kegagalan serta rasa malu karena ada seseorang yang jelas-jelas lebih pandai atau lebih payah. Sulit pula melawan fenomena yang terjadi di generasi saya, merasa dunia adalah mereka dan mereka adalah agen pengubah dunia. Meski mungkin benar, ada baiknya lah tetap rendah hati.

Saya sadar bahwa membaca dan memahami sebuah esai secara lengkap cukup sulit. Membaca satu buku tebal berjudul “Origin of Species” dan yang kita pahami serta ingat hanyalah bahwa manusia berasal dari monyet. Tapi lebih sulit lagi membuat tulisan yang mampu menyampaikan apa yang kita maksud. Peradaban sudah sebegitu majunya dan karya tulis bebas sebegitu mutakhirnya membahas ini dan itu namun kita terlalu sibuk berputar-putar kelelahan mengumpulkan tabungan untuk beli buku baru dan sekolah anak. Padahal dengan diri sendiri pun belum selesai.

Advertisements

Mengaji

Saya tidak punya ilmu atau kapabilitas untuk membahas hal mengenai mengaji, pengajian, pengkajian, atau kata dasar “kaji” itu sendiri. Boro-boro, dulu saja saya berpikir kalau skripsi itu asal kelar dan lulus tepat waktu. Dan hanya dalam waktu tiga tahun yang relatif panjang namun juga relatif pendek, sudut pandang saya berubah total. Betapa indahnya jika lulus sedikit telat namun punya banyak “produk” dan hal yang bisa dibanggakan ketika sudah lepas dari institusi. Padahal sudah diwanti-wanti saat ikut workshop inovator muda di Binus ketika saya SMA, kalau jadi mahasiswa jangan buru-buru, karena banyak kesempatan yang datang hanya ketika masih duduk di bangku kuliah. Tidak perlu saya bahas lebih lanjut karena basi dan tidak relevan.

Pengertian saya dulu soal pengajian adalah suatu acara atau kejadian di mana bapak-bapak dan ibu-ibu serta anak-anak balita yang dipasangi kerudung cilik dan menderita ruam kulit kepala karena kerudung warna merah mudanya panas, datang berkumpul dan membaca ayat suci Al-Quran. Setelah itu mereka semua makan kudapan dalam kotak yang tidak ramah lingkungan, lalu bersalam tempel berkeliling sambil menyanyikan Shalawat Badar sebelum pulang. Ternyata saya salah sekaligus benar. Karena pengertian yang saya alami penuh rasa negatif dan prasangka, jika benar pun, semoga hanya sedikit pengajian yang seperti itu. Yang banyak ditemui adalah diskusi keagamaan menggunakan papan tulis atau buku atau layar tancap atau cendekiawan muslim dan penuh sikap kritis serta parfum dari tanah suci. Semoga.

Sementara, pengertian saya terhadap pengkajian adalah bapak-bapak dan ibu-ibu dan anak-anak yang terpaksa dibawa karena tidak mau dititipkan atau ditinggal di rumah, membaca huruf-huruf kecil dalam buku luar biasa tebal, atau memelototi mikroskop dan mikroba-mikroba serta deretan DNA yang ketika diperbesar beratus-ribuan kali ternyata tidak ada huruf G, C, A atau T di mana pun. Setelah itu mereka semua akan bergerombol ketika salah satu dari mereka berteriak “EUREKA!” duluan.

Pengajian atau pengkajian tersebut beda lagi dengan Bedah Buku. Kita tidak bicara soal imajinasi anak yang kurang imajinatif dan kurang lucu di mana mereka bilang “buku dipotong-potong menggunakan pisau bedah”, tapi apa yang saya pernah bayangkan justru tidak jauh berbeda. Pengertian saya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu dan anak-anak jika ingin ikut, masing-masing diberikan potongan buku, atau sobekan buku yang kemudian dioper satu per satu dari kursi yang paling depan. Nanti ketika sudah sampai di belakang, sobekannya sudah lecek dan berubah warna. Masih untung jika dibaca karena biasanya yang duduk di belakang tidak terlalu tertarik dengan objek yang sedang dibicarakan dan sangat malu jika disuruh maju ke depan. Nanti sobekan kertas itu hanya numpang lewat dari orang ke orang sementara sang Pembedah Buku di paling depan berbicara dengan menggebu-gebu mengenai ajaibnya kalimat pembuka dari novel dewasa muda itu yang memiliki predikat yang sekaligus bekerja sebagai objek. Yang duduk di paling depan mengangguk-angguk pura-pura mengerti, sementara yang paling belakang mengangguk-angguk pura-pura kedengaran.

Nantinya, tulisan saya ini akan dibedah dan disobek-sobek lalu dibagikan ke peserta Bedah Buku, lalu dikaji tentang sebagaimana buruk sifat inkonsistensi sang penulis, inkoherensi komponen kalimat, repetisi ide, serta unsur-unsur fobia terhadap ideologi dan faham tertentu.

Hal ini yang membuat saya agak terpukul mundur ketika hendak mengkritisi suatu karya milik orang. Baik itu milik orang yang saya kenal betul, atau selebriti yang kemungkinan besar tidak akan pernah bertemu. Saya segan karena takut dikritik balik, apalagi selama ini selalu mendapat kritik yang tidak buruk-buruk amat pada karya saya yang jumlahnya tidak bisa dihitung jari karena secara kasar bisa dibilang tidak ada. Seseorang pernah melemparkan ide, apakah para kritikus film, buku, atau musik tetap sebegitu teganya ketika menilai karya seseorang yang ia kenal, terlebih lagi yang ia kenal betul. Saya pernah mengkritik agak negatif karya poster publik milik kekasih saya yang ternyata pernah memenangkan suatu lomba dengan kalimat “kurang seimbang komposisinya dan sulit dibaca”. Seketika saya merasa seperti para kritikus anggur merah dari negara kaya di Eropa yang pura-pura paham rasa anggur putih seperti apa. Padahal mereka sedang meminum anggur cap Orang Tua dari kota pelabuhan. Penuh kebodohan dan kepura-puraan.

Kritik, atau pengajian, atau pengkajian terhadap suatu karya adalah suatu bentuk ilmu dan seni tersendiri. Jelas, karena sudah banyak mata kuliah dan seminar yang membahas mengenai apresiasi seni. Tinggal butuh beberapa tahun lagi sampai kita marak temui pengkajian terhadap mata kuliah dan seminar apresiasi seni. Sekarang saja sudah banyak para penulis esai video yang membahas betapa banal dan bodohnya para kritikus yang kemudian nanti sang penulis esai video itu akan mendapat kritik balik. Kritik untuk kritik mengenai kritik yang pada akhirnya tidak konstruktif-konstruktif amat karena monopoli studio hiburan terlalu besar dan mereka terlalu kecil dan sibuk saling mengkritik karya yang motivasi ditulisnya pun sebenarnya hanya dua. Uang dan aktualisasi diri. Kalau lebih bebal lagi motivasinya hanya uang. Kalau paling bebal sang elit global bilang motivasinya adalah untuk mencerdaskan bangsa padahal filmnya merupakan buah propaganda pembodohan dan motivasi sebenarnya adalah uang.

Berbicara mengenai pengkajian dan atau pengajian karya seni di era revolusi industri gelombang empat ini tidak jauh dari banjirnya kritikus film dengan kompetensi yang sangat dipertanyakan dan yang salah satunya adalah saya. Sudah jarang sekali saya menonton film tanpa memperhatikan apa yang saya patut tandai dan mana yang patut saya maki-maki secara halus. Meski ujung-ujungnya keluar dari bioskop atau menutup laptop lalu melaporkan pada kekasih atau teman terdekat atau orang tua saya menggunakan ekspresi “FILM INI BAGUS” atau “FILM INI LUAR BIASA” atau “FILM INI BASI TAPI SERU”, saya ingin menjadi kritikus yang tidak keluar masuk bioskop dengan kebencian. Kalau mau marah-marah di rumah saja, atau di Twitter. Gratis.

Menilai film adalah mengenai keikhlasan dan mengenali diri sendiri. Kalimat yang sebenarnya tidak ada artinya namun jika dikutip bisa dibedah berkali-kali dan menginspirasi para kritikus karya seni. Padahal maknanya sangat personal dan tidak jauh dari ego pribadi yang hina-dina seperti “tahu apa anda soal tempe?” dan “paham apa anda tentang faham-faham?”, yang lebih hina dan menohok lagi adalah “memangnya anda punya kompetensi apa bisa bicara tentang pembuatan film dan sinematografi?”. Yang sebenarnya bisa dijawab dengan mudah bahwa saya senang nonton film dengan orang tua saya di akhir pekan. Tidak nyambung tapi romantis.

Sesungguhnya tidak perlu bisa memasak untuk bisa tahu apakah tukang nasi goreng yang lewat depan kampus adalah intel atau bukan. Tidak perlu bisa membuat film untuk bisa menilai apakah film yang barusan anda tonton menyenangkan atau tidak. Apalagi menjadi dokter bedah untuk tahu apakah hasil pembedahan itu menyebabkan kematian atau tidak. Atau tidak perlu jadi dokter bedah yang ikut bedah buku bedah untuk bisa tahu jika apakah pembedahan buku itu kurang membedah. Tapi yang paling penting adalah tidak perlu jadi peserta pengajian yang sesudah ikut pengajian jadi marah-marah seperti setelah nonton film jelek di tanggal merah, sudah filmnya jelek, tiketnya mahal pula.

Paling tidak saya berusaha jadi orang yang menyenangkan.

 

 

 

Salam Dari Brangkar. Wasiat #1

Saya tidak bangga menjadi dokter. Pertama, karena masuk kuliahnya saja karena do’a orang tua. Kedua, kuliahnya gampang dan meski malas-malasan serta ber-IPK jelek, lulusnya tetap tepat waktu. Ketiga, masih terlalu banyak sejawat yang merasa dirinya penting. Sesungguhnya kalian sangat “replaceable”.  Keempat, saya belum bisa menyembuhkan, memberi nyaman, dan meyakinkan orang tua saya dan orang lain kesayangan saya jika misalnya mereka sakit. Saya saja kesal karena sudah bertahun-tahun Ibu saya mengalami frozen shoulder dan osteoarthritis yang tidak kunjung membaik. Membaik jika setelah fisioterapi dan jika senang anak-anaknya sedang berkumpul bersama beliau. Mungkin Ibu seringkali tidak senang punya anak sulung seperti saya, durhaka dan pulangnya malam. Tidak pakai hijab pula. Kelima, jadi dokter itu hanya memberi obat dan melaksanakan terapi lainnya, yang menyembuhkan Tuhan. Atau jika lumayan ateis garis keras, yang menyembuhkan adalah ilmu sains. Kadang Habbatussauda dan pijat refleksi. Bahkan yang memasukkan obatnya saja Ibu Bapa akang teteh perawat atau koas. Ada pengecualian lain, seperti tindakan, dan lain sebagainya tapi tentu kalian paham maksud saya. Dan jangan mulai dengan “tidak kok, dokter juga banyak berpikir dan menentukan diagnosis dan memegang banyak tanggung jawab dan sudah berjuang keras untuk bisa mendapat gelar dan menggunakan jas putih dan menyelamatkan nyawa.” Omong-omong, kemarin (belasan tahun lalu) saya membaca ayat suci tentang tidak akan masuk surganya orang yang memiliki kesombongan sebesar biji zarah. Apalagi biji-biji yang lain. Apalagi biji-biji yang rentan. Baik dok, terima kasih banyak dokter.

Membicarakan soal dunia kedokteran tidak akan jauh-jauh dari kematian, pendidikan, kesehatan masyarakat, Rumah Sakit, dan tukang nasi goreng Rumah Sakit. Karena hampir di depan tiap Rumah Sakit ada tukang nasi goreng dan industri kedokteran tidak jauh-jauh dari Rumah Sakit. Saya kadang masih merasa geli dengan orang-orang yang bercerita panjang lebar tentang dunia kedokteran dan pengalamannya di Rumah Sakit. Satu bagian, mungkin karena saya iri bahwa mereka bisa cerita dengan leluasa.  Bagian yang kedua, ternyata saya tidak iri, hanya geli. Memang banyak orang yang penasaran dengan dunia kesehatan, penasaran ingin menjadi bagian dari dunia kesehatan, dan ingin nongkrong di balik “Nurse Station” memperhatikan ada apa saja dan ada tulisan apa saja di tumpukan kertas-kertas itu. Paling tidak itu salah satu hal yang membuat saya ingin menjadi dokter. Ternyata tumpukan kertas itu banyak sekali yang harus diisi, seringkali bermasalah, dan tidak berkembang juga setelah bertahun-tahun. Niscaya jika saya jadi petinggi Rumah Sakit, yang pertama diberhentikan adalah para dokter radiologi yang bersikeras memberikan ekspertise dengan tulisan tangan. Buat apa menulis repot-repot, ratusan ekspertise setiap harinya, dan tidak bisa dibaca juga oleh orang-orang karena tulisan sejawat jelek. Kalau ada alasan lain silakan hubungi 081321129293 dan ubah pikiran saya dengan berdiskusi. Ohiya, karena alasan itu juga, foto radiologi tidak bisa dikirim via surel atau aplikasi mengobrol lalu beliau ketikkan ekspertisenya di rumah dan dicetak oleh saya atau petugas radiologi lainnya. Baik dok, terima kasih banyak dokter.

Belum sampai juga ke bagian wasiat dan dunia kedokteran yang tidak jauh dari kafe susu kocok. Entah mengapa kafe susu kocok di dekat Rumah Sakit Sumedang sangat berkesan bagi saya. Mungkin ada yang pernah meninggal di sana lalu kafe susu kocok itu cocok berada dekat rumah sakit karena rumah sakit tidak jauh dari kematian yang menohok.

Dear people,

Buat Ibu dan Ayahku (yang mungkin sudah duluan juga), dan adik-adikku, dan Istriku, dan anak-anakku, dan sahabat-sahabatku. Wasiat ini bukan buat kalian. Karena pertama kali saya cerita bahwa saya dan Aya membuat wasiat jika kami meninggal, saya dimarahi oleh Ibu saya. Padahal yang namanya umur tidak ada yang tahu, apalagi astrofisika lanjutan dan endokrinologi molekuler. Saya tidak tahu bidang seperti itu ada atau tidak. Buat kalian tentu ada wasiat-wasiat yang lain. Yang jelas, wasiat harus ditulis dan harta-harta saya tidak boleh jatuh ke tangan Sauron.

Wasiat ini buat dokter-dokter, perawat-perawat, dan petugas pengantar orang sakit yang menangani saya yang sakit sejak dari IGD, di bangsal, atau di HCU, ICU, CICU, di OK. Atau di klinik atau di manapun. Atau di taman kota Bandung yang kian indah. Saya sebenarnya takut jika berharap bisa meninggal di tempat yang indah seperti Taman Lansia misalnya (indah dari mana, semoga nanti sudah beneran indah) karena berarti jika nongkrong di sana harus bersiap-siap terkena serangan jantung. Sama seperti jika hari Jumat datang bagi para muslimin dan muslimah, sebaiknya juga bersiap tertabrak Damri karena subhanallah meninggal di hari Jumat. Padahal ketabraknya Jumat, meninggalnya Sabtu pagi bersama bapak tapi yang beredar di tetangga adalah beliau sebenarnya sudah ga ada (tos teu aya) sejak Jumat, tapi diusahakan terus oleh pihak RS, maklum dokter. Padahal juga, itu hari Jumat sedang dalam perjalanan mau ketemu keluarga yang menunggu di rumah mau akhir mingguan nonton blockbuster. Subhanallah tidak jadi nonton Toy Story 9. Terima kasih karena sudah merawat saya, berpikir keras, dan mengonsulkan saya ke para teman-teman spesialis saya yang pintar dan perhatian. Kecuali jika kalian kurang ajar menyangka saya sakit lambung padahal sedang renjatan kardiogenik.  Terima kasih sudah bekerja keras meski ketika saya didorong masuk ke IGD atau Triase kalian mungkin menghela napas. Saya tidak kecewa akan hal itu, karena sesungguhnya sangat wajar jika rumah sakit sedang ramai.

Kalian mungkin sedang sibuk, lelah, kewalahan dan lain sebagainya. Saya juga pernah merasakan kerja di IGD. Memang agak suram. Tapi percayalah “life gets better”. Kalian mungkin menganggap pekerjaan ini hanyalah sementara, atau mungkin selamanya dan tidak punya rencana besar ke depan. Apapun itu, terima kasih sudah meluangkan waktu di Rumah Sakit.

Saya sudah pernah merasakan asam garam kehidupan dan kelelawar bacem yang “aftertaste”nya tidak enak sampai 1 x 24 jam wajib lapor. Ini jika saya meninggal di hari tua. Jika mati muda, salam untuk Kelompok Penerbang Roket. Hidup saya berarti seperti sayur di penjara. Kurang asin garam. Untuk kalian-kalian ini, tidak apa-apa banyak makan asam garam kehidupan asalkan tidak makan indomie instan atau KFC soup ditambahkan garam lagi. Nanti darah tinggi.

Saya tidak tahu berapa jumlah kematian yang terjadi di depan mata kalian. Sepertinya banyak dan seharusnya memang banyak jika bekerja di Rumah Sakit. Saya hanyalah salah satunya, sebagai bagian dari statistik dan partikel kecil di jumlah data pasien yang meninggal karena penyakit tidak menular atau penyakit menular atau penyakit tidak terjelaskan. Tolong perlakukan keluarga saya dengan baik, jangan dimarah-marahi, nanti saya hantui. Tidak hanya saya, tapi juga keluarga pasien yang lain. Kecuali keluarga pasiennya ceroboh dan tidak peduli dengan sang orang sakit. Marahi saja tapi pastikan sudah menyelesaikan administrasi agar tidak ribet. Untuk para sejawat dokter, jangan marah-marah dan tidak sopan dengan para sejawat perawat. Karena mereka sesungguhnya sama pintarnya, piawainya, capeknya, namun dibayar murah. Semoga di saat saya meninggal atau di masa depan, apresiasi terhadap perawat lebih sesuai. Tentu, kecuali pada para oknum perawat yang tidak profesional, tidak sopan, dan kurang ajar pada rekan kerja, keluarga pasien, apalagi pasien. Kalau itu dimarahi saja sampai menangis karena pernah dilahirkan.

Saya tahu mungkin akan ada beberapa dari sekian banyak orang yang merawat saya berharap agar saya cepat meninggal saja. Karena saya sudah sopor selama beberapa hari, buang-buang sumber daya, bikin penuh ruang perawatan intensif, dan prognosisnya buruk namun keluarga ngotot dipertahankan. Terima kasih sudah melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Kalau kalian membicarakan saya di belakang, itu urusan kalian. Dan jangan merasa buruk karena hal itu. Karena berarti kalian sudah menjadi tenaga kesehatan yang profesional dengan tidak terlibat dalam secara emosi dengan pasien dan keluarga pasien.

Dalam hidup, orang boleh bermimpi, bercita-cita, berharap, dan itu semua terhenti ketika meninggal tentunya. Salah satu mimpi saya adalah memberikan “rasa” dan menginspirasi orang-orang. Termasuk anda-anda yang sedang bermimpi dan sedang dalam kegiatan meniti mimpi. Saya doakan semoga cepat tercapai, dapat beasiswa yang diinginkan, bisa makan malam seperti yang diinginkan, dan sembuh sakit punggungnya.  Anda semua adalah bagian dari mimpi saya, yaitu menjadi orang yang tertular “rasa” dan mendapat inspirasi.

Wasiat saya, jadilah baik. Paling tidak dari niat. Atau paling tidak terpikir untuk menjadi baik. Atau paling tidak jauh-jauh deh dari pencurian, kebohongan, dan tindak pelecehan seksual seperti goda-godain perawat atau dokter yang lumayan. Karena saya yang sering kali jutek dan ketus pada pasien, ingin dirawat dengan baik dan diperlakukan baik. Saya tidak bisa menjadi orang yang seramah itu. Atau sesabar itu. Atau seikhlas itu dalam mengerjakan pekerjaan. Padahal saya yakin banyak sekali motivasi-motivasi baik yang membawa kalian ke titik ini. Salah satunya adalah menjadi harapan dan pemberi nyaman orang-orang yang sakit. Yaitu kalian semua yang menangani saya. Salam untuk keluarga, dan juga keluarga saya tentunya. Pasien meninggal yang kalian tangani tadi bukan orang biasa-biasa (buset sombong sekali saya).

Selamat berkehidupan 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masalah Dengan Jumlah

Dalam sebuah lingkungan kerja Rumah Sakit, sangat sering terlontar frasa “hari bala”, “pemanggil pasien”, “penolak pasien” dan derivat-derivat lain yang tidak kalah antisainsnya, namun sebenarnya sangat jarang terlontar kalimat “kami sudah berusaha” yang diikuti jerit tangis atau “hidup anda hanya tinggal 5 bulan lagi sebaiknya keluar kerja, menghabiskan tabungan, menyelesaikan daftar keinginan dan merampungkan kisah cinta, serta berbuat masalah yang tidak jauh dari pelanggaran hukum” yang lalu disesali karena sudah lewat 5 bulan bangkrut dan menggila tapi tidak meninggal juga karena dokternya main tuhan dan kurang baca.

Frasa antisains yang sering diucapkan oleh para tenaga medis pro-vaksin yang lulusnya pakai skripsi yang ditulis menggunakan metode saintifik itu kadang-kerap-acap-barang-kali ada dan tidak ada benarnya juga. Lebih mirip fenomena membaca horoskop yang mana pemilik horoskop Taurus akan senang-senang saja jika dikatakan cocok dengan pemilik horoskop Capricorn karena calon jodohnya orang Capricorn padahal jika dibaca kolom Capricorn, katanya Capricorn cocok dengan Aries. Intinya ketiga horoskop itu sedang bermasalah finansial dan disarankan untuk mengatur pengeluaran. Bukan menanam saham. Apalagi mengejar jodoh yang senang baca tabloid bodong.

Fenomena membaca horoskop yang disebut “acceptance phenomenon” adalah fenomena yang mendeskripsikan bagaimana kita setuju pada hal-hal umum yang terdengar baik dan ditujukan pada kita. Mempercayai hal tersebut meski tidak serta merta bodoh, tetap agak mengerdilkan pikiran. Seperti halnya penyederhanaan golongan menjadi puluhan partai politik atau 77 golongan islam sesat yang kelak disiksa tanpa ampun, atau menjadi dua puluh sekian macam kepribadian palsu 4 karakter yang dibuat-buat dan biasa digunakan mahasiswa saat sedang ospek, atau shio yang jumlahnya 24 karena di tengah gelombang feminis ini harus dibedakan mana babi betina dan mana babi jantan, dan terakhir golongan darah yang masyarakat seakan bisa menebak padahal kemungkinan benarnya kurang lebih 25%. Apalagi kalau menjawab A, hitung sendiri probabilitasnya.

Percobaan penghapusan sesat-sesat pikir seperti ini marak ditemukan di debat-debat pintar para penggiat sosial media hingga buku-buku impor berbahasa inggris non-fiksi yang dijual di bandara. Bahwa manusia mudah sekali tertipu logikanya, bahwa manusia lebih senang dengan angka serta penggolongan, bahwa manusia berpikir kurang jernih dan lain sebagainya. Bahkan ketika ditemukan di dalam buku tersebut bahwa harga diskon serta psikologi pemasaran dan lain sebagainya telah membuat kita menjadi pelaku pasar yang konsumtif dan buta arah, kita telah terlambat karena buku yang harganya berlebihan itu sudah kita beli sambil minum kopi manis yang bergaya.

Percobaan penghapusan sesat pikir ini justru paling sulit berada pada generalisasi wanita dan laki-laki yang langsung tidak langsung berkaitan dengan jumlah dan statistik. Entah perempuan atau pria, saya lupa mana kata yang berkonotasi lebih baik, yang jelas sekarang harus lebih sering menggunakan kata “Cina” dan “Tuli” karena para orang-orang Tionghoa dan Tuna Rungu justru tersinggung ketika masyarakat terperangkap dalam bangunan prasangka masa lalu. Meski sejujurnya saya masih tidak enakan menggolongkan Lee Kuan Yiew yang baru operasi radang tulang mastoid sebagai Cina Tuli. “Itu Bapak yang Cina Tuli sudah pulang dari bangsal tapi kopi mahalnya ketinggalan belum diminum.”

Kembali pada generalisasi pria, wanita, dan orang Cina, saya pernah terjebak pada generalisasi “semua perempuan jahat kecuali Ibu” dan “saya tidak suka perempuan” karena kecemburuan sosial pada saat usia sekolah dasar. Dan yang namanya manusia, tentu berkembang dan berubah menjadi lebih bijak, sekarang saya tidak lagi melakukan generalisasi tersebut karena saya lebih suka kalimat “semua manusia jahat kecuali Ibu, Ayah, dan Jackie Chan”.

Berakar pada ide mengenai kombinasi dan permutasi yang sering saya lontarkan, tidak lah aneh jika kita temukan berbagai macam sesat pikir dan orang-orang yang menggeneralisasi orang lain, bahkan menggeneralisasi setiap kejadian. Termasuk kejadian bencana alam dan jumlah pasien yang datang ke IGD. Hal ini yang kembali lagi membuat saya berpikir bahwa jika ada 0.25% saja orang yang benar bodoh dan jahat di Indonesia, maka jumlahnya menjadi 650.000 dan itu mungkin lebih banyak daripada jumlah wajah yang pernah kita lihat selama kita hidup. Apalagi jika kita lah orang yang jahat dan bodoh tersebut, maka tinggal dicari 669.990 orang bodoh dan jahat yang lainnya karena sesuai ketentuan tadi saya ceritanya jahat dan bodoh jadi tidak bisa berhitung dan suka menambah-nambahkan angka.

Baru-baru ini saya membaca buku tentang kebohongan yang manusia lakukan dan dapat diungkap oleh jenis-jenis data baru, di antaranya adalah data dari pengetikkan ke mesin pencari. Di buku tersebut dijelaskan kurang lebih bahwa jika kita mau mengkonstruksi ulang pengumpulan data dan bagaimana kita memproses data, maka akan banyak sekali ketidakcocokan antara fenomena masyarakat, dan yang diakui masyarakat, dengan data-data kasar yang didapat dari hal seperti entri pencarian internet. Hal ini sempat membuat saya berpikir betapa terobsesinya saya dengan angka serta jumlah dan bisa berkali-kali melihat statistik kematian orang, bermacam-macam kematian, angka kelahiran, angka kerusakan, angka kerugian, pendapatan negara-negara, berapa jumlah buku yang ditulis dalam setahun, berapa mikroba yang bertukar ketika sedang berciuman, berapa jumlah partai politik yang bubar, dan berapa-berapa lainnya yang sesungguhnya agak memalukan ketika dilihat orang lain ketika saya sedang mengetikkan hal tersebut di mesin pencari.

Hal ini mungkin diakari oleh ketidakpercayaan diri saya atas kesuksesan di masa depan, menjadi penting di masa kini, berapa probabilitas hal-hal baik yang bisa terjadi pada saya, dan berapa kemungkinan ada orang yang lebih cocok dari saya untuk pacar saya. Untuk yang terakhir saya sudah hitung jumlahnya 0. Membaca serta mengetahui hal-hal tersebut kadang membuat saya merasa terkalibrasi dan kembali merasa bahwa dunia ini kecil, Barack Obama terlalu terkenal, dan jumlah dokter umum di Indonesia sebentar lagi akan terlalu banyak, tentu jika hal itu tidak sedang terjadi. Merasa bahwa dunia kecil alangkah baiknya tidak dengan menonton video zoom-out bumi yang dilakukan berkali-kali hingga sekecil kutu jika dibandingkan Betelgeuse.

Namun di balik angka-angka besar, data-data yang tersedia, dan kombinasi kejadian spesifik yang sebenarnya sudah dipetakan oleh ilmu statistika dan para ahli matematika, masih tersimpan rahasia-rahasia dan harapan apakah suatu saat angka-angka tersebut bisa menjadi sesederhana sesat pikir dan muncul cipratan-cipratan anomali yang keluar dari gundukan jumlah kasar tersebut. Karena kemungkinan saya bisa diingat oleh guru sejarah 100 tahun ke depan agak kecil, juga kemungkinan mendapatkan beasiswa, apalagi masuk surga, apalagi menemukan Institusi Gawat Darurat yang tidak ada orang sakitnya seharian.

 

Kapal Luar Angkasa

Waktu saya dikecewakan orang atau dibuat kesal akan perbuatan orang lain, orangtua saya pernah beberapa kali memberi wejangan yang inti dan bunyinya kurang lebih begini, “jangan dipikirin, orang-orang berbuat jahat dan egois karena mereka bosan dengan hidupnya, ada yang ga kemana-mana, kamu boleh kasihan sama mereka karena seumur hidup di situ-situ aja“. Kalimat aslinya lebih menyentuh dan tidak kurang ajar, tapi yang saya tangkap kurang lebih kurang seperti itu.

Mungkin ada benarnya juga, tentang kenapa mesti marah dengan dosen yang waktu itu benar-benar bikin saya marah meski sebenarnya beliau berhati baik. Toh, tidak ada urusannya baik hati dengan tidak bikin marah, juga tidak ada hubungannya dengan pembunuh berdarah hangat. Beliau berpulang beberapa bulan lalu dan yang ada di ingatan saya adalah beliau yang masih menjaga ujian dan sibuk dengan rutinitas seritme mahasiswa. Semoga bahagia dan tenang, dok.

Ada pula orang-orang tidak muda yang hidupnya di ruang kerja bersama-sama, atau di klinik yang debu di kolong mejanya lebih tua dari piagam Jakarta, atau meja kerja pribadi yang itu-itu lagi sampai kenal (sekedarnya saja) dengan bapa yang suka bersih-bersih, dengan kakak yang suka antar fotokopian, yang pulang dan yang pergi, juga yang membicarakannya saat dia sedang pergi. Sampai tahun-tahun melebur jadi ingatan yang kabur. Umur 56 adalah umur 57 adalah umur 58 adalah umur 59 adalah lebaran 1429 H adalah lebaran 1429 H adalah lebaran 1430 H dan mereka merasa Hijriyah tidak bertambah-tambah angkanya setiap tahun.

Saya sudah lebih dari satu kali, mungkin dua kali atau tiga kali, merasakan yang namanya hidup seakan berpetualang hanya untuk kembali ke tempat lama dan menemukan bahwa badai topan beliung tidak mengubah pohon yang sudah terlanjur keras dan tinggi. Si anu masih jaga warung, si X masih jadi tersangka, si Mawar masih jadi korban dan juara 3, dan si Fulan masih saja jadi objek hinaan khutbah Jum’at. Padahal si Fulan pada kenyataannya sudah makin piawai membetulkan kompor gas bocor meski sekarang gas warna-warni yang beredar di pasaran makin terjamin keamanannya. Saya kebetulan senang-senang saja karena setelah berpetualang masih ada orangtua saya yang belum botak dan keriput.

Pilihan untuk menjalani hidup bisa dengan melalui fase luntang-lantung, fase-fase tidak luntang-lantung, atau hidup santai dan mengikuti fase kehidupan anak-anak. Seperti saya yang ingat waktu kelas 5 SD sakit demam tidak berdarah, Ibu saya mengingat betul bahwa waktu saya kelas 5 SD saya sakit demam tidak berdarah, dan Ayah saya ingat betul kalau beliau dan Ibu menunggui saya yang kelas 5 SD sakit di rumah sakit ruangan kelas 1 bukan kelas 5. Padahal di tahun itu Ibu berusia 40, Ayah 41, dan kucing kami -8.

Ngomong-ngomong soal kucing, saya masih merasa kehilangan dan kerap kali terkesiap ketika ada kucing berwarna coklat tua di jalanan. Saya memperhatikan bahwa mungkin itu si Bebi yang sekarang bahagia-tidak-bahagia di luar sana, mirip dengan kejadian-kejadian kisah cinta gelisah di kisah animasi Jepang yang ketika tokoh utamanya menengok merasa diperhatikan dari jauh ternyata bukan sang cinta lama. Atau benar sang cinta lama tapi terhalang pohon rindang atau KRL Pondok Jepang. Kalau di bawah pohon rindang desa namanya DPRD, kalau di bawah pohon duku namanya DPD. Bukan wahana pangkas rambut yang namanya DPR.

Kucing saya yang dulu hidupnya di situ-situ aja, sama seperti si Fulan yang suka merampok kotak amal, sesungguhnya punya kapabilitas untuk keliling dunia. Seperti legenda kakek dari ayah saya yang bernama Ompung Ksatria, konon beliau naik haji dengan menyelinap di cerobong kapal. Si kucing ini tidak punya jabatan kepanitiaan, jadwal wawancara LPDP, teman yang memaksa nongkrong, dan reuni dini. Kalau mau pergi tinggal dilakukannya semudah membalik telapak kaki ayam. Hal ini mungkin pernah dibicarakan di buku “Kafka on The Shore”, karena katanya 80% isi dari buku tersebut adalah tentang kucing dan 20% sisanya adalah kalimat pelengkap. Pasti banyak hal tentang kucing yang pernah dibahas di buku itu. Termasuk tentang kucing yang pergi merantau meski tidak dibekali makanan khas dari daerahnya.

Di kosan saya ada kucing. Di rumah saya ada Bong dan Boni. Mereka kadang tidur di lantai, di atas meja, di jendela, di kolong, di pangkuan, di keset, di timbangan, dan di manapun yang sekiranya masih ada gravitasi. Bagi mereka semuanya adalah sama, lantai dan rumah, Bumi Allah katanya. Satu lagi keberuntungan yang dimiliki mereka adalah tidak bisa beruban dan keriput meski tidurnya di situ-situ lagi. Karena kebetulan saya belum pernah ketemu dengan kucing sial berwarna hitam yang diasuh satu dekade lalu tiba-tiba jadi kucing putih dan ngomongnya tidak nyambung serta sakit punggung karena kebanyakan tidur di atas Bumi Allah. Saya saja pernah sakit punggung karena presiden saya banyak salahnya. Keesokan harinya saya melayani orang sakit punggung yang berobat, di hari itu terlalu banyak orang sakit punggung dalam satu ruangan.

Dengan kapabilitas dapat memakan apa saja yang kira-kira enak, tidak usah bayar kosan, dan tidak perlu wajib lapor 1 x 24 jam, hewan-hewan yang tidak bisa menua itu tidak memilih untuk pergi ke ibukota mencari nafkah. Padahal semudah itu, tinggal guling-guling di lantai sekian menara BNI, lalu besoknya terkenal di sosmed karena cerita perantauannya dari pesisir ke pesisir dan rambutnya yang tidak bisa memutih. Mereka malah memilih makan-makanan yang itu lagi, dilempari sendal oleh senior saya, kadang diberi makan enak oleh senior saya yang sama, lalu balik lagi untuk mengais makanan dari tempat sampah yang penuh abu rokok di sebelah sendal yang kemarin membentur kepalanya. Padahal makan padang tiap hari juga enak, saya pernah. Bedanya saya tidak dilempar sendal, hanya dilempar tanggung jawab dan doktrin bahwa hidup ini merupakan pengabdian. Kucing tidak menangis.

Orangtua saya pernah dengan puitis menulis tentang anak-anaknya yang getol membicarakan isu dunia dan Elon Musk serta para milyarwan yang uangnya lebih banyak dari jumlah macam-macam Tuhan di dunia ini, padahal kami pada hakikatnya hanya bergosip dan ingin buru-buru ke luar angkasa karena penasaran. Mungkin beliau-beliau berpikir kalau kami ditakdirkan untuk hal besar, sama dengan generasi anak muda kecanduan lampu sorot yang merasa bahwa dunia berputar di sekelilingnya, padahal dunia tidak berputar tapi mengembang hingga akhirnya sampai titik maksimal lalu menyusut menjadi satu titik lagi dan meledak tidak berkeping-keping tapi berpartikel-partikel lalu kembali menjadi dentuman besar edisi sekian. Saat itu terjadi, gema supir bakpau yang sayu mungkin masih terdengar tapi tidak ada yang tahu dan tidak ada yang peduli.

Jangan menyibukkan diri dengan hal kecil, karena dunia ini besar. Meski tersimpan jejak sesat pikir di kalimat tersebut, kadang ada benarnya juga karena banyak sekali orang yang marah-marah di internet berkata bahwa bangsa lain sudah ke bulan tapi kita masih sibuk saja membicarakan susu bendera yang dibakar, mubazir padahal bisa diminum oleh anak-anak di Afrika yang kemungkinan besar intoleransi laktosa. Bersyukurlah intoleransi laktosa daripada intoleransi susu bendera. Dan bersyukurlah kalau tidak berpikir bahwa Afrika tidak lagi ingin dikasihani dan dibahas-bahas kupas tuntas. Belum lagi orang yang marah-marah karena tersinggung tapi mencari pembenaran sampai keluar kata-kata kasar. Saya sih tidak sakit hati, sudah pernah dulu waktu kelas 4 SD sakit hati tipe A, badan saya kuning, mata saya kuning, perut saya membesar dan lemas lalu digendong ayah ibu ke mana-mana, saya bahagia.

Mereka tidak tahu kalau di negara yang orangnya sudah nongkrong di bulan itu masih ada warganya yang bakar-bakar sepatu mahal karena sekedar kesal. Jangan merasa diri sebagai pusat dunia, karena tidak ada yang pernah menghitung diameter dari ujung sebelah sana sampai ujung sebelah sini lalu ditentukan titik tengahnya, bisa saja titik tengah absolutnya bukan di bumi. Atau di bumi tapi di rumah orang yang kita benci hingga darah mendidih dan menguap menjadi kerak. Oh, ternyata kerak bumi dinamakan kerak karena intinya mendidih.

Jadi kalau ada orang yang hidupnya di situ-situ lagi, marah-marah lagi, makan makanan yang sama lagi, belum pernah keluar negeri, belum pernah keluar kosan karena tidak punya SIM, padahal tidak punya SIM bisa diakali dengan bepergian waktu hujan, polisi tidak mau menilang saat hujan, istilah kerennya “not worth the trouble“, padahal mandi setelah hujan-hujanan paling juga keluar biaya binatu lima belas ribu dan air Perusahaan Dagang Air Masyarakat sekian debit tiga ribu perak. Kalau menilang saat hujan bisa dapat seratus hingga dua ratus ribu karena orang yang ditilangnya kesal bagian dalam mobilnya basah. Kalau polisinya dipukul bisa kena pasal perbuatan tidak mengenakkan. Dendanya sekian penjaranya sekian. Seharusnya kehidupan sudah dipenjara milyaran tahun dalam garis waktu karena perbuatannya kurang mengenakkan pada banyak orang. Kenyataannya dunia dikutuk hidup bermilyar-milyar tahun, pasti karena perbuatan tidak mengenakkan yang dilakukannya dulu. Sebaiknya kita refleksi kaki dan refleksi diri sebelum menilai.

Salam saya pada kucing yang tidak ke mana-mana, kucing yang merantau dan belajar di Eropa menjadi kucing peranakan, pada gerigi yang memutar roda keseharian meski sering kali rodanya berbentuk kotak atau pentagon, pada orang-orang tua yang konsisten, juga makhluk-makhluk hidup lain yang di situ-situ saja, dan penumpang kapal luar angkasa yang belum berangkat. Dunia ini luas tapi hati kita kurang lapang.

Analogi Aktivis Orde Baru

Saya yang waktu itu menggunakan pakaian adat Betawi berwarna merah muda dengan selop merah muda yang kebesaran, merasa sangat malu waktu ditanya oleh seorang guru di depan umum pada perayaan Hari Kartini.

“Kalau Kafi cita-citanya apa?”

“Astronot.”

Lalu saya kembali merosot di kursi yang dideretkan di lapangan sembari memperhatikan kain yang membelit paha saya. Kain yang membuat saya malu, ditambah lagi alas kaki yang panas dan sangat mencolok mata. Saking menyala, pakaian sewaan saya bisa kelihatan dari TK Internasional sebelah yang sedang merayakan Kartini’s Day.

Perjalanan adalah sebuah reaksi kimia. Jika sebuah tempat dapat mengubah seseorang, maka panah searah atau bolak-balik di dalam reaksi kimia dapat dianalogikan secara bodoh sebagai jalan raya yang kadang juga bisa bolak-balik, kadang tidak. Kalau tidak bolak-balik, niscaya manusia sudah sampai di Mars. Ongkos baliknya mahal.

Dari sebuah proses habituasi, hingga kejadian yang dapat membuat kita lolos dari tanggung jawab apapun, perubahan sering kali dijadikan alasan dan juga dikutip sebagai kalimat-kalimat hangat yang sebenarnya agak rancu namun ada benarnya juga. Seperti misalnya “tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri” atau “seseorang tidak bisa mengubah apa pun jika ia tidak bisa mengubah pikirannya” juga “jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di bumi ini” hingga sesakti “tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah diri mereka sendiri”. Jika berkenan, kata-kata tersebut dapat dilibatkan dengan metode penelitian, lalu kita dapat pergi ke kantor hukum untuk membuat Surat Ganti Nama karena kejadian tersebut terjadi pada tanggal spesifik di bulan Agustus yang hujan waktu ada lomba memasukkan kerupuk ke mulut.

Saya sendiri pernah secara harfiah mengganti nama, dari “Afi” menjadi “Abang”, lalu “Harridhi Khaibar Kahfi” menjadi “Kafi Harridhi Khaibar Lubis”. Karena nama keluarga dianggap sebagai komponen darah murni dan bermerk tinggi yang urutan spesifiknya juga tiba-tiba meningkatkan daya tahan tubuh saya serta memperbaiki nasib saya yang konon kurang gizi. Konon juga, meski tanggal keluarnya film bioskop dapat dilacak meski lupa dan tiketnya hilang, pengalaman melewati perjalanan seseorang di dalam film serupa dengan reaksi kimia. Reaksi kimia di otak jelas terjadi saat menonton film yang penuh stimulus. Saya sering merasa dicuci otak dan hampa setelah terjebak dalam ruangan gelap beramai-ramai. Maka dari itu menyaksikan film dapat saya definisikan sebagai cuci otak kilat langsung kering tidak termasuk bayar parkir. Apalagi kalau dua kali sehari. Warnanya luntur karena buru-buru.

Saya sering berkutat dalam ide mengenai hari-hari yang terlupakan. Seperti hari hari tanggal 1 saat gajian dan hari-hari tahun baru sekian tahun lalu. Sama-sama produk kebudayaan yang konsumtif. Atau kamis yang tidak penting di 2010. Atau Februari 2002. Tapi, bicara soal hidup dan impresi yang diciptakannya tidak akan jauh-jauh dari rasa lapar dan kesulitan belajar yang kadang disertai beban pikiran yang dirasa paling berat se-Kabupaten. Yang mudah adalah menilai pasangan hidup kita sebagai paling menarik sedunia. Padahal ada rakyat Peru yang lebih ideal dan tidak patriarkis tapi melarang nyapu dan cuci piring. Impresi yang ditinggalkan begitu kuat hingga kita semua lupa bahwa bisa jadi Juni 2008 tidak lah susah-susah amat dan yang diingat cuma saat kekurangan ongkos.

Saya masih sering lupa episode yang mana dan bahkan apa yang terjadi di episode sekian ketika menonton film seri. Kata orang sukses, sebaiknya menulis jurnal agar tidak lupa dan bisa kembali merefleksikan diri pada peristiwa-peristiwa. Kenyataannya, kalau ditulis semua nanti malah jadi buku resensi. Belum lagi proses menulis supaya mengingat itu juga tidak ingat. Alias tidak jadi-jadi. Lebih sedih lagi kalau keluar kalimat “saya tidak ingat pernah menulis ini” waktu dibaca lagi di masa depan. Sedikit lebih sedih dari yang pertama adalah ketika dibaca lagi ingat, tapi ternyata diri kita jadi lebih buruk. Yang paling sedih adalah kalau jurnalnya kebawa banjir. Kembali menulis jurnal setelah rumah kering tapi isinya berkutat pada hari-hari waktu kebanjiran.

Saya pernah jadi wartawan kebotakan dini setelah membaca komik-komik Tintin. Saya pernah jadi pemain bola setelah nonton Tsubasa tiap maghrib. Saya pernah jadi ilmuwan setelah membaca kisah tokoh-tokoh dunia yang ketika dibaca lagi sekarang ternyata ilustrasinya agak asal-asalan. Saya pernah jadi anak band internasional setelah menonton konser musik yang orang-orangnya tidak merekam pakai handphone. Saya pernah jadi ahli dinosaurus setelah menonton Alan Grant dan kawan-kawannya yang mati. Saya pernah jadi wanita setelah membaca Ranma ½ di rental komik yang remang-remang. Saya pernah jadi aktivis mahasiswa setelah diceritakan tentang orang tua saya yang dulunya buronan dan bakar-bakar ban. Saya pernah jadi bintang film setelah melihat liputan keseharian aktor. Saya pernah jadi penulis setelah membaca kisah-kisah fiksi inspirasional. Saya pernah jadi aktivis lingkungan hidup setelah berdebar ketika nonton Al Gore dan mendonasikan sekian ratus ribu ke Greenpeace. Saya pernah jadi astronot setelah membaca buku tentang bintang dan planet yang warna-warni bersama orang tua saya yang juga astronot.

Sudah hampir 20 tahun sejak saya menggunakan pakaian adat Betawi tersebut dan 8 bulan sejak saya gelisah karena harus menjalani rutinitas baru. Tiba-tiba saja, saya berubah dengan bantuan ikat pinggang sakti bajaj hitam yang proses dansanya memakan waktu berminggu-minggu dan berpuluh kali perjalanan menjadi seseorang dengan kepribadian yang beda-beda tipis dari versi saya beberapa bulan yang lalu. Yang jelas, saya lupa dalam sesi dansa tanggal berapa, saya tidak ingin jadi astronot lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766