Salam Dari Brangkar. Wasiat #1

Saya tidak bangga menjadi dokter. Pertama, karena masuk kuliahnya saja karena do’a orang tua. Kedua, kuliahnya gampang dan meski malas-malasan serta ber-IPK jelek, lulusnya tetap tepat waktu. Ketiga, masih terlalu banyak sejawat yang merasa dirinya penting. Sesungguhnya kalian sangat “replaceable”.  Keempat, saya belum bisa menyembuhkan, memberi nyaman, dan meyakinkan orang tua saya dan orang lain kesayangan saya jika misalnya mereka sakit. Saya saja kesal karena sudah bertahun-tahun Ibu saya mengalami frozen shoulder dan osteoarthritis yang tidak kunjung membaik. Membaik jika setelah fisioterapi dan jika senang anak-anaknya sedang berkumpul bersama beliau. Mungkin Ibu seringkali tidak senang punya anak sulung seperti saya, durhaka dan pulangnya malam. Tidak pakai hijab pula. Kelima, jadi dokter itu hanya memberi obat dan melaksanakan terapi lainnya, yang menyembuhkan Tuhan. Atau jika lumayan ateis garis keras, yang menyembuhkan adalah ilmu sains. Kadang Habbatussauda dan pijat refleksi. Bahkan yang memasukkan obatnya saja Ibu Bapa akang teteh perawat atau koas. Ada pengecualian lain, seperti tindakan, dan lain sebagainya tapi tentu kalian paham maksud saya. Dan jangan mulai dengan “tidak kok, dokter juga banyak berpikir dan menentukan diagnosis dan memegang banyak tanggung jawab dan sudah berjuang keras untuk bisa mendapat gelar dan menggunakan jas putih dan menyelamatkan nyawa.” Omong-omong, kemarin (belasan tahun lalu) saya membaca ayat suci tentang tidak akan masuk surganya orang yang memiliki kesombongan sebesar biji zarah. Apalagi biji-biji yang lain. Apalagi biji-biji yang rentan. Baik dok, terima kasih banyak dokter.

Membicarakan soal dunia kedokteran tidak akan jauh-jauh dari kematian, pendidikan, kesehatan masyarakat, Rumah Sakit, dan tukang nasi goreng Rumah Sakit. Karena hampir di depan tiap Rumah Sakit ada tukang nasi goreng dan industri kedokteran tidak jauh-jauh dari Rumah Sakit. Saya kadang masih merasa geli dengan orang-orang yang bercerita panjang lebar tentang dunia kedokteran dan pengalamannya di Rumah Sakit. Satu bagian, mungkin karena saya iri bahwa mereka bisa cerita dengan leluasa.  Bagian yang kedua, ternyata saya tidak iri, hanya geli. Memang banyak orang yang penasaran dengan dunia kesehatan, penasaran ingin menjadi bagian dari dunia kesehatan, dan ingin nongkrong di balik “Nurse Station” memperhatikan ada apa saja dan ada tulisan apa saja di tumpukan kertas-kertas itu. Paling tidak itu salah satu hal yang membuat saya ingin menjadi dokter. Ternyata tumpukan kertas itu banyak sekali yang harus diisi, seringkali bermasalah, dan tidak berkembang juga setelah bertahun-tahun. Niscaya jika saya jadi petinggi Rumah Sakit, yang pertama diberhentikan adalah para dokter radiologi yang bersikeras memberikan ekspertise dengan tulisan tangan. Buat apa menulis repot-repot, ratusan ekspertise setiap harinya, dan tidak bisa dibaca juga oleh orang-orang karena tulisan sejawat jelek. Kalau ada alasan lain silakan hubungi 081321129293 dan ubah pikiran saya dengan berdiskusi. Ohiya, karena alasan itu juga, foto radiologi tidak bisa dikirim via surel atau aplikasi mengobrol lalu beliau ketikkan ekspertisenya di rumah dan dicetak oleh saya atau petugas radiologi lainnya. Baik dok, terima kasih banyak dokter.

Belum sampai juga ke bagian wasiat dan dunia kedokteran yang tidak jauh dari kafe susu kocok. Entah mengapa kafe susu kocok di dekat Rumah Sakit Sumedang sangat berkesan bagi saya. Mungkin ada yang pernah meninggal di sana lalu kafe susu kocok itu cocok berada dekat rumah sakit karena rumah sakit tidak jauh dari kematian yang menohok.

Dear people,

Buat Ibu dan Ayahku (yang mungkin sudah duluan juga), dan adik-adikku, dan Istriku, dan anak-anakku, dan sahabat-sahabatku. Wasiat ini bukan buat kalian. Karena pertama kali saya cerita bahwa saya dan Aya membuat wasiat jika kami meninggal, saya dimarahi oleh Ibu saya. Padahal yang namanya umur tidak ada yang tahu, apalagi astrofisika lanjutan dan endokrinologi molekuler. Saya tidak tahu bidang seperti itu ada atau tidak. Buat kalian tentu ada wasiat-wasiat yang lain. Yang jelas, wasiat harus ditulis dan harta-harta saya tidak boleh jatuh ke tangan Sauron.

Wasiat ini buat dokter-dokter, perawat-perawat, dan petugas pengantar orang sakit yang menangani saya yang sakit sejak dari IGD, di bangsal, atau di HCU, ICU, CICU, di OK. Atau di klinik atau di manapun. Atau di taman kota Bandung yang kian indah. Saya sebenarnya takut jika berharap bisa meninggal di tempat yang indah seperti Taman Lansia misalnya (indah dari mana, semoga nanti sudah beneran indah) karena berarti jika nongkrong di sana harus bersiap-siap terkena serangan jantung. Sama seperti jika hari Jumat datang bagi para muslimin dan muslimah, sebaiknya juga bersiap tertabrak Damri karena subhanallah meninggal di hari Jumat. Padahal ketabraknya Jumat, meninggalnya Sabtu pagi bersama bapak tapi yang beredar di tetangga adalah beliau sebenarnya sudah ga ada (tos teu aya) sejak Jumat, tapi diusahakan terus oleh pihak RS, maklum dokter. Padahal juga, itu hari Jumat sedang dalam perjalanan mau ketemu keluarga yang menunggu di rumah mau akhir mingguan nonton blockbuster. Subhanallah tidak jadi nonton Toy Story 9. Terima kasih karena sudah merawat saya, berpikir keras, dan mengonsulkan saya ke para teman-teman spesialis saya yang pintar dan perhatian. Kecuali jika kalian kurang ajar menyangka saya sakit lambung padahal sedang renjatan kardiogenik.  Terima kasih sudah bekerja keras meski ketika saya didorong masuk ke IGD atau Triase kalian mungkin menghela napas. Saya tidak kecewa akan hal itu, karena sesungguhnya sangat wajar jika rumah sakit sedang ramai.

Kalian mungkin sedang sibuk, lelah, kewalahan dan lain sebagainya. Saya juga pernah merasakan kerja di IGD. Memang agak suram. Tapi percayalah “life gets better”. Kalian mungkin menganggap pekerjaan ini hanyalah sementara, atau mungkin selamanya dan tidak punya rencana besar ke depan. Apapun itu, terima kasih sudah meluangkan waktu di Rumah Sakit.

Saya sudah pernah merasakan asam garam kehidupan dan kelelawar bacem yang “aftertaste”nya tidak enak sampai 1 x 24 jam wajib lapor. Ini jika saya meninggal di hari tua. Jika mati muda, salam untuk Kelompok Penerbang Roket. Hidup saya berarti seperti sayur di penjara. Kurang asin garam. Untuk kalian-kalian ini, tidak apa-apa banyak makan asam garam kehidupan asalkan tidak makan indomie instan atau KFC soup ditambahkan garam lagi. Nanti darah tinggi.

Saya tidak tahu berapa jumlah kematian yang terjadi di depan mata kalian. Sepertinya banyak dan seharusnya memang banyak jika bekerja di Rumah Sakit. Saya hanyalah salah satunya, sebagai bagian dari statistik dan partikel kecil di jumlah data pasien yang meninggal karena penyakit tidak menular atau penyakit menular atau penyakit tidak terjelaskan. Tolong perlakukan keluarga saya dengan baik, jangan dimarah-marahi, nanti saya hantui. Tidak hanya saya, tapi juga keluarga pasien yang lain. Kecuali keluarga pasiennya ceroboh dan tidak peduli dengan sang orang sakit. Marahi saja tapi pastikan sudah menyelesaikan administrasi agar tidak ribet. Untuk para sejawat dokter, jangan marah-marah dan tidak sopan dengan para sejawat perawat. Karena mereka sesungguhnya sama pintarnya, piawainya, capeknya, namun dibayar murah. Semoga di saat saya meninggal atau di masa depan, apresiasi terhadap perawat lebih sesuai. Tentu, kecuali pada para oknum perawat yang tidak profesional, tidak sopan, dan kurang ajar pada rekan kerja, keluarga pasien, apalagi pasien. Kalau itu dimarahi saja sampai menangis karena pernah dilahirkan.

Saya tahu mungkin akan ada beberapa dari sekian banyak orang yang merawat saya berharap agar saya cepat meninggal saja. Karena saya sudah sopor selama beberapa hari, buang-buang sumber daya, bikin penuh ruang perawatan intensif, dan prognosisnya buruk namun keluarga ngotot dipertahankan. Terima kasih sudah melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Kalau kalian membicarakan saya di belakang, itu urusan kalian. Dan jangan merasa buruk karena hal itu. Karena berarti kalian sudah menjadi tenaga kesehatan yang profesional dengan tidak terlibat dalam secara emosi dengan pasien dan keluarga pasien.

Dalam hidup, orang boleh bermimpi, bercita-cita, berharap, dan itu semua terhenti ketika meninggal tentunya. Salah satu mimpi saya adalah memberikan “rasa” dan menginspirasi orang-orang. Termasuk anda-anda yang sedang bermimpi dan sedang dalam kegiatan meniti mimpi. Saya doakan semoga cepat tercapai, dapat beasiswa yang diinginkan, bisa makan malam seperti yang diinginkan, dan sembuh sakit punggungnya.  Anda semua adalah bagian dari mimpi saya, yaitu menjadi orang yang tertular “rasa” dan mendapat inspirasi.

Wasiat saya, jadilah baik. Paling tidak dari niat. Atau paling tidak terpikir untuk menjadi baik. Atau paling tidak jauh-jauh deh dari pencurian, kebohongan, dan tindak pelecehan seksual seperti goda-godain perawat atau dokter yang lumayan. Karena saya yang sering kali jutek dan ketus pada pasien, ingin dirawat dengan baik dan diperlakukan baik. Saya tidak bisa menjadi orang yang seramah itu. Atau sesabar itu. Atau seikhlas itu dalam mengerjakan pekerjaan. Padahal saya yakin banyak sekali motivasi-motivasi baik yang membawa kalian ke titik ini. Salah satunya adalah menjadi harapan dan pemberi nyaman orang-orang yang sakit. Yaitu kalian semua yang menangani saya. Salam untuk keluarga, dan juga keluarga saya tentunya. Pasien meninggal yang kalian tangani tadi bukan orang biasa-biasa (buset sombong sekali saya).

Selamat berkehidupan 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Masalah Dengan Jumlah

Dalam sebuah lingkungan kerja Rumah Sakit, sangat sering terlontar frasa “hari bala”, “pemanggil pasien”, “penolak pasien” dan derivat-derivat lain yang tidak kalah antisainsnya, namun sebenarnya sangat jarang terlontar kalimat “kami sudah berusaha” yang diikuti jerit tangis atau “hidup anda hanya tinggal 5 bulan lagi sebaiknya keluar kerja, menghabiskan tabungan, menyelesaikan daftar keinginan dan merampungkan kisah cinta, serta berbuat masalah yang tidak jauh dari pelanggaran hukum” yang lalu disesali karena sudah lewat 5 bulan bangkrut dan menggila tapi tidak meninggal juga karena dokternya main tuhan dan kurang baca.

Frasa antisains yang sering diucapkan oleh para tenaga medis pro-vaksin yang lulusnya pakai skripsi yang ditulis menggunakan metode saintifik itu kadang-kerap-acap-barang-kali ada dan tidak ada benarnya juga. Lebih mirip fenomena membaca horoskop yang mana pemilik horoskop Taurus akan senang-senang saja jika dikatakan cocok dengan pemilik horoskop Capricorn karena calon jodohnya orang Capricorn padahal jika dibaca kolom Capricorn, katanya Capricorn cocok dengan Aries. Intinya ketiga horoskop itu sedang bermasalah finansial dan disarankan untuk mengatur pengeluaran. Bukan menanam saham. Apalagi mengejar jodoh yang senang baca tabloid bodong.

Fenomena membaca horoskop yang disebut “acceptance phenomenon” adalah fenomena yang mendeskripsikan bagaimana kita setuju pada hal-hal umum yang terdengar baik dan ditujukan pada kita. Mempercayai hal tersebut meski tidak serta merta bodoh, tetap agak mengerdilkan pikiran. Seperti halnya penyederhanaan golongan menjadi puluhan partai politik atau 77 golongan islam sesat yang kelak disiksa tanpa ampun, atau menjadi dua puluh sekian macam kepribadian palsu 4 karakter yang dibuat-buat dan biasa digunakan mahasiswa saat sedang ospek, atau shio yang jumlahnya 24 karena di tengah gelombang feminis ini harus dibedakan mana babi betina dan mana babi jantan, dan terakhir golongan darah yang masyarakat seakan bisa menebak padahal kemungkinan benarnya kurang lebih 25%. Apalagi kalau menjawab A, hitung sendiri probabilitasnya.

Percobaan penghapusan sesat-sesat pikir seperti ini marak ditemukan di debat-debat pintar para penggiat sosial media hingga buku-buku impor berbahasa inggris non-fiksi yang dijual di bandara. Bahwa manusia mudah sekali tertipu logikanya, bahwa manusia lebih senang dengan angka serta penggolongan, bahwa manusia berpikir kurang jernih dan lain sebagainya. Bahkan ketika ditemukan di dalam buku tersebut bahwa harga diskon serta psikologi pemasaran dan lain sebagainya telah membuat kita menjadi pelaku pasar yang konsumtif dan buta arah, kita telah terlambat karena buku yang harganya berlebihan itu sudah kita beli sambil minum kopi manis yang bergaya.

Percobaan penghapusan sesat pikir ini justru paling sulit berada pada generalisasi wanita dan laki-laki yang langsung tidak langsung berkaitan dengan jumlah dan statistik. Entah perempuan atau pria, saya lupa mana kata yang berkonotasi lebih baik, yang jelas sekarang harus lebih sering menggunakan kata “Cina” dan “Tuli” karena para orang-orang Tionghoa dan Tuna Rungu justru tersinggung ketika masyarakat terperangkap dalam bangunan prasangka masa lalu. Meski sejujurnya saya masih tidak enakan menggolongkan Lee Kuan Yiew yang baru operasi radang tulang mastoid sebagai Cina Tuli. “Itu Bapak yang Cina Tuli sudah pulang dari bangsal tapi kopi mahalnya ketinggalan belum diminum.”

Kembali pada generalisasi pria, wanita, dan orang Cina, saya pernah terjebak pada generalisasi “semua perempuan jahat kecuali Ibu” dan “saya tidak suka perempuan” karena kecemburuan sosial pada saat usia sekolah dasar. Dan yang namanya manusia, tentu berkembang dan berubah menjadi lebih bijak, sekarang saya tidak lagi melakukan generalisasi tersebut karena saya lebih suka kalimat “semua manusia jahat kecuali Ibu, Ayah, dan Jackie Chan”.

Berakar pada ide mengenai kombinasi dan permutasi yang sering saya lontarkan, tidak lah aneh jika kita temukan berbagai macam sesat pikir dan orang-orang yang menggeneralisasi orang lain, bahkan menggeneralisasi setiap kejadian. Termasuk kejadian bencana alam dan jumlah pasien yang datang ke IGD. Hal ini yang kembali lagi membuat saya berpikir bahwa jika ada 0.25% saja orang yang benar bodoh dan jahat di Indonesia, maka jumlahnya menjadi 650.000 dan itu mungkin lebih banyak daripada jumlah wajah yang pernah kita lihat selama kita hidup. Apalagi jika kita lah orang yang jahat dan bodoh tersebut, maka tinggal dicari 669.990 orang bodoh dan jahat yang lainnya karena sesuai ketentuan tadi saya ceritanya jahat dan bodoh jadi tidak bisa berhitung dan suka menambah-nambahkan angka.

Baru-baru ini saya membaca buku tentang kebohongan yang manusia lakukan dan dapat diungkap oleh jenis-jenis data baru, di antaranya adalah data dari pengetikkan ke mesin pencari. Di buku tersebut dijelaskan kurang lebih bahwa jika kita mau mengkonstruksi ulang pengumpulan data dan bagaimana kita memproses data, maka akan banyak sekali ketidakcocokan antara fenomena masyarakat, dan yang diakui masyarakat, dengan data-data kasar yang didapat dari hal seperti entri pencarian internet. Hal ini sempat membuat saya berpikir betapa terobsesinya saya dengan angka serta jumlah dan bisa berkali-kali melihat statistik kematian orang, bermacam-macam kematian, angka kelahiran, angka kerusakan, angka kerugian, pendapatan negara-negara, berapa jumlah buku yang ditulis dalam setahun, berapa mikroba yang bertukar ketika sedang berciuman, berapa jumlah partai politik yang bubar, dan berapa-berapa lainnya yang sesungguhnya agak memalukan ketika dilihat orang lain ketika saya sedang mengetikkan hal tersebut di mesin pencari.

Hal ini mungkin diakari oleh ketidakpercayaan diri saya atas kesuksesan di masa depan, menjadi penting di masa kini, berapa probabilitas hal-hal baik yang bisa terjadi pada saya, dan berapa kemungkinan ada orang yang lebih cocok dari saya untuk pacar saya. Untuk yang terakhir saya sudah hitung jumlahnya 0. Membaca serta mengetahui hal-hal tersebut kadang membuat saya merasa terkalibrasi dan kembali merasa bahwa dunia ini kecil, Barack Obama terlalu terkenal, dan jumlah dokter umum di Indonesia sebentar lagi akan terlalu banyak, tentu jika hal itu tidak sedang terjadi. Merasa bahwa dunia kecil alangkah baiknya tidak dengan menonton video zoom-out bumi yang dilakukan berkali-kali hingga sekecil kutu jika dibandingkan Betelgeuse.

Namun di balik angka-angka besar, data-data yang tersedia, dan kombinasi kejadian spesifik yang sebenarnya sudah dipetakan oleh ilmu statistika dan para ahli matematika, masih tersimpan rahasia-rahasia dan harapan apakah suatu saat angka-angka tersebut bisa menjadi sesederhana sesat pikir dan muncul cipratan-cipratan anomali yang keluar dari gundukan jumlah kasar tersebut. Karena kemungkinan saya bisa diingat oleh guru sejarah 100 tahun ke depan agak kecil, juga kemungkinan mendapatkan beasiswa, apalagi masuk surga, apalagi menemukan Institusi Gawat Darurat yang tidak ada orang sakitnya seharian.

 

Kapal Luar Angkasa

Waktu saya dikecewakan orang atau dibuat kesal akan perbuatan orang lain, orangtua saya pernah beberapa kali memberi wejangan yang inti dan bunyinya kurang lebih begini, “jangan dipikirin, orang-orang berbuat jahat dan egois karena mereka bosan dengan hidupnya, ada yang ga kemana-mana, kamu boleh kasihan sama mereka karena seumur hidup di situ-situ aja“. Kalimat aslinya lebih menyentuh dan tidak kurang ajar, tapi yang saya tangkap kurang lebih kurang seperti itu.

Mungkin ada benarnya juga, tentang kenapa mesti marah dengan dosen yang waktu itu benar-benar bikin saya marah meski sebenarnya beliau berhati baik. Toh, tidak ada urusannya baik hati dengan tidak bikin marah, juga tidak ada hubungannya dengan pembunuh berdarah hangat. Beliau berpulang beberapa bulan lalu dan yang ada di ingatan saya adalah beliau yang masih menjaga ujian dan sibuk dengan rutinitas seritme mahasiswa. Semoga bahagia dan tenang, dok.

Ada pula orang-orang tidak muda yang hidupnya di ruang kerja bersama-sama, atau di klinik yang debu di kolong mejanya lebih tua dari piagam Jakarta, atau meja kerja pribadi yang itu-itu lagi sampai kenal (sekedarnya saja) dengan bapa yang suka bersih-bersih, dengan kakak yang suka antar fotokopian, yang pulang dan yang pergi, juga yang membicarakannya saat dia sedang pergi. Sampai tahun-tahun melebur jadi ingatan yang kabur. Umur 56 adalah umur 57 adalah umur 58 adalah umur 59 adalah lebaran 1429 H adalah lebaran 1429 H adalah lebaran 1430 H dan mereka merasa Hijriyah tidak bertambah-tambah angkanya setiap tahun.

Saya sudah lebih dari satu kali, mungkin dua kali atau tiga kali, merasakan yang namanya hidup seakan berpetualang hanya untuk kembali ke tempat lama dan menemukan bahwa badai topan beliung tidak mengubah pohon yang sudah terlanjur keras dan tinggi. Si anu masih jaga warung, si X masih jadi tersangka, si Mawar masih jadi korban dan juara 3, dan si Fulan masih saja jadi objek hinaan khutbah Jum’at. Padahal si Fulan pada kenyataannya sudah makin piawai membetulkan kompor gas bocor meski sekarang gas warna-warni yang beredar di pasaran makin terjamin keamanannya. Saya kebetulan senang-senang saja karena setelah berpetualang masih ada orangtua saya yang belum botak dan keriput.

Pilihan untuk menjalani hidup bisa dengan melalui fase luntang-lantung, fase-fase tidak luntang-lantung, atau hidup santai dan mengikuti fase kehidupan anak-anak. Seperti saya yang ingat waktu kelas 5 SD sakit demam tidak berdarah, Ibu saya mengingat betul bahwa waktu saya kelas 5 SD saya sakit demam tidak berdarah, dan Ayah saya ingat betul kalau beliau dan Ibu menunggui saya yang kelas 5 SD sakit di rumah sakit ruangan kelas 1 bukan kelas 5. Padahal di tahun itu Ibu berusia 40, Ayah 41, dan kucing kami -8.

Ngomong-ngomong soal kucing, saya masih merasa kehilangan dan kerap kali terkesiap ketika ada kucing berwarna coklat tua di jalanan. Saya memperhatikan bahwa mungkin itu si Bebi yang sekarang bahagia-tidak-bahagia di luar sana, mirip dengan kejadian-kejadian kisah cinta gelisah di kisah animasi Jepang yang ketika tokoh utamanya menengok merasa diperhatikan dari jauh ternyata bukan sang cinta lama. Atau benar sang cinta lama tapi terhalang pohon rindang atau KRL Pondok Jepang. Kalau di bawah pohon rindang desa namanya DPRD, kalau di bawah pohon duku namanya DPD. Bukan wahana pangkas rambut yang namanya DPR.

Kucing saya yang dulu hidupnya di situ-situ aja, sama seperti si Fulan yang suka merampok kotak amal, sesungguhnya punya kapabilitas untuk keliling dunia. Seperti legenda kakek dari ayah saya yang bernama Ompung Ksatria, konon beliau naik haji dengan menyelinap di cerobong kapal. Si kucing ini tidak punya jabatan kepanitiaan, jadwal wawancara LPDP, teman yang memaksa nongkrong, dan reuni dini. Kalau mau pergi tinggal dilakukannya semudah membalik telapak kaki ayam. Hal ini mungkin pernah dibicarakan di buku “Kafka on The Shore”, karena katanya 80% isi dari buku tersebut adalah tentang kucing dan 20% sisanya adalah kalimat pelengkap. Pasti banyak hal tentang kucing yang pernah dibahas di buku itu. Termasuk tentang kucing yang pergi merantau meski tidak dibekali makanan khas dari daerahnya.

Di kosan saya ada kucing. Di rumah saya ada Bong dan Boni. Mereka kadang tidur di lantai, di atas meja, di jendela, di kolong, di pangkuan, di keset, di timbangan, dan di manapun yang sekiranya masih ada gravitasi. Bagi mereka semuanya adalah sama, lantai dan rumah, Bumi Allah katanya. Satu lagi keberuntungan yang dimiliki mereka adalah tidak bisa beruban dan keriput meski tidurnya di situ-situ lagi. Karena kebetulan saya belum pernah ketemu dengan kucing sial berwarna hitam yang diasuh satu dekade lalu tiba-tiba jadi kucing putih dan ngomongnya tidak nyambung serta sakit punggung karena kebanyakan tidur di atas Bumi Allah. Saya saja pernah sakit punggung karena presiden saya banyak salahnya. Keesokan harinya saya melayani orang sakit punggung yang berobat, di hari itu terlalu banyak orang sakit punggung dalam satu ruangan.

Dengan kapabilitas dapat memakan apa saja yang kira-kira enak, tidak usah bayar kosan, dan tidak perlu wajib lapor 1 x 24 jam, hewan-hewan yang tidak bisa menua itu tidak memilih untuk pergi ke ibukota mencari nafkah. Padahal semudah itu, tinggal guling-guling di lantai sekian menara BNI, lalu besoknya terkenal di sosmed karena cerita perantauannya dari pesisir ke pesisir dan rambutnya yang tidak bisa memutih. Mereka malah memilih makan-makanan yang itu lagi, dilempari sendal oleh senior saya, kadang diberi makan enak oleh senior saya yang sama, lalu balik lagi untuk mengais makanan dari tempat sampah yang penuh abu rokok di sebelah sendal yang kemarin membentur kepalanya. Padahal makan padang tiap hari juga enak, saya pernah. Bedanya saya tidak dilempar sendal, hanya dilempar tanggung jawab dan doktrin bahwa hidup ini merupakan pengabdian. Kucing tidak menangis.

Orangtua saya pernah dengan puitis menulis tentang anak-anaknya yang getol membicarakan isu dunia dan Elon Musk serta para milyarwan yang uangnya lebih banyak dari jumlah macam-macam Tuhan di dunia ini, padahal kami pada hakikatnya hanya bergosip dan ingin buru-buru ke luar angkasa karena penasaran. Mungkin beliau-beliau berpikir kalau kami ditakdirkan untuk hal besar, sama dengan generasi anak muda kecanduan lampu sorot yang merasa bahwa dunia berputar di sekelilingnya, padahal dunia tidak berputar tapi mengembang hingga akhirnya sampai titik maksimal lalu menyusut menjadi satu titik lagi dan meledak tidak berkeping-keping tapi berpartikel-partikel lalu kembali menjadi dentuman besar edisi sekian. Saat itu terjadi, gema supir bakpau yang sayu mungkin masih terdengar tapi tidak ada yang tahu dan tidak ada yang peduli.

Jangan menyibukkan diri dengan hal kecil, karena dunia ini besar. Meski tersimpan jejak sesat pikir di kalimat tersebut, kadang ada benarnya juga karena banyak sekali orang yang marah-marah di internet berkata bahwa bangsa lain sudah ke bulan tapi kita masih sibuk saja membicarakan susu bendera yang dibakar, mubazir padahal bisa diminum oleh anak-anak di Afrika yang kemungkinan besar intoleransi laktosa. Bersyukurlah intoleransi laktosa daripada intoleransi susu bendera. Dan bersyukurlah kalau tidak berpikir bahwa Afrika tidak lagi ingin dikasihani dan dibahas-bahas kupas tuntas. Belum lagi orang yang marah-marah karena tersinggung tapi mencari pembenaran sampai keluar kata-kata kasar. Saya sih tidak sakit hati, sudah pernah dulu waktu kelas 4 SD sakit hati tipe A, badan saya kuning, mata saya kuning, perut saya membesar dan lemas lalu digendong ayah ibu ke mana-mana, saya bahagia.

Mereka tidak tahu kalau di negara yang orangnya sudah nongkrong di bulan itu masih ada warganya yang bakar-bakar sepatu mahal karena sekedar kesal. Jangan merasa diri sebagai pusat dunia, karena tidak ada yang pernah menghitung diameter dari ujung sebelah sana sampai ujung sebelah sini lalu ditentukan titik tengahnya, bisa saja titik tengah absolutnya bukan di bumi. Atau di bumi tapi di rumah orang yang kita benci hingga darah mendidih dan menguap menjadi kerak. Oh, ternyata kerak bumi dinamakan kerak karena intinya mendidih.

Jadi kalau ada orang yang hidupnya di situ-situ lagi, marah-marah lagi, makan makanan yang sama lagi, belum pernah keluar negeri, belum pernah keluar kosan karena tidak punya SIM, padahal tidak punya SIM bisa diakali dengan bepergian waktu hujan, polisi tidak mau menilang saat hujan, istilah kerennya “not worth the trouble“, padahal mandi setelah hujan-hujanan paling juga keluar biaya binatu lima belas ribu dan air Perusahaan Dagang Air Masyarakat sekian debit tiga ribu perak. Kalau menilang saat hujan bisa dapat seratus hingga dua ratus ribu karena orang yang ditilangnya kesal bagian dalam mobilnya basah. Kalau polisinya dipukul bisa kena pasal perbuatan tidak mengenakkan. Dendanya sekian penjaranya sekian. Seharusnya kehidupan sudah dipenjara milyaran tahun dalam garis waktu karena perbuatannya kurang mengenakkan pada banyak orang. Kenyataannya dunia dikutuk hidup bermilyar-milyar tahun, pasti karena perbuatan tidak mengenakkan yang dilakukannya dulu. Sebaiknya kita refleksi kaki dan refleksi diri sebelum menilai.

Salam saya pada kucing yang tidak ke mana-mana, kucing yang merantau dan belajar di Eropa menjadi kucing peranakan, pada gerigi yang memutar roda keseharian meski sering kali rodanya berbentuk kotak atau pentagon, pada orang-orang tua yang konsisten, juga makhluk-makhluk hidup lain yang di situ-situ saja, dan penumpang kapal luar angkasa yang belum berangkat. Dunia ini luas tapi hati kita kurang lapang.

Analogi Aktivis Orde Baru

Saya yang waktu itu menggunakan pakaian adat Betawi berwarna merah muda dengan selop merah muda yang kebesaran, merasa sangat malu waktu ditanya oleh seorang guru di depan umum pada perayaan Hari Kartini.

“Kalau Kafi cita-citanya apa?”

“Astronot.”

Lalu saya kembali merosot di kursi yang dideretkan di lapangan sembari memperhatikan kain yang membelit paha saya. Kain yang membuat saya malu, ditambah lagi alas kaki yang panas dan sangat mencolok mata. Saking menyala, pakaian sewaan saya bisa kelihatan dari TK Internasional sebelah yang sedang merayakan Kartini’s Day.

Perjalanan adalah sebuah reaksi kimia. Jika sebuah tempat dapat mengubah seseorang, maka panah searah atau bolak-balik di dalam reaksi kimia dapat dianalogikan secara bodoh sebagai jalan raya yang kadang juga bisa bolak-balik, kadang tidak. Kalau tidak bolak-balik, niscaya manusia sudah sampai di Mars. Ongkos baliknya mahal.

Dari sebuah proses habituasi, hingga kejadian yang dapat membuat kita lolos dari tanggung jawab apapun, perubahan sering kali dijadikan alasan dan juga dikutip sebagai kalimat-kalimat hangat yang sebenarnya agak rancu namun ada benarnya juga. Seperti misalnya “tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri” atau “seseorang tidak bisa mengubah apa pun jika ia tidak bisa mengubah pikirannya” juga “jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di bumi ini” hingga sesakti “tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah diri mereka sendiri”. Jika berkenan, kata-kata tersebut dapat dilibatkan dengan metode penelitian, lalu kita dapat pergi ke kantor hukum untuk membuat Surat Ganti Nama karena kejadian tersebut terjadi pada tanggal spesifik di bulan Agustus yang hujan waktu ada lomba memasukkan kerupuk ke mulut.

Saya sendiri pernah secara harfiah mengganti nama, dari “Afi” menjadi “Abang”, lalu “Harridhi Khaibar Kahfi” menjadi “Kafi Harridhi Khaibar Lubis”. Karena nama keluarga dianggap sebagai komponen darah murni dan bermerk tinggi yang urutan spesifiknya juga tiba-tiba meningkatkan daya tahan tubuh saya serta memperbaiki nasib saya yang konon kurang gizi. Konon juga, meski tanggal keluarnya film bioskop dapat dilacak meski lupa dan tiketnya hilang, pengalaman melewati perjalanan seseorang di dalam film serupa dengan reaksi kimia. Reaksi kimia di otak jelas terjadi saat menonton film yang penuh stimulus. Saya sering merasa dicuci otak dan hampa setelah terjebak dalam ruangan gelap beramai-ramai. Maka dari itu menyaksikan film dapat saya definisikan sebagai cuci otak kilat langsung kering tidak termasuk bayar parkir. Apalagi kalau dua kali sehari. Warnanya luntur karena buru-buru.

Saya sering berkutat dalam ide mengenai hari-hari yang terlupakan. Seperti hari hari tanggal 1 saat gajian dan hari-hari tahun baru sekian tahun lalu. Sama-sama produk kebudayaan yang konsumtif. Atau kamis yang tidak penting di 2010. Atau Februari 2002. Tapi, bicara soal hidup dan impresi yang diciptakannya tidak akan jauh-jauh dari rasa lapar dan kesulitan belajar yang kadang disertai beban pikiran yang dirasa paling berat se-Kabupaten. Yang mudah adalah menilai pasangan hidup kita sebagai paling menarik sedunia. Padahal ada rakyat Peru yang lebih ideal dan tidak patriarkis tapi melarang nyapu dan cuci piring. Impresi yang ditinggalkan begitu kuat hingga kita semua lupa bahwa bisa jadi Juni 2008 tidak lah susah-susah amat dan yang diingat cuma saat kekurangan ongkos.

Saya masih sering lupa episode yang mana dan bahkan apa yang terjadi di episode sekian ketika menonton film seri. Kata orang sukses, sebaiknya menulis jurnal agar tidak lupa dan bisa kembali merefleksikan diri pada peristiwa-peristiwa. Kenyataannya, kalau ditulis semua nanti malah jadi buku resensi. Belum lagi proses menulis supaya mengingat itu juga tidak ingat. Alias tidak jadi-jadi. Lebih sedih lagi kalau keluar kalimat “saya tidak ingat pernah menulis ini” waktu dibaca lagi di masa depan. Sedikit lebih sedih dari yang pertama adalah ketika dibaca lagi ingat, tapi ternyata diri kita jadi lebih buruk. Yang paling sedih adalah kalau jurnalnya kebawa banjir. Kembali menulis jurnal setelah rumah kering tapi isinya berkutat pada hari-hari waktu kebanjiran.

Saya pernah jadi wartawan kebotakan dini setelah membaca komik-komik Tintin. Saya pernah jadi pemain bola setelah nonton Tsubasa tiap maghrib. Saya pernah jadi ilmuwan setelah membaca kisah tokoh-tokoh dunia yang ketika dibaca lagi sekarang ternyata ilustrasinya agak asal-asalan. Saya pernah jadi anak band internasional setelah menonton konser musik yang orang-orangnya tidak merekam pakai handphone. Saya pernah jadi ahli dinosaurus setelah menonton Alan Grant dan kawan-kawannya yang mati. Saya pernah jadi wanita setelah membaca Ranma ½ di rental komik yang remang-remang. Saya pernah jadi aktivis mahasiswa setelah diceritakan tentang orang tua saya yang dulunya buronan dan bakar-bakar ban. Saya pernah jadi bintang film setelah melihat liputan keseharian aktor. Saya pernah jadi penulis setelah membaca kisah-kisah fiksi inspirasional. Saya pernah jadi aktivis lingkungan hidup setelah berdebar ketika nonton Al Gore dan mendonasikan sekian ratus ribu ke Greenpeace. Saya pernah jadi astronot setelah membaca buku tentang bintang dan planet yang warna-warni bersama orang tua saya yang juga astronot.

Sudah hampir 20 tahun sejak saya menggunakan pakaian adat Betawi tersebut dan 8 bulan sejak saya gelisah karena harus menjalani rutinitas baru. Tiba-tiba saja, saya berubah dengan bantuan ikat pinggang sakti bajaj hitam yang proses dansanya memakan waktu berminggu-minggu dan berpuluh kali perjalanan menjadi seseorang dengan kepribadian yang beda-beda tipis dari versi saya beberapa bulan yang lalu. Yang jelas, saya lupa dalam sesi dansa tanggal berapa, saya tidak ingin jadi astronot lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Figur dan Fasad

Jika premis “selebriti lebih pesolek dari fotonya”, atau, “lebih menawan ketika dilihat langsung” adalah benar, maka premis “seorang pemimpin politik nampak lebih kharismatik ketika bertemu langsung” adalah kebisajadian untuk jadi benar. Tentu definisi selebriti di sini semisal pelaku seni olah suara, seni musik, seni akting. Namun tidak termasuk seni lukis dan seni pahat karena tidak tahu siapa yang cukup pesolek. Bapak Sapardi pun bisa disangka Bapa Joko Pinurbo, pernah jadi seniman tulis menulis yang tampan pada umumnya, suka yang cantik pada umurnya, makan siang di kantin kampus bergengsi, sedikit ganteng namun sakit perut kronis, siapa yang tahu. Pesona yang dilihat di dunia nyata sepatutnya bertambah. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa ada orang yang jelek di Instagram namun lebih pesolek di dunia nyata. Atau jelek di dunia nyata dan di Instagram hanya diikuti 89 orang. Mungkin memang absolut kurang disukai teman-temannya secara rupa. Atau captionnya tidak konsisten dengan perbuatannya. Kadang captionnya lucu tapi orangnya bikin meringis. Bisa jadi pula captionnya bawa-bawa ayat suci non fiksi tapi suka colak-colek wanita di stasiun.

Saya sendiri menyukai premis “orang tua terlihat sempurna di atas kertas dan di mata anak orang lain yang tidak bersyukur” atau “orang tua baru disadari semua kelebihan dan kehebatannya ketika sudah tidak ada dan anaknya bergumam dalam hati “apa yang orang tua saya bilang ternyata benar””. Walau pun premisnya saya buat sendiri dan saya tidak suka menggunakan kata “meninggal” sejak masih kecil, tidak menapiskan bahwa premis tersebut bisa jadi benar. Mengomentari dengan prasangka gelas “Greatest Dad in The World” atau “The World’s Best Mom” dapat berarti beberapa hal. Yaitu berarti kita menyangsikan bisnis legal gelas cantik yang menyebar energi positif. Dapat berarti kita tidak percaya bahwa orang tua kita adalah yang terbaik di dunia. Dapat pula berarti kita sudah mengubur dalam-dalam kenaifan yang mestinya disiram baik-baik dan dipupuki oleh rasa penasaran dan kebaikan agar terus berkembang. Atau bisa juga berarti saya adalah orang yang klise dan tersinggung dengan keberadaan gelas. Gelas yang mudah pecah karena pertengkaran di rumah atau hilang ketika pindah rumah.

Otak manusia memilih-memilih memori. Yang buruk-buruk diingat sampai lama, tapi begitu pula yang indah-indah. Yang penting-penting sering lupa ketika dibutuhkan. Ingatan baik makin sering diceritakan, makin bergeser ceritanya. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan jadi kebenaran. Kebohongan yang disompral-sompralkan, lama kelamaan jadi kebeneran. Kebeneran terjadi lalu menyesal. Seperti ucapan orang tua pada umumnya yang bilang “tidak tahu diuntung”. Mungkin kalimat itu berasal dari sinetron lalu terukir di otak para orang tua lalu viral ke generasi berikutnya. Atau karena memang sering diucapkan orang tua, lalu menginspirasi penulis naskah sinetron karena mereka tidak punya lagi referensi yang keren selain ucapan masa kecil dari orang tua mereka.

Kitab suci dijual di rak kitab suci karena kalau dipajang di rak buku-buku fiksi akan menyebabkan si pengusaha toko buku diarak sampai kelurahan. Kalau beruntung bisa sekalian ditemani kasirnya. Tapi kalau diletakkan di rak buku non-fiksi bisa dianggap mengerdilkan keberadaan satu sama lain. Kalau buku Tan Malaka dijual bersebelahan dengan biografi Nikolas Tesla, selain tidak terlalu nyambung, sepertinya mereka juga tidak keberatan. Kecuali ketika dipajang bersebelahan dengan buku “Tan Malaka Sang Nabi Palsu Meninggal di Tempat Pembacaan Proklamasi Karena Batuk Menahun” atau “Tesla dan Edison: Kisah Asmara Rahasia Abad 18”. Selain informasinya serba salah—dalam artian semua informasinya salah—tapi juga penuh fitnah dan niscaya memiliki kemungkinan laku di pasaran. Harga berhala lagi murah.

Teman baik saya pernah bilang bahwa tidak mau terlalu kenal dalam dengan saya, karena takut akan menghancurkan ilusi atas diri saya yang menurutnya cukup bagus. Membaca buku adalah menjalani sedikit perjalanan hidup seseorang sekaligus meninggali sepenggal ruangan di otak sang penulis. Tapi ruangannya adalah ruangan yang memang dibersihkan dan dihias untuk kemudian disewakan di Airyrooms atau Traveloka. Bukan kamar penuh privasi yang istri sendiri pun enggan tinggal karena bau bujangan. Pasti tidak sedikit penulis yang bermasalah rumah tangganya. Karena angka perceraian di Amerika kira-kira sampai 50%. Menjalani perkawinan hampir sama seperti berjudi koin. Kalau beruntung bisa saja koinnya jatuh dalam kondisi berdiri. Atau ketika koin dihempaskan ke udara, tiba-tiba sangkakala akhir zaman ditiup tepat saat koin menyentuh tanah. Anggap ada 20.000 penulis yang berkeluarga. Maka ada 10.000 penulis yang rumah tangganya pecah dan satu tukang blog yang harus belajar lagi mengenai statistik dasar, analisa data, dan analogi. Dan jumlah itu terlalu banyak.

Maka dari itu kisah sukses dipenuhi dengan banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tentu dalam dosis yang tepat. Membaca setiap kata di dalam buku lalu mengulang-ngulang setiap caturwulan, ditambah berbaring seharian dan tidak sempat mengobrol sama teman-teman, apalagi jalan-jalan pakai transportasi publik. Kelakuan seperti itu hanya akan meningkatkan risiko terkena borok di punggung yang sulit sembuh. Menonton film seri hingga beratus-ratus episode akan membuat kita merasa seperti telah kenal dengan sang pemeran utama selama bertahun-tahun. Padahal bagi para aktor, film seri itu hanya pekerjaan yang menghabiskan tidak sampai 10% waktu hidupnya. Kegiatan menulis, meski menghabiskan waktu bisa lebih dari 10% waktu hidup penulisnya, tetap bisa membuat kita merasa mengenalnya sejak lama, dan tetap tidak valid jika kita merasa sok kenal. Bukunya dibawa ke mana-mana, diajak makan, ngobrol, dan diceritakan ke orang-orang. Namun sesungguhnya tidak baik juga menilai seseorang dari tulisannya. Apalagi tulisannya di sosial media. Karena sangat mungkin bahwa Tere Liye adalah orang yang menyenangkan.

Saya sendiri belum pernah membelikan gelas-gelas cantik bagi orang tua saya yang dipersepsikan seperti selebriti bagi beberapa orang lain. Termasuk saya. Sepasang selebriti sekaligus pahlawan super dan pemimpin yang plot krisis kehidupan pribadi dan bagian ngobrolnya agak banyak. Karena itu lah saya masih bisa hidup tenang leha-leha karena percaya orang tua saya bisa melakukan apa saja bahkan mengeluarkan saya dari penjara jika terlibat huru-hara lalu lintas. Meski mereka belum juga menulis buku yang sudah diwacanakan sejak lama, ada seorang tua yang menulis buku non-fiksi dan tidak dipajang berbarengan dengan kitab suci. Bahkan mungkin tidak dijual di toko buku Indonesia.

Beliau menulis buku yang akhir-akhir ini sering sekali saya sebut, hingga hampir seperti kitab suci, padahal isinya saja tidak hapal dan tidak paham sepenuhnya. Saya memang tidak membaca sebanyak itu buku, sedikit di atas rata-rata kalau angka rata-rata orang sekitar saya adalah membaca 3 buku per tahun di luar buku pelajaran. Saya cukup yakin angkanya di bawah itu karena toko buku sepertinya tetap sintas karena jualan beragam pensil dan alat musik. Agak malu juga, karena menyebut hal yang sama berulang kali adalah tanda kekurangan. Seperti hanya satu kali piknik tapi diacu berulang kali. Baru nonton dua kali di bioskop dan filmnya diceritakan beberapa kali. Baca buku karena memang hanya 6 buku per tahun, jadi diacu berkali-kali. Paling tidak dua kali di atas rata-rata dan paling tidak beliau ini adalah 50% dari penulis yang rumah tangganya tidak pecah. Ternyata, selain saya krisis berhala, saya juga agak krisis membaca.

Hans Rosling menulis buku yang sebegitu menggugahnya hingga memori saya atas buku tersebut berputar-putar dan terdistorsi menjadi ilmu yang bisa jadi bahkan tidak tertulis di dalamnya. Saya menonton kuliahnya dan presentasinya tentang dunia ini yang secara langsung dan tidak langsung membuat saya lebih bahagia dan mau membuat perubahan dalam tujuan hidup. Tidak sampai satu minggu setelah saya memulai membaca buku paling baru beliau dan menonton beberapa tayangannya, saya mengetahui bahwa beliau sudah meninggal tahun lalu. Beberapa sesi menonton video berikutnya saya lalui dengan air mata. Saya baru bisa paham mengapa orang bisa merindukan Rasulullah yang bahkan mereka tidak pernah bertemu dan padahal baru baca bukunya satu saja. Sebab terlalu berat untuk baca buku hadits, Sunnah, dan kajian. Saya juga belum pernah baca bukunya yang lain.

Rasa rindu pada tokoh yang tidak pernah ditemui ini kemudian dijaga seperti perasaan teman saya terhadap saya yang tidak mau mendalami lebih jauh tentang kecacatan hidup sang penulis. Pun buku Tan Malaka belum pula selesai saya baca. Kelak nanti akan saya acu dan rindukan. Tapi buat saat ini sebijak-bijaknya adalah orang yang mengambil pelajaran dari “The World’s Best Mom” dan “Greatest Dad in The World”  sebanyak-banyaknya sebelum gelas itu jadi pajangan berharga yang kalau pecah bisa terbayang berhari-hari dan memorinya tercampur-campur.

 

 

 

Repot Juga

Karena usaha menyatukan tumblr saya dengan akun wordpress saya tidak berakhir dengan baik, saya mempertimbangkan untuk berhenti menulis dan memutuskan untuk hilang dari jejak internet. Sebaiknya menghabiskan hidup di warung kopi saja, membicarakan Pilkada Serentak yang ternyata tidak digelar dua putaran.

Bercanda.

Banyak sekali ucapan dari orang-orang perihal tulisan saya dan kebiasaan saya menulis anekdot (yang cita-cita terpendamnya adalah menjadi kolumnis tetap koran minggu) yang entah kenapa melekat hingga bertahun-tahun lamanya. Seperti betapa menyentuhnya tulisan saya, betapa berantakannya tulisan saya yang padahal jika dikaji komponen kalimatnya lengkap (atau paling tidak, tidak membingungkan dan terbaca seperti orang yang sedang berbicara), dan rasa personal yang sangat kental serta tidak informatif. Tidak ada yang memberi respon mengenai sajak-sajak saya. Tidak apa-apa. Memang saya juga malu pernah menulis yang demikian. Nanti saya belajar lagi atau jongkok-jongkok di toko buku, buka-buka plastik buku lalu diperhatikan satu-satu rima dan diksi dari buku murah yang entah bagaimana bisa terbit.

Katanya menerbitkan buku adalah bagaikan melahirkan dan membesarkan anak, maka  blog yang menggelisahkan ini adalah anak pertama saya yang baru dihamili pacarnya, lalu pacarnya kabur. A bit fucked up. Desainnya berubah dan tercampur berantakan dengan tumblr saya yang bentuknya memang sudah seperti lelaki yang kabur ketika pacarnya hamil. Sekilas tidak ada yang tidak wajar. Memang kesedihan dan kekacauan akibat kekerasan seksual tidak mudah dilihat dari luar dengan sekilas. Yang sadar hanya orang-orang dekat dan yang berniat scroll down hingga ke tahun 2012. Berantakan dan terlihat “lebih rapih blog sama tulisan-tulisan si X ya daripada blog lo”. Yang mana itu adalah benar. Terima kasih temanku, kata-katamu akan saya ingat seumur hidup sebagai penambah rasa inferior yang luar biasa sedap. PS: Si X adalah pacar saya. Pacar saya yang makin ke sini gaya nulisnya makin mirip dan idenya menyatu sama saya seperti jalan tol.

Setiap tulisan adalah curhat. Begitu pula akting dan bahkan karya seni apapun dalam bentuk lain. Kalau aktor diminta untuk marah dan nangis dengan mudah, ada yang bilang bahwa itu karena emosinya dipendam dan hanya bisa keluar di depan kamera. Opini seperti ini menjelaskan kenapa saya jelek dalam berakting tapi sekaligus menyedihkan di belakang dan banyak ketawa yang tidak lucunya. Kekasih saya biasanya jadi kamera. Di rumah sih hidup saya muram, tapi di luar saya “so vibrant dan hangat”. Bukan orang tua saya yang opresif, tapi mungkin kepribadian kita kurang cocok. Ibu bilang bahwa ketika seseorang sikap pada keluarganya jahat dan marah-marah tapi di luar rumah menyenangkan, itu tanda orangnya palsu. Padahal saya tidak palsu, cuma canggung kalau misalnya haha-hihi tapi lalu terlibat dalam kesulitan rutinitas dan konflik antarkamar, sehingga persona saya berbeda. Tapi mungkin saya memang palsu dan seharusnya hidup di KW Thailand atau plastik Korea Selatan. Yang baik dan peduli akan setia. Karena beberapa orang terlalu partikelir untuk diambil pusing hal-hal kecilnya.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” bocor standar.

Kembali berbicara mengenai “tulisan adalah curhat”, saya dan anak saya ini sudah melewati banyak akhir minggu yang tidak ke mana-mana. Meski yang ditulis sedikit, saya sering membuka blog ini lalu berharap ada yang membaca dan menyemangati dari jauh, via komen dan akun rahasia. Menulis draft, lalu menghapus, dan tidak jadi melakukan tindak publikasi sama sekali. Persis anak-anak pemalu yang kalau chatting menulis panjang lalu tidak malu karena jadi. Romantisasi awal era informatika memang ajaib dan norak. Maka dari itu saya berniat untuk memindahkan blog yang satu ke blog yang satu lagi. Karena dihalangi Kemonkokminiminfo akibat ulah para penikmat pornografi yang dengan hebatnya bisa doyan nyari konten porno di tumblr, bisa-bisa tulisan saya makin tidak dibaca.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” substandar.

Tulisan berisi curhatan saya kebanyakan berupa hal yang sama dan atau mirip-mirip. Waktu itu pernah membahas teori sosial. Dua kalimat saja. Fisika luar angkasa. Tiga kalimat saja. Tips-tips sukses menjadi orang sukses. Entah berapa kalimat. Ujung-ujungnya sentimental dan lebih meresahkan dari pembunuh berantai yang berkeliaran di sekitar kita. Dan daripada mengulang hal-hal yang sudah diulang, lebih baik otak kita dibiasakan untuk berbuat hal yang sama agar makin pandai. Perubahan dibentuk oleh kebiasaan dan setumpuk bite sized bit and don’t overstuff your stomach. Kecuali oleh Pak Gubernur yang mandraguna. Beliau bisa memindahkan seorang pegawai senior yang tidak gabut tapi salah tempat lalu keluarganya meratapi nasib bapaknya yang mesti pindah kerja. Perubahan terjadi dalam semalam. Malam-malam berikutnya sang anak harus menyesuaikan diri dengan anak-anak judes di sekolah baru. Karena judes pada anak baru adalah keharusan dari sudut pandang anak yang sensitif. Brad Pitt pernah masuk 100 orang paling berpengaruh versi Time mungkin karena dia bisa melakukan hal seperti ini.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat repot juga” metastandar.

Jadi daripada meratapi kehamilan anak saya, anak saya yang malu bicara dengan orang, dan anak saya yang harus dijuteki oleh geng tajir cantik majalah Hai, Gadis, dan Kawanku di sekolah barunya. Mari saya menulis di atas cucu saya dan bangun lebih pagi meski bangun pagi terlalu dipuja-puja di dunia ini.

Hari ini saya mau membersihkan tempat parkir sebelah Puskesmas dari ribuan sampah plastik, biar kalau air pasang tidak hanyut ke laut. Itu juga kalau ada trashbag.