Analogi Aktivis Orde Baru

Saya yang waktu itu menggunakan pakaian adat Betawi berwarna merah muda dengan selop merah muda yang kebesaran, merasa sangat malu waktu ditanya oleh seorang guru di depan umum pada perayaan Hari Kartini.

“Kalau Kafi cita-citanya apa?”

“Astronot.”

Lalu saya kembali merosot di kursi yang dideretkan di lapangan sembari memperhatikan kain yang membelit paha saya. Kain yang membuat saya malu, ditambah lagi alas kaki yang panas dan sangat mencolok mata. Saking menyala, pakaian sewaan saya bisa kelihatan dari TK Internasional sebelah yang sedang merayakan Kartini’s Day.

Perjalanan adalah sebuah reaksi kimia. Jika sebuah tempat dapat mengubah seseorang, maka panah searah atau bolak-balik di dalam reaksi kimia dapat dianalogikan secara bodoh sebagai jalan raya yang kadang juga bisa bolak-balik, kadang tidak. Kalau tidak bolak-balik, niscaya manusia sudah sampai di Mars. Ongkos baliknya mahal.

Dari sebuah proses habituasi, hingga kejadian yang dapat membuat kita lolos dari tanggung jawab apapun, perubahan sering kali dijadikan alasan dan juga dikutip sebagai kalimat-kalimat hangat yang sebenarnya agak rancu namun ada benarnya juga. Seperti misalnya “tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri” atau “seseorang tidak bisa mengubah apa pun jika ia tidak bisa mengubah pikirannya” juga “jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di bumi ini” hingga sesakti “tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah diri mereka sendiri”. Jika berkenan, kata-kata tersebut dapat dilibatkan dengan metode penelitian, lalu kita dapat pergi ke kantor hukum untuk membuat Surat Ganti Nama karena kejadian tersebut terjadi pada tanggal spesifik di bulan Agustus yang hujan waktu ada lomba memasukkan kerupuk ke mulut.

Saya sendiri pernah secara harfiah mengganti nama, dari “Afi” menjadi “Abang”, lalu “Harridhi Khaibar Kahfi” menjadi “Kafi Harridhi Khaibar Lubis”. Karena nama keluarga dianggap sebagai komponen darah murni dan bermerk tinggi yang urutan spesifiknya juga tiba-tiba meningkatkan daya tahan tubuh saya serta memperbaiki nasib saya yang konon kurang gizi. Konon juga, meski tanggal keluarnya film bioskop dapat dilacak meski lupa dan tiketnya hilang, pengalaman melewati perjalanan seseorang di dalam film serupa dengan reaksi kimia. Reaksi kimia di otak jelas terjadi saat menonton film yang penuh stimulus. Saya sering merasa dicuci otak dan hampa setelah terjebak dalam ruangan gelap beramai-ramai. Maka dari itu menyaksikan film dapat saya definisikan sebagai cuci otak kilat langsung kering tidak termasuk bayar parkir. Apalagi kalau dua kali sehari. Warnanya luntur karena buru-buru.

Saya sering berkutat dalam ide mengenai hari-hari yang terlupakan. Seperti hari hari tanggal 1 saat gajian dan hari-hari tahun baru sekian tahun lalu. Sama-sama produk kebudayaan yang konsumtif. Atau kamis yang tidak penting di 2010. Atau Februari 2002. Tapi, bicara soal hidup dan impresi yang diciptakannya tidak akan jauh-jauh dari rasa lapar dan kesulitan belajar yang kadang disertai beban pikiran yang dirasa paling berat se-Kabupaten. Yang mudah adalah menilai pasangan hidup kita sebagai paling menarik sedunia. Padahal ada rakyat Peru yang lebih ideal dan tidak patriarkis tapi melarang nyapu dan cuci piring. Impresi yang ditinggalkan begitu kuat hingga kita semua lupa bahwa bisa jadi Juni 2008 tidak lah susah-susah amat dan yang diingat cuma saat kekurangan ongkos.

Saya masih sering lupa episode yang mana dan bahkan apa yang terjadi di episode sekian ketika menonton film seri. Kata orang sukses, sebaiknya menulis jurnal agar tidak lupa dan bisa kembali merefleksikan diri pada peristiwa-peristiwa. Kenyataannya, kalau ditulis semua nanti malah jadi buku resensi. Belum lagi proses menulis supaya mengingat itu juga tidak ingat. Alias tidak jadi-jadi. Lebih sedih lagi kalau keluar kalimat “saya tidak ingat pernah menulis ini” waktu dibaca lagi di masa depan. Sedikit lebih sedih dari yang pertama adalah ketika dibaca lagi ingat, tapi ternyata diri kita jadi lebih buruk. Yang paling sedih adalah kalau jurnalnya kebawa banjir. Kembali menulis jurnal setelah rumah kering tapi isinya berkutat pada hari-hari waktu kebanjiran.

Saya pernah jadi wartawan kebotakan dini setelah membaca komik-komik Tintin. Saya pernah jadi pemain bola setelah nonton Tsubasa tiap maghrib. Saya pernah jadi ilmuwan setelah membaca kisah tokoh-tokoh dunia yang ketika dibaca lagi sekarang ternyata ilustrasinya agak asal-asalan. Saya pernah jadi anak band internasional setelah menonton konser musik yang orang-orangnya tidak merekam pakai handphone. Saya pernah jadi ahli dinosaurus setelah menonton Alan Grant dan kawan-kawannya yang mati. Saya pernah jadi wanita setelah membaca Ranma ½ di rental komik yang remang-remang. Saya pernah jadi aktivis mahasiswa setelah diceritakan tentang orang tua saya yang dulunya buronan dan bakar-bakar ban. Saya pernah jadi bintang film setelah melihat liputan keseharian aktor. Saya pernah jadi penulis setelah membaca kisah-kisah fiksi inspirasional. Saya pernah jadi aktivis lingkungan hidup setelah berdebar ketika nonton Al Gore dan mendonasikan sekian ratus ribu ke Greenpeace. Saya pernah jadi astronot setelah membaca buku tentang bintang dan planet yang warna-warni bersama orang tua saya yang juga astronot.

Sudah hampir 20 tahun sejak saya menggunakan pakaian adat Betawi tersebut dan 8 bulan sejak saya gelisah karena harus menjalani rutinitas baru. Tiba-tiba saja, saya berubah dengan bantuan ikat pinggang sakti bajaj hitam yang proses dansanya memakan waktu berminggu-minggu dan berpuluh kali perjalanan menjadi seseorang dengan kepribadian yang beda-beda tipis dari versi saya beberapa bulan yang lalu. Yang jelas, saya lupa dalam sesi dansa tanggal berapa, saya tidak ingin jadi astronot lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Figur dan Fasad

Jika premis “selebriti lebih pesolek dari fotonya”, atau, “lebih menawan ketika dilihat langsung” adalah benar, maka premis “seorang pemimpin politik nampak lebih kharismatik ketika bertemu langsung” adalah kebisajadian untuk jadi benar. Tentu definisi selebriti di sini semisal pelaku seni olah suara, seni musik, seni akting. Namun tidak termasuk seni lukis dan seni pahat karena tidak tahu siapa yang cukup pesolek. Bapak Sapardi pun bisa disangka Bapa Joko Pinurbo, pernah jadi seniman tulis menulis yang tampan pada umumnya, suka yang cantik pada umurnya, makan siang di kantin kampus bergengsi, sedikit ganteng namun sakit perut kronis, siapa yang tahu. Pesona yang dilihat di dunia nyata sepatutnya bertambah. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa ada orang yang jelek di Instagram namun lebih pesolek di dunia nyata. Atau jelek di dunia nyata dan di Instagram hanya diikuti 89 orang. Mungkin memang absolut kurang disukai teman-temannya secara rupa. Atau captionnya tidak konsisten dengan perbuatannya. Kadang captionnya lucu tapi orangnya bikin meringis. Bisa jadi pula captionnya bawa-bawa ayat suci non fiksi tapi suka colak-colek wanita di stasiun.

Saya sendiri menyukai premis “orang tua terlihat sempurna di atas kertas dan di mata anak orang lain yang tidak bersyukur” atau “orang tua baru disadari semua kelebihan dan kehebatannya ketika sudah tidak ada dan anaknya bergumam dalam hati “apa yang orang tua saya bilang ternyata benar””. Walau pun premisnya saya buat sendiri dan saya tidak suka menggunakan kata “meninggal” sejak masih kecil, tidak menapiskan bahwa premis tersebut bisa jadi benar. Mengomentari dengan prasangka gelas “Greatest Dad in The World” atau “The World’s Best Mom” dapat berarti beberapa hal. Yaitu berarti kita menyangsikan bisnis legal gelas cantik yang menyebar energi positif. Dapat berarti kita tidak percaya bahwa orang tua kita adalah yang terbaik di dunia. Dapat pula berarti kita sudah mengubur dalam-dalam kenaifan yang mestinya disiram baik-baik dan dipupuki oleh rasa penasaran dan kebaikan agar terus berkembang. Atau bisa juga berarti saya adalah orang yang klise dan tersinggung dengan keberadaan gelas. Gelas yang mudah pecah karena pertengkaran di rumah atau hilang ketika pindah rumah.

Otak manusia memilih-memilih memori. Yang buruk-buruk diingat sampai lama, tapi begitu pula yang indah-indah. Yang penting-penting sering lupa ketika dibutuhkan. Ingatan baik makin sering diceritakan, makin bergeser ceritanya. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan jadi kebenaran. Kebohongan yang disompral-sompralkan, lama kelamaan jadi kebeneran. Kebeneran terjadi lalu menyesal. Seperti ucapan orang tua pada umumnya yang bilang “tidak tahu diuntung”. Mungkin kalimat itu berasal dari sinetron lalu terukir di otak para orang tua lalu viral ke generasi berikutnya. Atau karena memang sering diucapkan orang tua, lalu menginspirasi penulis naskah sinetron karena mereka tidak punya lagi referensi yang keren selain ucapan masa kecil dari orang tua mereka.

Kitab suci dijual di rak kitab suci karena kalau dipajang di rak buku-buku fiksi akan menyebabkan si pengusaha toko buku diarak sampai kelurahan. Kalau beruntung bisa sekalian ditemani kasirnya. Tapi kalau diletakkan di rak buku non-fiksi bisa dianggap mengerdilkan keberadaan satu sama lain. Kalau buku Tan Malaka dijual bersebelahan dengan biografi Nikolas Tesla, selain tidak terlalu nyambung, sepertinya mereka juga tidak keberatan. Kecuali ketika dipajang bersebelahan dengan buku “Tan Malaka Sang Nabi Palsu Meninggal di Tempat Pembacaan Proklamasi Karena Batuk Menahun” atau “Tesla dan Edison: Kisah Asmara Rahasia Abad 18”. Selain informasinya serba salah—dalam artian semua informasinya salah—tapi juga penuh fitnah dan niscaya memiliki kemungkinan laku di pasaran. Harga berhala lagi murah.

Teman baik saya pernah bilang bahwa tidak mau terlalu kenal dalam dengan saya, karena takut akan menghancurkan ilusi atas diri saya yang menurutnya cukup bagus. Membaca buku adalah menjalani sedikit perjalanan hidup seseorang sekaligus meninggali sepenggal ruangan di otak sang penulis. Tapi ruangannya adalah ruangan yang memang dibersihkan dan dihias untuk kemudian disewakan di Airyrooms atau Traveloka. Bukan kamar penuh privasi yang istri sendiri pun enggan tinggal karena bau bujangan. Pasti tidak sedikit penulis yang bermasalah rumah tangganya. Karena angka perceraian di Amerika kira-kira sampai 50%. Menjalani perkawinan hampir sama seperti berjudi koin. Kalau beruntung bisa saja koinnya jatuh dalam kondisi berdiri. Atau ketika koin dihempaskan ke udara, tiba-tiba sangkakala akhir zaman ditiup tepat saat koin menyentuh tanah. Anggap ada 20.000 penulis yang berkeluarga. Maka ada 10.000 penulis yang rumah tangganya pecah dan satu tukang blog yang harus belajar lagi mengenai statistik dasar, analisa data, dan analogi. Dan jumlah itu terlalu banyak.

Maka dari itu kisah sukses dipenuhi dengan banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tentu dalam dosis yang tepat. Membaca setiap kata di dalam buku lalu mengulang-ngulang setiap caturwulan, ditambah berbaring seharian dan tidak sempat mengobrol sama teman-teman, apalagi jalan-jalan pakai transportasi publik. Kelakuan seperti itu hanya akan meningkatkan risiko terkena borok di punggung yang sulit sembuh. Menonton film seri hingga beratus-ratus episode akan membuat kita merasa seperti telah kenal dengan sang pemeran utama selama bertahun-tahun. Padahal bagi para aktor, film seri itu hanya pekerjaan yang menghabiskan tidak sampai 10% waktu hidupnya. Kegiatan menulis, meski menghabiskan waktu bisa lebih dari 10% waktu hidup penulisnya, tetap bisa membuat kita merasa mengenalnya sejak lama, dan tetap tidak valid jika kita merasa sok kenal. Bukunya dibawa ke mana-mana, diajak makan, ngobrol, dan diceritakan ke orang-orang. Namun sesungguhnya tidak baik juga menilai seseorang dari tulisannya. Apalagi tulisannya di sosial media. Karena sangat mungkin bahwa Tere Liye adalah orang yang menyenangkan.

Saya sendiri belum pernah membelikan gelas-gelas cantik bagi orang tua saya yang dipersepsikan seperti selebriti bagi beberapa orang lain. Termasuk saya. Sepasang selebriti sekaligus pahlawan super dan pemimpin yang plot krisis kehidupan pribadi dan bagian ngobrolnya agak banyak. Karena itu lah saya masih bisa hidup tenang leha-leha karena percaya orang tua saya bisa melakukan apa saja bahkan mengeluarkan saya dari penjara jika terlibat huru-hara lalu lintas. Meski mereka belum juga menulis buku yang sudah diwacanakan sejak lama, ada seorang tua yang menulis buku non-fiksi dan tidak dipajang berbarengan dengan kitab suci. Bahkan mungkin tidak dijual di toko buku Indonesia.

Beliau menulis buku yang akhir-akhir ini sering sekali saya sebut, hingga hampir seperti kitab suci, padahal isinya saja tidak hapal dan tidak paham sepenuhnya. Saya memang tidak membaca sebanyak itu buku, sedikit di atas rata-rata kalau angka rata-rata orang sekitar saya adalah membaca 3 buku per tahun di luar buku pelajaran. Saya cukup yakin angkanya di bawah itu karena toko buku sepertinya tetap sintas karena jualan beragam pensil dan alat musik. Agak malu juga, karena menyebut hal yang sama berulang kali adalah tanda kekurangan. Seperti hanya satu kali piknik tapi diacu berulang kali. Baru nonton dua kali di bioskop dan filmnya diceritakan beberapa kali. Baca buku karena memang hanya 6 buku per tahun, jadi diacu berkali-kali. Paling tidak dua kali di atas rata-rata dan paling tidak beliau ini adalah 50% dari penulis yang rumah tangganya tidak pecah. Ternyata, selain saya krisis berhala, saya juga agak krisis membaca.

Hans Rosling menulis buku yang sebegitu menggugahnya hingga memori saya atas buku tersebut berputar-putar dan terdistorsi menjadi ilmu yang bisa jadi bahkan tidak tertulis di dalamnya. Saya menonton kuliahnya dan presentasinya tentang dunia ini yang secara langsung dan tidak langsung membuat saya lebih bahagia dan mau membuat perubahan dalam tujuan hidup. Tidak sampai satu minggu setelah saya memulai membaca buku paling baru beliau dan menonton beberapa tayangannya, saya mengetahui bahwa beliau sudah meninggal tahun lalu. Beberapa sesi menonton video berikutnya saya lalui dengan air mata. Saya baru bisa paham mengapa orang bisa merindukan Rasulullah yang bahkan mereka tidak pernah bertemu dan padahal baru baca bukunya satu saja. Sebab terlalu berat untuk baca buku hadits, Sunnah, dan kajian. Saya juga belum pernah baca bukunya yang lain.

Rasa rindu pada tokoh yang tidak pernah ditemui ini kemudian dijaga seperti perasaan teman saya terhadap saya yang tidak mau mendalami lebih jauh tentang kecacatan hidup sang penulis. Pun buku Tan Malaka belum pula selesai saya baca. Kelak nanti akan saya acu dan rindukan. Tapi buat saat ini sebijak-bijaknya adalah orang yang mengambil pelajaran dari “The World’s Best Mom” dan “Greatest Dad in The World”  sebanyak-banyaknya sebelum gelas itu jadi pajangan berharga yang kalau pecah bisa terbayang berhari-hari dan memorinya tercampur-campur.

 

 

 

Repot Juga

Karena usaha menyatukan tumblr saya dengan akun wordpress saya tidak berakhir dengan baik, saya mempertimbangkan untuk berhenti menulis dan memutuskan untuk hilang dari jejak internet. Sebaiknya menghabiskan hidup di warung kopi saja, membicarakan Pilkada Serentak yang ternyata tidak digelar dua putaran.

Bercanda.

Banyak sekali ucapan dari orang-orang perihal tulisan saya dan kebiasaan saya menulis anekdot (yang cita-cita terpendamnya adalah menjadi kolumnis tetap koran minggu) yang entah kenapa melekat hingga bertahun-tahun lamanya. Seperti betapa menyentuhnya tulisan saya, betapa berantakannya tulisan saya yang padahal jika dikaji komponen kalimatnya lengkap (atau paling tidak, tidak membingungkan dan terbaca seperti orang yang sedang berbicara), dan rasa personal yang sangat kental serta tidak informatif. Tidak ada yang memberi respon mengenai sajak-sajak saya. Tidak apa-apa. Memang saya juga malu pernah menulis yang demikian. Nanti saya belajar lagi atau jongkok-jongkok di toko buku, buka-buka plastik buku lalu diperhatikan satu-satu rima dan diksi dari buku murah yang entah bagaimana bisa terbit.

Katanya menerbitkan buku adalah bagaikan melahirkan dan membesarkan anak, maka  blog yang menggelisahkan ini adalah anak pertama saya yang baru dihamili pacarnya, lalu pacarnya kabur. A bit fucked up. Desainnya berubah dan tercampur berantakan dengan tumblr saya yang bentuknya memang sudah seperti lelaki yang kabur ketika pacarnya hamil. Sekilas tidak ada yang tidak wajar. Memang kesedihan dan kekacauan akibat kekerasan seksual tidak mudah dilihat dari luar dengan sekilas. Yang sadar hanya orang-orang dekat dan yang berniat scroll down hingga ke tahun 2012. Berantakan dan terlihat “lebih rapih blog sama tulisan-tulisan si X ya daripada blog lo”. Yang mana itu adalah benar. Terima kasih temanku, kata-katamu akan saya ingat seumur hidup sebagai penambah rasa inferior yang luar biasa sedap. PS: Si X adalah pacar saya. Pacar saya yang makin ke sini gaya nulisnya makin mirip dan idenya menyatu sama saya seperti jalan tol.

Setiap tulisan adalah curhat. Begitu pula akting dan bahkan karya seni apapun dalam bentuk lain. Kalau aktor diminta untuk marah dan nangis dengan mudah, ada yang bilang bahwa itu karena emosinya dipendam dan hanya bisa keluar di depan kamera. Opini seperti ini menjelaskan kenapa saya jelek dalam berakting tapi sekaligus menyedihkan di belakang dan banyak ketawa yang tidak lucunya. Kekasih saya biasanya jadi kamera. Di rumah sih hidup saya muram, tapi di luar saya “so vibrant dan hangat”. Bukan orang tua saya yang opresif, tapi mungkin kepribadian kita kurang cocok. Ibu bilang bahwa ketika seseorang sikap pada keluarganya jahat dan marah-marah tapi di luar rumah menyenangkan, itu tanda orangnya palsu. Padahal saya tidak palsu, cuma canggung kalau misalnya haha-hihi tapi lalu terlibat dalam kesulitan rutinitas dan konflik antarkamar, sehingga persona saya berbeda. Tapi mungkin saya memang palsu dan seharusnya hidup di KW Thailand atau plastik Korea Selatan. Yang baik dan peduli akan setia. Karena beberapa orang terlalu partikelir untuk diambil pusing hal-hal kecilnya.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” bocor standar.

Kembali berbicara mengenai “tulisan adalah curhat”, saya dan anak saya ini sudah melewati banyak akhir minggu yang tidak ke mana-mana. Meski yang ditulis sedikit, saya sering membuka blog ini lalu berharap ada yang membaca dan menyemangati dari jauh, via komen dan akun rahasia. Menulis draft, lalu menghapus, dan tidak jadi melakukan tindak publikasi sama sekali. Persis anak-anak pemalu yang kalau chatting menulis panjang lalu tidak malu karena jadi. Romantisasi awal era informatika memang ajaib dan norak. Maka dari itu saya berniat untuk memindahkan blog yang satu ke blog yang satu lagi. Karena dihalangi Kemonkokminiminfo akibat ulah para penikmat pornografi yang dengan hebatnya bisa doyan nyari konten porno di tumblr, bisa-bisa tulisan saya makin tidak dibaca.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” substandar.

Tulisan berisi curhatan saya kebanyakan berupa hal yang sama dan atau mirip-mirip. Waktu itu pernah membahas teori sosial. Dua kalimat saja. Fisika luar angkasa. Tiga kalimat saja. Tips-tips sukses menjadi orang sukses. Entah berapa kalimat. Ujung-ujungnya sentimental dan lebih meresahkan dari pembunuh berantai yang berkeliaran di sekitar kita. Dan daripada mengulang hal-hal yang sudah diulang, lebih baik otak kita dibiasakan untuk berbuat hal yang sama agar makin pandai. Perubahan dibentuk oleh kebiasaan dan setumpuk bite sized bit and don’t overstuff your stomach. Kecuali oleh Pak Gubernur yang mandraguna. Beliau bisa memindahkan seorang pegawai senior yang tidak gabut tapi salah tempat lalu keluarganya meratapi nasib bapaknya yang mesti pindah kerja. Perubahan terjadi dalam semalam. Malam-malam berikutnya sang anak harus menyesuaikan diri dengan anak-anak judes di sekolah baru. Karena judes pada anak baru adalah keharusan dari sudut pandang anak yang sensitif. Brad Pitt pernah masuk 100 orang paling berpengaruh versi Time mungkin karena dia bisa melakukan hal seperti ini.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat repot juga” metastandar.

Jadi daripada meratapi kehamilan anak saya, anak saya yang malu bicara dengan orang, dan anak saya yang harus dijuteki oleh geng tajir cantik majalah Hai, Gadis, dan Kawanku di sekolah barunya. Mari saya menulis di atas cucu saya dan bangun lebih pagi meski bangun pagi terlalu dipuja-puja di dunia ini.

Hari ini saya mau membersihkan tempat parkir sebelah Puskesmas dari ribuan sampah plastik, biar kalau air pasang tidak hanyut ke laut. Itu juga kalau ada trashbag.

 

 

Sendiri

Bermimpi itu menyedihkan. Jalan-jalan sendiri di saat kesepian. Beramai-ramai di saat yang sudah penuh sesak. Mengobrol dengan bayangan.

Kalau terbangun, menangis karena mimpinya indah.

Kalau terbangun, menangis karena mimpinya sedih.

Sebaiknya tidak dibagi-bagi. 

Lampiran

Masih segar di ingatan kita semua ketika Walikota Surabaya, Ibu Risma, menangis tersungkur di pinggir jalan ketika mendapat kabar tentang bom gereja Surabaya hari minggu. Reaksinya juga tidak kalah heboh saat beliau bersujud dan meminta maaf di tengah forum penuh ustadz. Jika misalnya ada orang yang bilang “The Future is Female”, maka bisa jadi ada tepatnya meski sedikit. Dunia perlu digerakkan oleh orang-orang yang praktis, pandai, taktis, dan berintegritas. Ketika orang-orang dengan kombinasi seperti itu terlalu sibuk membina keluarganya sendiri atau pergi liburan dengan uang beasiswa, mungkin yang diperlukan adalah orang dengan perasaan. Kebetulan Bu Risma praktis, pandai, taktis, berintegritas, dan penuh kepekaan serta perasaan.

Indahnya jadi wanita di masa kini. Didukung oleh banyak lapisan masyarakat, terutama para pendemo Car Free Day Women’s March yang kadang dilakukan tidak di bulan maret dan datang ke CFD menggunakan mobil lalu parkir di Dago Bawah atau Dipati Ukur. “The Future is Female” adalah pemahaman feminisme yang salah. Kita tidak dalam perjuangan membuat wanita “lebih”,  melainkan membuat kesetaraan antara wanita dan pria yang beberapa waktu ke belakang banyak polemiknya. Kita berada dalam perjuangan di mana ketika Kang Emil menangis tersujud-sujud ketika Bandung diledakkan adalah hal yang wajar dan tidak membuat Kang Emil dihina serta disinisi seantero media sosial ditambah sekampung penuh tentara siber Islam. Kurang laki.

Attachment ketika diterjemahkan secara harfiah per kata adalah “lampiran”, “kasih sayang”, “cinta” atau “alat pelengkap dan tambahan”. Masuk akal, tapi tidak seperti yang diharapkan. Bukan “keterikatan” atau “rasa memiliki” dan apalagi “keeratan serta kesedihan yang menempel pada kalbu yang syahdu ketika matahari akan terbenam pada kota yang tidak akan kita datangi lagi”.  Agak berbeda dengan Attachment Theory yang merupakan model psikologi. Bahwa manusia memiliki kebutuhan dan kecenderungan untuk menjadi lampiran dan mendapat kasih sayang serta dukungan dari manusia lain. Kata “attachment” buat banyak orang kerap digunakan untuk menggambarkan perasaan-perasaan indah dan rasa nyaman. Perluasan makna. Bagi dokter, bayi yang sudah punya “attachment” pada “caregiver”nya akan sulit diperiksa dan agak merepotkan karena sering kali akan menangis meraung-raung. A good fascist is a dead fascist. A good kid is the quiet one. Or the dead ones. Tidak untuk dianggap serius.

Yang dialami Bu Risma dengan mudah bisa dikategorikan sebagai “attachment”. Sama dengan Kang Emil yang punya keterikatan dengan Kota Bandung. Sama dengan semua orang yang terluka ketika kota kesayangannya dibom, atau luka belum kering yang kena banjir di Pagarsih dan Dayeuhkolot. Masih bercita-cita dipulihkan.

Saya merasakan keterikatan pada banyak hal. Baik itu yang berwujud ataupun tidak berwujud. Dan tahun kemarin, sejujurnya adalah masa di mana saya kehilangan sangat banyak lampiran-lampiran hidup. Paling banyak. Saya kehilangan tas ransel saya yang keren; berisi laptop dan ribuan hal di dalamnya, surat-surat cinta dari Jakarta, buku catatan selama 5 tahun, buku-buku pelajaran serta novel, dan pelengkap-pelengkap kecil di celah-celah pinggirnya. Kami lulus, lalu saya kehilangan rutinitas yang sangat nyaman, kontrakan yang kotor tapi membetahkan, teman-teman yang sebelumnya mudah sekali ditemui, dan pacar saya selama kurang lebih 4 tahun. Salah satu yang paling berat adalah kehilangan kucing kami semua, Bebi, yang membuat saya keliling komplek sampai ke rel kereta tengah malam membawa dan mengocok-ngocok kotak makanannya berharap ia mendengar lalu muncul. Kebetulan di akhir 2017 ada Thor: Ragnarok, cerita tentang Thor yang kehilangan palu kesayangannya, teman-temannya, rumahnya, tanah airnya, rambut gondrongnya, mata kanannya, dan sikap membosankannya dari film-film sebelumnya. Jika benar demikian maka tahun ini adalah tahun di mana saya mendapat senjata baru, teman baru, dan menjadi orang paling keren dan kuat yang turun dari langit.

Saya ingat pada kejadian belasan tahun yang lalu. Bisa jadi sudah 20 tahun yang lalu, waktu main pasir di pantai Pangandaran dan harus pulang. Saya merasakan kesedihan yang entah datang dari mana. Entah jika sebenarnya hanya ingatan palsu saja, tapi jelas di ingatan saya tentang mataharinya, indahnya pantai dan pasir, perasaan tidak ingin pulang, dan saya yang tersedu-sedu digendong bergantian di dada ibu atau ayah di dalam mobil baris kedua. Tidak ingat siapa yang mengemudi. Kejadian itu menjadi salah satu penyebab juga kenapa saya jauh lebih suka naik gunung daripada menceburkan diri di pantai. Gunung itu untuk bersenang-senang, merenung, dan menyusahkan diri. Pantai itu untuk nongkrong cantik dan rebahan sambil baca buku yang direkomendasikan Warren Buffett. Juga untuk bersenang-senang, lupa daratan, dan gatal-gatal lalu pergi ke WC umum 3000 berak 5000 mandi.

Saya yang terlekat pada hal-hal duniawi ini kadang sedih dan merasa rindu bahkan pada tempat-tempat yang hanya saya datangi sebentar. Memang tidak ditakdirkan untuk akhirat. Saya rindu pada perasaan-perasaan yang sudah lewat, dan pada tempat-tempat yang kemungkinan besar tidak akan bisa didatangi lagi. Kosan-kosan kecil di kota-kota kecil yang ingatan tentangnya kian mengecil, kamar teman, dan hari-hari di kota-kota kecil itu yang manisnya ada karena waktu di sana terbatas.

Kedamaian paling utama didapat dari lepasnya kita pada hal-hal duniawi. Tidak juga pada hal-hal akhiratawi. Ditunjukkan oleh para pemuka agama yang baik. Hidup tenang meski tidak punya Rubicon. Ketenangan utama didapat dari menihilkan dunia dengan tidak serta-merta menyepelekan orang-orang yang hidup di dalamnya. Yang di dalamnya tinggal orang-orang baik di kota-kota baik. Seperti Bu Risma dan kotanya yang sedang dalam kondisi kurang baik. Atau ketenangan karena setelah berpindah-pindah pun masih bisa bersyukur punya tempat tinggal dan orang-orang tersayang untuk membuat kembali kebahagiaan yang tidak kecil di rumah kecil yang penuh ingatan kecil milik kami.

Happy Sweet 17, Happy SBMPTN, and Happy Life-Go-Lucky.

Tadinya mau nulis ini tadi malam waktu Cici sedang stress, tapi karena mati listrik, laptop “plugged, charging, but not charging”, dan sakit pinggang sampai ke tangan, jadinya ditulis pagi-pagi. Pasti Cici sedang sibuk waktu tulisan ini ditulis dan selesai dibuat. Dan pasti Cici pasti ga punya kenangan tentang SNMPTN 6 tahun yang lalu. Karena masih kecil dan abang juga ga cerita-cerita banyak. Waktu itu abang berangkat diantar Ayah juga, semoga beberapa hal ga berubah ya kayak gitu, sampai ade SBMPTN juga toh sebentar lagi, dan sampai ade sumpah dokter (siapa tau salah pencet), dan sampai Cici kalau punya anak, anaknya wisuda juga Ayah Ibu datang.

SNMPTN 2012, abang ada perasaan sedikit ingin boker waktu mulai ngerjain soal, dan waktu itu sempat terpikir kalau boker akan banyak makan waktu tersisa, mending dibokerin di celana lalu kerjakan soal lalu balik. Malu boker di celana paling masuk berita detikcom, tapi ga keterima kuliah lebih malu. The stakes were that high, in my mind, you might feel the same. Mana celana abang licin banget, celana bahan entah dari bahan apa itu dibikinnya, di bangku kayu SD yang licin dan harus ngerjain matematika IPA. Rasa sengsaranya abang masih paham. Lalu pulang ketemu temen di angkot yang kata dia sih bisa, lah abang cuma ngerjain tiga, balik ke rumah diperiksa salah dua, nangis sambil nonton unduhan The Killers Live at Royal Albert Hall di atas. Cici baru lulus SD mana tau. Memang ujian seperti ini faktor keberuntungan, dan faktor X, faktor Z, faktori outlet, Richeese faktor kek, dan faktor-faktor lainnya besar banget, ga seharusnya disombongkan kalau cici sudah lulus ya, boleh lah beberapa bulan pertama aja. Abang juga mulai benar-benar konsisten menulis blog sebenarnya dekat SNMPTN 2012. Benar-benar masa di mana abang ditempa secara emosional dan banyak mikir sendirian di angkot, makanya mau nulis lagi setelah zaman SMP. Waktu itu terasa sih, hardship makes you grow, dari membeda-bedakan teman yang serius, teman yang tidak serius, teman yang supportif, dan teman yang cuma goodluck-goodluck doang. Abang mau cerita lagi dan membahayakan martabat (yang ga ada-ada banget juga) dan kebebasan bernegara bahwa pernah berbuat jahat sama pacar SMA karena menurut abang dia membahayakan ujian-ujian abang (Maaf banget, Nishrin). Kalau Iqbal jahat dan ngasih pengaruh buruk sama Cici, tampol aja ci, ada third wave feminists yang selalu suportif. Kalau jahatnya beneran evil bukan sekedar he’s not so nice, ntar abang dan orang-orang rumah akan tampol juga. Ini saran-saran untuk adolescents nanti lagi beda acara. Tapi sesungguhnya terserah cici mau ngapain sama dia, love will find a way, SAPPK will find you anyway, asal jangan mau kalo ditawarin ngerokok dan ena-ena, nanti ada guilt, STD, then I’m an expecting brother. Tapi dari pelajaran-pelajaran abang di saat masa-masa yang rasanya berat itu lah, abang dapat teman-teman seumur hidup yang beberapa ga keterima juga beberapa keterima, tapi masih berteman dan nongkrong. Abang cuma berharap beberapa dari mereka berhenti manggil abang “Dok” aja.

Cici pasti sering dengar, bagaimana sebenarnya SBMPTN dan ujian semacamnya adalah hanya ujian. Hidup adalah ujian yang sebenarnya (tapi tidak ada yang bilang bahwa SBMPTN adalah bagian besar dari hidup, jadi ini bahaya juga bos). Kalau kita lihat di jalan takdir yang bercabang-cabang, atau entahlah mungkin sebenarnya cuma satu jalan panjang tapi dimanipulasi Tuhan jadi rasanya bercabang-cabang, SBMPTN dan ujian-ujian seperti ini memang membelokkan jalan hidup, Ci. Lihat Ayah dan Ibu, ketemu di kampus dan juga ketemu teman-temannya yang banyak itu, lalu pola pikirnya karena berada di iklim aktivis dan akademis kampus yang seperti itu, jadi terbentuk seperti itu, lalu mendidik kita jadi seperti ini, you get the point, butterfly effects and shit. Lalu calon kakak ipar yang baik dan cantik kata cici, tapi gampang sakit kulit, kasihan, dia pula bermasalah dengan SBMPTNnya dulu, tapi memang dibelokkan jalannya biar ketemu abang di Unpad. Sekarang hidup bahagia di UI. Di Unpad dapat pelajaran hidup katanya. Apalagi sekarang dia bikin email layanan masyarakat untuk konsul SBMPTN dan tulisan di Askfm serta Tumblrnya menginspirasi entah berapa orang perihal SBMPTN.

Pasti malah jadi pertanyaan, “jadi ini penting atau ga penting, bang?” Gatau juga, waktu cici lahir abang masih kesel-kesel mau nonton Digimon di Indosiar malah dibawa ke Borromeus, I am too, still figuring out life. Kalau kata ibu bisa jadi ga penting (dengan alasan menaikkan self-esteem cici), atau penting sekali (dengan alasan yang sama, intinya adalah alasannya), abang sendiri sejujurnya tidak tahu sebenarnya ini apa karena hal-hal yang abang udah bilang tadi. Abang juga pernah bilang, di dunia globalisasi (kalau sekarang namanya Industri 4.0 dan IoT yakni Internet of Things, it’s true, look it up everyone’s talking about it, seakan-akan mereka ahlinya) ga seharusnya lagi hal-hal kayak gini jadi polemik, makanya kalau ada anak yang orangtuanya mampu dan semangat masuk swasta seharusnya didukung supaya makin banyak pembukti-pembukti bahwa kuliah di mana sama-sama aja. Akses dan pembukaan wawasan yang lebih mantap kalau kuliah di kampus idaman, tidak serta merta jadi penentu kesuksesan, itu juga tidak ada studi resminya jadi gak seharusnya kita bangga-banggakan dan andalkan sebagai alasan. Kecuali misalnya ITB bikin penelitian resmi bahwa kuliah di ITB lebih mungkin sukses 42% dibanding common people baru lah pantas orang-orang berlomba masuk ke sana. Apalagi kalau misalnya ada publikasi bahwa kuliah di Unpad lebih bahagia 77%, sebaiknya cici masuk sana ci, buat apa sukses tapi gak bahagia. Satu-satunya yang membedakan adalah rasa bangga dari dalam diri sendiri yang jadi headstart serta berkembang terus dan berdampak ke mana-mana. Abang hanya melihat langsung sendiri sih, dari sahabat, orang tua, orang tua sahabat, teman, orang tua teman, pacar, orang tua pacar, tetangga, anak tetangga, dan abang sendiri yang merupakan anak tetangga kalau kata tetangga, bahwa rasa bangga itu ada walau kecil, dan buruknya kadang rasa bangga itu terbawa sampai dewasa dan berlebih-lebihan sampai ke taraf yang tidak perlu. Abang sih untungnya ga ngebangga-banggain kayak gitu, kalau ditanya Go-jek atau orang basa-basi kuliah di mana pernahnya jawab FSRD Maranatha, Teknik Lingkungan ITB, dan Statistika Unpad. Lama-lama malu juga jadi dokter, mau makan harus cuci tangan dulu atau bakal dikata-katain, lah yang mencret kan gua, elu kalau mencret juga ngeLine gua nanya obatnya apa. Intinya rasa kepuasan dan rasa percaya bahwa anda adalah seorang yang bisa menaklukkan ujian dan masuk ke kampus yang katanya bagus dan idaman, dapat membawa positivitas ke masa depan dan berdampak pada hal baik lainnya. Kalau cici, sudah lahir di keluarga yang baik, yang ikatannya kuat, yang bisa dibanggain dan suportif walau threshold marahnya pada rendah-rendah semua kecuali Apong, yang selalu percaya that blood is thicker dan water, and even though it’s amniotic water, blood is still thicker than any water and sweat, keluarga yang bisa makan-makan tiap minggu dan film jelek di bioskop aja kita tonton bareng-bareng, dan kalau mau apapun sebenernya tinggal minta, dari minta pijitin Ibu Ayah sampai minta yang mahalan dikit, seharusnya sudah punya positivitas yang lebih tinggi dan ditempatkan di manapun akan berkembang dan conquering the world. Itu kalau yang cici mau adalah menaklukkan dunia, tapi jangan lah Ci, kayaknya gajinya tidak sesuai dengan beban kerja.

Apapun yang Cici rasakan beberapa bulan terakhir ini, belajar malam-malam di bimbel yang udah abang jemput eh abang marah-marah karena jalanannya macet (padahal bukan salah cici), dan kebahagiaan-kecemasan karena countdown Infinity War adalah juga countdown SBMPTN, yang jelas Cici harus tau apapun yang terjadi setelah usaha-usaha yang berat itu adalah takdir, makanya disuruh berdoa ya Allah berikan aku yang terbaik, dan yang terbaik adalah keterima di SAPPK dan punya kakak dokter internship gabut. Cici pasti baca ini setelah ujian dan merasa dunia jauh lebih terang dan panas, juga secara harfiah karena nanti cici keluar ujian adalah sekitar jam 10 betul tidak. Nanti cici preserve perasaannya ya, write me something, walau nanti pasti dijemput Ayah, dan di rumah makan siang enak lalu bobok saat main hape, ketebak lah, yang penting cerita. Karena penting atau ga penting, keterima atau ga keterima, takdir atau bukan takdir, having and seeing you grow, transcend, and desperately want to make this world a better shithole, is one of the greatest gift given by Ibu, Ayah, and God. Happy very very belated supalate sweet 17 and happy vacation and happy SBMPTN, Ci. We don’t owe each other anything except for that 750rb, but let’s give each other the best shot every time.