Archive

agamis

Secangkir air hangat
Dimasak dengan baik
Dengan nyata
Buat tamu yang baru tiba

Sebotol air biasa
Untuk orang yang biasa
Diminumnya
Dengan berdosa

Segalon
Bukan air

Cuma tanah
Pecah luka luka
Ditukas pria pemarah
Tidak menjaga perasaannya

Sebab yatim yang haus
Serta sekaligus
Harus dijaga perasaannya

Seingin-ingin aku merubah dunia, sekonyong-konyong aku berakhir membayangkan diriku yang tua, bersandar di halaman, dengan nyeri punggung, menenggak kopi enak, dan memainkan gitar dengan lagu yang itu-itu lagi.

Paling akan dihakimi oleh pohon yang kutanam di halaman. Egois, hipokrit, katanya.

Mimpi saja dikubur angan.
Dan angan disimpan di pekarangan.

Lalu kumarahi pohon itu.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka.”

Kuseruput kopi berharap ampasnya tidak ikut tertelan. Bunyi ting dari gelas kosong yang ditaruh. Gelas itu tidak menghakimiku, pun kopinya.

Mereka hanya bertanya heran.
Mengapa aku berbicara dengan pohon.

Tatkala senang jadi perhatian
Keringat dingin mengalir enggan
Tidak bisa disuruh berhenti menetesi
Siang hari waktu lima pasang mata menghakimi

Konon suka baca buku
Tapi dibilang kurang baca melulu
Sebab musabab lagi tak pandai berkata
Dan telinga berdenging diri payah percaya

Ngaku cinta pengetahuan
Tapi pegal hati capek tangan
Ngerjakan yang itu-itu lagi
Berdoa yang besok tidak kelima kali

Bilangnya senang mengobrol
Kaki selonjor telinga nonjol
Disuruh datang ujian lagi nanti
Karena tidak nanya agama orang di warung kopi

Teman baik saya, jika tidak bisa dibilang sahabat, baru merasakan yang namanya kehilangan.

Teringat hari itu. Hari jum’at 7 tahun lalu. Ketika ayah bersandar ke lemari tuanya saat aku pulang sekolah, dan terlihat muka gelap menahan cekat tenggorokan. Dipeluk erat oleh ibu. Lalu perjalanan hening di tol dan lagu-lagu yang disetel keras untuk menyamarkan duka. Juga wajah ompung di balik batik.

Kata dia, rasanya aneh. Aku juga merasakannya. Dari kabar pertama datang. Sampai keramaian keluarga yang tidak dikenal. Teriakan-teriakan histeris yang tidak perlu. Lalu lelucon yang mulai keluar di hari kesekian. Hingga seakan semua pura-pura lupa. Di akhir, menghibur satu sama lain. Di akhir, seakan hidup kita baik-baik saja tanpa yang pergi.

Aku bertemu orang mirip engkong di warung tenda. Teringat hari itu. Entah hari apa 4 tahun lalu. Saat aku merasa dibohongi. Menangis di paha Amah. Kehilangan si Pak Tua yang sekarang dompetnya kupakai sudah 3 tahun. Engkong baik, yang selalu menawari makan dan mengobrol dengan siapapun. Bahkan dengan semut dan sendok-sendok kecil yang selalu ia bersihkan. Aku bertemu bapak ini, yang makan heboh pakai tangan. Akrab dengan penjualnya. Lalu melucu dan menawari makanan di piringnya. Aku ingin menjadi seperti engkong, dan bapak tak dikenal itu. Ramah. Hangat. Bijak. Makan dengan semangat.

Penyesalan akan selalu ada kalau dicari. Aku yang tak pernah diskusi tentang sosialisme, nasionalisme, dan dunia kedokteran Padang. Aku yang tak tahu wejangan apalagi yang mereka punya dan lawakan-lawakan khas. Aku yang tak pernah belajar banyak tentang budaya mandarin dan keluargaku yang lain. Aku yang belum dewasa waktu itu. Aku yang belum sempat memberi mereka kisah.

Mungkin. Rasa duka lah yang membuat peradaban manusia. Tak ingin kehilangan, merekam sejarah, dan upaya menyembuhkan. Rasa duka yang membuat kita berpikir. Hingga ketika kita diberi kesempatan terakhir untuk berdiskusi. Akan kewalahan rasanya menghadapi kesempatan itu. Bertanya tentang apa saja. Berbicara tentang siapa saja.

Waktu, klise banget. Tapi memang waktu kan, inti dari semua ini. Semoga aku lah satu dari tiga amal jariyah kalian. Maaf aku jarang sholat. Apakah doanya sampai mpung, kong?

Lebaran datang terlalu cepat, lagi. Serius, kurang lebih minggu depan udah bulan syawal. Saya yakin banyak orang ngerasain hal yang sama. Kebingungan karena lebaran datang terlalu cepat. Ibu-ibu yang bingung ngatur pengeluaran rumah tangga, bapak-bapak yang bingung ngurus kerjaan mepet lebaran dan persiapan mudik, maba-maba yang resah karena saat tiba akhir ramadhan mereka akan menghadapi kehidupan baru dan tugas-tugas ospek, anak-anak yang gelisah karena libur dan semi-libur mereka akan segera habis, dan malaikat-malaikat yang mungkin akan berkurang lagi jumlahnya di bumi. Tipikal.

Memang sih pada akhirnya yang dibahas hal duniawi lagi. Kayak hal-hal tadi, dan mudik yang bahkan dalam agama islam itu ga ada hukumnya, dan pakaian-pakaian baru alhamdulillah untuk dipakai di hari raya. Atau tentang sang anak yang lapar bertanya ke ayahnya, “kenapa mesti berlapar-lapar puasa?” Untunglah nak, minggu depan kita akan mencret-mencret karena rendang nenek dan santan intolerance.

Sejujurnya, setiap ramadhan, saya jarang dapet hidayah atau pengalaman spiritual yang bener-bener patut diceritain. Belum pernah dapet malah. Adanya cuma sedih-sedih karena si ramadhan lewat tanpa ibadah yang berarti dan perasaan ga yakin tiap tahun apakah benar-benar puasa saya diterima setiap harinya. Saya ingin tau lebih dalam nikmatnya ibadah ramadhan seperti apa. Seperti apa rasa puasa yang sebenar-benarnya. Seperti apa rasa nikmat sujud ekstra 11 kali setiap malam.

Tapi yaudahlah, saya masih jadi orang yang menikmati sahur dengan tertawa liat orang cari duit di TV atau ngobrol ga penting. Menunda solat subuh, lalu langsung melipat sajadah selepas salam ke kiri. Menghabiskan pagi dengan asik sendiri. Menunda-nunda solat dzuhur dan ashar, kadang sampe kelewat. Siangnya pacaran. Main entah kemana, duniawi lagi. Sorenya sibuk kemana-mana memenuhi undangan buka bareng. Solat maghrib atau tidak tergantung dengan siapa saya berada saat itu. Solat isya sebelum imsak. Terdengar fana dan dibenci Allah sih memang. Biarlah jadi bilik pengakuan dosa aja.

Padahal ini akhir jaman. Akhir-akhir ramadhan juga. Kepada saudara-saudara muslim di seantero jagat, saya nitip doa ya. Doanya terserah kalian, saya tahu kalian orang-orang baik. Semoga saudara muslim yang belum dapet kedisiplinan beribadah segera mendapatkannya. Semoga orang kayak saya masih diberi cahaya dan naungan di hari akhir. Ya Allah, saya ga pantas masuk surgaMu tapi saya ga sanggup masuk nerakaMu. Raihan aja bilang begitu. Apalagi saya, yang doa serius aja jarang. Doa cuma pas dekat-dekat ujian. Sehina-hinanya hamba Allah nih. Atas nama peci berdebu, Al-Quran yang terlupakan, duit yang tak tersedekahkan, dan ayat kursi yang tak terhapalkan. Kabulkan doa akhir jaman kami ya Rabb.