Archive

bandung

Bergenggaman
Di antara tempat pizza dan pepohonan
Aku yang waktu itu sering berangan
Membuat tepuk tangan

Saling kesal
Di depan tukang roti dan minuman mahal
Aku kira kita gagal
Lupa kalau aku yang bebal

Mengenang
Di seberang gerai sepatu dan barang-barang
Katamu sangat ringan, seperti melayang
Sepatuku tebal, toh aku serasa mengambang

Bersyukur kamu masih tinggal
Karena di situ
Menyembul di antara pipimu
Lengkung halus sangat kukenal
Yang tidak jauh
Kesukaan

Pak tua di belakang suka geram
Siapa peduli, asal nyawa tidak terancam
Pak polisi di pinggir suka marah
Siapa beli, acap jalanan jadi tong sampah

Bukan embun pagi
Apalagi cahaya bulan
Refleksi perjuangan akhir hari
Tertabung di kaca belakang

Redup pijar ini
Menghangati yang tak berada
Pecah nyala warna-warni
Jadi hiasan jalan-jalan kota

Dicaci muda mudi pongah
Rezeki direbut dicari-cari
Dimarahi orang-orang gerah
Dipatok ayam duluan kita yang nyeri

Bising sekali bapak
Di jalan di surat kabar
Pusing namun pula muak
Jalanan jahat jadi gemetar

Sekedar ngasih tahu
Jok hitam berdaki ini saksi kelabu
Atas anak yang gelisah
Dan ibu yang terguyur resah

Punya kita diletup dimusnah
Lantaran bapak butuh lahan basah
Tapi saya cukup sudah
Malam-malam di rumah bikin bantal basah

Hari ini naik angkot lagi.
Jadi angkot sekarang susah. Digadang-gadang akan lenyap.
Aku coba jadi supir angkot, walau tidak harfiah.
Tetap sedih.

Sebelum hilang mood nulis.
Sebelum tidur.
Sebelum tulisan panjang sesudah ini.
Tentang pertemanan. Tentang rasa iri dan dengki. Lagi-lagi tentang itu.
Sudah jarang aku bikin tulisan yang bahkan menurut aku sendiri bagus. Mungkin karena makin skeptis dalam menghadapi hidup. Juga karena tulisanku makin sendu dari waktu ke waktu. Kayak pernah bikin tulisan bener aja, Kaf.
Katanya mau nulis tentang waktu lalu. Tentang ayah. Tentang teman-teman. Tentang kejadian. Tentang usia. Banyak omong ya kamu, Kaf.
Iya, kata orang aku banyak omong. Semoga banyak nulis juga ya, Kaf. Toh Rasulullah pun yang tersisa hanya omongan dan tulisannya. Itu pun bukan tulisan beliau. Argumen tadi ga cacat logika, kan?
Makin jelek aja tulisan kamu, Kaf. Tapi apalah hari ini, cuma kejadian tidak penting. Wanita cilik yang berlarian, ke dekat ayahnya yang pedagang baso bakar. Dikecup oleh ayahnya. Lalu kembali berlarian.
“Pedes ga, A?”
Dagangan boleh tidak manis. Kecupan untuk anaknya harus manis.

Aku telah terserang radang

Aku sedang terserang sakit meradang

Jangan kecil hati karena sakit

Jangan besar hati karena pernah banyak sulit

Berjalan ke arah pulang

Terlantar dan lantaran tak punya rumah

Aku hanya berjalan ke sana

Sana, yang mungkin ada lampu-lampu dan sinar oranye hangat

Karib-karibku menyapa

Kata siapa karib, kataku saja

Kata siapa menyapa, mereka hanya menggerakkan lengan

Lengan-lengan orang yang punya tempat pulang

Aku senang, kata siapa aku tidak senang

Sendirian dengan barang-barang kesukaanku

Sendirian dengan Surayah teman baikku

Dan Dilannya tahun 1990

Kupakai Heimatau untuk terakhir kali

Semoga beruntung, perjalanan aman lewat samudera

Aku ingin jadi kakak yang baik

Tidak hanya jadi kakak yang meraja

Rumput-rumput menjelma jadi tempat berlari

Karena kosong tak lagi kita berjalan

Katamu harus belajar berjalan sebelum bisa berlari

Agar tidak jatuh di hari kemudian

Aku bahagia, aku senang, kata siapa aku tidak senang

Lihat di wajahku ada alis yang naik

Dan gigi kuning tidak diingatkan sikat gigi

Berlari dan bersembunyi bersama saudaraku

Karib

Jika Bandung diciptakan indah

Tidak pasti tidak memberikan sedih

Sedih dalam setiap lampu merah

Sepi dan selalu perih

Aku tak mau Bandungku jadi Bandungmu

Punya hak apa kau mengisi Bandung dengan tiap tindak-tandukmu

Tindak-tanduk kita

Katamu hanya sementara, hanya satu hari saja

Untukku, jangan sedih lagi

Tentang saya dan beberapa hari terakhir yang nelangsa. Tentang Bandung dan tentang adik-adikku. Tentang teman dan tentang kamu.

Cokelat panas dan green tea disajikan hari minggu sore itu untuk kami di salah satu kafe favorit saya di Bandung. Mencari wi-fi dan suasana yang enak. Dia bilang “ayo kerjain dulu”, sambil saya sibuk main hape dan ngobrol-ngobrol bercanda. Saya lanjutkan mengisi form dan essay. Gigs musik jazz sedang digelar disitu dan bikin suasana agak bising. Malam mulai datang dan saya belum juga selesai mengerjakan segala formulir.

Saya jadi mikir kalau misalnya saya tetap seperti ini, tidak punya kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan urusan dengan cepat maka nanti akan banyak hal dalam hidup saya yang semakin kacau. Saya kembali berusaha menyelesaikan. Makanan dan minuman datang dan pergi sampai akhirnya sudah cukup malam dan belum selesai juga. Banyak hal memenuhi pikiran saya, tugas-tugas kepanitiaan dan amanah-amanah yang belum saya selesaikan. Saya pun pulang dengan badan lemas. Saya sadar akan sesuatu malam itu. Bahwa fokus adalah benar-benar penting. Bahwa berpikir-menulis-belajar di tempat umum bukanlah gaya saya. Bahwa saya adalah orang dengan kecanggungan dan keribetan tinggi. Bahwa tak selamanya kita bisa mengandalkan wifi gratis. Bahwa cokelat panas itu tidak menghilangkan haus. Bahwa saya sering sekali salah memesan minuman. Bahwa manajemen waktu yang baik adalah dengan totalitas saat berkegiatan. Totalitas nongkrong-cucus, totalitas main, totalitas belajar, atau totalitas di kamar sendirian mengerjakan tugas apapun itu.

Di jalan pulang saya minta tolong ke mantan teman sekamar saya untuk membuatkan surat rekomendasi. Saya jadi mikir, apa kabarnya si mantan teman sekamar saya ini. Dulu tiap hari main bareng, tidur bareng, minggu-minggu pertama kemana-mana berdua. Sekarang walaupun kamarnya cuma beda beberapa lantai, dan kita masih bisa dibilang satu geng tapi kerasa jauh banget. Untungnya dia senang-senang aja saya mintain tolong. Beberapa hari sebelumnya saya juga udah minta tolong ke salah seorang sahabat saya dari kecil, dan dia sangat senang tapi agak susah untuk ketemu. Kalo diingat-ingat sudah hampir 3 minggu kita ga ketemu. Akhirnya pagi-pagi sekali hari senin saya diantar sang wanita-baik-hati-partner-terbaik ke rumah sahabat saya itu untuk mengambil surat. Sekalian silaturahmi. Rumah yang sudah saya hafal betul isi dan penghuninya. Saya langsung masuk tanpa mengetuk, dan dia baru bangun. Tulisan tangannya jelek. Dia bilang walaupun jelek dan sedikit tapi ini mendeskripsikan kamu banget. Kami lalu berpelukan hangat. Saya jadi merenung, sungguh beruntungnya saya bisa punya orang yang sangat mengenal saya seperti dia. Sesampainya di kampus saya mencari sang mantan teman sekamar. Saya tidak menyangka ternyata dia membuat dengan rapih dan format yang seharusnya. Saya terharu, dia yang bikin LI sering seadanya saja atau mengerjakan sesuatu kadang lupa tapi bisa menyelesaikan surat rekomendasi dengan sepatutnya. Kita berpelukan di ruang skills lab tahun 1. Teringat kalau dulu kita sering sekali berpelukan dan teringat kalau kita satu-satunya pasangan roommate yang saling memanggil aku-kamu. Makasih bro. Saya jadi melankolis lagi.

Di tengah hingar-bingar hari itu saya sadar kalau saya punya orang-orang spesial yang selalu siap membantu. Dan apa yang terjadi beberapa puluh jam kebelakang sangat berkesan dan bisa merubah saya. Bahwa proses adalah suatu hal yang penting. Bahwa kalaupun apa yang kita kerjakan tidak selesai atau tidak sebagus yang orang harapkan, lihatlah ke belakang, apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah kita sadari dan mana yang belum kita syukuri.

Selamat Ulang Tahun Jawa Barat.

Ledakan kembang apinya lama sekali. Beberapa puluh menit. Atau kurang dari 10 menit tapi berasa cukup lama karena agak monoton. Yang saya perhatikan adalah kalian. Menengadah ke atas. Ke langit. Diiringi lagu yang mungkin dibuat oleh Dissa Kamajaya dan kawan-kawannya. Dengan sendu, lagunya terus mengalun. Dan kembang apinya juga terus meluncur. Debu kembang api terus menebal. Mungkin ada sampai satu ton kembang api yang diledakkan saat itu. Selama peluncuran ada yang bosan karena tidak ada variasi ledakan. Ada yang melihat ke sekeliling memerhatikan ekspresi orang-orang. Ada yang berharap kembang apinya cepat habis karena dia ingin pulang. Atau kebelet buang air besar. Ada yang berharap pertunjukan kembang apinya cepat selesai karena dia kurang suka keramaian dan suara bising tapi cahaya dari kembang api itu mubazir untuk dilewatkan, dan dia merasa tanggung karena sudah setengah jalan nonton.

Pertunjukkan kembang api itu selesai. Tapi atmosfer sendunya masih ketinggalan. Kalian seperti menunggu kembang api lanjutan. Apakah akan ada lagi? Kepala kalian masih menghadap ke langit. Banyak yang menurunkan kepalanya. Ada yang sudah main hape lagi. Asapnya masih mengambang-ngambang di udara. Baunya sudah mulai turun ke daratan. Dicium oleh penonton kembang api.  Hening masih terjadi.Tiba-tiba ada suara MC. Mereka dibayar untuk meramaikan suasana. Untuk mengisi kekosongan. Sendunya pecah. Kalian pindah fokus. MC menjadi pusat perhatian lagi. Kepala kalian turun. Kalian mulai berbubaran. Mengobrol lagi dengan keluarga, atau teman, atau pacar kalian.

Betapa indahnya hidup kita kalau tidak ada MC,  dan kita terhipnotis pulang.  Terbius dengan suasana sendu,  pulang dengan kepala yang tertunduk, lalu berjalan bersama dalam keadaan hening. Merenungkan apa yang sebenarnya mereka sudah rayakan, dan mengucapkan selamat malam pada udara Bandung yang sudah dikotori ratusan kilogram debu kembang api.

Tanah pasundan yang sudah jadi kebarat-baratan, Jatinangor. Tepat 14 minggu kemudian.

Ibu saya ga suka peliharaan. Menurutnya kasihan. Kasihan kenapa mesti kita pelihara dan dikasih kasih sayang dari spesies yang beda. Ya gak apa-apa sih. Kata Pi Patel di buku ‘Life of Pi’ juga kalo hewan yang biasa di rumah lalu dilepaskan mungkin rasanya kayak kita udah biasa di rumah atau dikurung di penjara dengan nyamannya, tiba-tiba diusir; “Ayo keluar, rasakan sejuknya angin Bandung Utara dan panasnya Jalan Jakarta bada dzuhur!” Pasti bakalan bingung dan ngerasa ga tenang. Sama halnya kayak binatang rumahan. Tapi saya tau ibu saya ga suka peliharaan karena ga mau kehilangan. Dulu beliau pernah miara monyet, diajak main kemana-mana. Kayak daemon di dunia Golden Compass. Tapi terus monyetnya mati keracunan buah. Ibu nangisnya lama. Ibu juga banyak miara kucing, si Beng-beng salah satunya. Kucing buntut bengkok yang dipungut dari sungai dan matinya 3 Mei 1994, sehari sebelum saya lahir. Ga sedramatis itu sih kayaknya, yang pasti Beng-beng mati kelindes pas ibu lagi hamil saya. Ibu nangis juga.

Saya sendiri inget sedihnya kehilangan peliharaan waktu anak ayam saya mati. Waktu itu masih TK. Pokoknya itu anak ayam mati terus dikubur. Saya nangis heboh digendong ayah ngebasahin baju sama pundaknya. Terus Cosmo, kucing peranakan persia-anggora-kampung-tasik-timur tengah-himalaya-texas apalah itu. Warnanya abu-abu. Baru dipiara beberapa minggu, kelindes gara-gara dia nyelinap tidur di atas ban mobil tetangga. Saya ngeraung-raung waktu itu.

Tapi namanya manusia ga pernah kapok. Niat melihara binatang pasti ada terus. Lalu ada kejadian beberapa hari lalu. Saya dan Puput lagi keliling Bandung malam hari. Mau nyari petshop. Nyari peliharaan. Tiba-tiba ada anak kucing kecil lewat depan mobil. Langsung saya ke pinggirkan mobilnya. 5 detik turun dari mobil. Anak kucingnya lalu dilindas di depan mata saya. Dilindas Harrier putih besar. Ada seperti suara derak tulang dan ngeong yang keras. Dia terpental sedikit dan menggelinding. Kontan saya teriak. Saya ambil dia. Dari mulut dan hidungnya keluar darah. Saya nangis, mungkin bukan nangis sedih. Tapi nangis karena abis liat sesuatu yang bener-bener mengerikan. Bisa juga nangis sedih, nangis karena sebegitu ajaibnya sebuah kebetulan, dan nangis karena sebenarnya kucing itu bisa terhindar dari kelindas kalau saya 30 detik lebih awal ada di tempat itu.

Kucingnya hidup. Luar biasa. Manusia aja kalo dilindas Harrier belom tentu bisa selamat. Benar kalau kucing punya jatah ‘near death experience’ sampe sembilan kali. Kita rawat sampe pagi. Dikasih makan, minum, dan matahari pagi. Pagi-pagi masih kelihatan sehat, bisa jalan-jalan dan berjemur lucu. Kita kasih nama Sugar. Sebagai representasi kejadian manis yang terjadi. Langsung aja ke akhirnya, sekitar jam 2 siang dia mati. Sudah kaku seluruh badannya. Saya kubur tanpa menggunakan sihir, secara fisik dan pakai sekop. Seperti Eragon Shadeslayer yang menggali makam Brom Holcombson menggunakan tangan. Itu tanda penghormatan. Penghormatan karena sudah memberikan cerita, pengalaman, renungan, dan kesempatan untuk saya dan Puput. Kesempatan merawat, merasakan punya peliharaan bersama walau hanya beberapa jam, belanja keperluan “anak” kucing, dan sedih berdua di malam hari.

Saya sendiri ngga terlalu sedih saat nguburin dia. Malah saya merasa seperti hewan biadab. Cengar-cengir saat ngegali dan merasa jijik saat menggeser mayatnya. Sejak kapan manusia merasa superior? Kapan manusia memutuskan ada yang namanya peliharaan? Kenapa kita ga jadi pihak yang dipelihara organisme lain? Padahal kita cuma unggul di aspek bahasa dan agama. Mungkin karena kita bisa mikir lalu membedakan manusia dengan hewan, padahal secara klasifikasi biologi aja kita satu kerajaan dengan para kucing. Animalia.

“Ability to think deeply is what makes human species something special.”