Archive

bandung

Saya mengemudi pulang dari pusat kota ke perumahan kelas menengah tempat saya tinggal. Jalannya buruk, dua ratus juta rupiah yang mungkin dipakai Pak RW untuk anaknya beli Meikarta atau masuk kuliah. Jalannya sempit, dua ratus tahun peradaban dan kendaraan masih diparkir di pinggir jalan.

Manusia adalah pengemudi yang buruk. Memainkan handphone, mengganti kanal radio, atau bahkan bermain gitar kecil saat menunggu lampu merah berganti hijau. Lalu terlambat sepersekian detik yang menjadi sepersekian menit bagi ratusan pengemudi yang juga buruk di belakangnya. Beginilah sebab-sebab mobil otomatis terkomputerisasi dan angkutan moda massal taktis jadi khayalan yang ditunggu-tunggu untuk dipertengkarkan.

Mengurai kemacetan tidak seperti mengurai rambut kusut yang tinggal digunting jika frustasi, atau juga mainan teka-teki yang dengan mudahnya disumbangkan dengan kedok dermawan jika tidak kunjung selesai padahal karena kesal karena mainan itu gagal memenuhi fungsi utamanya yaitu mengurangi stress. Mengurai kemacetan harus dengan hati-hati yang penuh resiko kunjungan ketok mejik atau jalan-jalan mahal ke instalasi gawat darurat.

Dalam “broken window theory” yang sering sekali Ayah saya utarakan, bahwa ketika ada satu jendela pecah dan dibiarkan, maka jendela yang lain akan lebih rentan untuk pecah karena “toh sudah pecah juga”. Atau pada kasus sampah yang dibuang sembarangan. Awalnya satu kemasan kacang pilus yang tidak enak itu tergeletak, lalu karena kondisi psikologis jendela rusak, makin lama makin lumrahlah tumpukan kemasan kacang pilus. Kadang disertai kemasan teh di dalam gelas yang tidak enak juga rasanya.

Atau dalam cerita ini. Ketika orang-orang menjebakkan dirinya di dalam rantai panjang kendaraan, para pengemudi tidak mau berhenti sekedar mempersilahkan motor bebek lewat atau mobil LCGC menyeberangi mobil kita yang sebenarnya ketika kita maju pun tidak akan ke mana-mana, atau sekedar menunggu beberapa detik ketika berpapasan di jalan sempit agar kita tidak berselisihan dan lalu tersangkut bersama di bagian paling sempit dari jalannya. Dengan prinsip “ah sudah kacau juga”, kami sering maju tanpa otak, tunjang, dan asam padeh. Atau saat saya sempat dengan sekilas berpikir jahat, “seseorang akan membetulkan keramaian ini dan jendela-jendela pecah di dalamnya.” Banyak hal memang harus dialami baru dapat dimengerti. Dan banyak hal baru dipahami setelah ada lecet horizontal memanjang di sebelah kanan kendaraan.

Mobil di depan memberi tanda lampu kanan dan mobil yang di dalamnya berisi saya memberi tanda yang sama. Kami maju dengan pasukan di belakang yang sama-sama egois. Egois ketika salah satu anggota pasukan mengalami henti jantung lalu menabrak trotoar, maka itu adalah tontonan yang menarik bagi kawanan yang tidak tahu teknik resusitasi jantung paru. Beberapa juga bingung di bagian belakang pasukan karena adanya kemacetan, padahal sedang terburu-buru mengejar kelas jam 7 tentang resusitasi jantung paru.

Pengemudi itu maju. Penyiar radio yang bahagia tiap pagi itu berceloteh dan tertawa-tawa karena lampu-lampu sen yang menyala tadi sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Saya mengecilkan suara mereka dan menunggu selama beberapa detik. Puluhan detik. Lalu ratusan detik yang diikuti puluhan nyaring klakson dan ribuan rasa panik.

Saya sedang tidak dikejar apa-apa kecuali kepastian tentang masa depan. Belum cuci muka, apalagi mandi biar terlihat lebih tampan. Mungkin satu dari banyak momen yang mana saya dinilai dari rambut mencuat dan pakaian tidur kumal, bukan dari perbuatan yang dilakukan seseorang di balik pakaian tidur kaos panitia yang terkenal.

Di saat-saat kacau, diam adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan. Saya sering diam. Baiklah tentu tidak sedikotomi itu jika ingin membela diri. Lagi pula, konon kata Ibu, kelembaman itu nyata adanya. Bahwa seseorang bergerak dengan kecepatan tetap hingga ada gaya yang menyebabkannya mengubah kecepatan atau arahnya. Didorong rute ke rumah makan, arah penasaran, kecepatan jatuh cinta, dorongan kebaikan yang murni, dan macam-macam bentuk dopamin yang semoga tidak dinamai munafik.  Apa lagi pada orang-orang yang jauh lebih dewasa, yang secara fisik pun otot-ototnya sudah lebih malas sekaligus sombong karena mengaku sudah lebih banyak jalan-jalan dan banting tulang ayam untuk makan opor sama anak-anaknya di hari lebaran. Kasihan. Jika nanti semua orang pada akhirnya hanya berbicara pada pohon.

Saya turun dari mobil. Menuntun perlahan-lahan para pengemudi dengan kelembaman tinggi yang sangat kasihan karena ditekan rutinitas dan dorongan kebaikan yang murni untuk anak-anak yang sama yang waktu itu makan opor di hari lebaran. Berbeda dengan saya yang turun dari mobil, belum punya rutinitas, anak-anak, uang, opor, hak untuk berkata “saya sudah mandi”, dorongan kebaikan, mobil dengan asuransi, dan sandal kain yang sudah dicuci. Paling tidak saya punya Ibu di rumah pagi itu dan semoga seterusnya, yang bertanya-tanya kenapa pagi ini agak lebih lama pulangnya. Juga punya teman yang semoga tidak akan pernah senewen di kursi sebelah kiri mobil ketika ada situasi seperti ini. Beda lagi ceritanya kalau kita nanti main rumah-rumahan di negara setir kiri dan musim panas sounds good. Kalau begitu ceritanya jadi teman tidak pernah senewen di kursi sebelah kanan mobil.

Belum ada yang turun lagi. Ada pengemudi motor yang marah. Mungkin ia marah karena sedang bermasalah dengan orang-orang penting di hidupnya. Lalu ada pemuda ganteng kalem dengan kacamata yang kalau kena matahari akan berubah jadi coklat. Sama seperti kulitnya jika kebanyakan dijemur akan jadi coklat eksotis kalau kata penggiat lifestyle. Dia hanya tersenyum santai dan berterima kasih namun tidak turun dari mobil gantengnya. Seperti saya dulu yang sudah lega ketika melihat ada orang yang mengatur keruwetan dan kebetulan dikejar oleh batas waktu cap jari pukul 8 pagi. Ada pengemudi mobil tua yang hebat sekali pendingin udaranya belum rusak karena ia menutup rapat-rapat jendelanya. Untung saja mau mundur sedikit membuka jalan karena jika tidak mungkin tangan saya bisa jadi alat pembuat pendingin udara manual menembus sembilan dimensi, selapis kaca film, sekaligus tiga kali pengadilan.

Lalu ada pengemudi panik yang turun lalu masuk lagi ke singgasana jok kulit dan dialuni musik jazz yang tidak tahu judulnya. Lalu ada pengemudi tua yang membantu mengibar-ngibarkan tangan dan semangat 45nya. Lalu ada pria 35 tahun yang mungkin sudah 40 tahun tapi terlihat 47 tahun karena hidupnya serius sekali dan mengetuk pintu warga untuk memindahkan mobil yang diparkir depan jalan. “Bukan mobil saya pak, mungkin rumah depan.” Bukan salah saya juga kalau di siang hari ternyata mobil rumah depan itu jadi mobil dia. Lalu ada saya yang bentuknya sudah diceritakan, watak sombongnya juga sudah kentara, namun hari itu sedang berbaik hati karena diberikan rasa lapang dada dan lapang sintetis dari kenikmatan duniawi yang non-futsal. Lalu ada seorang baik yang turun dari mobilnya. Lalu dua orang baik menambah beberapa orang baik yang sudah turun duluan. Saya tidak baik, hanya orang riya yang punya banyak waktu luang dengan rasa bersalah karena mengkhianati teman.

Jalanan kembali lancar. Saya tidak akan terlambat sampai ke rumah. Mungkin mereka yang marah dan kesal dan tersenyum dan kram betis dan sebagainya ada yang terlambat sampai ke tujuannya.

Tapi semoga kami semua jadi tahu. Bertolak pinggang hanya menghilangkan sedikit pegal.

Advertisements

Bergenggaman
Di antara tempat pizza dan pepohonan
Aku yang waktu itu sering berangan
Membuat tepuk tangan

Saling kesal
Di depan tukang roti dan minuman mahal
Aku kira kita gagal
Lupa kalau aku yang bebal

Mengenang
Di seberang gerai sepatu dan barang-barang
Katamu sangat ringan, seperti melayang
Sepatuku tebal, toh aku serasa mengambang

Bersyukur kamu masih tinggal
Karena di situ
Menyembul di antara pipimu
Lengkung halus sangat kukenal
Yang tidak jauh
Kesukaan

Pak tua di belakang suka geram
Siapa peduli, asal nyawa tidak terancam
Pak polisi di pinggir suka marah
Siapa beli, acap jalanan jadi tong sampah

Bukan embun pagi
Apalagi cahaya bulan
Refleksi perjuangan akhir hari
Tertabung di kaca belakang

Redup pijar ini
Menghangati yang tak berada
Pecah nyala warna-warni
Jadi hiasan jalan-jalan kota

Dicaci muda mudi pongah
Rezeki direbut dicari-cari
Dimarahi orang-orang gerah
Dipatok ayam duluan kita yang nyeri

Bising sekali bapak
Di jalan di surat kabar
Pusing namun pula muak
Jalanan jahat jadi gemetar

Sekedar ngasih tahu
Jok hitam berdaki ini saksi kelabu
Atas anak yang gelisah
Dan ibu yang terguyur resah

Punya kita diletup dimusnah
Lantaran bapak butuh lahan basah
Tapi saya cukup sudah
Malam-malam di rumah bikin bantal basah

Hari ini naik angkot lagi.
Jadi angkot sekarang susah. Digadang-gadang akan lenyap.
Aku coba jadi supir angkot, walau tidak harfiah.
Tetap sedih.

Sebelum hilang mood nulis.
Sebelum tidur.
Sebelum tulisan panjang sesudah ini.
Tentang pertemanan. Tentang rasa iri dan dengki. Lagi-lagi tentang itu.
Sudah jarang aku bikin tulisan yang bahkan menurut aku sendiri bagus. Mungkin karena makin skeptis dalam menghadapi hidup. Juga karena tulisanku makin sendu dari waktu ke waktu. Kayak pernah bikin tulisan bener aja, Kaf.
Katanya mau nulis tentang waktu lalu. Tentang ayah. Tentang teman-teman. Tentang kejadian. Tentang usia. Banyak omong ya kamu, Kaf.
Iya, kata orang aku banyak omong. Semoga banyak nulis juga ya, Kaf. Toh Rasulullah pun yang tersisa hanya omongan dan tulisannya. Itu pun bukan tulisan beliau. Argumen tadi ga cacat logika, kan?
Makin jelek aja tulisan kamu, Kaf. Tapi apalah hari ini, cuma kejadian tidak penting. Wanita cilik yang berlarian, ke dekat ayahnya yang pedagang baso bakar. Dikecup oleh ayahnya. Lalu kembali berlarian.
“Pedes ga, A?”
Dagangan boleh tidak manis. Kecupan untuk anaknya harus manis.

Aku telah terserang radang

Aku sedang terserang sakit meradang

Jangan kecil hati karena sakit

Jangan besar hati karena pernah banyak sulit

Berjalan ke arah pulang

Terlantar dan lantaran tak punya rumah

Aku hanya berjalan ke sana

Sana, yang mungkin ada lampu-lampu dan sinar oranye hangat

Karib-karibku menyapa

Kata siapa karib, kataku saja

Kata siapa menyapa, mereka hanya menggerakkan lengan

Lengan-lengan orang yang punya tempat pulang

Aku senang, kata siapa aku tidak senang

Sendirian dengan barang-barang kesukaanku

Sendirian dengan Surayah teman baikku

Dan Dilannya tahun 1990

Kupakai Heimatau untuk terakhir kali

Semoga beruntung, perjalanan aman lewat samudera

Aku ingin jadi kakak yang baik

Tidak hanya jadi kakak yang meraja

Rumput-rumput menjelma jadi tempat berlari

Karena kosong tak lagi kita berjalan

Katamu harus belajar berjalan sebelum bisa berlari

Agar tidak jatuh di hari kemudian

Aku bahagia, aku senang, kata siapa aku tidak senang

Lihat di wajahku ada alis yang naik

Dan gigi kuning tidak diingatkan sikat gigi

Berlari dan bersembunyi bersama saudaraku

Karib

Jika Bandung diciptakan indah

Tidak pasti tidak memberikan sedih

Sedih dalam setiap lampu merah

Sepi dan selalu perih

Aku tak mau Bandungku jadi Bandungmu

Punya hak apa kau mengisi Bandung dengan tiap tindak-tandukmu

Tindak-tanduk kita

Katamu hanya sementara, hanya satu hari saja

Untukku, jangan sedih lagi

Tentang saya dan beberapa hari terakhir yang nelangsa. Tentang Bandung dan tentang adik-adikku. Tentang teman dan tentang kamu.

Cokelat panas dan green tea disajikan hari minggu sore itu untuk kami di salah satu kafe favorit saya di Bandung. Mencari wi-fi dan suasana yang enak. Dia bilang “ayo kerjain dulu”, sambil saya sibuk main hape dan ngobrol-ngobrol bercanda. Saya lanjutkan mengisi form dan essay. Gigs musik jazz sedang digelar disitu dan bikin suasana agak bising. Malam mulai datang dan saya belum juga selesai mengerjakan segala formulir.

Saya jadi mikir kalau misalnya saya tetap seperti ini, tidak punya kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan urusan dengan cepat maka nanti akan banyak hal dalam hidup saya yang semakin kacau. Saya kembali berusaha menyelesaikan. Makanan dan minuman datang dan pergi sampai akhirnya sudah cukup malam dan belum selesai juga. Banyak hal memenuhi pikiran saya, tugas-tugas kepanitiaan dan amanah-amanah yang belum saya selesaikan. Saya pun pulang dengan badan lemas. Saya sadar akan sesuatu malam itu. Bahwa fokus adalah benar-benar penting. Bahwa berpikir-menulis-belajar di tempat umum bukanlah gaya saya. Bahwa saya adalah orang dengan kecanggungan dan keribetan tinggi. Bahwa tak selamanya kita bisa mengandalkan wifi gratis. Bahwa cokelat panas itu tidak menghilangkan haus. Bahwa saya sering sekali salah memesan minuman. Bahwa manajemen waktu yang baik adalah dengan totalitas saat berkegiatan. Totalitas nongkrong-cucus, totalitas main, totalitas belajar, atau totalitas di kamar sendirian mengerjakan tugas apapun itu.

Di jalan pulang saya minta tolong ke mantan teman sekamar saya untuk membuatkan surat rekomendasi. Saya jadi mikir, apa kabarnya si mantan teman sekamar saya ini. Dulu tiap hari main bareng, tidur bareng, minggu-minggu pertama kemana-mana berdua. Sekarang walaupun kamarnya cuma beda beberapa lantai, dan kita masih bisa dibilang satu geng tapi kerasa jauh banget. Untungnya dia senang-senang aja saya mintain tolong. Beberapa hari sebelumnya saya juga udah minta tolong ke salah seorang sahabat saya dari kecil, dan dia sangat senang tapi agak susah untuk ketemu. Kalo diingat-ingat sudah hampir 3 minggu kita ga ketemu. Akhirnya pagi-pagi sekali hari senin saya diantar sang wanita-baik-hati-partner-terbaik ke rumah sahabat saya itu untuk mengambil surat. Sekalian silaturahmi. Rumah yang sudah saya hafal betul isi dan penghuninya. Saya langsung masuk tanpa mengetuk, dan dia baru bangun. Tulisan tangannya jelek. Dia bilang walaupun jelek dan sedikit tapi ini mendeskripsikan kamu banget. Kami lalu berpelukan hangat. Saya jadi merenung, sungguh beruntungnya saya bisa punya orang yang sangat mengenal saya seperti dia. Sesampainya di kampus saya mencari sang mantan teman sekamar. Saya tidak menyangka ternyata dia membuat dengan rapih dan format yang seharusnya. Saya terharu, dia yang bikin LI sering seadanya saja atau mengerjakan sesuatu kadang lupa tapi bisa menyelesaikan surat rekomendasi dengan sepatutnya. Kita berpelukan di ruang skills lab tahun 1. Teringat kalau dulu kita sering sekali berpelukan dan teringat kalau kita satu-satunya pasangan roommate yang saling memanggil aku-kamu. Makasih bro. Saya jadi melankolis lagi.

Di tengah hingar-bingar hari itu saya sadar kalau saya punya orang-orang spesial yang selalu siap membantu. Dan apa yang terjadi beberapa puluh jam kebelakang sangat berkesan dan bisa merubah saya. Bahwa proses adalah suatu hal yang penting. Bahwa kalaupun apa yang kita kerjakan tidak selesai atau tidak sebagus yang orang harapkan, lihatlah ke belakang, apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah kita sadari dan mana yang belum kita syukuri.

Selamat Ulang Tahun Jawa Barat.

Ledakan kembang apinya lama sekali. Beberapa puluh menit. Atau kurang dari 10 menit tapi berasa cukup lama karena agak monoton. Yang saya perhatikan adalah kalian. Menengadah ke atas. Ke langit. Diiringi lagu yang mungkin dibuat oleh Dissa Kamajaya dan kawan-kawannya. Dengan sendu, lagunya terus mengalun. Dan kembang apinya juga terus meluncur. Debu kembang api terus menebal. Mungkin ada sampai satu ton kembang api yang diledakkan saat itu. Selama peluncuran ada yang bosan karena tidak ada variasi ledakan. Ada yang melihat ke sekeliling memerhatikan ekspresi orang-orang. Ada yang berharap kembang apinya cepat habis karena dia ingin pulang. Atau kebelet buang air besar. Ada yang berharap pertunjukan kembang apinya cepat selesai karena dia kurang suka keramaian dan suara bising tapi cahaya dari kembang api itu mubazir untuk dilewatkan, dan dia merasa tanggung karena sudah setengah jalan nonton.

Pertunjukkan kembang api itu selesai. Tapi atmosfer sendunya masih ketinggalan. Kalian seperti menunggu kembang api lanjutan. Apakah akan ada lagi? Kepala kalian masih menghadap ke langit. Banyak yang menurunkan kepalanya. Ada yang sudah main hape lagi. Asapnya masih mengambang-ngambang di udara. Baunya sudah mulai turun ke daratan. Dicium oleh penonton kembang api.  Hening masih terjadi.Tiba-tiba ada suara MC. Mereka dibayar untuk meramaikan suasana. Untuk mengisi kekosongan. Sendunya pecah. Kalian pindah fokus. MC menjadi pusat perhatian lagi. Kepala kalian turun. Kalian mulai berbubaran. Mengobrol lagi dengan keluarga, atau teman, atau pacar kalian.

Betapa indahnya hidup kita kalau tidak ada MC,  dan kita terhipnotis pulang.  Terbius dengan suasana sendu,  pulang dengan kepala yang tertunduk, lalu berjalan bersama dalam keadaan hening. Merenungkan apa yang sebenarnya mereka sudah rayakan, dan mengucapkan selamat malam pada udara Bandung yang sudah dikotori ratusan kilogram debu kembang api.

Tanah pasundan yang sudah jadi kebarat-baratan, Jatinangor. Tepat 14 minggu kemudian.