Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Advertisements

Lampiran

Masih segar di ingatan kita semua ketika Walikota Surabaya, Ibu Risma, menangis tersungkur di pinggir jalan ketika mendapat kabar tentang bom gereja Surabaya hari minggu. Reaksinya juga tidak kalah heboh saat beliau bersujud dan meminta maaf di tengah forum penuh ustadz. Jika misalnya ada orang yang bilang “The Future is Female”, maka bisa jadi ada tepatnya meski sedikit. Dunia perlu digerakkan oleh orang-orang yang praktis, pandai, taktis, dan berintegritas. Ketika orang-orang dengan kombinasi seperti itu terlalu sibuk membina keluarganya sendiri atau pergi liburan dengan uang beasiswa, mungkin yang diperlukan adalah orang dengan perasaan. Kebetulan Bu Risma praktis, pandai, taktis, berintegritas, dan penuh kepekaan serta perasaan.

Indahnya jadi wanita di masa kini. Didukung oleh banyak lapisan masyarakat, terutama para pendemo Car Free Day Women’s March yang kadang dilakukan tidak di bulan maret dan datang ke CFD menggunakan mobil lalu parkir di Dago Bawah atau Dipati Ukur. “The Future is Female” adalah pemahaman feminisme yang salah. Kita tidak dalam perjuangan membuat wanita “lebih”,  melainkan membuat kesetaraan antara wanita dan pria yang beberapa waktu ke belakang banyak polemiknya. Kita berada dalam perjuangan di mana ketika Kang Emil menangis tersujud-sujud ketika Bandung diledakkan adalah hal yang wajar dan tidak membuat Kang Emil dihina serta disinisi seantero media sosial ditambah sekampung penuh tentara siber Islam. Kurang laki.

Attachment ketika diterjemahkan secara harfiah per kata adalah “lampiran”, “kasih sayang”, “cinta” atau “alat pelengkap dan tambahan”. Masuk akal, tapi tidak seperti yang diharapkan. Bukan “keterikatan” atau “rasa memiliki” dan apalagi “keeratan serta kesedihan yang menempel pada kalbu yang syahdu ketika matahari akan terbenam pada kota yang tidak akan kita datangi lagi”.  Agak berbeda dengan Attachment Theory yang merupakan model psikologi. Bahwa manusia memiliki kebutuhan dan kecenderungan untuk menjadi lampiran dan mendapat kasih sayang serta dukungan dari manusia lain. Kata “attachment” buat banyak orang kerap digunakan untuk menggambarkan perasaan-perasaan indah dan rasa nyaman. Perluasan makna. Bagi dokter, bayi yang sudah punya “attachment” pada “caregiver”nya akan sulit diperiksa dan agak merepotkan karena sering kali akan menangis meraung-raung. A good fascist is a dead fascist. A good kid is the quiet one. Or the dead ones. Tidak untuk dianggap serius.

Yang dialami Bu Risma dengan mudah bisa dikategorikan sebagai “attachment”. Sama dengan Kang Emil yang punya keterikatan dengan Kota Bandung. Sama dengan semua orang yang terluka ketika kota kesayangannya dibom, atau luka belum kering yang kena banjir di Pagarsih dan Dayeuhkolot. Masih bercita-cita dipulihkan.

Saya merasakan keterikatan pada banyak hal. Baik itu yang berwujud ataupun tidak berwujud. Dan tahun kemarin, sejujurnya adalah masa di mana saya kehilangan sangat banyak lampiran-lampiran hidup. Paling banyak. Saya kehilangan tas ransel saya yang keren; berisi laptop dan ribuan hal di dalamnya, surat-surat cinta dari Jakarta, buku catatan selama 5 tahun, buku-buku pelajaran serta novel, dan pelengkap-pelengkap kecil di celah-celah pinggirnya. Kami lulus, lalu saya kehilangan rutinitas yang sangat nyaman, kontrakan yang kotor tapi membetahkan, teman-teman yang sebelumnya mudah sekali ditemui, dan pacar saya selama kurang lebih 4 tahun. Salah satu yang paling berat adalah kehilangan kucing kami semua, Bebi, yang membuat saya keliling komplek sampai ke rel kereta tengah malam membawa dan mengocok-ngocok kotak makanannya berharap ia mendengar lalu muncul. Kebetulan di akhir 2017 ada Thor: Ragnarok, cerita tentang Thor yang kehilangan palu kesayangannya, teman-temannya, rumahnya, tanah airnya, rambut gondrongnya, mata kanannya, dan sikap membosankannya dari film-film sebelumnya. Jika benar demikian maka tahun ini adalah tahun di mana saya mendapat senjata baru, teman baru, dan menjadi orang paling keren dan kuat yang turun dari langit.

Saya ingat pada kejadian belasan tahun yang lalu. Bisa jadi sudah 20 tahun yang lalu, waktu main pasir di pantai Pangandaran dan harus pulang. Saya merasakan kesedihan yang entah datang dari mana. Entah jika sebenarnya hanya ingatan palsu saja, tapi jelas di ingatan saya tentang mataharinya, indahnya pantai dan pasir, perasaan tidak ingin pulang, dan saya yang tersedu-sedu digendong bergantian di dada ibu atau ayah di dalam mobil baris kedua. Tidak ingat siapa yang mengemudi. Kejadian itu menjadi salah satu penyebab juga kenapa saya jauh lebih suka naik gunung daripada menceburkan diri di pantai. Gunung itu untuk bersenang-senang, merenung, dan menyusahkan diri. Pantai itu untuk nongkrong cantik dan rebahan sambil baca buku yang direkomendasikan Warren Buffett. Juga untuk bersenang-senang, lupa daratan, dan gatal-gatal lalu pergi ke WC umum 3000 berak 5000 mandi.

Saya yang terlekat pada hal-hal duniawi ini kadang sedih dan merasa rindu bahkan pada tempat-tempat yang hanya saya datangi sebentar. Memang tidak ditakdirkan untuk akhirat. Saya rindu pada perasaan-perasaan yang sudah lewat, dan pada tempat-tempat yang kemungkinan besar tidak akan bisa didatangi lagi. Kosan-kosan kecil di kota-kota kecil yang ingatan tentangnya kian mengecil, kamar teman, dan hari-hari di kota-kota kecil itu yang manisnya ada karena waktu di sana terbatas.

Kedamaian paling utama didapat dari lepasnya kita pada hal-hal duniawi. Tidak juga pada hal-hal akhiratawi. Ditunjukkan oleh para pemuka agama yang baik. Hidup tenang meski tidak punya Rubicon. Ketenangan utama didapat dari menihilkan dunia dengan tidak serta-merta menyepelekan orang-orang yang hidup di dalamnya. Yang di dalamnya tinggal orang-orang baik di kota-kota baik. Seperti Bu Risma dan kotanya yang sedang dalam kondisi kurang baik. Atau ketenangan karena setelah berpindah-pindah pun masih bisa bersyukur punya tempat tinggal dan orang-orang tersayang untuk membuat kembali kebahagiaan yang tidak kecil di rumah kecil yang penuh ingatan kecil milik kami.

Repetisi

Saya menyetir melewati toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Meski pada akhirnya, saya selalu bertanya lagi setiap hendak membeli bunga di sana.

Gejolak sesaat atas kesempatan-mungkin-emas yang mungkin-akan-terjadi,  kembali mengundang rasa haru yang mengesalkan. Penemuan obat diabetes yang penuh kenaifan ditambah dengan kemungkinan ditemukannya jawaban atas pertanyaan yang tidak jelas juga apa yang ditanyakan hanya menambah rasa haru yang mengesalkan tersebut.

Anggap saja waktu itu hari kamis dan gejolak itu akan menemui wadahnya di hari sabtu. Sementara, saya sendiri pura-pura lupa dengan hari. “Saya tidak jumatan kemarin, karena kemarin hari minggu.”

Ketika seseorang hampir menangis, tentu  ada reaksi fisiologis yang patutnya sudah dikenali oleh segala macam manusia. Rasa yang kita kenal sejak kita baru mengenal orang tua, rumah, dan makanan enak atau tidak enak. Hidung yang kembang kempis dan menghembus-hembus. Merah di sudut sini dan sana, juga rasa tertindih di sekitar perut dan dada meskipun sedang berdiri. Tentu jika benar itu ketindihan, maka benda yang menindih akan jatuh lurus ke kaki dan membuat lecet alas kaki. Namun, lega lah dadanya.

Saya berusaha membedah perasaan-perasaan yang katanya tidak satu macam. Lalu berputar-putar dalam lingkaran satu macam. Mungkin itu sebabnya dinamakan pola pikir, bukan tebak-tebakan pikir. Lucu juga tidak.

Ketika tangisan sudah terjadi, biasanya di dada akan terasa ngilu dan nyeri tanggung. Mudah sekali mengeluarkan air mata yang sebelumnya sudah duluan keluar satu tetes. Meski, dosis setiap orang beda-beda, karena air mata lebih mirip dengan benang laba-laba yang memanjang lalu bandel menempel. Jika wajah tegak lurus ke bawah, lalu memfokuskan diri pada tetesan air mata yang terjun bebas ke lantai, mungkin orang yang sedang menangis tersebut akan lupa dengan laranya lalu meneteskan beberapa bulir yang besar, lalu bulir kecil, lalu habis, dan hanya tersisa lengket di mata. Orang tua, rumah, dan makanan enak. Lalu, merasa bodoh lah ia.

Saya akan berangkat. Lalu pulang dengan sehat. Pulang untuk kembali duduk-duduk dan bercerita. Kadang menceritakan orang yang lebih baik, atau lebih kurang baik. Karena cerita orang yang sama baik rasanya kurang menarik. Lebih baik pura-pura kagum dan melontarkan tebak-tebakan yang semoga belum pernah kita dengar sebelumnya.

Di dalam pikiran orang yang sedang lengket matanya, ada banyak sekali reaksi kimia yang membuat bentuk-bentuk orang jadi ajaib. Kadang pikirannya berputar, ke sarapan enak beberapa hari yang lalu, ke pertanyaan berapa tepatnya populasi mobil tangki bensin kiri dan tangki bensin kanan yang harusnya disesuaikan dengan jumlah kiri atau kanan pompa bensin atau bisa dikompensasi dengan selang bensin yang lebih panjang, ke tetesan air mata di lantai berdebu yang tidak tahu siapa yang menyapu, ke cerita-cerita lama yang tiba-tiba ingat.  Lalu lengket lagi.

Saya masih melakukan pekerjaan melamun tadi di tempat yang sama. Mungkin saya pernah berpikir tentang hal yang mirip di dalam baju yang sama. Baju yang ketika pertama dipakai membuat pemakainya merasa ganteng, namun setelah beberapa kali dipakai akan terasa biasa saja. Entah bajunya yang memburuk, atau orangnya yang semakin ganteng hingga baju itu tidak bisa mengejar ketertinggalan. Lebih baik ketinggalan baju dari pada ketinggalan teman. Ketinggalan baju tinggal beli lagi, sekalian beli kado untuk teman yang lupa tanggal ulang tahun dan nama lengkap namun tidak lupa memberi dukungan sehari-sehari 4 sehat 5 sila berbeda-beda namun tetap satu. Sementara, ketinggalan teman harus kembali menjemput atau lurus terus membungkus rasa tega baik-baik agar bisa dibekal dan dihabiskan sedikit-sedikit untuk perjalanan panjang. Kalau tertukar dengan yang disobek atau karetnya dua, mungkin perjalanannya akan butuh air dingin lebih banyak.

Tidak ada yang tahu betul kapan orang berhenti menangis. Ketika penelitian akan dilaksanakan, lalu peneliti memaksa responden untuk menangis, tentu ketika diukur dengan jam yang akurat pun para penangis akan kesal dan berteriak pada sang pengukur detik sehingga penghitungannya jadi bias. Sebut saja rata-rata orang menangis ada dalam rentang 4 hitungan hingga 11 kali lebaran. Dan, penyebabnya juga macam-macam. Dari salah makan sambal yang terlalu pedas. Tidak sempat bikin sambal. Sudah bikin sambal lalu diambil kucing. Sudah bikin sambal lalu hilang diambil kucing bersama kucing-kucingnya juga. Karena sambalnya tidak pedas. Karena tidak punya sambal. Karena sambalnya enak, tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, tapi ternyata sudah habis.

Saya ingin berhenti berputar-putar dalam lagu-lagu lama yang liriknya tidak pernah saya hapal, dalam keinginan menjadi orang terkenal yang sangat sibuk hingga tidak sempat mematikan lampu sebelum tidur, dalam penyesalan yang itu-itu lagi yang membuat menyesal kenapa harus menyesal atas hal yang itu-itu lagi. Konon, dalam tiga kali kelahiran ada satu kematian dan orang-orang juga memusingkan hal yang itu-itu lagi, padahal yang baru lahir dan yang sudah meninggal pun dibungkus kain. Bukan dibungkus sambal.

Namun, hal itu pasti berhenti dan gumpalan empuk yang jalan-jalan serta bekerja itu akan terbiasa.

Saya pergi ke tempat yang sama dua kali dalam rentang waktu satu minggu. Tempatnya jauh. Menepi sebentar ke toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Menanyakan harganya karena memang sudah selalu begitu aturannya.

Ternyata bunga itu jadi mahal.

 

Bertolak Pinggang

Saya mengemudi pulang dari pusat kota ke perumahan kelas menengah tempat saya tinggal. Jalannya buruk, dua ratus juta rupiah yang mungkin dipakai Pak RW untuk anaknya beli Meikarta atau masuk kuliah. Jalannya sempit, dua ratus tahun peradaban dan kendaraan masih diparkir di pinggir jalan.

Manusia adalah pengemudi yang buruk. Memainkan handphone, mengganti kanal radio, atau bahkan bermain gitar kecil saat menunggu lampu merah berganti hijau. Lalu terlambat sepersekian detik yang menjadi sepersekian menit bagi ratusan pengemudi yang juga buruk di belakangnya. Beginilah sebab-sebab mobil otomatis terkomputerisasi dan angkutan moda massal taktis jadi khayalan yang ditunggu-tunggu untuk dipertengkarkan.

Mengurai kemacetan tidak seperti mengurai rambut kusut yang tinggal digunting jika frustasi, atau juga mainan teka-teki yang dengan mudahnya disumbangkan dengan kedok dermawan jika tidak kunjung selesai padahal karena kesal karena mainan itu gagal memenuhi fungsi utamanya yaitu mengurangi stress. Mengurai kemacetan harus dengan hati-hati yang penuh resiko kunjungan ketok mejik atau jalan-jalan mahal ke instalasi gawat darurat.

Dalam “broken window theory” yang sering sekali Ayah saya utarakan, bahwa ketika ada satu jendela pecah dan dibiarkan, maka jendela yang lain akan lebih rentan untuk pecah karena “toh sudah pecah juga”. Atau pada kasus sampah yang dibuang sembarangan. Awalnya satu kemasan kacang pilus yang tidak enak itu tergeletak, lalu karena kondisi psikologis jendela rusak, makin lama makin lumrahlah tumpukan kemasan kacang pilus. Kadang disertai kemasan teh di dalam gelas yang tidak enak juga rasanya.

Atau dalam cerita ini. Ketika orang-orang menjebakkan dirinya di dalam rantai panjang kendaraan, para pengemudi tidak mau berhenti sekedar mempersilahkan motor bebek lewat atau mobil LCGC menyeberangi mobil kita yang sebenarnya ketika kita maju pun tidak akan ke mana-mana, atau sekedar menunggu beberapa detik ketika berpapasan di jalan sempit agar kita tidak berselisihan dan lalu tersangkut bersama di bagian paling sempit dari jalannya. Dengan prinsip “ah sudah kacau juga”, kami sering maju tanpa otak, tunjang, dan asam padeh. Atau saat saya sempat dengan sekilas berpikir jahat, “seseorang akan membetulkan keramaian ini dan jendela-jendela pecah di dalamnya.” Banyak hal memang harus dialami baru dapat dimengerti. Dan banyak hal baru dipahami setelah ada lecet horizontal memanjang di sebelah kanan kendaraan.

Mobil di depan memberi tanda lampu kanan dan mobil yang di dalamnya berisi saya memberi tanda yang sama. Kami maju dengan pasukan di belakang yang sama-sama egois. Egois ketika salah satu anggota pasukan mengalami henti jantung lalu menabrak trotoar, maka itu adalah tontonan yang menarik bagi kawanan yang tidak tahu teknik resusitasi jantung paru. Beberapa juga bingung di bagian belakang pasukan karena adanya kemacetan, padahal sedang terburu-buru mengejar kelas jam 7 tentang resusitasi jantung paru.

Pengemudi itu maju. Penyiar radio yang bahagia tiap pagi itu berceloteh dan tertawa-tawa karena lampu-lampu sen yang menyala tadi sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Saya mengecilkan suara mereka dan menunggu selama beberapa detik. Puluhan detik. Lalu ratusan detik yang diikuti puluhan nyaring klakson dan ribuan rasa panik.

Saya sedang tidak dikejar apa-apa kecuali kepastian tentang masa depan. Belum cuci muka, apalagi mandi biar terlihat lebih tampan. Mungkin satu dari banyak momen yang mana saya dinilai dari rambut mencuat dan pakaian tidur kumal, bukan dari perbuatan yang dilakukan seseorang di balik pakaian tidur kaos panitia yang terkenal.

Di saat-saat kacau, diam adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan. Saya sering diam. Baiklah tentu tidak sedikotomi itu jika ingin membela diri. Lagi pula, konon kata Ibu, kelembaman itu nyata adanya. Bahwa seseorang bergerak dengan kecepatan tetap hingga ada gaya yang menyebabkannya mengubah kecepatan atau arahnya. Didorong rute ke rumah makan, arah penasaran, kecepatan jatuh cinta, dorongan kebaikan yang murni, dan macam-macam bentuk dopamin yang semoga tidak dinamai munafik.  Apa lagi pada orang-orang yang jauh lebih dewasa, yang secara fisik pun otot-ototnya sudah lebih malas sekaligus sombong karena mengaku sudah lebih banyak jalan-jalan dan banting tulang ayam untuk makan opor sama anak-anaknya di hari lebaran. Kasihan. Jika nanti semua orang pada akhirnya hanya berbicara pada pohon.

Saya turun dari mobil. Menuntun perlahan-lahan para pengemudi dengan kelembaman tinggi yang sangat kasihan karena ditekan rutinitas dan dorongan kebaikan yang murni untuk anak-anak yang sama yang waktu itu makan opor di hari lebaran. Berbeda dengan saya yang turun dari mobil, belum punya rutinitas, anak-anak, uang, opor, hak untuk berkata “saya sudah mandi”, dorongan kebaikan, mobil dengan asuransi, dan sandal kain yang sudah dicuci. Paling tidak saya punya Ibu di rumah pagi itu dan semoga seterusnya, yang bertanya-tanya kenapa pagi ini agak lebih lama pulangnya. Juga punya teman yang semoga tidak akan pernah senewen di kursi sebelah kiri mobil ketika ada situasi seperti ini. Beda lagi ceritanya kalau kita nanti main rumah-rumahan di negara setir kiri dan musim panas sounds good. Kalau begitu ceritanya jadi teman tidak pernah senewen di kursi sebelah kanan mobil.

Belum ada yang turun lagi. Ada pengemudi motor yang marah. Mungkin ia marah karena sedang bermasalah dengan orang-orang penting di hidupnya. Lalu ada pemuda ganteng kalem dengan kacamata yang kalau kena matahari akan berubah jadi coklat. Sama seperti kulitnya jika kebanyakan dijemur akan jadi coklat eksotis kalau kata penggiat lifestyle. Dia hanya tersenyum santai dan berterima kasih namun tidak turun dari mobil gantengnya. Seperti saya dulu yang sudah lega ketika melihat ada orang yang mengatur keruwetan dan kebetulan dikejar oleh batas waktu cap jari pukul 8 pagi. Ada pengemudi mobil tua yang hebat sekali pendingin udaranya belum rusak karena ia menutup rapat-rapat jendelanya. Untung saja mau mundur sedikit membuka jalan karena jika tidak mungkin tangan saya bisa jadi alat pembuat pendingin udara manual menembus sembilan dimensi, selapis kaca film, sekaligus tiga kali pengadilan.

Lalu ada pengemudi panik yang turun lalu masuk lagi ke singgasana jok kulit dan dialuni musik jazz yang tidak tahu judulnya. Lalu ada pengemudi tua yang membantu mengibar-ngibarkan tangan dan semangat 45nya. Lalu ada pria 35 tahun yang mungkin sudah 40 tahun tapi terlihat 47 tahun karena hidupnya serius sekali dan mengetuk pintu warga untuk memindahkan mobil yang diparkir depan jalan. “Bukan mobil saya pak, mungkin rumah depan.” Bukan salah saya juga kalau di siang hari ternyata mobil rumah depan itu jadi mobil dia. Lalu ada saya yang bentuknya sudah diceritakan, watak sombongnya juga sudah kentara, namun hari itu sedang berbaik hati karena diberikan rasa lapang dada dan lapang sintetis dari kenikmatan duniawi yang non-futsal. Lalu ada seorang baik yang turun dari mobilnya. Lalu dua orang baik menambah beberapa orang baik yang sudah turun duluan. Saya tidak baik, hanya orang riya yang punya banyak waktu luang dengan rasa bersalah karena mengkhianati teman.

Jalanan kembali lancar. Saya tidak akan terlambat sampai ke rumah. Mungkin mereka yang marah dan kesal dan tersenyum dan kram betis dan sebagainya ada yang terlambat sampai ke tujuannya.

Tapi semoga kami semua jadi tahu. Bertolak pinggang hanya menghilangkan sedikit pegal.

Cihampelas

Bergenggaman
Di antara tempat pizza dan pepohonan
Aku yang waktu itu sering berangan
Membuat tepuk tangan

Saling kesal
Di depan tukang roti dan minuman mahal
Aku kira kita gagal
Lupa kalau aku yang bebal

Mengenang
Di seberang gerai sepatu dan barang-barang
Katamu sangat ringan, seperti melayang
Sepatuku tebal, toh aku serasa mengambang

Bersyukur kamu masih tinggal
Karena di situ
Menyembul di antara pipimu
Lengkung halus sangat kukenal
Yang tidak jauh
Kesukaan

Riung Sengsara – Dago Kaya Raya

Pak tua di belakang suka geram
Siapa peduli, asal nyawa tidak terancam
Pak polisi di pinggir suka marah
Siapa beli, acap jalanan jadi tong sampah

Bukan embun pagi
Apalagi cahaya bulan
Refleksi perjuangan akhir hari
Tertabung di kaca belakang

Redup pijar ini
Menghangati yang tak berada
Pecah nyala warna-warni
Jadi hiasan jalan-jalan kota

Dicaci muda mudi pongah
Rezeki direbut dicari-cari
Dimarahi orang-orang gerah
Dipatok ayam duluan kita yang nyeri

Bising sekali bapak
Di jalan di surat kabar
Pusing namun pula muak
Jalanan jahat jadi gemetar

Sekedar ngasih tahu
Jok hitam berdaki ini saksi kelabu
Atas anak yang gelisah
Dan ibu yang terguyur resah

Punya kita diletup dimusnah
Lantaran bapak butuh lahan basah
Tapi saya cukup sudah
Malam-malam di rumah bikin bantal basah

Hari ini naik angkot lagi.
Jadi angkot sekarang susah. Digadang-gadang akan lenyap.
Aku coba jadi supir angkot, walau tidak harfiah.
Tetap sedih.

“Seneng banget, suasananya ceria”

Sebelum hilang mood nulis.
Sebelum tidur.
Sebelum tulisan panjang sesudah ini.
Tentang pertemanan. Tentang rasa iri dan dengki. Lagi-lagi tentang itu.
Sudah jarang aku bikin tulisan yang bahkan menurut aku sendiri bagus. Mungkin karena makin skeptis dalam menghadapi hidup. Juga karena tulisanku makin sendu dari waktu ke waktu. Kayak pernah bikin tulisan bener aja, Kaf.
Katanya mau nulis tentang waktu lalu. Tentang ayah. Tentang teman-teman. Tentang kejadian. Tentang usia. Banyak omong ya kamu, Kaf.
Iya, kata orang aku banyak omong. Semoga banyak nulis juga ya, Kaf. Toh Rasulullah pun yang tersisa hanya omongan dan tulisannya. Itu pun bukan tulisan beliau. Argumen tadi ga cacat logika, kan?
Makin jelek aja tulisan kamu, Kaf. Tapi apalah hari ini, cuma kejadian tidak penting. Wanita cilik yang berlarian, ke dekat ayahnya yang pedagang baso bakar. Dikecup oleh ayahnya. Lalu kembali berlarian.
“Pedes ga, A?”
Dagangan boleh tidak manis. Kecupan untuk anaknya harus manis.