Archive

kekafian

Cokelat panas dan green tea disajikan hari minggu sore itu untuk kami di salah satu kafe favorit saya di Bandung. Mencari wi-fi dan suasana yang enak. Dia bilang “ayo kerjain dulu”, sambil saya sibuk main hape dan ngobrol-ngobrol bercanda. Saya lanjutkan mengisi form dan essay. Gigs musik jazz sedang digelar disitu dan bikin suasana agak bising. Malam mulai datang dan saya belum juga selesai mengerjakan segala formulir.

Saya jadi mikir kalau misalnya saya tetap seperti ini, tidak punya kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan urusan dengan cepat maka nanti akan banyak hal dalam hidup saya yang semakin kacau. Saya kembali berusaha menyelesaikan. Makanan dan minuman datang dan pergi sampai akhirnya sudah cukup malam dan belum selesai juga. Banyak hal memenuhi pikiran saya, tugas-tugas kepanitiaan dan amanah-amanah yang belum saya selesaikan. Saya pun pulang dengan badan lemas. Saya sadar akan sesuatu malam itu. Bahwa fokus adalah benar-benar penting. Bahwa berpikir-menulis-belajar di tempat umum bukanlah gaya saya. Bahwa saya adalah orang dengan kecanggungan dan keribetan tinggi. Bahwa tak selamanya kita bisa mengandalkan wifi gratis. Bahwa cokelat panas itu tidak menghilangkan haus. Bahwa saya sering sekali salah memesan minuman. Bahwa manajemen waktu yang baik adalah dengan totalitas saat berkegiatan. Totalitas nongkrong-cucus, totalitas main, totalitas belajar, atau totalitas di kamar sendirian mengerjakan tugas apapun itu.

Di jalan pulang saya minta tolong ke mantan teman sekamar saya untuk membuatkan surat rekomendasi. Saya jadi mikir, apa kabarnya si mantan teman sekamar saya ini. Dulu tiap hari main bareng, tidur bareng, minggu-minggu pertama kemana-mana berdua. Sekarang walaupun kamarnya cuma beda beberapa lantai, dan kita masih bisa dibilang satu geng tapi kerasa jauh banget. Untungnya dia senang-senang aja saya mintain tolong. Beberapa hari sebelumnya saya juga udah minta tolong ke salah seorang sahabat saya dari kecil, dan dia sangat senang tapi agak susah untuk ketemu. Kalo diingat-ingat sudah hampir 3 minggu kita ga ketemu. Akhirnya pagi-pagi sekali hari senin saya diantar sang wanita-baik-hati-partner-terbaik ke rumah sahabat saya itu untuk mengambil surat. Sekalian silaturahmi. Rumah yang sudah saya hafal betul isi dan penghuninya. Saya langsung masuk tanpa mengetuk, dan dia baru bangun. Tulisan tangannya jelek. Dia bilang walaupun jelek dan sedikit tapi ini mendeskripsikan kamu banget. Kami lalu berpelukan hangat. Saya jadi merenung, sungguh beruntungnya saya bisa punya orang yang sangat mengenal saya seperti dia. Sesampainya di kampus saya mencari sang mantan teman sekamar. Saya tidak menyangka ternyata dia membuat dengan rapih dan format yang seharusnya. Saya terharu, dia yang bikin LI sering seadanya saja atau mengerjakan sesuatu kadang lupa tapi bisa menyelesaikan surat rekomendasi dengan sepatutnya. Kita berpelukan di ruang skills lab tahun 1. Teringat kalau dulu kita sering sekali berpelukan dan teringat kalau kita satu-satunya pasangan roommate yang saling memanggil aku-kamu. Makasih bro. Saya jadi melankolis lagi.

Di tengah hingar-bingar hari itu saya sadar kalau saya punya orang-orang spesial yang selalu siap membantu. Dan apa yang terjadi beberapa puluh jam kebelakang sangat berkesan dan bisa merubah saya. Bahwa proses adalah suatu hal yang penting. Bahwa kalaupun apa yang kita kerjakan tidak selesai atau tidak sebagus yang orang harapkan, lihatlah ke belakang, apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah kita sadari dan mana yang belum kita syukuri.

Advertisements

Selamat Ulang Tahun Jawa Barat.

Ledakan kembang apinya lama sekali. Beberapa puluh menit. Atau kurang dari 10 menit tapi berasa cukup lama karena agak monoton. Yang saya perhatikan adalah kalian. Menengadah ke atas. Ke langit. Diiringi lagu yang mungkin dibuat oleh Dissa Kamajaya dan kawan-kawannya. Dengan sendu, lagunya terus mengalun. Dan kembang apinya juga terus meluncur. Debu kembang api terus menebal. Mungkin ada sampai satu ton kembang api yang diledakkan saat itu. Selama peluncuran ada yang bosan karena tidak ada variasi ledakan. Ada yang melihat ke sekeliling memerhatikan ekspresi orang-orang. Ada yang berharap kembang apinya cepat habis karena dia ingin pulang. Atau kebelet buang air besar. Ada yang berharap pertunjukan kembang apinya cepat selesai karena dia kurang suka keramaian dan suara bising tapi cahaya dari kembang api itu mubazir untuk dilewatkan, dan dia merasa tanggung karena sudah setengah jalan nonton.

Pertunjukkan kembang api itu selesai. Tapi atmosfer sendunya masih ketinggalan. Kalian seperti menunggu kembang api lanjutan. Apakah akan ada lagi? Kepala kalian masih menghadap ke langit. Banyak yang menurunkan kepalanya. Ada yang sudah main hape lagi. Asapnya masih mengambang-ngambang di udara. Baunya sudah mulai turun ke daratan. Dicium oleh penonton kembang api.  Hening masih terjadi.Tiba-tiba ada suara MC. Mereka dibayar untuk meramaikan suasana. Untuk mengisi kekosongan. Sendunya pecah. Kalian pindah fokus. MC menjadi pusat perhatian lagi. Kepala kalian turun. Kalian mulai berbubaran. Mengobrol lagi dengan keluarga, atau teman, atau pacar kalian.

Betapa indahnya hidup kita kalau tidak ada MC,  dan kita terhipnotis pulang.  Terbius dengan suasana sendu,  pulang dengan kepala yang tertunduk, lalu berjalan bersama dalam keadaan hening. Merenungkan apa yang sebenarnya mereka sudah rayakan, dan mengucapkan selamat malam pada udara Bandung yang sudah dikotori ratusan kilogram debu kembang api.

Tanah pasundan yang sudah jadi kebarat-baratan, Jatinangor. Tepat 14 minggu kemudian.

Saya lagi ngeliat keluar jendela bis saat sadar kalau itu adalah akhir juni. Jendela bis emang selalu bikin orang jadi mikir. Kata banyak orang di dunia, sih. Sambil ganti-ganti lagu, nyari lagu yang pas, saya lihat lagi kalender. Benar ternyata sudah hari terakhir bulan juni. Abah Iwan juga mengulang-ngulang tanggal ini saat memberikan pertunjukan motivasi. Acara keren kampus baru selesai, acara yang inspiratif, dan sedang perjalanan pulang.

                Kata Abah, intinya inspirasi itu datang dari diri kita sendiri. Baru kalimat pertama saja saya langsung berpikir. Beruntunglah orang-orang yang selalu menyempatkan diri untuk bengong. Untuk merenungi sekitarnya. Kata Abah, terimakasih sama pohon sudah ngasih oksigen. Saya lalu teringat sama pohon angsana favorit saya di Jalan Diponegoro, yang beberapa kali saya berikan pelukan terimakasih secara harfiah itu.  Selanjutnya saya lupa beliau bilang apa saja. Tapi saya ingat lagi kata teman saya. Bahwa sebuah momen itu ga perlu diingat bagaimana terjadinya, yang penting adalah momen itu meninggalkan kesan dan tau kalau ‘sesuatu’ dalam momen itu tinggal di dalam diri kita.

                Teringat itu hari terakhir bulan juni, juni taun ini juga memberikan banyak momen. Momen-momen yang ga perlu diceritain panjang-panjang, tapi bakal diingat terus sama saya potongan-potongannya. Lagu-lagu yang jadi jangkar, dan pemandangan yang jadi pemicu indera luar biasa. Momen pertemanan, momen penglihatan, momen kebosanan, momen barang rusak, momen keluarga, momen adik-adik, momen saat gelap datang, momen telepon, momen pak satpam, momen saat di tengah keramaian, momen kesepian, momen bahagia luar biasa, momen ujian, momen tertekan, momen martabak, momen susu beruang, momen desa yang jauh disana, momen awan, momen putus asa, momen hujan, momen berdarah, momen bintang-bintang, momen cahaya lampu, momen lampu jalanan, momen lampu mobil, momen kode-kode, momen kehangatan, momen inspirasi, momen terguncang-guncang, momen orang sakit, momen sakit, momen cemburu, momen nyanyi, momen pendengaran, momen di kendaraan-kendaraan. Saya tau kalau suatu kata diulang berkali-kali akan terasa hilang maknanya. Maafkan saya wahai momen-momen.

                 Perjalanan pulang berlanjut, saya melihat pepohonan di pinggir jalan, dan kabut yang menyemprot-nyemprot masuk lewat jendela bis. Kabutnya hilang, lalu saya lihat awan yang tertembus matahari di kejauhan sana. Mungkin orang di Kecamatan Cidaun ada yang lagi lihat awan itu juga. Tapi kayaknya nggak deh, terlalu jauh. Yang jelas saya sama Cidaun masih satu langit, satu pencipta. Saya cuma bisa berterimakasih kepada sang pencipta. Saya diciptakan disini dan mereka diciptakan disana. Ada bagiannya masing-masing. Saya diciptakan disini untuk terinspirasi, dan yang disana diciptakan untuk menginspirasi. Makasih ya pepohonan, makasih ya bulan juni, makasih ya sang bengong, dan makasih ya langit dan bumi Cidaun. Kalau ada sumur di ladang, boleh saya minta tolong ambilkan air. Kalau ada umur panjang, boleh saya minta tolong ambilkan bulan juni bu dan pedesaan tahun depan bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap dan gelap di malam hari.

Dahan pohon palem itu jatuh menghantam barisan sepeda di depan masjid saat sholat jumat. Berantakan sekali. Pak Satpam lalu datang, memindahkan patahan-patahan dahan dan dedaunan. Dibetulkannya sepeda-sepeda yang berjatuhan. Khotib masih berdoa antusias pakai bahasa arab. Terus saya lihat ke langit, ada awan, ada goresan-goresan sinar matahari. Kata orang, sehelai daun yang jatuh pun adalah dengan ijin Allah. Allah kan Maha Baik.

 

“I should be sleeping right now, but I am just so excited with what God’s doing and what He gave for us.  I was laying in bed, trying to sleep, but all I could do was remember my dreams and future plans and struggles and praise God’s eternal grace and love and mercy to humans”

-Muthiya Alfah-

Malam ini saya merasakan situasi yang sama, saudariku. Mimpi kita mungkin berbeda. Tapi sebagai manusia, kita sama-sama punya impian. Seperti kata Ebiet G. Ade, “Mimpi di atas mimpi”.  Saya masih berbaring di kamar asrama. Penjara dunia yang semoga aku tak terperangkap di dalamnya.

“Bucket list udah jadi. Dari yang trivial sampe yang muy importante. Tinggal mulai dicoretin satu-satu”

-Tirta Wening Rachman-

Kita punya impian. Impian-impian manis sederhana, dan juga impian-impian yang bermanfaat bagi orang lain. Impian-impian yang kelak akan menjadi kenyataan satu-persatu. Impian-impian yang akan terus membuat kita bertahan hidup dan membuat hidup kita lebih berarti.

Sudah hampir seminggu sejak kita selesai bikin Bucket List itu, dan saya masih merasa bersemangat. Entahlah perasaan yang lain seperti apa, tapi saya senang. Merasa lebih dekat lagi, lebih bertujuan.

Kepada Abi dan Tito, semoga impian-impian kekanak-kanakan kita tercapai dan kita bisa lebih menghidupi lagi hidup kita. Tidak hanya hidup kita tentunya, tapi juga hidup banyak orang. Tidak sekedar sitkom dan dinamika anak muda yang biasa saja. Karena semangat persaudaraan haruslah dibagi-bagi. Seperti udara yang berpindah-pindah. Dihirup banyak orang, dan memberi kehidupan.

Sore ini, sehabis berhura-hura berkaraoke ria dengan para kolega FK Unpad, saya pergi ke masjid bersama-sama. Tiba-tiba aja saya pengen ke masjid. Ngajak para kolega itu. Bukan untuk riya. Bukan cuma untuk ibadah rutin yang kadang tanpa esensi. Tapi ternyata untuk melengkapi takdir bertemu dengan seseorang. Solat maghribnya mungkin akan terlupakan menjadi solat maghrib yang biasa saja yang terjadi setiap hari sepanjang hidup yang cuma 3 rokaat itu. Dia duduk di tangga masuk mesjid.

Ada opik, Taufiq Setiadi, temen SMA. Lumayan deket lah.  Akrab dan terbuka. Temen deket. Dulu seperjuangan, belajar biologi bareng, tim biologi yang oke banget, tim biologi yang sangat kekeluargaanisme. Dia manggil nyapa. Pelukan singkat. Ngobrol kita. Saya lupa dia kuliah dimana, FMIPA atau Pertanian. Kelihatan dia pake pita berwarna asturo nomor 11 di lengannya.  Ternyata sekarang anak FISIP. Ada yang kaget dibuatnya karena pake atribut anak FISIP. Ternyata Opik dipindah ajarkan oleh Unpad karena dia butawarna.  Butawarna yang baru ketahuan setelah lulus SNMPTN diterima di Fakultas Pertanian. FAPET yang menolak manusia butawarna. Saya disuruh solat dulu sama dia karena dia udah. Sesudah solat maghrib yang biasa itu, dia lanjut cerita sembari ditemani udara maghrib berangin, dingin-dingin sendu kayak lorong Kota Kembang.

Agak berkaca-kaca matanya, dia cerita lumayan panjang tidak lebar. Sambil mengagung-agungkan saya yang sudah kuliah di kedokteran dan tinggal di asrama seberang. Rasanya canggung banget. Terus dia ngenalin saya sama teman-temannya. Nama salah satu temannya Deden. Dia pengen pacaran sama anak FK tapi katanya gengsi, beda kasta. Lah saya aja kadang ngerasa beda kasta sama cewek-cewek gaul mahasiswa sefakultas. Kok gitu ya. Padahal saya duduk sejajar sama dia. Tapi dia ngerasa beda kasta. Ga enak loh rasanya. Mereka pergi. Akhirnya saya sama Opik doang. Opik ngerasa laper saya anter dia ke tempat makan asrama tapi katanya segan. Ga enak lagi deh. Yaudah saya ajak makan di Ikapen Pak Haji Anta aja. Saya ga makan, dia aja yang makan. Selesai makan balik lagi ke masjid untuk solat isya. Beres solat isya, dia mau ke kosan temennya di daerah Sayang, 1 km lah dari pintu Unpad. Saya anter deh ke depan pintu Unpad. Kasian udah malem. Sekalian melepas kangen. Dia pergi mau pisah, saya peluk dia, saya usap-usap. Dia juga sama. Dia teriak “Sukses Kaf!”.  Saya juga sama.

                Di perjalanan pulang saya merasa kesepian lagi. Tapi kesepian dengan semangat bersyukur. Apa yang terjadi sekitar 2 jam yang lalu ditambah obrolan panjang yang tak putus. Jarang sekali saya ngobrol tidak putus. Apalagi dengan orang yang niatnya cuma salam sapa lalu solat dan bubar. Ternyata jadi obrolan cukup lama. Di perjalanan pulang itu saya merenung lagi dan kembali bersyukur.

                Bagaimana rasanya kalau kita dinyatakan butawarna? Bagaimana rasanya jadi Opik? Yang udah keterima di Fakultas Pertanian Unpad tapi lalu ditolak karena vonis butawarna. Bagaimana rasanya ketemu teman seperjuangan yang sudah keterima di kampus impian tapi sendirinya gagal bukan karena kurang pintar? Bagaimana rasanya cerita kayak gitu di suasana maghrib kelabu ditemani temannya yang kadang terlihat kurang empati? Bagaimana rasanya terjebak di antara teman-teman FISIP yang mungkin dia tidak suka? Betapa Tuhan yang maha baik tidak memberikan ujian lebih dari yang tidak bisa diterimanya, dan Dia memberikan pelajaran kepada saya, manusia yang kurang bersyukur lewat Opik. Agar saya bisa merenung lagi dan kembali bersyukur di perjalanan pulang menuju Bale yang dingin.

2 hari sebelum pengumuman SNMPTN nih. Masih punya nyawa, masih punya harapan, masih punya deg-degan, masih punya keyakinan bro.

Seandainya bisa tes kecerdasan, tes keimanan, tes kesehatan mental, tes tingkat stress pra pengumuman dan pasca pengumuman. Penasaran sekali sama hasil tes itu. Segila apa saya sekarang dan segila apa saya sesudah pengumuman.

Atau mesin waktu. Sesudah pengumuman. Kembali ke beberapa minggu sebelum pengumuman atau ke hari ini. Memeluk diri sendiri, nenangin diri sendiri secara harfiah gitu hahahaha.

Banyak dosa sih makanya stres gini,duh gmana ya, orang-orang bilang “minta doa restu ke orangtua dan minta dilancarkan.” Saya sih ga ngerti maksudnya gmana.

Bukannya orangtua yang waras itu selalu mendoakan walau tak disuruh pun?