Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Advertisements

Figur dan Fasad

Jika premis “selebriti lebih pesolek dari fotonya”, atau, “lebih menawan ketika dilihat langsung” adalah benar, maka premis “seorang pemimpin politik nampak lebih kharismatik ketika bertemu langsung” adalah kebisajadian untuk jadi benar. Tentu definisi selebriti di sini semisal pelaku seni olah suara, seni musik, seni akting. Namun tidak termasuk seni lukis dan seni pahat karena tidak tahu siapa yang cukup pesolek. Bapak Sapardi pun bisa disangka Bapa Joko Pinurbo, pernah jadi seniman tulis menulis yang tampan pada umumnya, suka yang cantik pada umurnya, makan siang di kantin kampus bergengsi, sedikit ganteng namun sakit perut kronis, siapa yang tahu. Pesona yang dilihat di dunia nyata sepatutnya bertambah. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa ada orang yang jelek di Instagram namun lebih pesolek di dunia nyata. Atau jelek di dunia nyata dan di Instagram hanya diikuti 89 orang. Mungkin memang absolut kurang disukai teman-temannya secara rupa. Atau captionnya tidak konsisten dengan perbuatannya. Kadang captionnya lucu tapi orangnya bikin meringis. Bisa jadi pula captionnya bawa-bawa ayat suci non fiksi tapi suka colak-colek wanita di stasiun.

Saya sendiri menyukai premis “orang tua terlihat sempurna di atas kertas dan di mata anak orang lain yang tidak bersyukur” atau “orang tua baru disadari semua kelebihan dan kehebatannya ketika sudah tidak ada dan anaknya bergumam dalam hati “apa yang orang tua saya bilang ternyata benar””. Walau pun premisnya saya buat sendiri dan saya tidak suka menggunakan kata “meninggal” sejak masih kecil, tidak menapiskan bahwa premis tersebut bisa jadi benar. Mengomentari dengan prasangka gelas “Greatest Dad in The World” atau “The World’s Best Mom” dapat berarti beberapa hal. Yaitu berarti kita menyangsikan bisnis legal gelas cantik yang menyebar energi positif. Dapat berarti kita tidak percaya bahwa orang tua kita adalah yang terbaik di dunia. Dapat pula berarti kita sudah mengubur dalam-dalam kenaifan yang mestinya disiram baik-baik dan dipupuki oleh rasa penasaran dan kebaikan agar terus berkembang. Atau bisa juga berarti saya adalah orang yang klise dan tersinggung dengan keberadaan gelas. Gelas yang mudah pecah karena pertengkaran di rumah atau hilang ketika pindah rumah.

Otak manusia memilih-memilih memori. Yang buruk-buruk diingat sampai lama, tapi begitu pula yang indah-indah. Yang penting-penting sering lupa ketika dibutuhkan. Ingatan baik makin sering diceritakan, makin bergeser ceritanya. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan jadi kebenaran. Kebohongan yang disompral-sompralkan, lama kelamaan jadi kebeneran. Kebeneran terjadi lalu menyesal. Seperti ucapan orang tua pada umumnya yang bilang “tidak tahu diuntung”. Mungkin kalimat itu berasal dari sinetron lalu terukir di otak para orang tua lalu viral ke generasi berikutnya. Atau karena memang sering diucapkan orang tua, lalu menginspirasi penulis naskah sinetron karena mereka tidak punya lagi referensi yang keren selain ucapan masa kecil dari orang tua mereka.

Kitab suci dijual di rak kitab suci karena kalau dipajang di rak buku-buku fiksi akan menyebabkan si pengusaha toko buku diarak sampai kelurahan. Kalau beruntung bisa sekalian ditemani kasirnya. Tapi kalau diletakkan di rak buku non-fiksi bisa dianggap mengerdilkan keberadaan satu sama lain. Kalau buku Tan Malaka dijual bersebelahan dengan biografi Nikolas Tesla, selain tidak terlalu nyambung, sepertinya mereka juga tidak keberatan. Kecuali ketika dipajang bersebelahan dengan buku “Tan Malaka Sang Nabi Palsu Meninggal di Tempat Pembacaan Proklamasi Karena Batuk Menahun” atau “Tesla dan Edison: Kisah Asmara Rahasia Abad 18”. Selain informasinya serba salah—dalam artian semua informasinya salah—tapi juga penuh fitnah dan niscaya memiliki kemungkinan laku di pasaran. Harga berhala lagi murah.

Teman baik saya pernah bilang bahwa tidak mau terlalu kenal dalam dengan saya, karena takut akan menghancurkan ilusi atas diri saya yang menurutnya cukup bagus. Membaca buku adalah menjalani sedikit perjalanan hidup seseorang sekaligus meninggali sepenggal ruangan di otak sang penulis. Tapi ruangannya adalah ruangan yang memang dibersihkan dan dihias untuk kemudian disewakan di Airyrooms atau Traveloka. Bukan kamar penuh privasi yang istri sendiri pun enggan tinggal karena bau bujangan. Pasti tidak sedikit penulis yang bermasalah rumah tangganya. Karena angka perceraian di Amerika kira-kira sampai 50%. Menjalani perkawinan hampir sama seperti berjudi koin. Kalau beruntung bisa saja koinnya jatuh dalam kondisi berdiri. Atau ketika koin dihempaskan ke udara, tiba-tiba sangkakala akhir zaman ditiup tepat saat koin menyentuh tanah. Anggap ada 20.000 penulis yang berkeluarga. Maka ada 10.000 penulis yang rumah tangganya pecah dan satu tukang blog yang harus belajar lagi mengenai statistik dasar, analisa data, dan analogi. Dan jumlah itu terlalu banyak.

Maka dari itu kisah sukses dipenuhi dengan banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tentu dalam dosis yang tepat. Membaca setiap kata di dalam buku lalu mengulang-ngulang setiap caturwulan, ditambah berbaring seharian dan tidak sempat mengobrol sama teman-teman, apalagi jalan-jalan pakai transportasi publik. Kelakuan seperti itu hanya akan meningkatkan risiko terkena borok di punggung yang sulit sembuh. Menonton film seri hingga beratus-ratus episode akan membuat kita merasa seperti telah kenal dengan sang pemeran utama selama bertahun-tahun. Padahal bagi para aktor, film seri itu hanya pekerjaan yang menghabiskan tidak sampai 10% waktu hidupnya. Kegiatan menulis, meski menghabiskan waktu bisa lebih dari 10% waktu hidup penulisnya, tetap bisa membuat kita merasa mengenalnya sejak lama, dan tetap tidak valid jika kita merasa sok kenal. Bukunya dibawa ke mana-mana, diajak makan, ngobrol, dan diceritakan ke orang-orang. Namun sesungguhnya tidak baik juga menilai seseorang dari tulisannya. Apalagi tulisannya di sosial media. Karena sangat mungkin bahwa Tere Liye adalah orang yang menyenangkan.

Saya sendiri belum pernah membelikan gelas-gelas cantik bagi orang tua saya yang dipersepsikan seperti selebriti bagi beberapa orang lain. Termasuk saya. Sepasang selebriti sekaligus pahlawan super dan pemimpin yang plot krisis kehidupan pribadi dan bagian ngobrolnya agak banyak. Karena itu lah saya masih bisa hidup tenang leha-leha karena percaya orang tua saya bisa melakukan apa saja bahkan mengeluarkan saya dari penjara jika terlibat huru-hara lalu lintas. Meski mereka belum juga menulis buku yang sudah diwacanakan sejak lama, ada seorang tua yang menulis buku non-fiksi dan tidak dipajang berbarengan dengan kitab suci. Bahkan mungkin tidak dijual di toko buku Indonesia.

Beliau menulis buku yang akhir-akhir ini sering sekali saya sebut, hingga hampir seperti kitab suci, padahal isinya saja tidak hapal dan tidak paham sepenuhnya. Saya memang tidak membaca sebanyak itu buku, sedikit di atas rata-rata kalau angka rata-rata orang sekitar saya adalah membaca 3 buku per tahun di luar buku pelajaran. Saya cukup yakin angkanya di bawah itu karena toko buku sepertinya tetap sintas karena jualan beragam pensil dan alat musik. Agak malu juga, karena menyebut hal yang sama berulang kali adalah tanda kekurangan. Seperti hanya satu kali piknik tapi diacu berulang kali. Baru nonton dua kali di bioskop dan filmnya diceritakan beberapa kali. Baca buku karena memang hanya 6 buku per tahun, jadi diacu berkali-kali. Paling tidak dua kali di atas rata-rata dan paling tidak beliau ini adalah 50% dari penulis yang rumah tangganya tidak pecah. Ternyata, selain saya krisis berhala, saya juga agak krisis membaca.

Hans Rosling menulis buku yang sebegitu menggugahnya hingga memori saya atas buku tersebut berputar-putar dan terdistorsi menjadi ilmu yang bisa jadi bahkan tidak tertulis di dalamnya. Saya menonton kuliahnya dan presentasinya tentang dunia ini yang secara langsung dan tidak langsung membuat saya lebih bahagia dan mau membuat perubahan dalam tujuan hidup. Tidak sampai satu minggu setelah saya memulai membaca buku paling baru beliau dan menonton beberapa tayangannya, saya mengetahui bahwa beliau sudah meninggal tahun lalu. Beberapa sesi menonton video berikutnya saya lalui dengan air mata. Saya baru bisa paham mengapa orang bisa merindukan Rasulullah yang bahkan mereka tidak pernah bertemu dan padahal baru baca bukunya satu saja. Sebab terlalu berat untuk baca buku hadits, Sunnah, dan kajian. Saya juga belum pernah baca bukunya yang lain.

Rasa rindu pada tokoh yang tidak pernah ditemui ini kemudian dijaga seperti perasaan teman saya terhadap saya yang tidak mau mendalami lebih jauh tentang kecacatan hidup sang penulis. Pun buku Tan Malaka belum pula selesai saya baca. Kelak nanti akan saya acu dan rindukan. Tapi buat saat ini sebijak-bijaknya adalah orang yang mengambil pelajaran dari “The World’s Best Mom” dan “Greatest Dad in The World”  sebanyak-banyaknya sebelum gelas itu jadi pajangan berharga yang kalau pecah bisa terbayang berhari-hari dan memorinya tercampur-campur.

 

 

 

Repot Juga

Karena usaha menyatukan tumblr saya dengan akun wordpress saya tidak berakhir dengan baik, saya mempertimbangkan untuk berhenti menulis dan memutuskan untuk hilang dari jejak internet. Sebaiknya menghabiskan hidup di warung kopi saja, membicarakan Pilkada Serentak yang ternyata tidak digelar dua putaran.

Bercanda.

Banyak sekali ucapan dari orang-orang perihal tulisan saya dan kebiasaan saya menulis anekdot (yang cita-cita terpendamnya adalah menjadi kolumnis tetap koran minggu) yang entah kenapa melekat hingga bertahun-tahun lamanya. Seperti betapa menyentuhnya tulisan saya, betapa berantakannya tulisan saya yang padahal jika dikaji komponen kalimatnya lengkap (atau paling tidak, tidak membingungkan dan terbaca seperti orang yang sedang berbicara), dan rasa personal yang sangat kental serta tidak informatif. Tidak ada yang memberi respon mengenai sajak-sajak saya. Tidak apa-apa. Memang saya juga malu pernah menulis yang demikian. Nanti saya belajar lagi atau jongkok-jongkok di toko buku, buka-buka plastik buku lalu diperhatikan satu-satu rima dan diksi dari buku murah yang entah bagaimana bisa terbit.

Katanya menerbitkan buku adalah bagaikan melahirkan dan membesarkan anak, maka  blog yang menggelisahkan ini adalah anak pertama saya yang baru dihamili pacarnya, lalu pacarnya kabur. A bit fucked up. Desainnya berubah dan tercampur berantakan dengan tumblr saya yang bentuknya memang sudah seperti lelaki yang kabur ketika pacarnya hamil. Sekilas tidak ada yang tidak wajar. Memang kesedihan dan kekacauan akibat kekerasan seksual tidak mudah dilihat dari luar dengan sekilas. Yang sadar hanya orang-orang dekat dan yang berniat scroll down hingga ke tahun 2012. Berantakan dan terlihat “lebih rapih blog sama tulisan-tulisan si X ya daripada blog lo”. Yang mana itu adalah benar. Terima kasih temanku, kata-katamu akan saya ingat seumur hidup sebagai penambah rasa inferior yang luar biasa sedap. PS: Si X adalah pacar saya. Pacar saya yang makin ke sini gaya nulisnya makin mirip dan idenya menyatu sama saya seperti jalan tol.

Setiap tulisan adalah curhat. Begitu pula akting dan bahkan karya seni apapun dalam bentuk lain. Kalau aktor diminta untuk marah dan nangis dengan mudah, ada yang bilang bahwa itu karena emosinya dipendam dan hanya bisa keluar di depan kamera. Opini seperti ini menjelaskan kenapa saya jelek dalam berakting tapi sekaligus menyedihkan di belakang dan banyak ketawa yang tidak lucunya. Kekasih saya biasanya jadi kamera. Di rumah sih hidup saya muram, tapi di luar saya “so vibrant dan hangat”. Bukan orang tua saya yang opresif, tapi mungkin kepribadian kita kurang cocok. Ibu bilang bahwa ketika seseorang sikap pada keluarganya jahat dan marah-marah tapi di luar rumah menyenangkan, itu tanda orangnya palsu. Padahal saya tidak palsu, cuma canggung kalau misalnya haha-hihi tapi lalu terlibat dalam kesulitan rutinitas dan konflik antarkamar, sehingga persona saya berbeda. Tapi mungkin saya memang palsu dan seharusnya hidup di KW Thailand atau plastik Korea Selatan. Yang baik dan peduli akan setia. Karena beberapa orang terlalu partikelir untuk diambil pusing hal-hal kecilnya.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” bocor standar.

Kembali berbicara mengenai “tulisan adalah curhat”, saya dan anak saya ini sudah melewati banyak akhir minggu yang tidak ke mana-mana. Meski yang ditulis sedikit, saya sering membuka blog ini lalu berharap ada yang membaca dan menyemangati dari jauh, via komen dan akun rahasia. Menulis draft, lalu menghapus, dan tidak jadi melakukan tindak publikasi sama sekali. Persis anak-anak pemalu yang kalau chatting menulis panjang lalu tidak malu karena jadi. Romantisasi awal era informatika memang ajaib dan norak. Maka dari itu saya berniat untuk memindahkan blog yang satu ke blog yang satu lagi. Karena dihalangi Kemonkokminiminfo akibat ulah para penikmat pornografi yang dengan hebatnya bisa doyan nyari konten porno di tumblr, bisa-bisa tulisan saya makin tidak dibaca.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” substandar.

Tulisan berisi curhatan saya kebanyakan berupa hal yang sama dan atau mirip-mirip. Waktu itu pernah membahas teori sosial. Dua kalimat saja. Fisika luar angkasa. Tiga kalimat saja. Tips-tips sukses menjadi orang sukses. Entah berapa kalimat. Ujung-ujungnya sentimental dan lebih meresahkan dari pembunuh berantai yang berkeliaran di sekitar kita. Dan daripada mengulang hal-hal yang sudah diulang, lebih baik otak kita dibiasakan untuk berbuat hal yang sama agar makin pandai. Perubahan dibentuk oleh kebiasaan dan setumpuk bite sized bit and don’t overstuff your stomach. Kecuali oleh Pak Gubernur yang mandraguna. Beliau bisa memindahkan seorang pegawai senior yang tidak gabut tapi salah tempat lalu keluarganya meratapi nasib bapaknya yang mesti pindah kerja. Perubahan terjadi dalam semalam. Malam-malam berikutnya sang anak harus menyesuaikan diri dengan anak-anak judes di sekolah baru. Karena judes pada anak baru adalah keharusan dari sudut pandang anak yang sensitif. Brad Pitt pernah masuk 100 orang paling berpengaruh versi Time mungkin karena dia bisa melakukan hal seperti ini.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat repot juga” metastandar.

Jadi daripada meratapi kehamilan anak saya, anak saya yang malu bicara dengan orang, dan anak saya yang harus dijuteki oleh geng tajir cantik majalah Hai, Gadis, dan Kawanku di sekolah barunya. Mari saya menulis di atas cucu saya dan bangun lebih pagi meski bangun pagi terlalu dipuja-puja di dunia ini.

Hari ini saya mau membersihkan tempat parkir sebelah Puskesmas dari ribuan sampah plastik, biar kalau air pasang tidak hanyut ke laut. Itu juga kalau ada trashbag.

 

 

Terimakasih Kalian. Kereprean #1

Cokelat panas dan green tea disajikan hari minggu sore itu untuk kami di salah satu kafe favorit saya di Bandung. Mencari wi-fi dan suasana yang enak. Dia bilang “ayo kerjain dulu”, sambil saya sibuk main hape dan ngobrol-ngobrol bercanda. Saya lanjutkan mengisi form dan essay. Gigs musik jazz sedang digelar disitu dan bikin suasana agak bising. Malam mulai datang dan saya belum juga selesai mengerjakan segala formulir.

Saya jadi mikir kalau misalnya saya tetap seperti ini, tidak punya kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan urusan dengan cepat maka nanti akan banyak hal dalam hidup saya yang semakin kacau. Saya kembali berusaha menyelesaikan. Makanan dan minuman datang dan pergi sampai akhirnya sudah cukup malam dan belum selesai juga. Banyak hal memenuhi pikiran saya, tugas-tugas kepanitiaan dan amanah-amanah yang belum saya selesaikan. Saya pun pulang dengan badan lemas. Saya sadar akan sesuatu malam itu. Bahwa fokus adalah benar-benar penting. Bahwa berpikir-menulis-belajar di tempat umum bukanlah gaya saya. Bahwa saya adalah orang dengan kecanggungan dan keribetan tinggi. Bahwa tak selamanya kita bisa mengandalkan wifi gratis. Bahwa cokelat panas itu tidak menghilangkan haus. Bahwa saya sering sekali salah memesan minuman. Bahwa manajemen waktu yang baik adalah dengan totalitas saat berkegiatan. Totalitas nongkrong-cucus, totalitas main, totalitas belajar, atau totalitas di kamar sendirian mengerjakan tugas apapun itu.

Di jalan pulang saya minta tolong ke mantan teman sekamar saya untuk membuatkan surat rekomendasi. Saya jadi mikir, apa kabarnya si mantan teman sekamar saya ini. Dulu tiap hari main bareng, tidur bareng, minggu-minggu pertama kemana-mana berdua. Sekarang walaupun kamarnya cuma beda beberapa lantai, dan kita masih bisa dibilang satu geng tapi kerasa jauh banget. Untungnya dia senang-senang aja saya mintain tolong. Beberapa hari sebelumnya saya juga udah minta tolong ke salah seorang sahabat saya dari kecil, dan dia sangat senang tapi agak susah untuk ketemu. Kalo diingat-ingat sudah hampir 3 minggu kita ga ketemu. Akhirnya pagi-pagi sekali hari senin saya diantar sang wanita-baik-hati-partner-terbaik ke rumah sahabat saya itu untuk mengambil surat. Sekalian silaturahmi. Rumah yang sudah saya hafal betul isi dan penghuninya. Saya langsung masuk tanpa mengetuk, dan dia baru bangun. Tulisan tangannya jelek. Dia bilang walaupun jelek dan sedikit tapi ini mendeskripsikan kamu banget. Kami lalu berpelukan hangat. Saya jadi merenung, sungguh beruntungnya saya bisa punya orang yang sangat mengenal saya seperti dia. Sesampainya di kampus saya mencari sang mantan teman sekamar. Saya tidak menyangka ternyata dia membuat dengan rapih dan format yang seharusnya. Saya terharu, dia yang bikin LI sering seadanya saja atau mengerjakan sesuatu kadang lupa tapi bisa menyelesaikan surat rekomendasi dengan sepatutnya. Kita berpelukan di ruang skills lab tahun 1. Teringat kalau dulu kita sering sekali berpelukan dan teringat kalau kita satu-satunya pasangan roommate yang saling memanggil aku-kamu. Makasih bro. Saya jadi melankolis lagi.

Di tengah hingar-bingar hari itu saya sadar kalau saya punya orang-orang spesial yang selalu siap membantu. Dan apa yang terjadi beberapa puluh jam kebelakang sangat berkesan dan bisa merubah saya. Bahwa proses adalah suatu hal yang penting. Bahwa kalaupun apa yang kita kerjakan tidak selesai atau tidak sebagus yang orang harapkan, lihatlah ke belakang, apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah kita sadari dan mana yang belum kita syukuri.

Kembang Api, Saya, dan Kalian.

Selamat Ulang Tahun Jawa Barat.

Ledakan kembang apinya lama sekali. Beberapa puluh menit. Atau kurang dari 10 menit tapi berasa cukup lama karena agak monoton. Yang saya perhatikan adalah kalian. Menengadah ke atas. Ke langit. Diiringi lagu yang mungkin dibuat oleh Dissa Kamajaya dan kawan-kawannya. Dengan sendu, lagunya terus mengalun. Dan kembang apinya juga terus meluncur. Debu kembang api terus menebal. Mungkin ada sampai satu ton kembang api yang diledakkan saat itu. Selama peluncuran ada yang bosan karena tidak ada variasi ledakan. Ada yang melihat ke sekeliling memerhatikan ekspresi orang-orang. Ada yang berharap kembang apinya cepat habis karena dia ingin pulang. Atau kebelet buang air besar. Ada yang berharap pertunjukan kembang apinya cepat selesai karena dia kurang suka keramaian dan suara bising tapi cahaya dari kembang api itu mubazir untuk dilewatkan, dan dia merasa tanggung karena sudah setengah jalan nonton.

Pertunjukkan kembang api itu selesai. Tapi atmosfer sendunya masih ketinggalan. Kalian seperti menunggu kembang api lanjutan. Apakah akan ada lagi? Kepala kalian masih menghadap ke langit. Banyak yang menurunkan kepalanya. Ada yang sudah main hape lagi. Asapnya masih mengambang-ngambang di udara. Baunya sudah mulai turun ke daratan. Dicium oleh penonton kembang api.  Hening masih terjadi.Tiba-tiba ada suara MC. Mereka dibayar untuk meramaikan suasana. Untuk mengisi kekosongan. Sendunya pecah. Kalian pindah fokus. MC menjadi pusat perhatian lagi. Kepala kalian turun. Kalian mulai berbubaran. Mengobrol lagi dengan keluarga, atau teman, atau pacar kalian.

Betapa indahnya hidup kita kalau tidak ada MC,  dan kita terhipnotis pulang.  Terbius dengan suasana sendu,  pulang dengan kepala yang tertunduk, lalu berjalan bersama dalam keadaan hening. Merenungkan apa yang sebenarnya mereka sudah rayakan, dan mengucapkan selamat malam pada udara Bandung yang sudah dikotori ratusan kilogram debu kembang api.

Tanah pasundan yang sudah jadi kebarat-baratan, Jatinangor. Tepat 14 minggu kemudian.

Pepohonan dan Bulan Juni

Saya lagi ngeliat keluar jendela bis saat sadar kalau itu adalah akhir juni. Jendela bis emang selalu bikin orang jadi mikir. Kata banyak orang di dunia, sih. Sambil ganti-ganti lagu, nyari lagu yang pas, saya lihat lagi kalender. Benar ternyata sudah hari terakhir bulan juni. Abah Iwan juga mengulang-ngulang tanggal ini saat memberikan pertunjukan motivasi. Acara keren kampus baru selesai, acara yang inspiratif, dan sedang perjalanan pulang.

                Kata Abah, intinya inspirasi itu datang dari diri kita sendiri. Baru kalimat pertama saja saya langsung berpikir. Beruntunglah orang-orang yang selalu menyempatkan diri untuk bengong. Untuk merenungi sekitarnya. Kata Abah, terimakasih sama pohon sudah ngasih oksigen. Saya lalu teringat sama pohon angsana favorit saya di Jalan Diponegoro, yang beberapa kali saya berikan pelukan terimakasih secara harfiah itu.  Selanjutnya saya lupa beliau bilang apa saja. Tapi saya ingat lagi kata teman saya. Bahwa sebuah momen itu ga perlu diingat bagaimana terjadinya, yang penting adalah momen itu meninggalkan kesan dan tau kalau ‘sesuatu’ dalam momen itu tinggal di dalam diri kita.

                Teringat itu hari terakhir bulan juni, juni taun ini juga memberikan banyak momen. Momen-momen yang ga perlu diceritain panjang-panjang, tapi bakal diingat terus sama saya potongan-potongannya. Lagu-lagu yang jadi jangkar, dan pemandangan yang jadi pemicu indera luar biasa. Momen pertemanan, momen penglihatan, momen kebosanan, momen barang rusak, momen keluarga, momen adik-adik, momen saat gelap datang, momen telepon, momen pak satpam, momen saat di tengah keramaian, momen kesepian, momen bahagia luar biasa, momen ujian, momen tertekan, momen martabak, momen susu beruang, momen desa yang jauh disana, momen awan, momen putus asa, momen hujan, momen berdarah, momen bintang-bintang, momen cahaya lampu, momen lampu jalanan, momen lampu mobil, momen kode-kode, momen kehangatan, momen inspirasi, momen terguncang-guncang, momen orang sakit, momen sakit, momen cemburu, momen nyanyi, momen pendengaran, momen di kendaraan-kendaraan. Saya tau kalau suatu kata diulang berkali-kali akan terasa hilang maknanya. Maafkan saya wahai momen-momen.

                 Perjalanan pulang berlanjut, saya melihat pepohonan di pinggir jalan, dan kabut yang menyemprot-nyemprot masuk lewat jendela bis. Kabutnya hilang, lalu saya lihat awan yang tertembus matahari di kejauhan sana. Mungkin orang di Kecamatan Cidaun ada yang lagi lihat awan itu juga. Tapi kayaknya nggak deh, terlalu jauh. Yang jelas saya sama Cidaun masih satu langit, satu pencipta. Saya cuma bisa berterimakasih kepada sang pencipta. Saya diciptakan disini dan mereka diciptakan disana. Ada bagiannya masing-masing. Saya diciptakan disini untuk terinspirasi, dan yang disana diciptakan untuk menginspirasi. Makasih ya pepohonan, makasih ya bulan juni, makasih ya sang bengong, dan makasih ya langit dan bumi Cidaun. Kalau ada sumur di ladang, boleh saya minta tolong ambilkan air. Kalau ada umur panjang, boleh saya minta tolong ambilkan bulan juni bu dan pedesaan tahun depan bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap dan gelap di malam hari.

Hantaman Siang

Dahan pohon palem itu jatuh menghantam barisan sepeda di depan masjid saat sholat jumat. Berantakan sekali. Pak Satpam lalu datang, memindahkan patahan-patahan dahan dan dedaunan. Dibetulkannya sepeda-sepeda yang berjatuhan. Khotib masih berdoa antusias pakai bahasa arab. Terus saya lihat ke langit, ada awan, ada goresan-goresan sinar matahari. Kata orang, sehelai daun yang jatuh pun adalah dengan ijin Allah. Allah kan Maha Baik.