Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Advertisements

Figur dan Fasad

Jika premis “selebriti lebih pesolek dari fotonya”, atau, “lebih menawan ketika dilihat langsung” adalah benar, maka premis “seorang pemimpin politik nampak lebih kharismatik ketika bertemu langsung” adalah kebisajadian untuk jadi benar. Tentu definisi selebriti di sini semisal pelaku seni olah suara, seni musik, seni akting. Namun tidak termasuk seni lukis dan seni pahat karena tidak tahu siapa yang cukup pesolek. Bapak Sapardi pun bisa disangka Bapa Joko Pinurbo, pernah jadi seniman tulis menulis yang tampan pada umumnya, suka yang cantik pada umurnya, makan siang di kantin kampus bergengsi, sedikit ganteng namun sakit perut kronis, siapa yang tahu. Pesona yang dilihat di dunia nyata sepatutnya bertambah. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa ada orang yang jelek di Instagram namun lebih pesolek di dunia nyata. Atau jelek di dunia nyata dan di Instagram hanya diikuti 89 orang. Mungkin memang absolut kurang disukai teman-temannya secara rupa. Atau captionnya tidak konsisten dengan perbuatannya. Kadang captionnya lucu tapi orangnya bikin meringis. Bisa jadi pula captionnya bawa-bawa ayat suci non fiksi tapi suka colak-colek wanita di stasiun.

Saya sendiri menyukai premis “orang tua terlihat sempurna di atas kertas dan di mata anak orang lain yang tidak bersyukur” atau “orang tua baru disadari semua kelebihan dan kehebatannya ketika sudah tidak ada dan anaknya bergumam dalam hati “apa yang orang tua saya bilang ternyata benar””. Walau pun premisnya saya buat sendiri dan saya tidak suka menggunakan kata “meninggal” sejak masih kecil, tidak menapiskan bahwa premis tersebut bisa jadi benar. Mengomentari dengan prasangka gelas “Greatest Dad in The World” atau “The World’s Best Mom” dapat berarti beberapa hal. Yaitu berarti kita menyangsikan bisnis legal gelas cantik yang menyebar energi positif. Dapat berarti kita tidak percaya bahwa orang tua kita adalah yang terbaik di dunia. Dapat pula berarti kita sudah mengubur dalam-dalam kenaifan yang mestinya disiram baik-baik dan dipupuki oleh rasa penasaran dan kebaikan agar terus berkembang. Atau bisa juga berarti saya adalah orang yang klise dan tersinggung dengan keberadaan gelas. Gelas yang mudah pecah karena pertengkaran di rumah atau hilang ketika pindah rumah.

Otak manusia memilih-memilih memori. Yang buruk-buruk diingat sampai lama, tapi begitu pula yang indah-indah. Yang penting-penting sering lupa ketika dibutuhkan. Ingatan baik makin sering diceritakan, makin bergeser ceritanya. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan jadi kebenaran. Kebohongan yang disompral-sompralkan, lama kelamaan jadi kebeneran. Kebeneran terjadi lalu menyesal. Seperti ucapan orang tua pada umumnya yang bilang “tidak tahu diuntung”. Mungkin kalimat itu berasal dari sinetron lalu terukir di otak para orang tua lalu viral ke generasi berikutnya. Atau karena memang sering diucapkan orang tua, lalu menginspirasi penulis naskah sinetron karena mereka tidak punya lagi referensi yang keren selain ucapan masa kecil dari orang tua mereka.

Kitab suci dijual di rak kitab suci karena kalau dipajang di rak buku-buku fiksi akan menyebabkan si pengusaha toko buku diarak sampai kelurahan. Kalau beruntung bisa sekalian ditemani kasirnya. Tapi kalau diletakkan di rak buku non-fiksi bisa dianggap mengerdilkan keberadaan satu sama lain. Kalau buku Tan Malaka dijual bersebelahan dengan biografi Nikolas Tesla, selain tidak terlalu nyambung, sepertinya mereka juga tidak keberatan. Kecuali ketika dipajang bersebelahan dengan buku “Tan Malaka Sang Nabi Palsu Meninggal di Tempat Pembacaan Proklamasi Karena Batuk Menahun” atau “Tesla dan Edison: Kisah Asmara Rahasia Abad 18”. Selain informasinya serba salah—dalam artian semua informasinya salah—tapi juga penuh fitnah dan niscaya memiliki kemungkinan laku di pasaran. Harga berhala lagi murah.

Teman baik saya pernah bilang bahwa tidak mau terlalu kenal dalam dengan saya, karena takut akan menghancurkan ilusi atas diri saya yang menurutnya cukup bagus. Membaca buku adalah menjalani sedikit perjalanan hidup seseorang sekaligus meninggali sepenggal ruangan di otak sang penulis. Tapi ruangannya adalah ruangan yang memang dibersihkan dan dihias untuk kemudian disewakan di Airyrooms atau Traveloka. Bukan kamar penuh privasi yang istri sendiri pun enggan tinggal karena bau bujangan. Pasti tidak sedikit penulis yang bermasalah rumah tangganya. Karena angka perceraian di Amerika kira-kira sampai 50%. Menjalani perkawinan hampir sama seperti berjudi koin. Kalau beruntung bisa saja koinnya jatuh dalam kondisi berdiri. Atau ketika koin dihempaskan ke udara, tiba-tiba sangkakala akhir zaman ditiup tepat saat koin menyentuh tanah. Anggap ada 20.000 penulis yang berkeluarga. Maka ada 10.000 penulis yang rumah tangganya pecah dan satu tukang blog yang harus belajar lagi mengenai statistik dasar, analisa data, dan analogi. Dan jumlah itu terlalu banyak.

Maka dari itu kisah sukses dipenuhi dengan banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tentu dalam dosis yang tepat. Membaca setiap kata di dalam buku lalu mengulang-ngulang setiap caturwulan, ditambah berbaring seharian dan tidak sempat mengobrol sama teman-teman, apalagi jalan-jalan pakai transportasi publik. Kelakuan seperti itu hanya akan meningkatkan risiko terkena borok di punggung yang sulit sembuh. Menonton film seri hingga beratus-ratus episode akan membuat kita merasa seperti telah kenal dengan sang pemeran utama selama bertahun-tahun. Padahal bagi para aktor, film seri itu hanya pekerjaan yang menghabiskan tidak sampai 10% waktu hidupnya. Kegiatan menulis, meski menghabiskan waktu bisa lebih dari 10% waktu hidup penulisnya, tetap bisa membuat kita merasa mengenalnya sejak lama, dan tetap tidak valid jika kita merasa sok kenal. Bukunya dibawa ke mana-mana, diajak makan, ngobrol, dan diceritakan ke orang-orang. Namun sesungguhnya tidak baik juga menilai seseorang dari tulisannya. Apalagi tulisannya di sosial media. Karena sangat mungkin bahwa Tere Liye adalah orang yang menyenangkan.

Saya sendiri belum pernah membelikan gelas-gelas cantik bagi orang tua saya yang dipersepsikan seperti selebriti bagi beberapa orang lain. Termasuk saya. Sepasang selebriti sekaligus pahlawan super dan pemimpin yang plot krisis kehidupan pribadi dan bagian ngobrolnya agak banyak. Karena itu lah saya masih bisa hidup tenang leha-leha karena percaya orang tua saya bisa melakukan apa saja bahkan mengeluarkan saya dari penjara jika terlibat huru-hara lalu lintas. Meski mereka belum juga menulis buku yang sudah diwacanakan sejak lama, ada seorang tua yang menulis buku non-fiksi dan tidak dipajang berbarengan dengan kitab suci. Bahkan mungkin tidak dijual di toko buku Indonesia.

Beliau menulis buku yang akhir-akhir ini sering sekali saya sebut, hingga hampir seperti kitab suci, padahal isinya saja tidak hapal dan tidak paham sepenuhnya. Saya memang tidak membaca sebanyak itu buku, sedikit di atas rata-rata kalau angka rata-rata orang sekitar saya adalah membaca 3 buku per tahun di luar buku pelajaran. Saya cukup yakin angkanya di bawah itu karena toko buku sepertinya tetap sintas karena jualan beragam pensil dan alat musik. Agak malu juga, karena menyebut hal yang sama berulang kali adalah tanda kekurangan. Seperti hanya satu kali piknik tapi diacu berulang kali. Baru nonton dua kali di bioskop dan filmnya diceritakan beberapa kali. Baca buku karena memang hanya 6 buku per tahun, jadi diacu berkali-kali. Paling tidak dua kali di atas rata-rata dan paling tidak beliau ini adalah 50% dari penulis yang rumah tangganya tidak pecah. Ternyata, selain saya krisis berhala, saya juga agak krisis membaca.

Hans Rosling menulis buku yang sebegitu menggugahnya hingga memori saya atas buku tersebut berputar-putar dan terdistorsi menjadi ilmu yang bisa jadi bahkan tidak tertulis di dalamnya. Saya menonton kuliahnya dan presentasinya tentang dunia ini yang secara langsung dan tidak langsung membuat saya lebih bahagia dan mau membuat perubahan dalam tujuan hidup. Tidak sampai satu minggu setelah saya memulai membaca buku paling baru beliau dan menonton beberapa tayangannya, saya mengetahui bahwa beliau sudah meninggal tahun lalu. Beberapa sesi menonton video berikutnya saya lalui dengan air mata. Saya baru bisa paham mengapa orang bisa merindukan Rasulullah yang bahkan mereka tidak pernah bertemu dan padahal baru baca bukunya satu saja. Sebab terlalu berat untuk baca buku hadits, Sunnah, dan kajian. Saya juga belum pernah baca bukunya yang lain.

Rasa rindu pada tokoh yang tidak pernah ditemui ini kemudian dijaga seperti perasaan teman saya terhadap saya yang tidak mau mendalami lebih jauh tentang kecacatan hidup sang penulis. Pun buku Tan Malaka belum pula selesai saya baca. Kelak nanti akan saya acu dan rindukan. Tapi buat saat ini sebijak-bijaknya adalah orang yang mengambil pelajaran dari “The World’s Best Mom” dan “Greatest Dad in The World”  sebanyak-banyaknya sebelum gelas itu jadi pajangan berharga yang kalau pecah bisa terbayang berhari-hari dan memorinya tercampur-campur.

 

 

 

Happy Sweet 17, Happy SBMPTN, and Happy Life-Go-Lucky.

Tadinya mau nulis ini tadi malam waktu Cici sedang stress, tapi karena mati listrik, laptop “plugged, charging, but not charging”, dan sakit pinggang sampai ke tangan, jadinya ditulis pagi-pagi. Pasti Cici sedang sibuk waktu tulisan ini ditulis dan selesai dibuat. Dan pasti Cici pasti ga punya kenangan tentang SNMPTN 6 tahun yang lalu. Karena masih kecil dan abang juga ga cerita-cerita banyak. Waktu itu abang berangkat diantar Ayah juga, semoga beberapa hal ga berubah ya kayak gitu, sampai ade SBMPTN juga toh sebentar lagi, dan sampai ade sumpah dokter (siapa tau salah pencet), dan sampai Cici kalau punya anak, anaknya wisuda juga Ayah Ibu datang.

SNMPTN 2012, abang ada perasaan sedikit ingin boker waktu mulai ngerjain soal, dan waktu itu sempat terpikir kalau boker akan banyak makan waktu tersisa, mending dibokerin di celana lalu kerjakan soal lalu balik. Malu boker di celana paling masuk berita detikcom, tapi ga keterima kuliah lebih malu. The stakes were that high, in my mind, you might feel the same. Mana celana abang licin banget, celana bahan entah dari bahan apa itu dibikinnya, di bangku kayu SD yang licin dan harus ngerjain matematika IPA. Rasa sengsaranya abang masih paham. Lalu pulang ketemu temen di angkot yang kata dia sih bisa, lah abang cuma ngerjain tiga, balik ke rumah diperiksa salah dua, nangis sambil nonton unduhan The Killers Live at Royal Albert Hall di atas. Cici baru lulus SD mana tau. Memang ujian seperti ini faktor keberuntungan, dan faktor X, faktor Z, faktori outlet, Richeese faktor kek, dan faktor-faktor lainnya besar banget, ga seharusnya disombongkan kalau cici sudah lulus ya, boleh lah beberapa bulan pertama aja. Abang juga mulai benar-benar konsisten menulis blog sebenarnya dekat SNMPTN 2012. Benar-benar masa di mana abang ditempa secara emosional dan banyak mikir sendirian di angkot, makanya mau nulis lagi setelah zaman SMP. Waktu itu terasa sih, hardship makes you grow, dari membeda-bedakan teman yang serius, teman yang tidak serius, teman yang supportif, dan teman yang cuma goodluck-goodluck doang. Abang mau cerita lagi dan membahayakan martabat (yang ga ada-ada banget juga) dan kebebasan bernegara bahwa pernah berbuat jahat sama pacar SMA karena menurut abang dia membahayakan ujian-ujian abang (Maaf banget, Nishrin). Kalau Iqbal jahat dan ngasih pengaruh buruk sama Cici, tampol aja ci, ada third wave feminists yang selalu suportif. Kalau jahatnya beneran evil bukan sekedar he’s not so nice, ntar abang dan orang-orang rumah akan tampol juga. Ini saran-saran untuk adolescents nanti lagi beda acara. Tapi sesungguhnya terserah cici mau ngapain sama dia, love will find a way, SAPPK will find you anyway, asal jangan mau kalo ditawarin ngerokok dan ena-ena, nanti ada guilt, STD, then I’m an expecting brother. Tapi dari pelajaran-pelajaran abang di saat masa-masa yang rasanya berat itu lah, abang dapat teman-teman seumur hidup yang beberapa ga keterima juga beberapa keterima, tapi masih berteman dan nongkrong. Abang cuma berharap beberapa dari mereka berhenti manggil abang “Dok” aja.

Cici pasti sering dengar, bagaimana sebenarnya SBMPTN dan ujian semacamnya adalah hanya ujian. Hidup adalah ujian yang sebenarnya (tapi tidak ada yang bilang bahwa SBMPTN adalah bagian besar dari hidup, jadi ini bahaya juga bos). Kalau kita lihat di jalan takdir yang bercabang-cabang, atau entahlah mungkin sebenarnya cuma satu jalan panjang tapi dimanipulasi Tuhan jadi rasanya bercabang-cabang, SBMPTN dan ujian-ujian seperti ini memang membelokkan jalan hidup, Ci. Lihat Ayah dan Ibu, ketemu di kampus dan juga ketemu teman-temannya yang banyak itu, lalu pola pikirnya karena berada di iklim aktivis dan akademis kampus yang seperti itu, jadi terbentuk seperti itu, lalu mendidik kita jadi seperti ini, you get the point, butterfly effects and shit. Lalu calon kakak ipar yang baik dan cantik kata cici, tapi gampang sakit kulit, kasihan, dia pula bermasalah dengan SBMPTNnya dulu, tapi memang dibelokkan jalannya biar ketemu abang di Unpad. Sekarang hidup bahagia di UI. Di Unpad dapat pelajaran hidup katanya. Apalagi sekarang dia bikin email layanan masyarakat untuk konsul SBMPTN dan tulisan di Askfm serta Tumblrnya menginspirasi entah berapa orang perihal SBMPTN.

Pasti malah jadi pertanyaan, “jadi ini penting atau ga penting, bang?” Gatau juga, waktu cici lahir abang masih kesel-kesel mau nonton Digimon di Indosiar malah dibawa ke Borromeus, I am too, still figuring out life. Kalau kata ibu bisa jadi ga penting (dengan alasan menaikkan self-esteem cici), atau penting sekali (dengan alasan yang sama, intinya adalah alasannya), abang sendiri sejujurnya tidak tahu sebenarnya ini apa karena hal-hal yang abang udah bilang tadi. Abang juga pernah bilang, di dunia globalisasi (kalau sekarang namanya Industri 4.0 dan IoT yakni Internet of Things, it’s true, look it up everyone’s talking about it, seakan-akan mereka ahlinya) ga seharusnya lagi hal-hal kayak gini jadi polemik, makanya kalau ada anak yang orangtuanya mampu dan semangat masuk swasta seharusnya didukung supaya makin banyak pembukti-pembukti bahwa kuliah di mana sama-sama aja. Akses dan pembukaan wawasan yang lebih mantap kalau kuliah di kampus idaman, tidak serta merta jadi penentu kesuksesan, itu juga tidak ada studi resminya jadi gak seharusnya kita bangga-banggakan dan andalkan sebagai alasan. Kecuali misalnya ITB bikin penelitian resmi bahwa kuliah di ITB lebih mungkin sukses 42% dibanding common people baru lah pantas orang-orang berlomba masuk ke sana. Apalagi kalau misalnya ada publikasi bahwa kuliah di Unpad lebih bahagia 77%, sebaiknya cici masuk sana ci, buat apa sukses tapi gak bahagia. Satu-satunya yang membedakan adalah rasa bangga dari dalam diri sendiri yang jadi headstart serta berkembang terus dan berdampak ke mana-mana. Abang hanya melihat langsung sendiri sih, dari sahabat, orang tua, orang tua sahabat, teman, orang tua teman, pacar, orang tua pacar, tetangga, anak tetangga, dan abang sendiri yang merupakan anak tetangga kalau kata tetangga, bahwa rasa bangga itu ada walau kecil, dan buruknya kadang rasa bangga itu terbawa sampai dewasa dan berlebih-lebihan sampai ke taraf yang tidak perlu. Abang sih untungnya ga ngebangga-banggain kayak gitu, kalau ditanya Go-jek atau orang basa-basi kuliah di mana pernahnya jawab FSRD Maranatha, Teknik Lingkungan ITB, dan Statistika Unpad. Lama-lama malu juga jadi dokter, mau makan harus cuci tangan dulu atau bakal dikata-katain, lah yang mencret kan gua, elu kalau mencret juga ngeLine gua nanya obatnya apa. Intinya rasa kepuasan dan rasa percaya bahwa anda adalah seorang yang bisa menaklukkan ujian dan masuk ke kampus yang katanya bagus dan idaman, dapat membawa positivitas ke masa depan dan berdampak pada hal baik lainnya. Kalau cici, sudah lahir di keluarga yang baik, yang ikatannya kuat, yang bisa dibanggain dan suportif walau threshold marahnya pada rendah-rendah semua kecuali Apong, yang selalu percaya that blood is thicker dan water, and even though it’s amniotic water, blood is still thicker than any water and sweat, keluarga yang bisa makan-makan tiap minggu dan film jelek di bioskop aja kita tonton bareng-bareng, dan kalau mau apapun sebenernya tinggal minta, dari minta pijitin Ibu Ayah sampai minta yang mahalan dikit, seharusnya sudah punya positivitas yang lebih tinggi dan ditempatkan di manapun akan berkembang dan conquering the world. Itu kalau yang cici mau adalah menaklukkan dunia, tapi jangan lah Ci, kayaknya gajinya tidak sesuai dengan beban kerja.

Apapun yang Cici rasakan beberapa bulan terakhir ini, belajar malam-malam di bimbel yang udah abang jemput eh abang marah-marah karena jalanannya macet (padahal bukan salah cici), dan kebahagiaan-kecemasan karena countdown Infinity War adalah juga countdown SBMPTN, yang jelas Cici harus tau apapun yang terjadi setelah usaha-usaha yang berat itu adalah takdir, makanya disuruh berdoa ya Allah berikan aku yang terbaik, dan yang terbaik adalah keterima di SAPPK dan punya kakak dokter internship gabut. Cici pasti baca ini setelah ujian dan merasa dunia jauh lebih terang dan panas, juga secara harfiah karena nanti cici keluar ujian adalah sekitar jam 10 betul tidak. Nanti cici preserve perasaannya ya, write me something, walau nanti pasti dijemput Ayah, dan di rumah makan siang enak lalu bobok saat main hape, ketebak lah, yang penting cerita. Karena penting atau ga penting, keterima atau ga keterima, takdir atau bukan takdir, having and seeing you grow, transcend, and desperately want to make this world a better shithole, is one of the greatest gift given by Ibu, Ayah, and God. Happy very very belated supalate sweet 17 and happy vacation and happy SBMPTN, Ci. We don’t owe each other anything except for that 750rb, but let’s give each other the best shot every time.

Nikmati Peraduan

Seperti menulis surat cinta untuk aku yang duduk di halaman, daun itu berputar-putar.

Bertumpuk dan berjajar, mereka jadi kecil.

Aku teringat dengan daun coklat-kehijauan yang jatuh bertahun lalu. Kalau tidak ada artinya, maka memang tidak ada artinya. Sama dengan daun kelapa yang dua kali jatuh, juga bertahun lalu.

Menghantam.

Nyeri punggungku masih sama. Mimpiku masih tentang mereka.

Hanya ingin bertanya pada pohon yang dulu.

Dari mana saja? Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.”

 

Dari Kamar Sebelah

Kabel AUX yang longgar akan membuat transmisi listrik-atau-entah-namanya-di-dalam-kabel terganggu. Di dalam listrik itu, terdapat pola-pola dan kode-kode. Harap perhatikan, bahwa pola dan kode adalah hal yang berbeda. Yang satu, bersifat repetitif atau dapat diprediksi. Sementara yang satu lagi, bersifat menerjemahkan, atau menyimpan informasi. Satu hal pasti, dari kabel AUX murah warna-warni hingga yang hampir seharga gaji penjual kabel AUX itu sendiri, musik dapat dilewatkan dan dijejalkan ke dalam lubang sempit di banyak tempat (tentu tempat di sini bukan laut, gunung, atau toilet pusat perbelanjaan. Kecuali di laut, gunung, atau toilet itu ada pemutar musik yang dapat dicolok kabel AUX).

Dia memutar lagu dari perangkat elektroniknya yang canggih mandraguna dan berbayar, karena baginya tidak halal untuk membajak lagu dengan aplikasi lagu yang diakali agar bisa memutar segala jenis lagu tanpa membayar. Saya juga berpikir demikian, selain juga karena alasan keamanan, kita harus adil sejak dari mendengarkan musik. Kabel itu longgar. Lalu, dari sekeliling terdengar suara sayup-sayup. Seakan-akan ada konser musik dan sokley (Ayah saya menyebut lampu sorot konser menyala yang ditembakkan ke langit sebagai sokley) yang menyala-nyala. Suara dari kejauhan itu berasal dari kabel yang sudah usang.

Mendapatkan inspirasi saat buang air besar, atau saat memperhatikan air yang mengalir ke lubang pembuangan saat mandi, adalah suatu konsensus bagi masyarakat bahwa kita selamat sebagai umat karena renungan-renungan yang hadir saat kegiatan rutin itu berlangsung kadang bermanfaat. Saya sendiri banyak merenung di balik setir, selain di atas kloset dan di bawah pancuran air hangat. Entahlah, mungkin karena waktu dan rutinitas yang dialami lebih rutin. Di mana saya tidak mungkin ketiduran lalu tidak menyetir sementara ketika waktu buang air besar datang, saya bisa membuangnya di mana saja, dan ketiduran di banyak tempat adalah hal yang menyenangkan serta sulit dihentikan sebagai kebiasaan. Berbeda dengan berada di balik kemudi. Tentu sulit untuk merasakan renungan-renungan itu lagi, karena sampai satu tahun ke depan saya akan banyak berada di atas kursi penumpang beramai-ramai. Tempat baru akan mengubah seseorang. Jika saya masih melakukan kebiasaan yang sama, pasti lebih sulit untuk tidak menjadi sama. Meski keadaan saat ini agak problematik dan boros bensin. Terlihat juga dari beberapa tulisan terakhir saya yang dimulai dengan premis “di balik kemudi”.

Berbicara tentang konsensus, banyak sekali konsensus yang terjadi di antara kita semua tanpa kita sadari sepenuhnya. Seperti konsensus bahwa banyak orang tidak tahu definisi jelas dari konsensus, dan apakah konsensus sama dengan postulat. Atau konsensus dengan diri sendiri bahwa ketika ada orang yang berdebat dengan agama, lebih baik diam saja, karena kata agama sendiri pun perdebatan lebih baik dihindari. Apalagi dengan ide dan konsep yang belum terpetakan dengan rapi. Konsensus bahwa sebaiknya tidak menulis esai pribadi terlalu panjang, karena tidak akan ada yang membaca. Saya sendiri sering tidak menghormati tulisan-tulisan panjang di blog kawan dengan melewatinya karena terlalu panjang. Atau, konsensus tentang perasaan-perasaan spesifik yang tidak bisa kita jelaskan namun dapat dikonsensuskan sebagai “sangat paham”.

Kembali ke kabel AUX dan dia. Kedua hal tersebut adalah hal yang akhir-akhir ini sering memaksa saya merenung. Dia di sini adalah Ibu, Ayah, kekasih, sahabat satu-satunya, atau bahkan pengemudi di mobil sebelah yang memasang lagu sangat kencang. Suatu hari, saya terdampar ke salah satu kanal video yang berisi suara-suara dari kamar sebelah. Dalam arti harfiah. Di kanal itu, sang pemiliknya menyunting lagu-lagu populer menjadi terdengar seperti dari kamar sebelah. Atau dari dalam mobil di tengah hujan saat malam hari. Atau di pusat perbelanjaan yang sudah tidak ada orang karena entah mengapa jam tutup pusat perbelanjaan itu tidak disesuaikan dengan jam selesai pemutaran film paling akhir di bioskop lantai paling atas.

Suara-suara itu bergema, terdengar sayup-sayup, bising pelan, atau dengan sederhana; sepi. Menemukan hal-hal tersebut adalah kemewahan. Seperti kata konsensus “bahagia itu sederhana”, tentu, mendengarkan suara-suara yang memaksa merenung itu tidak datang dengan sederhana. Kita perlu situasi dan kesempatan-kesempatan yang tidak datang dengan murah.  Bahkan untuk mencapai ide seperti itu pun adalah kemewahan tersendiri.

Hal-hal spesifik ini, yang terkesan universal, dialami orang-orang dengan cara berbeda. Kepribadian dan cara berpikir saya pastinya terbentuk dari kenangan-kenangan tidak penting yang menempel begitu saja, tanpa alasan jelas, dan kadang disertai detail-detail yang mengherankan. Saya ingat bagaimana rasanya ada laptop yang ditinggal begitu saja di meja asrama, memutar lagu yang saya lupa namanya. Waktu itu saya merasa sedih. Seseorang telah menulis dan mendeskripsikan hal-hal seperti ini dalam “Dictionary of Obscure Sorrows”, dan mungkin sekaligus inti dari tulisan ini. Suara itu sayup-sayup menembus pintu banyak kamar dan kebetulan saja menempel pada salah satu orang yang mendengarnya.

Atau pada hari yang lain yang dialami orang lain. Dihadapkan dengan teman yang menangis, atau sakit, rasanya membingungkan. Kita menemaninya muntah-muntah di toilet, sambil terdengar sayup-sayup suara bising dari balik dinding. Kita bertengkar dengan pacar, hingga harus menjauh dari kebisingan sementara lagu-lagu dari panggung yang bertemakan kebahagiaan dalam berpasang-pasangan terus terdengar. Juga suara-suara dari pinggir kolam renang yang terdengar sangat pelan karena telinga kita terhalang air. Banyak lagi cerita yang tidak diingat, membekas tanpa sadar lalu bisa membentuk kesenangan yang terpanggil tanpa tahu alasannya. Banyak hal yang lebih baik tidak diceritakan atau dijelaskan.

Pada akhirnya, hal-hal ini dapat ditarik lagi dan disederhanakan. Menjadi kode yang sedemikian spesifiknya, memicu kode yang spesifik pula pada perasaan banyak orang. Kebetulan sekali, sang pemilik kanal membuat kode yang tepat dan menempatkan posisinya sebagai sang teman yang kebingungan di toilet. Saya kini merasa ketagihan dengan perasaan-perasaan yang menyulitkan ini. Apa yang tidak kita pahami, meski seringkali menakutkan, pada jarang sekali kejadian dapat bersifat menenangkan. Dan saya sangat tenang mendapati bahwa suara-suara itu datang dari kamar sebelah. Kamar dia.

Kontroversi

Tidak ada yang tahu betul, hal apa yang menjadi faktor utama kesuksesan (yang didefinisikan berbeda-beda pula oleh setiap orang). Karena bahkan kesuksesan pun sama seperti kebahagiaan; setiap orang bebas mendefinisikannya. Tentu setiap kata juga demikian. Jika saya menganggap nongkrong adalah duduk dan ngobrol sambil minum kopi saset yang profitnya 150% bersama teman-teman baik, maka nongkrong adalah kebahagiaan yang juga merupakan kesuksesan jika misalnya kesuksesan adalah kebahagiaan. Mari kita potong omong kosongnya, karena tidak semua kata bisa didefinisikan seromantis hal-hal itu. Seperti halnya makan siang. Makan siang adalah makan yang dilakukan saat siang hari. Namun makan siang bersamamu tentu adalah kebahagiaan dan mungkin kesuksesan, dan mungkin juga dapat dikatakan sebagai nongkrong, karena menyangkut ketiga hal yang sama tidak jelasnya tadi. Saya juga kurang sukses menulis paragraf pertama ini yang kalimat pertamanya kurang menarik; seperti tulisan yang katanya dalam dan menggetarkan jiwa karena menurut tulisan itu, kesuksesan bukanlah diukur dengan banyaknya aset dan rekening sebelas digit. Ketidakmenarikan kalimat pertama saya dapat dikategorikan sebagai bukan-kesuksesan, yang dapat menuju ke bukan-kebahagiaan, dan mungkin akan membuat saya malas nongkrong kemudian. Walau saya tidak keberatan juga jika rekening saya 10 digit dan tubuh saya lebih sehat.

Malam ke rumah saya, sunyi. Kami nongkrong di pinggir jalan, lalu mengejawantahkan beberapa kejadian yang terjadi beberapa waktu ke belakang. Beberapa waktu di sini adalah beberapa hari, bulan, dan tahun yang meski tanggalnya lupa tapi kejadiannya ingat betul. Kami sering membicarakan ide, kejadian, dan orang-orang, yang orang-orangnya juga itu-itu lagi. Untungnya orang yang itu-itu lagi cukup menarik jadi kami tidak terjebak menjadi dialog drama anak SMP yang membicarakan orang yang itu-itu lagi namun orangnya tidak menarik.

Kalau orang yang pikirannya tidak baik, jalan berpikirnya tidak runut, kemampuan berlogikanya di bawah rata-rata, dan membuat kalimat dalam urutan kata-kata yang tidak jelas dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Maka, ke mana kah jalan akhir orang yang mendidik diri menjadi berpikiran baik, berpikiran runut, berlogika dengan baik, dan mampu membuat kalimat yang rapi. Paling tidak yang jelas saya bukan bagian dari orang yang membuat kalimat dengan terstruktur dan menulis tanpa salah ketij. Agak sedikit kurang adil, tapi toh yang penting masih bisa nongkrong.

Dalam kenaifan kami, ia bertanya. “Apa gunanya capek-capek?” Saya menjawab dengan sok bijak karena menjawab tidak tahu pun adalah jawaban yang cukup bijak, daripada menjawab asal jeplak, salah-salah ia mendapat tuntunan agar hidup porak poranda. Ketidakadilan ini pun hanya tertiup angin pada akhirnya.

Di lain hari, sebuah musibah datang. Berkaitan dengan seorang balita cantik berinisial T, sebut saja Tania. Nama asli tapi tidak penting untuk disamarkan. Ia berceloteh di dalam mobil bertempat duduk 14 buah yang isinya orang-orang sedih atau bosan karena harus menunggu kemacetan atau harus bepergian jauh meninggalkan hal-hal kesayangannya. Seperti bantal guling, colokan di dekat kasur, dan orang-orang baik. Dalam keributannya, sang ibu tidak kunjung menenangkan sang balita T alias Tania yang entah rewel, entah kurang ajar, entah sakit infeksi, atau entah tenggorokannya gatal jika tidak berteriak-teriak. Ibu tersebut melakukan hal-hal yang saya tidak suka. Tidak perlu dijelaskan di sini karena akan menjadi seperti orang yang berpikiran tidak baik, karena saya telah menjadi demikian di saat itu dan berakibat berkata kasar ke orang lain. Lagi pula menilai seseorang tidak baik atau mengacau hanya dari pertemuan beberapa jam tidak hanya merupakan sebuah kejahatan dalam berpikir, tapi juga sebuah cacat logika yang tidak akan habis diperdebatkan. Andaikan kebahagiaan bisa seperti debat. Pada akhirnya hanya terlihat seorang ibu yang bingung dan seorang anak yang sangat disayang. Sangat disayang hingga kelak semua makanan dan baju agak mahal dari mall-mall besar akan dibelikan saja agar anaknya cantik dan percaya diri hingga pria-pria yang kebetulan mapan akan datang dan berbagi sedikit kebahagiaan makan siang bersama, nongkrong, atau berbagi aset. Tapi jika demikian, ketidakadilan masih tertiup angin. Kali ini angin panas siang hari.

Ibu bilang, jangan suka ganggu orang. Kalau suka tidak apa-apa tapi jangan ganggu. Maka dari kecil jika menunggu di tempat kerja cukup membaca buku saja dan tidak rewel meski suka untuk rewel dan menganggu orang. Nanti tidak ada manusia mapan untuk berbagi tongkrongan untuk saya yang kurang suka bersolek, karena kebahagiaan meski tidak hanya didapat dari nongkrong, juga tidak hanya didapat dari hal-hal yang bisa dibeli dan tidak bisa dibeli (karena tidak ada uangnya). Dan karena peran saya adalah menjadi lelaki mapan yang berbagi tongkrongan dan bukan-kejahatan-dalam-berpikir. Kasih Ibu dan Ayah beda lagi karena tidak ternilai, beda dengan tidak bisa dibeli.

Anak itu belum juga berhenti berteriak. Saya juga ingin berteriak (karena tidak ternilai). Tapi saya memilih untuk diam saja dan mendengarkan tembang dari orang-orang yang senang nongkrong.

 

Repetisi

Saya menyetir melewati toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Meski pada akhirnya, saya selalu bertanya lagi setiap hendak membeli bunga di sana.

Gejolak sesaat atas kesempatan-mungkin-emas yang mungkin-akan-terjadi,  kembali mengundang rasa haru yang mengesalkan. Penemuan obat diabetes yang penuh kenaifan ditambah dengan kemungkinan ditemukannya jawaban atas pertanyaan yang tidak jelas juga apa yang ditanyakan hanya menambah rasa haru yang mengesalkan tersebut.

Anggap saja waktu itu hari kamis dan gejolak itu akan menemui wadahnya di hari sabtu. Sementara, saya sendiri pura-pura lupa dengan hari. “Saya tidak jumatan kemarin, karena kemarin hari minggu.”

Ketika seseorang hampir menangis, tentu  ada reaksi fisiologis yang patutnya sudah dikenali oleh segala macam manusia. Rasa yang kita kenal sejak kita baru mengenal orang tua, rumah, dan makanan enak atau tidak enak. Hidung yang kembang kempis dan menghembus-hembus. Merah di sudut sini dan sana, juga rasa tertindih di sekitar perut dan dada meskipun sedang berdiri. Tentu jika benar itu ketindihan, maka benda yang menindih akan jatuh lurus ke kaki dan membuat lecet alas kaki. Namun, lega lah dadanya.

Saya berusaha membedah perasaan-perasaan yang katanya tidak satu macam. Lalu berputar-putar dalam lingkaran satu macam. Mungkin itu sebabnya dinamakan pola pikir, bukan tebak-tebakan pikir. Lucu juga tidak.

Ketika tangisan sudah terjadi, biasanya di dada akan terasa ngilu dan nyeri tanggung. Mudah sekali mengeluarkan air mata yang sebelumnya sudah duluan keluar satu tetes. Meski, dosis setiap orang beda-beda, karena air mata lebih mirip dengan benang laba-laba yang memanjang lalu bandel menempel. Jika wajah tegak lurus ke bawah, lalu memfokuskan diri pada tetesan air mata yang terjun bebas ke lantai, mungkin orang yang sedang menangis tersebut akan lupa dengan laranya lalu meneteskan beberapa bulir yang besar, lalu bulir kecil, lalu habis, dan hanya tersisa lengket di mata. Orang tua, rumah, dan makanan enak. Lalu, merasa bodoh lah ia.

Saya akan berangkat. Lalu pulang dengan sehat. Pulang untuk kembali duduk-duduk dan bercerita. Kadang menceritakan orang yang lebih baik, atau lebih kurang baik. Karena cerita orang yang sama baik rasanya kurang menarik. Lebih baik pura-pura kagum dan melontarkan tebak-tebakan yang semoga belum pernah kita dengar sebelumnya.

Di dalam pikiran orang yang sedang lengket matanya, ada banyak sekali reaksi kimia yang membuat bentuk-bentuk orang jadi ajaib. Kadang pikirannya berputar, ke sarapan enak beberapa hari yang lalu, ke pertanyaan berapa tepatnya populasi mobil tangki bensin kiri dan tangki bensin kanan yang harusnya disesuaikan dengan jumlah kiri atau kanan pompa bensin atau bisa dikompensasi dengan selang bensin yang lebih panjang, ke tetesan air mata di lantai berdebu yang tidak tahu siapa yang menyapu, ke cerita-cerita lama yang tiba-tiba ingat.  Lalu lengket lagi.

Saya masih melakukan pekerjaan melamun tadi di tempat yang sama. Mungkin saya pernah berpikir tentang hal yang mirip di dalam baju yang sama. Baju yang ketika pertama dipakai membuat pemakainya merasa ganteng, namun setelah beberapa kali dipakai akan terasa biasa saja. Entah bajunya yang memburuk, atau orangnya yang semakin ganteng hingga baju itu tidak bisa mengejar ketertinggalan. Lebih baik ketinggalan baju dari pada ketinggalan teman. Ketinggalan baju tinggal beli lagi, sekalian beli kado untuk teman yang lupa tanggal ulang tahun dan nama lengkap namun tidak lupa memberi dukungan sehari-sehari 4 sehat 5 sila berbeda-beda namun tetap satu. Sementara, ketinggalan teman harus kembali menjemput atau lurus terus membungkus rasa tega baik-baik agar bisa dibekal dan dihabiskan sedikit-sedikit untuk perjalanan panjang. Kalau tertukar dengan yang disobek atau karetnya dua, mungkin perjalanannya akan butuh air dingin lebih banyak.

Tidak ada yang tahu betul kapan orang berhenti menangis. Ketika penelitian akan dilaksanakan, lalu peneliti memaksa responden untuk menangis, tentu ketika diukur dengan jam yang akurat pun para penangis akan kesal dan berteriak pada sang pengukur detik sehingga penghitungannya jadi bias. Sebut saja rata-rata orang menangis ada dalam rentang 4 hitungan hingga 11 kali lebaran. Dan, penyebabnya juga macam-macam. Dari salah makan sambal yang terlalu pedas. Tidak sempat bikin sambal. Sudah bikin sambal lalu diambil kucing. Sudah bikin sambal lalu hilang diambil kucing bersama kucing-kucingnya juga. Karena sambalnya tidak pedas. Karena tidak punya sambal. Karena sambalnya enak, tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, tapi ternyata sudah habis.

Saya ingin berhenti berputar-putar dalam lagu-lagu lama yang liriknya tidak pernah saya hapal, dalam keinginan menjadi orang terkenal yang sangat sibuk hingga tidak sempat mematikan lampu sebelum tidur, dalam penyesalan yang itu-itu lagi yang membuat menyesal kenapa harus menyesal atas hal yang itu-itu lagi. Konon, dalam tiga kali kelahiran ada satu kematian dan orang-orang juga memusingkan hal yang itu-itu lagi, padahal yang baru lahir dan yang sudah meninggal pun dibungkus kain. Bukan dibungkus sambal.

Namun, hal itu pasti berhenti dan gumpalan empuk yang jalan-jalan serta bekerja itu akan terbiasa.

Saya pergi ke tempat yang sama dua kali dalam rentang waktu satu minggu. Tempatnya jauh. Menepi sebentar ke toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Menanyakan harganya karena memang sudah selalu begitu aturannya.

Ternyata bunga itu jadi mahal.