Archive

keluarga

Kehidupan adalah tentang perubahan. Kematian pada hal yang tidak lebih baik, tepat, atau bugar—terjemahan harfiah dari fit—sepatutnya terjadi demi ketersediaan ruang bagi hal yang lebih baik. Pada konteks Darwin: pemberian ruang bagi individu lebih bugar, agar bisa melanjutkan kode genetik, yang diharapkan lebih ideal.

Kehidupan harus lebih baik. Seperti seorang putra yang hidup lebih baik dari ayahnya. Seperti sebuah kota yang lebih baik ketika satu nyawa hidup di dalamnya. Meninggalkan dunia, jika tidak jadi lebih baik, paling tidak sama dengan ketika kehidupan belum menyentuhnya. 

Lantas, ketika kehidupan telah sampai di puncak. Dalam rentang kebahagiaan dua hari sebelum hari raya dan satu hari sesudah hari raya, perubahan dengan sangat halus, mencari tempat, meringkuk tidak disadari, kerap kali tidak berarti: perubahan enggan diberi tempat.

Dua hari atau lebih sebelum hari raya. Saat kehidupan berputar pada liburan yang entah singkat atau akan panjang, bersiap dari siang, lalu menghabiskan sore dengan mengepak barang. Berangkat untuk perjalanan yang ditunggu sejak awal bulan menjelang.

Keluarga kecil atau besar. Bernostalgia dalam tempat-tempat dan memori berjangkar. Berfoto lalu bercerita setelah sholat ashar. Dalam perjalanan yang melelahkan, yang meski pada satu waktu menyebalkan, adalah harga yang sangat tinggi untuk sebuah kenangan.

Satu hari sebelum hari raya. Saat makanan yang sama, dimasak oleh anggota keluarga yang sama, lalu berbelanja dan berkumpul pada lengangnya jalan kota. Meski tidak serta merta dialami oleh semua dengan serupa, adalah pengulangan yang setia menjadi cerita.

Malam hari setelah bulan sabit tipis. Setipis pembatas antara rasa bahagia dan rasa ingin menangis, ia timbul dan tidak sia-sialah seharian yang habis. Milik nenek dan tante dan bude dan teteh yang mengiris tipis-tipis entah apa komposisi makanan asin pedas untuk hari yang manis.

Di antaranya bergumam dan berbising canda, keponakan, sepupu, dan sebutan lainnya. Di antaranya menguar harum masakan tiga per empat matang. Namun bersamanya, perasaan-perasaan matang menjadi hidangan utama.

Pagi hari raya yang penting, ketika detil tidak lagi perlu diambil pusing. Sebab pakaian, uang warna-warni, dan masakan sudah tersaji di piring. Berjalan bersama orang-orang asing, yang bersalaman meski tidak kenal, adalah penyempurna romantisasi malam tadi yang bising.

Kehidupan pasti berubah.

Sepuluh tahun, lima belas tahun, saat tiba waktunya berkurang sesuatu dari rumah ini, mungkin beliau dengan surat wasiatnya, dan kertas dinding terkelupas pertanda tiba waktu penggantiannya, kita adalah coretan dinding yang membuat rumah ini berharga sebagaimana yang pernah terjadi.”

Di atas sofa lembab yang tidak pernah dibersihkan, tahta sungkeman stereotip keluarga menengah, sebuah tanda perubahan melesak dalam-dalam.

Satu hari sesudah hari raya yang riuh rendah, makanan kemarin yang sudah tidak berkuah, dipanaskan sambil ditambah air, berharap sisa-sisa warna masih bisa menjadi rasa. Hangat, tidak tawar, tidak hambar, hanya seperti rahasia. Menolak hari ini dan sesudahnya. Malu-malu dan enggan menjadi dirinya.

Kehidupan harus berubah.

Demi tempat yang lebih baik bagi hal-hal baik di waktu berikutnya.

Kehidupan harus selalu berubah menjadi lebih baik.

Untuk kali pertama, sebuah perubahan dipertanyakan. Ketika kehidupan belum mau berubah. Ketika kehidupan sudah baik.

Kemanggisan akan berubah.

 

 

SADARkah kamu bahwa kita tidak pernah menyentuh apapun? 

Kita terdiri dari sekian pangkat atom yang bekerja sama, entah dengan kesadaran atau tidak. Atom-atom tersebut menyusun kita semua, termasuk saya, orangtua saya, paman saya yang baik, paman saya satu lagi yang pernah kesetrum radio, pemilik Camry yang mengemudi sambil merokok tadi siang, satpam yang bingung karena setiap hari saya kasih uang parkir beda-beda–kadang 2000, 2500, 3000, 5000, 2800, 7000, 3500, 2200– beserta koin-koin tersebut dengan segenap keluarga kuman di permukaannya, semua terbentuk dari atom.

Sahabat-sahabat atom yang kecilnya sulit dipahami itu memiliki kerabat dalam lingkup kecilnya yang laten; proton, neutron, elektron, deutron, atau apapun itu sebelum seseorang yang belajar fisika mengkritisi saya. Teman-teman atom itu berada pada jarak yang jauh satu sama lain, relatif terhadap ukuran mereka. 

Dari sekian milyar benda yang ada, semua itu terbentuk dari atom yang pada dasarnya adalah kosong. Kosong seperti benar-benar kosong. Tanpa materi atau mungkin antimateri, atau ranah lain yang tidak perlu disebut sebelum Professor Planck bangkit dari kubur.

Ketika saya memeluk ibu saya tadi pagi sebelum berangkat ke Puskesmas, atom-atom kami memberikan perlawanan satu sama lain. Dengan muatan lemah dalam tiap jarak terkecil, menolak atom-atom kami untuk ikut berpelukan. 

Ketika saya bercengkerama dengan dua sahabat saya di hembusan asap Perkedel Bondon untuk ke sekian kalinya, obrolan kami mengosong ke udara seperti perkedel dan uang di kantong kami. Menjadi kosong dan tidak tersentuh lagi. Sama dengan atom yang nihil dan tidak pernah bisa tersentuh.

Saya dan kamu mungkin sebanding dengan jarak antara elektron dan proton. Namun ketika saya dan kamu dibatasi oleh sungai dan jalanan Jasa Marga, proton dan neutron hanya diisi kekosongan.

Saya dan kamu tidak bersentuhan, namun begitu pula ketika bertemu dan bersalaman.

Saya dan kamu sejauh dan sekosong seperti yang sudah terjadi sebelumnya.

When two highly feelings atoms collided, turbulences can occur.

Jika atom tidak membuatmu frustasi, saya tidak tahu apa yang bisa.

Minggu lalu Ompung dari Padang datang. Tidak disangka. Saya hanya pulang dan berharap bertemu orang-orang rumah seperti biasa. Namun terkejut waktu beliau keluar dari toilet rumah. Agak memendek, dan lebih kurus dari waktu terakhir bertemu 6 tahun yang lalu. Langsung saya peluk. Beliau mengajak saya mengobrol di atas. Waktu itu saya sangat mengantuk, pukul 10.30 malam, dan banyak tugas yang belum saya kerjakan dengan deadline besok pagi.

Saya berakhir di lantai, duduk bersila mendengarkan beliau bercerita. Cerita tentang dokter, kedokteran, dan cara menjadi sehat. Tentang anak-anak Ompung, dan pendapat-pendapat saya tentang beberapa hal. Sembari diam-diam menyalakan perekam suara di handphone, saya terus mendengarkan. Ompung beberapa kali lupa bahwa beliau berbicara dengan orang Bandung berdarah setengah Sumatera, Ompung berbicara bahasa Padang.

Saya menyalakan perekam suara di handphone saya, bagaikan mendengarkan seorang artis atau pernyataan pejabat publik. Kenyataannya, kata-kata Ompung itu suatu hari akan jauh lebih berharga.

Sampai jam 12 malam. Tanggung. Toh memang biasa saya kurang tidur dan kembali bangun jam 4.30. Ompung batuk-batuk jam 1 pagi waktu itu. Saya temani minum. Ompung seperti sesak dan kelelahan. Saya lupa berapa umurnya. Jam 5 saya bangunkan Ompung untuk shalat subuh. Beliau kaget karena kesiangan. Saya bilang kalau saya sudah shalat. Padahal belum.  Sudah lama sekali saya tidak shalat subuh. Beliau shalat sendiri sementara saya membereskan barang dan berpakaian, bersiap untuk berangkat lagi ke rumah sakit. Waktu pamit Ompung bilang “sungguh perjuangan”.  Meski yakin, Ompung dulu lebih keras perjuangannya, sekarang memang sudah waktunya bersantai di rumah saudara-saudara. Katanya Ompung pulang hari ini.

Saya berangkat lebih semangat dari biasanya. Sedikit sedih.

Sempat bimbang untuk tidak mengambil tawaran menarik jaga malam hari itu. Akhirnya tetap diambil juga. Ompung tidak jadi pulang hari ini. Saya kembali ke rumah pukul 11 malam. Mengintip kamar yang Ompung tiduri. Ternyata ada anak Ompung yang paling muda. Sudah tidur juga. Bang Seno terlentang. Ompung terlentang. Saya juga terlalu lelah, hanya ingin tidur cepat supaya bisa bangun jam 4 lalu mengobrol di perjalanan ke Masjid.

Agak sedikit kecewa, mungkin karena perjalanan nanti subuh ke Masjid tidak akan hanya berdua, Bang Seno pasti ingin ikut.

Lebih kecewa,karena saya tidak terbangun jam 4 pagi. Begitu pula Ompung dan mungkin Bang Seno.

Saya bersiap, mandi, mengintip ke kamar yang Ompung tiduri lagi. Ompung sedang mengobrol dengan Bang Seno. Saya tidak ingin bertemu dulu sebelum benar-benar akan berangkat. Akhirnya saya pamit, harus berangkat. Saya peluk Ompung erat-erat. Maaf Ompung, rencana saya dalam hati untuk shalat berjamaah di Masjid gagal. Rencana mengobrol di jalan sambil kedinginan subuh-subuh gagal. Gagal untuk kembali jadi anak kecil yang hanya mendengarkan Ompungnya bercerita. Saya peluk Ompung, kalau Ompung ke Bandung lagi, pasti saya ajak jalan-jalan dan makan-makan. Mengobrol di kendaraan. Lupa kemacetan. Cuma ingin kalau nanti Ompung ke Bandung lagi adalah akhir pekan.

Mungkin saya sudah lebih dewasa. Lebih ingin menghargai momen. Lebih ingin memanfaatkan waktu. Lebih butuh banyak wejangan dan sekedar cerita dari orang bijak. Dari pria-pria tua yang kebanyakan sudah pada pergi. Yang dulu saya tidak dengarkan ceritanya.

Saya berangkat kurang semangat dari biasanya.  Banyak sedih.

Hari-hari ini, saya makin terobsesi dengan para orang tua. Mungkin saya telat sadar, bukan mungkin, saya telat sadar, bahwa orang tua saya sangat menyayangi saya tanpa syarat apapun. Bertahun saya sering marah, kecewa pada orang tua saya tanpa alasan yang jelas, 22 tahun, rugi.

Mungkin saya baru tersadar beberapa bulan ini, karena mimpi buruk yang saya alami di April lalu, yang membuat saya berlari ke kamar Ibu dan Ayah sambil menangis. Lalu menelusup sesenggukan di antara mereka yang sedang tidur. Memeluk Ayah keras-keras. “Siapa ini, ade? Kok gede?” Kata Ayah yang bingung karena anaknya yang paling besar sudah tidak pernah lagi menangis saat tidur.

Mungkin karena buku Mitch Albom, For One More Day, yang membuat saya menahan air mata di tiap halamannya. Takut sekali, saya akan menjadi seperti tokoh utama di buku itu. Takut sekali, karena saya sangat sayang dengan Ibu serba bisa ini.

Mungkin.

Saya sedang melewati rotasi di stase anak. Walaupun saya lebih suka menamainya stase anak dan orang tuanya. Untuk setiap anak yang sakit, jika beruntung setidaknya ada 2 orang tua yang muram, dan penunggu pasien lain yang tak jelas siapa.

Ada tentang sakit, tentang ditunggui, tentang ibu muda yang matanya seperti nyaris lepas karena menangis, tentang suara singa yang keluar dari seorang ayah muda.

Jika saya lupa saya pernah belajar apa saja, dan hanya ingat rasa lelahnya jaga malam. Paling tidak, saya mendapatkan hal-hal paling penting, yang membuat saya berpikir kembali ke bertahun lalu.

Saya belajar lagi, bahwa Ibu dan Ayah tidak pernah bohong ketika mereka bilang bahwa mereka sangat menyayangi saya.

“Ga akan sedetik pun lebih sayang sama Istri dibanding sayang sama Ibu.”

Ibu diam, mungkin senyum tapi tidak kelihatan. Mungkin gelisah karena anaknya naif sekali.

Beberapa tahun ke belakang, kadang saya tidak betah jika menghabiskan akhir minggu bersama keluarga. Kadang ingin main saja bersama teman-teman, atau teman spesial, begitulah. Mungkin karena krisis eksistensi dan pergaulan.

Tapi baru beberapa tahun akhir ini, saya benar-benar menunggu akhir minggu, untuk jumat malam sampai minggu malam yang akan dipenuhi cerita-cerita, haha-hihi ga jelas, dan omelan-omelan kecil Ibu Ayah. Jalan-jalan keliling Bandung, yang tempatnya memang ke situ situ lagi. Makan makanan yang itu lagi. Saya tidak peduli. Saya akan terus bersama mereka. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan di Bandung tanpa mereka.

Mereka hidup saya.

Waktu kelas 4 SD, saya pernah duduk sedih dan bermasalah dengan seorang guru, duduk di bangku selasar menghadap lapangan rumput. Saya dihampiri seorang guru, bertanya, kenapa, apakah saya bosan.

Bertahun lewat, kadang saya masih merasakan perasaan waktu itu. Sedih, bosan, seperti ada yang tidak selesai.

Waktu umur 16, saya ingin lebih rajin, pintar, teratur.

Waktu umur 17, saya ingin lebih sopan, ramah, manis.

Waktu umur 18, saya ingin lebih memberi manfaat, diingat, juara.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sampai waktu umur 21. Saya masih merasa ada yang belum selesai. Di tahun-tahun yang lewat, di waktu yang tersia-siakan.

Tapi, sadar bahwa semua orang mengalami krisis ketidakjelasan hidup membuat saya merasa agak lebih baik. Putus asa mencari petunjuk entah dari mana datangnya.

Sampai di Quora, tempat orang asing yang semoga bijak. Paling tidak saya merasa seakan-akan lebih baik.

  1. Dunia ini sangat besar. Titik biru pucat di alam semesta. Kenapa mesti tidak bahagia, kenapa mesti tidak membuat orang lain bahagia. Mengetahui hidup kita pun tidak penting-penting amat. Tidak semua hal mesti punya tujuan. Kalaupun misalnya mati jadi debu dan tak ada kelanjutannya, ya begitulah nasib.
  2. Setiap waktu yang lewat, memang lewat, jangan terlalu terobsesi.
  3. Menjadi baik. Kata-kata yang selalu diucapkan Ibu pada saya. Lebih baik punya anak cacat tolol miskin kurap buruk rupa yang baik tulus hatinya. Daripada segala kebalikan itu tapi miskin manfaat, pelit kebaikan.
  4. dan seterusnya

Bahagia itu dari dalam ya. Pada saat kita dewasa, tidak meraih apa-apa, lalu menyerah pada keadaan. Lalu berusaha bahagia dari kata-kata orang asing di laut seberang. Padahal jati dirinya runtuh. Tapi masih berusaha bahagia, mencari kegiatan yang inginnya melawan rutinitas. Lalu nyangkut lagi nyangkut lagi di jalan yang sama. Lalu tiba-tiba sudah 21 tahun. Tapi masih pura-pura bahagia, karena katanya bahagia dari dalam. Bahagia dari kata-kata dan simpulan yang sudah ditulis sendiri. Lalu jadi bahagia. Bahagia yang justru paling sedih.

Saya cuma ingin orangtua saya bahagia.

Malam tahun baru. Sudah 3 malam tahun baru, saya melaluinya bersama keluarga. Kumpulsasmita, becandaan nama eyang entah darimana, yang mungkin membuat kami selalu berkumpul di momen seperti ini. Kembang api, makanan yang dibakar, gerimis, gitar, dan gelak tawa. Tidak ada yang absen lagi tahun ini.
Dan setiap tahun pula, saya selalu merasa kekurangan. Kurang menghayati tiap momennya, tiap menit yang berharga, yang lalu tiba-tiba jadi tanggal 2. Tiap hari yang berharga pula, yang lalu tiba-tiba sudah malam tahun baru lagi.

“Lo mellow ga”, saya bertanya ke salah satu teman baik saya. Tidak dibalas. Mungkin dia sibuk, mungkin dia sakit. Siapa pula yang butuh saya di malam tahun baru, ketika semua orang menikmati tempatnya masing-masing, dengan kebisingannya masing-masing. Kebisingan kembang api, acara TV spesial, atau hanya riuh suara obrolan.

“Aku butuh temen ngobrol”, saya berkata ke teman baik saya yang lain lagi. “Ya ngobrol lah, Kaf.” Bukan itu, saya mau ngobrol sama kamu, saya kesepian, kesepian di antara keluarga yang sangat saya sayang sedunia.

“Bena sayang bena” lalu berlanjut ke obrolan hangat, tapi sulit koheren. Sinyal disini lemah.

“A udah minorthesis belom, skripsi”, saya bertanya. Selalu ingin ada obrolan hati ke hati, tapi sulit. Sepupuku nomor 1. Kebanggaan para Kumpulsasmita. Kita hanya memandangi api unggun dari puluhan kilo kayu. Sampai sepertiga malam, sampai cuma abu yang abu-abu tertinggal. “Ayo tidur, A”

“Happy new year”, dan banyak variasi lainnya. Terimakasih sudah mendoakan. Kalian mungkin lupa kalau itu adalah doa. Semoga tidak lupa bilang amin.

Terimakasih, saya bahagia awal tahun ini. Mungkin karena doa semua orang, mungkin karena saya bisa bersyukur, mungkin saya sebaiknya tidak menyesali waktu yang terlewat di tahun sebelumnya, mungkin sebaiknya tidak setiap malam tahun baru saya merasa kekurangan. Meskipun janji awal tahun hanya akan lewat. Kita masih bisa menghitung hal kecil. Mandi pertama tahun ini. Baju pertama tahun ini. Makan siang pertama. Lalu tulisan pertama. Lalu kita lupa bahwa ini tahun baru, dan sudah tidak menghitung lagi.

Saya tidak tahu apakah Julius Caesar yang membuat pergantian hari Masehi pada malam hari. Tapi terimakasih. Kembang api lebih indah malam-malam, dan impian lebih optimis pada pagi hari saat kita semua terbangun. Itu jika kita sudah bangun dari tahun lalu. Bangun dari reruntuhan impian yang lagi-lagi lewat. Reruntuhan yang bisa kita tumpuk jadi tinggi, dan membuat kita berdiri di tempat lebih tinggi.