Archive

masa muda

Saya mengemudi pulang dari pusat kota ke perumahan kelas menengah tempat saya tinggal. Jalannya buruk, dua ratus juta rupiah yang mungkin dipakai Pak RW untuk anaknya beli Meikarta atau masuk kuliah. Jalannya sempit, dua ratus tahun peradaban dan kendaraan masih diparkir di pinggir jalan.

Manusia adalah pengemudi yang buruk. Memainkan handphone, mengganti kanal radio, atau bahkan bermain gitar kecil saat menunggu lampu merah berganti hijau. Lalu terlambat sepersekian detik yang menjadi sepersekian menit bagi ratusan pengemudi yang juga buruk di belakangnya. Beginilah sebab-sebab mobil otomatis terkomputerisasi dan angkutan moda massal taktis jadi khayalan yang ditunggu-tunggu untuk dipertengkarkan.

Mengurai kemacetan tidak seperti mengurai rambut kusut yang tinggal digunting jika frustasi, atau juga mainan teka-teki yang dengan mudahnya disumbangkan dengan kedok dermawan jika tidak kunjung selesai padahal karena kesal karena mainan itu gagal memenuhi fungsi utamanya yaitu mengurangi stress. Mengurai kemacetan harus dengan hati-hati yang penuh resiko kunjungan ketok mejik atau jalan-jalan mahal ke instalasi gawat darurat.

Dalam “broken window theory” yang sering sekali Ayah saya utarakan, bahwa ketika ada satu jendela pecah dan dibiarkan, maka jendela yang lain akan lebih rentan untuk pecah karena “toh sudah pecah juga”. Atau pada kasus sampah yang dibuang sembarangan. Awalnya satu kemasan kacang pilus yang tidak enak itu tergeletak, lalu karena kondisi psikologis jendela rusak, makin lama makin lumrahlah tumpukan kemasan kacang pilus. Kadang disertai kemasan teh di dalam gelas yang tidak enak juga rasanya.

Atau dalam cerita ini. Ketika orang-orang menjebakkan dirinya di dalam rantai panjang kendaraan, para pengemudi tidak mau berhenti sekedar mempersilahkan motor bebek lewat atau mobil LCGC menyeberangi mobil kita yang sebenarnya ketika kita maju pun tidak akan ke mana-mana, atau sekedar menunggu beberapa detik ketika berpapasan di jalan sempit agar kita tidak berselisihan dan lalu tersangkut bersama di bagian paling sempit dari jalannya. Dengan prinsip “ah sudah kacau juga”, kami sering maju tanpa otak, tunjang, dan asam padeh. Atau saat saya sempat dengan sekilas berpikir jahat, “seseorang akan membetulkan keramaian ini dan jendela-jendela pecah di dalamnya.” Banyak hal memang harus dialami baru dapat dimengerti. Dan banyak hal baru dipahami setelah ada lecet horizontal memanjang di sebelah kanan kendaraan.

Mobil di depan memberi tanda lampu kanan dan mobil yang di dalamnya berisi saya memberi tanda yang sama. Kami maju dengan pasukan di belakang yang sama-sama egois. Egois ketika salah satu anggota pasukan mengalami henti jantung lalu menabrak trotoar, maka itu adalah tontonan yang menarik bagi kawanan yang tidak tahu teknik resusitasi jantung paru. Beberapa juga bingung di bagian belakang pasukan karena adanya kemacetan, padahal sedang terburu-buru mengejar kelas jam 7 tentang resusitasi jantung paru.

Pengemudi itu maju. Penyiar radio yang bahagia tiap pagi itu berceloteh dan tertawa-tawa karena lampu-lampu sen yang menyala tadi sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Saya mengecilkan suara mereka dan menunggu selama beberapa detik. Puluhan detik. Lalu ratusan detik yang diikuti puluhan nyaring klakson dan ribuan rasa panik.

Saya sedang tidak dikejar apa-apa kecuali kepastian tentang masa depan. Belum cuci muka, apalagi mandi biar terlihat lebih tampan. Mungkin satu dari banyak momen yang mana saya dinilai dari rambut mencuat dan pakaian tidur kumal, bukan dari perbuatan yang dilakukan seseorang di balik pakaian tidur kaos panitia yang terkenal.

Di saat-saat kacau, diam adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan. Saya sering diam. Baiklah tentu tidak sedikotomi itu jika ingin membela diri. Lagi pula, konon kata Ibu, kelembaman itu nyata adanya. Bahwa seseorang bergerak dengan kecepatan tetap hingga ada gaya yang menyebabkannya mengubah kecepatan atau arahnya. Didorong rute ke rumah makan, arah penasaran, kecepatan jatuh cinta, dorongan kebaikan yang murni, dan macam-macam bentuk dopamin yang semoga tidak dinamai munafik.  Apa lagi pada orang-orang yang jauh lebih dewasa, yang secara fisik pun otot-ototnya sudah lebih malas sekaligus sombong karena mengaku sudah lebih banyak jalan-jalan dan banting tulang ayam untuk makan opor sama anak-anaknya di hari lebaran. Kasihan. Jika nanti semua orang pada akhirnya hanya berbicara pada pohon.

Saya turun dari mobil. Menuntun perlahan-lahan para pengemudi dengan kelembaman tinggi yang sangat kasihan karena ditekan rutinitas dan dorongan kebaikan yang murni untuk anak-anak yang sama yang waktu itu makan opor di hari lebaran. Berbeda dengan saya yang turun dari mobil, belum punya rutinitas, anak-anak, uang, opor, hak untuk berkata “saya sudah mandi”, dorongan kebaikan, mobil dengan asuransi, dan sandal kain yang sudah dicuci. Paling tidak saya punya Ibu di rumah pagi itu dan semoga seterusnya, yang bertanya-tanya kenapa pagi ini agak lebih lama pulangnya. Juga punya teman yang semoga tidak akan pernah senewen di kursi sebelah kiri mobil ketika ada situasi seperti ini. Beda lagi ceritanya kalau kita nanti main rumah-rumahan di negara setir kiri dan musim panas sounds good. Kalau begitu ceritanya jadi teman tidak pernah senewen di kursi sebelah kanan mobil.

Belum ada yang turun lagi. Ada pengemudi motor yang marah. Mungkin ia marah karena sedang bermasalah dengan orang-orang penting di hidupnya. Lalu ada pemuda ganteng kalem dengan kacamata yang kalau kena matahari akan berubah jadi coklat. Sama seperti kulitnya jika kebanyakan dijemur akan jadi coklat eksotis kalau kata penggiat lifestyle. Dia hanya tersenyum santai dan berterima kasih namun tidak turun dari mobil gantengnya. Seperti saya dulu yang sudah lega ketika melihat ada orang yang mengatur keruwetan dan kebetulan dikejar oleh batas waktu cap jari pukul 8 pagi. Ada pengemudi mobil tua yang hebat sekali pendingin udaranya belum rusak karena ia menutup rapat-rapat jendelanya. Untung saja mau mundur sedikit membuka jalan karena jika tidak mungkin tangan saya bisa jadi alat pembuat pendingin udara manual menembus sembilan dimensi, selapis kaca film, sekaligus tiga kali pengadilan.

Lalu ada pengemudi panik yang turun lalu masuk lagi ke singgasana jok kulit dan dialuni musik jazz yang tidak tahu judulnya. Lalu ada pengemudi tua yang membantu mengibar-ngibarkan tangan dan semangat 45nya. Lalu ada pria 35 tahun yang mungkin sudah 40 tahun tapi terlihat 47 tahun karena hidupnya serius sekali dan mengetuk pintu warga untuk memindahkan mobil yang diparkir depan jalan. “Bukan mobil saya pak, mungkin rumah depan.” Bukan salah saya juga kalau di siang hari ternyata mobil rumah depan itu jadi mobil dia. Lalu ada saya yang bentuknya sudah diceritakan, watak sombongnya juga sudah kentara, namun hari itu sedang berbaik hati karena diberikan rasa lapang dada dan lapang sintetis dari kenikmatan duniawi yang non-futsal. Lalu ada seorang baik yang turun dari mobilnya. Lalu dua orang baik menambah beberapa orang baik yang sudah turun duluan. Saya tidak baik, hanya orang riya yang punya banyak waktu luang dengan rasa bersalah karena mengkhianati teman.

Jalanan kembali lancar. Saya tidak akan terlambat sampai ke rumah. Mungkin mereka yang marah dan kesal dan tersenyum dan kram betis dan sebagainya ada yang terlambat sampai ke tujuannya.

Tapi semoga kami semua jadi tahu. Bertolak pinggang hanya menghilangkan sedikit pegal.

Advertisements

Mengapa kita merayakan ulang tahun?

Bukanlah sebuah prestasi untuk sekedar terlahir. Untuk hidup dari tahun ke tahun. Untuk keseharian yang tiga ratus enam puluh lima. Tidak sulit pada zaman teknologi dan globalisasi untuk sekedar bertahan hidup. Lain halnya jika kita hidup pada abad pertengahan, di mana harapan hidup tidak sejauh ini, dan untuk bisa menembus usia paruh baya  pun adalah sebuah peraihan spektakuler.

Di dunia yang beracun. Ketika kita tidak terancam oleh peperangan, penyakit dan wabah, lingkungan yang rusak, kejahatan karena kebencian, banjir di stasiun dan rumah sakit, target rasisme, dijatuhkannya pejabat-pejabat yang hebat, motivator yang kehilangan integritas, kekurangan makanan, tornado, kekerasan dalam rumah tangga, dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri. Kita berhasil hidup untuk satu tahun lagi. Bahkan sangat mungkin untuk tahun-tahun berikutnya. Maka, selamat ulang tahun.

Ulang tahun hanyalah satu hari yang sama seperti hari-hari lainnya. Matahari sama panasnya, hujan sama basahnya, dan udara poliklinik sama pekat pesakitannya. Sebuah obligasi untuk menghargai setiap hari sebagai sebuah berkah, dengan rasa syukur, karena setiap menit adalah kebaikan dari yang maha kuasa.

Hidup ini sudah hiruk-pikuk dan padat. Tidak ada salahnya kita menghias perjalanan tidak masuk akal ini dengan kue, hiasan, dan barang-barang yang dibungkus kertas warna-warni. Sangat boleh pula kita menghias rumah yang sudah penuh, berantakan, dan padat isi.  Tentu tidak akan memburuk jika ditempel pita-pita lucu. Toh jika setiap hari adalah sama, tidaklah salah memberi nama pada satu selasa, atau rabu, atau kamis, yang kebetulan beruntung, dan menjadikannya hari bebas marah dan gelisah dari dini hari sampai selimut ditarik ke muka pada pukul 11 malam yang lelah. Maka, selamat ulang tahun.

Hidup ini sementara, dan kita sangat rentan terhadap rasa kehilangan. Kita takut kehilangan rasa nyaman, orang yang disayang, dan dunia. Sehingga kita beranggapan ada kehidupan sesudah kematian, berharap setelah kita meninggal akan bertemu dengan orang-orang yang sudah lebih dulu berada di langit surga sejuk. Bahwa hidup sementara, kefanaannya membuat ini kurang berharga.

Tapi bahkan jika kita hanyalah satu kerlip lampu di bentangan bumi ketika batas antara malam dan siang berputar. Bukankah lampu itu pun sempat menyala dan menjadi lampu yang menjadi tanda eksistensi kita. Menjadi kerlip yang berada dalam kumpulan lampu-lampu lainnya dalam penglihatan astronot yang mengambang-ngambang melamun. Maka, selamat ulang tahun.

Seorang ibu, dan seorang ayah, dan anak, dan bibi, dan paman, dan siapapun itu. Terbingung ketika ditanya kapan ulang tahunnya, kapan lahirnya, hari apa ketika ia pertama kali menjadi seorang ayah atau ibu. Hidup yang penuh durjana, hidup dari tangan ke mulut, dari subuh sampai maghrib, diselingi shalat 5 waktu berharap adanya keadilan dari Gusti yang maha kuasa. Boro-boro mengingat ulang tahun, nama lengkap kamu siapa? Ah anak saya terlalu banyak. Dagangan saya juga banyak, yang tidak laku.

Jika hidup dalam kesendirian dan kesulitan. Menjadi waktu untuk menyortir ulang hal-hal yang diperlukan, sekaligus yang tidak perlu. Merapikan mimpi-mimpi yang terlupakan di bagasi. Mencatat ulang hal-hal yang terlewat dalam daftar belanjaan. Mengingat kebahagiaan yang sedikit, yang pernah terjadi. Bahwa di tanggal ini saya pernah merasa bahagia. Menjadi jangkar atas rasa syukur dari potongan-potongan berkah yang dibagi oleh si Gusti yang maha kuasa.

Ulang tahun adalah sebuah propaganda keburukan dan keduniawian, hidup kita yang sebentar ini sesungguhnya hanya berkurang. Satu tahun menuju kematian yang lebih dekat. Satu tahun menuju ajal dan segala siksaan dua meter di bawah tanah.

Sama seperti sebuah gelas yang setengah kosong dan setengah penuh.  Hidup kita bertambah satu tahun lagi, atau berkurang satu tahun lagi. Bukan itu isunya. Sebuah ulang tahun tidak mesti menjadi pengharapan bagi tahun-tahun yang akan datang. Hal-hal buruk yang sudah dilewati, ujian-ujian berat yang berhasil dialami, dan momen-momen yang sudah ditabung, butuh untuk dipeluk dan diberi apresiasi. Bahwa yang tahun lalu tentu berbeda dengan yang hari ini.

Sibuk. Butuh efektivitas dan kebermanfaatan.

Sibuk. Butuh rasa syukur, perenungan, sedikit kebahagiaan ekstra, keluarga, kebaikan.

 

 

Tulisan miring adalah saya. Tulisan tidak miring adalah saya. Beberapa hari yang lalu saya mendapat notifikasi bahwa blog saya berulang tahun yang keenam. Berdekatan dengan ulang tahun keempat Nostra. Berjeda satu bulan setelah kepelikan ulang tahun Ibu dan Puput di mana saya  merasa saya gagal memberi kebahagiaan dan balasan pada kebaikan mereka. Sulit menjadi orang yang nihilis, optimis, pemalas, sekaligus sentimental di masa penuh ulang tahun. Tepatnya, bukan mengapa, tapi bagaimana. Bagaimana kita merayakan ulang tahun? Saya memilih dengan sederhana. Dengan penuh syukur dan sedikit rasa kenyang.

 

 

Waktu kelas 4 SD, saya pernah duduk sedih dan bermasalah dengan seorang guru, duduk di bangku selasar menghadap lapangan rumput. Saya dihampiri seorang guru, bertanya, kenapa, apakah saya bosan.

Bertahun lewat, kadang saya masih merasakan perasaan waktu itu. Sedih, bosan, seperti ada yang tidak selesai.

Waktu umur 16, saya ingin lebih rajin, pintar, teratur.

Waktu umur 17, saya ingin lebih sopan, ramah, manis.

Waktu umur 18, saya ingin lebih memberi manfaat, diingat, juara.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sampai waktu umur 21. Saya masih merasa ada yang belum selesai. Di tahun-tahun yang lewat, di waktu yang tersia-siakan.

Tapi, sadar bahwa semua orang mengalami krisis ketidakjelasan hidup membuat saya merasa agak lebih baik. Putus asa mencari petunjuk entah dari mana datangnya.

Sampai di Quora, tempat orang asing yang semoga bijak. Paling tidak saya merasa seakan-akan lebih baik.

  1. Dunia ini sangat besar. Titik biru pucat di alam semesta. Kenapa mesti tidak bahagia, kenapa mesti tidak membuat orang lain bahagia. Mengetahui hidup kita pun tidak penting-penting amat. Tidak semua hal mesti punya tujuan. Kalaupun misalnya mati jadi debu dan tak ada kelanjutannya, ya begitulah nasib.
  2. Setiap waktu yang lewat, memang lewat, jangan terlalu terobsesi.
  3. Menjadi baik. Kata-kata yang selalu diucapkan Ibu pada saya. Lebih baik punya anak cacat tolol miskin kurap buruk rupa yang baik tulus hatinya. Daripada segala kebalikan itu tapi miskin manfaat, pelit kebaikan.
  4. dan seterusnya

Bahagia itu dari dalam ya. Pada saat kita dewasa, tidak meraih apa-apa, lalu menyerah pada keadaan. Lalu berusaha bahagia dari kata-kata orang asing di laut seberang. Padahal jati dirinya runtuh. Tapi masih berusaha bahagia, mencari kegiatan yang inginnya melawan rutinitas. Lalu nyangkut lagi nyangkut lagi di jalan yang sama. Lalu tiba-tiba sudah 21 tahun. Tapi masih pura-pura bahagia, karena katanya bahagia dari dalam. Bahagia dari kata-kata dan simpulan yang sudah ditulis sendiri. Lalu jadi bahagia. Bahagia yang justru paling sedih.

Saya cuma ingin orangtua saya bahagia.

Malam tahun baru. Sudah 3 malam tahun baru, saya melaluinya bersama keluarga. Kumpulsasmita, becandaan nama eyang entah darimana, yang mungkin membuat kami selalu berkumpul di momen seperti ini. Kembang api, makanan yang dibakar, gerimis, gitar, dan gelak tawa. Tidak ada yang absen lagi tahun ini.
Dan setiap tahun pula, saya selalu merasa kekurangan. Kurang menghayati tiap momennya, tiap menit yang berharga, yang lalu tiba-tiba jadi tanggal 2. Tiap hari yang berharga pula, yang lalu tiba-tiba sudah malam tahun baru lagi.

“Lo mellow ga”, saya bertanya ke salah satu teman baik saya. Tidak dibalas. Mungkin dia sibuk, mungkin dia sakit. Siapa pula yang butuh saya di malam tahun baru, ketika semua orang menikmati tempatnya masing-masing, dengan kebisingannya masing-masing. Kebisingan kembang api, acara TV spesial, atau hanya riuh suara obrolan.

“Aku butuh temen ngobrol”, saya berkata ke teman baik saya yang lain lagi. “Ya ngobrol lah, Kaf.” Bukan itu, saya mau ngobrol sama kamu, saya kesepian, kesepian di antara keluarga yang sangat saya sayang sedunia.

“Bena sayang bena” lalu berlanjut ke obrolan hangat, tapi sulit koheren. Sinyal disini lemah.

“A udah minorthesis belom, skripsi”, saya bertanya. Selalu ingin ada obrolan hati ke hati, tapi sulit. Sepupuku nomor 1. Kebanggaan para Kumpulsasmita. Kita hanya memandangi api unggun dari puluhan kilo kayu. Sampai sepertiga malam, sampai cuma abu yang abu-abu tertinggal. “Ayo tidur, A”

“Happy new year”, dan banyak variasi lainnya. Terimakasih sudah mendoakan. Kalian mungkin lupa kalau itu adalah doa. Semoga tidak lupa bilang amin.

Terimakasih, saya bahagia awal tahun ini. Mungkin karena doa semua orang, mungkin karena saya bisa bersyukur, mungkin saya sebaiknya tidak menyesali waktu yang terlewat di tahun sebelumnya, mungkin sebaiknya tidak setiap malam tahun baru saya merasa kekurangan. Meskipun janji awal tahun hanya akan lewat. Kita masih bisa menghitung hal kecil. Mandi pertama tahun ini. Baju pertama tahun ini. Makan siang pertama. Lalu tulisan pertama. Lalu kita lupa bahwa ini tahun baru, dan sudah tidak menghitung lagi.

Saya tidak tahu apakah Julius Caesar yang membuat pergantian hari Masehi pada malam hari. Tapi terimakasih. Kembang api lebih indah malam-malam, dan impian lebih optimis pada pagi hari saat kita semua terbangun. Itu jika kita sudah bangun dari tahun lalu. Bangun dari reruntuhan impian yang lagi-lagi lewat. Reruntuhan yang bisa kita tumpuk jadi tinggi, dan membuat kita berdiri di tempat lebih tinggi.

Jatinangor agak lebih dingin dari biasanya siang dan sore hari ini. Sementara saya sendiri ngerasa biasa aja, ga ada yang luar biasa. Ngga lebih dingin dari sebelumnya. Saya ngobrol ringan sama teman saya seperti biasa juga, yang pasti, saya lebih hangat dari udara Jatinangor sekarang. Namanya juga cuaca, ga menentu, hati manusia juga berubah-ubah. Ga ada korelasinya sih, tapi saya pengen cerita.

Rasa ngantuk karena kurang tidur, atau karena tidur semalam kurang berkualitas pasti sering terjadi sama anak muda. Atau ngantuk karena ngantuk aja. Saya udah niat banget untuk tidur sekarang.  Sehabis obrolan-obrolan singkat dan tongkrongan-tongkrongan nikmat. Saya pasanglah lagu-lagu yang saya suka, terdengar juga lagu metal temen saya. Tau sendiri kan, suasana hening yang dipecah sama lagu sayup-sayup. Lalu hujan turun. Tambah dingin aja Jatinangor. Saya putuskan untuk ga jadi tidur sore. Satu temen saya udah melipat diri siap-siap untuk tidur. Saya keluar kamar, ada temen saya tertidur dengan wajah nimpa buku. Ada juga yang tidur di meja seberang, tapi sengaja bawa bantal. Di kamar lain, bergeletakan empat manusia tertidur dengan damai. Betapa ringkihnya mereka, dalam keadaan yang sangat lemah, tidak waspada, dan terlihat tidak cemas. Tapi siapa yang tau isi pikiran mereka, mungkin mereka lagi dimarahin dosen dalam tidurnya.

Sampai kapan saya bisa bersama orang-orang ini? Orang-orang yang sedang tidur sore. Mungkin merekalah temen-temen terdekat saya di sini, dan pas mereka tidur sementara saya terbangun sendiri, saya ngerasa jadi penjaga mereka.  Berlebihan sih, tapi sesekali melihat temenmu lagi tidur dan merenungi mereka dalam-dalam rasanya aneh juga. Ada rasa memiliki, geli, dan kasihan. Kasihan karena muka mereka sama sekali nggak bagus saat tidur. Sama juga seperti saat melihat adik-adik atau keluarga sedang tidur. Ada rasa yang lebih dalam, memang. Rasa sayang yang beda, geli, ingin melindungi, dan kasihan. Kasihan karena mereka punya anak atau kakak yang mengerikan banget suka ngeliatin orang lagi tidur.

Saya ga tau orang yang di gedung sebelah lagi tidur atau apa. Sedang mikirin sesuatu atau belajar. Kalau saya sih detik barusan lagi mikir apakah dia lagi mikirin saya. Tapi gerimis masih turun, ngejaga supaya udara tetap adem. Supaya orang-orang yang lagi tidur ga kepanasan. Ujian yang paling menegangkan tinggal sebentar lagi. Syukuri aja kalo masih bisa tidur nyenyak, masih bisa ketawa-ketawa.  Toh hidup itu memang ujian tiada akhir. Jangan sampai lah kita dibutakan sama ujian. Jangan sampai kita lupa sama keluarga, sama kehidupan, atau sampai ga merhatiin hal yang ga penting kayak temen-temen yang lagi tidur.  Selamat tidur ya. Selagi masih bisa.

Sabtu ini bolos Mabim Agama Islam, terus nonton lagi Petualangan Sherina. Ga kerasa ya waktu berjalan cepat banget. Udah 12 tahun sejak filmnya rilis, 12 tahun sejak pertama kali masuk SD, 12 tahun sejak Cici Khanza lahir. Banyak banget yang udah terjadi selama 12 tahun ini. Bahkan mungkin setiap ingatan dan kesan yang ada di diri saya, 90% lebih dari pengalaman 12 tahun terakhir ini.

Ngeliat suasana Lembang jaman dulu, dan Bosschanya yang megah, jadi pengen main kesana lagi. Sama keluarga atau sahabat-sahabat, atau sama seorang terkasih. Andai hidup semudah itu ya. Liat Sherina kecil, pengen lagi kayak waktu SD, yang diinget sih bahagia banget, tapi emang bahagia kenyataannya juga.

Jaman Petualangan Sherina, ke Bosscha sama Ifa dan Brina. Sekarang mereka apa kabar ya, jadi berjarak banget, padahal kalo akrab kayaknya asik juga. Banyak kenangan. Waktu itu jaman seneng-senengnya sama astronomi juga, dan takut-takutnya sama alien. Ke Bosscha main tapi diajakin nginep ga mau, masih manja sama Ibu Ayah.  Masih sering kumat asthma, pake-pake inhaler, kayak Saddam. Dulu Brina jadi Sherinanya, padahal dia juga kumat melulu asthmanya. Mereka centil, nyanyi-nyanyi lagu Sherina terus.

Dulu nonton Petualangan Sherina di bioskop low-end, terus bioskopnya penuh, asthma saya kambuh jadi aja keluar dulu digendong nangis bengek. Saddam juga di dalam lagi sesak napas. Tapi dia dikecup di kening sama Sherina. Saya dikecup keningnya sama Ibu, biar ga nangis lagi.  Bu, bentar lagi kiamat, ingin dikecup lagi biar horrornya pergi. Ingin pulang ke masa lalu. Tapi kecupan ibu jauh.

“I should be sleeping right now, but I am just so excited with what God’s doing and what He gave for us.  I was laying in bed, trying to sleep, but all I could do was remember my dreams and future plans and struggles and praise God’s eternal grace and love and mercy to humans”

-Muthiya Alfah-

Malam ini saya merasakan situasi yang sama, saudariku. Mimpi kita mungkin berbeda. Tapi sebagai manusia, kita sama-sama punya impian. Seperti kata Ebiet G. Ade, “Mimpi di atas mimpi”.  Saya masih berbaring di kamar asrama. Penjara dunia yang semoga aku tak terperangkap di dalamnya.

“Bucket list udah jadi. Dari yang trivial sampe yang muy importante. Tinggal mulai dicoretin satu-satu”

-Tirta Wening Rachman-

Kita punya impian. Impian-impian manis sederhana, dan juga impian-impian yang bermanfaat bagi orang lain. Impian-impian yang kelak akan menjadi kenyataan satu-persatu. Impian-impian yang akan terus membuat kita bertahan hidup dan membuat hidup kita lebih berarti.

Sudah hampir seminggu sejak kita selesai bikin Bucket List itu, dan saya masih merasa bersemangat. Entahlah perasaan yang lain seperti apa, tapi saya senang. Merasa lebih dekat lagi, lebih bertujuan.

Kepada Abi dan Tito, semoga impian-impian kekanak-kanakan kita tercapai dan kita bisa lebih menghidupi lagi hidup kita. Tidak hanya hidup kita tentunya, tapi juga hidup banyak orang. Tidak sekedar sitkom dan dinamika anak muda yang biasa saja. Karena semangat persaudaraan haruslah dibagi-bagi. Seperti udara yang berpindah-pindah. Dihirup banyak orang, dan memberi kehidupan.