Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Advertisements

Happy Sweet 17, Happy SBMPTN, and Happy Life-Go-Lucky.

Tadinya mau nulis ini tadi malam waktu Cici sedang stress, tapi karena mati listrik, laptop “plugged, charging, but not charging”, dan sakit pinggang sampai ke tangan, jadinya ditulis pagi-pagi. Pasti Cici sedang sibuk waktu tulisan ini ditulis dan selesai dibuat. Dan pasti Cici pasti ga punya kenangan tentang SNMPTN 6 tahun yang lalu. Karena masih kecil dan abang juga ga cerita-cerita banyak. Waktu itu abang berangkat diantar Ayah juga, semoga beberapa hal ga berubah ya kayak gitu, sampai ade SBMPTN juga toh sebentar lagi, dan sampai ade sumpah dokter (siapa tau salah pencet), dan sampai Cici kalau punya anak, anaknya wisuda juga Ayah Ibu datang.

SNMPTN 2012, abang ada perasaan sedikit ingin boker waktu mulai ngerjain soal, dan waktu itu sempat terpikir kalau boker akan banyak makan waktu tersisa, mending dibokerin di celana lalu kerjakan soal lalu balik. Malu boker di celana paling masuk berita detikcom, tapi ga keterima kuliah lebih malu. The stakes were that high, in my mind, you might feel the same. Mana celana abang licin banget, celana bahan entah dari bahan apa itu dibikinnya, di bangku kayu SD yang licin dan harus ngerjain matematika IPA. Rasa sengsaranya abang masih paham. Lalu pulang ketemu temen di angkot yang kata dia sih bisa, lah abang cuma ngerjain tiga, balik ke rumah diperiksa salah dua, nangis sambil nonton unduhan The Killers Live at Royal Albert Hall di atas. Cici baru lulus SD mana tau. Memang ujian seperti ini faktor keberuntungan, dan faktor X, faktor Z, faktori outlet, Richeese faktor kek, dan faktor-faktor lainnya besar banget, ga seharusnya disombongkan kalau cici sudah lulus ya, boleh lah beberapa bulan pertama aja. Abang juga mulai benar-benar konsisten menulis blog sebenarnya dekat SNMPTN 2012. Benar-benar masa di mana abang ditempa secara emosional dan banyak mikir sendirian di angkot, makanya mau nulis lagi setelah zaman SMP. Waktu itu terasa sih, hardship makes you grow, dari membeda-bedakan teman yang serius, teman yang tidak serius, teman yang supportif, dan teman yang cuma goodluck-goodluck doang. Abang mau cerita lagi dan membahayakan martabat (yang ga ada-ada banget juga) dan kebebasan bernegara bahwa pernah berbuat jahat sama pacar SMA karena menurut abang dia membahayakan ujian-ujian abang (Maaf banget, Nishrin). Kalau Iqbal jahat dan ngasih pengaruh buruk sama Cici, tampol aja ci, ada third wave feminists yang selalu suportif. Kalau jahatnya beneran evil bukan sekedar he’s not so nice, ntar abang dan orang-orang rumah akan tampol juga. Ini saran-saran untuk adolescents nanti lagi beda acara. Tapi sesungguhnya terserah cici mau ngapain sama dia, love will find a way, SAPPK will find you anyway, asal jangan mau kalo ditawarin ngerokok dan ena-ena, nanti ada guilt, STD, then I’m an expecting brother. Tapi dari pelajaran-pelajaran abang di saat masa-masa yang rasanya berat itu lah, abang dapat teman-teman seumur hidup yang beberapa ga keterima juga beberapa keterima, tapi masih berteman dan nongkrong. Abang cuma berharap beberapa dari mereka berhenti manggil abang “Dok” aja.

Cici pasti sering dengar, bagaimana sebenarnya SBMPTN dan ujian semacamnya adalah hanya ujian. Hidup adalah ujian yang sebenarnya (tapi tidak ada yang bilang bahwa SBMPTN adalah bagian besar dari hidup, jadi ini bahaya juga bos). Kalau kita lihat di jalan takdir yang bercabang-cabang, atau entahlah mungkin sebenarnya cuma satu jalan panjang tapi dimanipulasi Tuhan jadi rasanya bercabang-cabang, SBMPTN dan ujian-ujian seperti ini memang membelokkan jalan hidup, Ci. Lihat Ayah dan Ibu, ketemu di kampus dan juga ketemu teman-temannya yang banyak itu, lalu pola pikirnya karena berada di iklim aktivis dan akademis kampus yang seperti itu, jadi terbentuk seperti itu, lalu mendidik kita jadi seperti ini, you get the point, butterfly effects and shit. Lalu calon kakak ipar yang baik dan cantik kata cici, tapi gampang sakit kulit, kasihan, dia pula bermasalah dengan SBMPTNnya dulu, tapi memang dibelokkan jalannya biar ketemu abang di Unpad. Sekarang hidup bahagia di UI. Di Unpad dapat pelajaran hidup katanya. Apalagi sekarang dia bikin email layanan masyarakat untuk konsul SBMPTN dan tulisan di Askfm serta Tumblrnya menginspirasi entah berapa orang perihal SBMPTN.

Pasti malah jadi pertanyaan, “jadi ini penting atau ga penting, bang?” Gatau juga, waktu cici lahir abang masih kesel-kesel mau nonton Digimon di Indosiar malah dibawa ke Borromeus, I am too, still figuring out life. Kalau kata ibu bisa jadi ga penting (dengan alasan menaikkan self-esteem cici), atau penting sekali (dengan alasan yang sama, intinya adalah alasannya), abang sendiri sejujurnya tidak tahu sebenarnya ini apa karena hal-hal yang abang udah bilang tadi. Abang juga pernah bilang, di dunia globalisasi (kalau sekarang namanya Industri 4.0 dan IoT yakni Internet of Things, it’s true, look it up everyone’s talking about it, seakan-akan mereka ahlinya) ga seharusnya lagi hal-hal kayak gini jadi polemik, makanya kalau ada anak yang orangtuanya mampu dan semangat masuk swasta seharusnya didukung supaya makin banyak pembukti-pembukti bahwa kuliah di mana sama-sama aja. Akses dan pembukaan wawasan yang lebih mantap kalau kuliah di kampus idaman, tidak serta merta jadi penentu kesuksesan, itu juga tidak ada studi resminya jadi gak seharusnya kita bangga-banggakan dan andalkan sebagai alasan. Kecuali misalnya ITB bikin penelitian resmi bahwa kuliah di ITB lebih mungkin sukses 42% dibanding common people baru lah pantas orang-orang berlomba masuk ke sana. Apalagi kalau misalnya ada publikasi bahwa kuliah di Unpad lebih bahagia 77%, sebaiknya cici masuk sana ci, buat apa sukses tapi gak bahagia. Satu-satunya yang membedakan adalah rasa bangga dari dalam diri sendiri yang jadi headstart serta berkembang terus dan berdampak ke mana-mana. Abang hanya melihat langsung sendiri sih, dari sahabat, orang tua, orang tua sahabat, teman, orang tua teman, pacar, orang tua pacar, tetangga, anak tetangga, dan abang sendiri yang merupakan anak tetangga kalau kata tetangga, bahwa rasa bangga itu ada walau kecil, dan buruknya kadang rasa bangga itu terbawa sampai dewasa dan berlebih-lebihan sampai ke taraf yang tidak perlu. Abang sih untungnya ga ngebangga-banggain kayak gitu, kalau ditanya Go-jek atau orang basa-basi kuliah di mana pernahnya jawab FSRD Maranatha, Teknik Lingkungan ITB, dan Statistika Unpad. Lama-lama malu juga jadi dokter, mau makan harus cuci tangan dulu atau bakal dikata-katain, lah yang mencret kan gua, elu kalau mencret juga ngeLine gua nanya obatnya apa. Intinya rasa kepuasan dan rasa percaya bahwa anda adalah seorang yang bisa menaklukkan ujian dan masuk ke kampus yang katanya bagus dan idaman, dapat membawa positivitas ke masa depan dan berdampak pada hal baik lainnya. Kalau cici, sudah lahir di keluarga yang baik, yang ikatannya kuat, yang bisa dibanggain dan suportif walau threshold marahnya pada rendah-rendah semua kecuali Apong, yang selalu percaya that blood is thicker dan water, and even though it’s amniotic water, blood is still thicker than any water and sweat, keluarga yang bisa makan-makan tiap minggu dan film jelek di bioskop aja kita tonton bareng-bareng, dan kalau mau apapun sebenernya tinggal minta, dari minta pijitin Ibu Ayah sampai minta yang mahalan dikit, seharusnya sudah punya positivitas yang lebih tinggi dan ditempatkan di manapun akan berkembang dan conquering the world. Itu kalau yang cici mau adalah menaklukkan dunia, tapi jangan lah Ci, kayaknya gajinya tidak sesuai dengan beban kerja.

Apapun yang Cici rasakan beberapa bulan terakhir ini, belajar malam-malam di bimbel yang udah abang jemput eh abang marah-marah karena jalanannya macet (padahal bukan salah cici), dan kebahagiaan-kecemasan karena countdown Infinity War adalah juga countdown SBMPTN, yang jelas Cici harus tau apapun yang terjadi setelah usaha-usaha yang berat itu adalah takdir, makanya disuruh berdoa ya Allah berikan aku yang terbaik, dan yang terbaik adalah keterima di SAPPK dan punya kakak dokter internship gabut. Cici pasti baca ini setelah ujian dan merasa dunia jauh lebih terang dan panas, juga secara harfiah karena nanti cici keluar ujian adalah sekitar jam 10 betul tidak. Nanti cici preserve perasaannya ya, write me something, walau nanti pasti dijemput Ayah, dan di rumah makan siang enak lalu bobok saat main hape, ketebak lah, yang penting cerita. Karena penting atau ga penting, keterima atau ga keterima, takdir atau bukan takdir, having and seeing you grow, transcend, and desperately want to make this world a better shithole, is one of the greatest gift given by Ibu, Ayah, and God. Happy very very belated supalate sweet 17 and happy vacation and happy SBMPTN, Ci. We don’t owe each other anything except for that 750rb, but let’s give each other the best shot every time.

Repetisi

Saya menyetir melewati toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Meski pada akhirnya, saya selalu bertanya lagi setiap hendak membeli bunga di sana.

Gejolak sesaat atas kesempatan-mungkin-emas yang mungkin-akan-terjadi,  kembali mengundang rasa haru yang mengesalkan. Penemuan obat diabetes yang penuh kenaifan ditambah dengan kemungkinan ditemukannya jawaban atas pertanyaan yang tidak jelas juga apa yang ditanyakan hanya menambah rasa haru yang mengesalkan tersebut.

Anggap saja waktu itu hari kamis dan gejolak itu akan menemui wadahnya di hari sabtu. Sementara, saya sendiri pura-pura lupa dengan hari. “Saya tidak jumatan kemarin, karena kemarin hari minggu.”

Ketika seseorang hampir menangis, tentu  ada reaksi fisiologis yang patutnya sudah dikenali oleh segala macam manusia. Rasa yang kita kenal sejak kita baru mengenal orang tua, rumah, dan makanan enak atau tidak enak. Hidung yang kembang kempis dan menghembus-hembus. Merah di sudut sini dan sana, juga rasa tertindih di sekitar perut dan dada meskipun sedang berdiri. Tentu jika benar itu ketindihan, maka benda yang menindih akan jatuh lurus ke kaki dan membuat lecet alas kaki. Namun, lega lah dadanya.

Saya berusaha membedah perasaan-perasaan yang katanya tidak satu macam. Lalu berputar-putar dalam lingkaran satu macam. Mungkin itu sebabnya dinamakan pola pikir, bukan tebak-tebakan pikir. Lucu juga tidak.

Ketika tangisan sudah terjadi, biasanya di dada akan terasa ngilu dan nyeri tanggung. Mudah sekali mengeluarkan air mata yang sebelumnya sudah duluan keluar satu tetes. Meski, dosis setiap orang beda-beda, karena air mata lebih mirip dengan benang laba-laba yang memanjang lalu bandel menempel. Jika wajah tegak lurus ke bawah, lalu memfokuskan diri pada tetesan air mata yang terjun bebas ke lantai, mungkin orang yang sedang menangis tersebut akan lupa dengan laranya lalu meneteskan beberapa bulir yang besar, lalu bulir kecil, lalu habis, dan hanya tersisa lengket di mata. Orang tua, rumah, dan makanan enak. Lalu, merasa bodoh lah ia.

Saya akan berangkat. Lalu pulang dengan sehat. Pulang untuk kembali duduk-duduk dan bercerita. Kadang menceritakan orang yang lebih baik, atau lebih kurang baik. Karena cerita orang yang sama baik rasanya kurang menarik. Lebih baik pura-pura kagum dan melontarkan tebak-tebakan yang semoga belum pernah kita dengar sebelumnya.

Di dalam pikiran orang yang sedang lengket matanya, ada banyak sekali reaksi kimia yang membuat bentuk-bentuk orang jadi ajaib. Kadang pikirannya berputar, ke sarapan enak beberapa hari yang lalu, ke pertanyaan berapa tepatnya populasi mobil tangki bensin kiri dan tangki bensin kanan yang harusnya disesuaikan dengan jumlah kiri atau kanan pompa bensin atau bisa dikompensasi dengan selang bensin yang lebih panjang, ke tetesan air mata di lantai berdebu yang tidak tahu siapa yang menyapu, ke cerita-cerita lama yang tiba-tiba ingat.  Lalu lengket lagi.

Saya masih melakukan pekerjaan melamun tadi di tempat yang sama. Mungkin saya pernah berpikir tentang hal yang mirip di dalam baju yang sama. Baju yang ketika pertama dipakai membuat pemakainya merasa ganteng, namun setelah beberapa kali dipakai akan terasa biasa saja. Entah bajunya yang memburuk, atau orangnya yang semakin ganteng hingga baju itu tidak bisa mengejar ketertinggalan. Lebih baik ketinggalan baju dari pada ketinggalan teman. Ketinggalan baju tinggal beli lagi, sekalian beli kado untuk teman yang lupa tanggal ulang tahun dan nama lengkap namun tidak lupa memberi dukungan sehari-sehari 4 sehat 5 sila berbeda-beda namun tetap satu. Sementara, ketinggalan teman harus kembali menjemput atau lurus terus membungkus rasa tega baik-baik agar bisa dibekal dan dihabiskan sedikit-sedikit untuk perjalanan panjang. Kalau tertukar dengan yang disobek atau karetnya dua, mungkin perjalanannya akan butuh air dingin lebih banyak.

Tidak ada yang tahu betul kapan orang berhenti menangis. Ketika penelitian akan dilaksanakan, lalu peneliti memaksa responden untuk menangis, tentu ketika diukur dengan jam yang akurat pun para penangis akan kesal dan berteriak pada sang pengukur detik sehingga penghitungannya jadi bias. Sebut saja rata-rata orang menangis ada dalam rentang 4 hitungan hingga 11 kali lebaran. Dan, penyebabnya juga macam-macam. Dari salah makan sambal yang terlalu pedas. Tidak sempat bikin sambal. Sudah bikin sambal lalu diambil kucing. Sudah bikin sambal lalu hilang diambil kucing bersama kucing-kucingnya juga. Karena sambalnya tidak pedas. Karena tidak punya sambal. Karena sambalnya enak, tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, tapi ternyata sudah habis.

Saya ingin berhenti berputar-putar dalam lagu-lagu lama yang liriknya tidak pernah saya hapal, dalam keinginan menjadi orang terkenal yang sangat sibuk hingga tidak sempat mematikan lampu sebelum tidur, dalam penyesalan yang itu-itu lagi yang membuat menyesal kenapa harus menyesal atas hal yang itu-itu lagi. Konon, dalam tiga kali kelahiran ada satu kematian dan orang-orang juga memusingkan hal yang itu-itu lagi, padahal yang baru lahir dan yang sudah meninggal pun dibungkus kain. Bukan dibungkus sambal.

Namun, hal itu pasti berhenti dan gumpalan empuk yang jalan-jalan serta bekerja itu akan terbiasa.

Saya pergi ke tempat yang sama dua kali dalam rentang waktu satu minggu. Tempatnya jauh. Menepi sebentar ke toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Menanyakan harganya karena memang sudah selalu begitu aturannya.

Ternyata bunga itu jadi mahal.

 

Bertolak Pinggang

Saya mengemudi pulang dari pusat kota ke perumahan kelas menengah tempat saya tinggal. Jalannya buruk, dua ratus juta rupiah yang mungkin dipakai Pak RW untuk anaknya beli Meikarta atau masuk kuliah. Jalannya sempit, dua ratus tahun peradaban dan kendaraan masih diparkir di pinggir jalan.

Manusia adalah pengemudi yang buruk. Memainkan handphone, mengganti kanal radio, atau bahkan bermain gitar kecil saat menunggu lampu merah berganti hijau. Lalu terlambat sepersekian detik yang menjadi sepersekian menit bagi ratusan pengemudi yang juga buruk di belakangnya. Beginilah sebab-sebab mobil otomatis terkomputerisasi dan angkutan moda massal taktis jadi khayalan yang ditunggu-tunggu untuk dipertengkarkan.

Mengurai kemacetan tidak seperti mengurai rambut kusut yang tinggal digunting jika frustasi, atau juga mainan teka-teki yang dengan mudahnya disumbangkan dengan kedok dermawan jika tidak kunjung selesai padahal karena kesal karena mainan itu gagal memenuhi fungsi utamanya yaitu mengurangi stress. Mengurai kemacetan harus dengan hati-hati yang penuh resiko kunjungan ketok mejik atau jalan-jalan mahal ke instalasi gawat darurat.

Dalam “broken window theory” yang sering sekali Ayah saya utarakan, bahwa ketika ada satu jendela pecah dan dibiarkan, maka jendela yang lain akan lebih rentan untuk pecah karena “toh sudah pecah juga”. Atau pada kasus sampah yang dibuang sembarangan. Awalnya satu kemasan kacang pilus yang tidak enak itu tergeletak, lalu karena kondisi psikologis jendela rusak, makin lama makin lumrahlah tumpukan kemasan kacang pilus. Kadang disertai kemasan teh di dalam gelas yang tidak enak juga rasanya.

Atau dalam cerita ini. Ketika orang-orang menjebakkan dirinya di dalam rantai panjang kendaraan, para pengemudi tidak mau berhenti sekedar mempersilahkan motor bebek lewat atau mobil LCGC menyeberangi mobil kita yang sebenarnya ketika kita maju pun tidak akan ke mana-mana, atau sekedar menunggu beberapa detik ketika berpapasan di jalan sempit agar kita tidak berselisihan dan lalu tersangkut bersama di bagian paling sempit dari jalannya. Dengan prinsip “ah sudah kacau juga”, kami sering maju tanpa otak, tunjang, dan asam padeh. Atau saat saya sempat dengan sekilas berpikir jahat, “seseorang akan membetulkan keramaian ini dan jendela-jendela pecah di dalamnya.” Banyak hal memang harus dialami baru dapat dimengerti. Dan banyak hal baru dipahami setelah ada lecet horizontal memanjang di sebelah kanan kendaraan.

Mobil di depan memberi tanda lampu kanan dan mobil yang di dalamnya berisi saya memberi tanda yang sama. Kami maju dengan pasukan di belakang yang sama-sama egois. Egois ketika salah satu anggota pasukan mengalami henti jantung lalu menabrak trotoar, maka itu adalah tontonan yang menarik bagi kawanan yang tidak tahu teknik resusitasi jantung paru. Beberapa juga bingung di bagian belakang pasukan karena adanya kemacetan, padahal sedang terburu-buru mengejar kelas jam 7 tentang resusitasi jantung paru.

Pengemudi itu maju. Penyiar radio yang bahagia tiap pagi itu berceloteh dan tertawa-tawa karena lampu-lampu sen yang menyala tadi sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Saya mengecilkan suara mereka dan menunggu selama beberapa detik. Puluhan detik. Lalu ratusan detik yang diikuti puluhan nyaring klakson dan ribuan rasa panik.

Saya sedang tidak dikejar apa-apa kecuali kepastian tentang masa depan. Belum cuci muka, apalagi mandi biar terlihat lebih tampan. Mungkin satu dari banyak momen yang mana saya dinilai dari rambut mencuat dan pakaian tidur kumal, bukan dari perbuatan yang dilakukan seseorang di balik pakaian tidur kaos panitia yang terkenal.

Di saat-saat kacau, diam adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan. Saya sering diam. Baiklah tentu tidak sedikotomi itu jika ingin membela diri. Lagi pula, konon kata Ibu, kelembaman itu nyata adanya. Bahwa seseorang bergerak dengan kecepatan tetap hingga ada gaya yang menyebabkannya mengubah kecepatan atau arahnya. Didorong rute ke rumah makan, arah penasaran, kecepatan jatuh cinta, dorongan kebaikan yang murni, dan macam-macam bentuk dopamin yang semoga tidak dinamai munafik.  Apa lagi pada orang-orang yang jauh lebih dewasa, yang secara fisik pun otot-ototnya sudah lebih malas sekaligus sombong karena mengaku sudah lebih banyak jalan-jalan dan banting tulang ayam untuk makan opor sama anak-anaknya di hari lebaran. Kasihan. Jika nanti semua orang pada akhirnya hanya berbicara pada pohon.

Saya turun dari mobil. Menuntun perlahan-lahan para pengemudi dengan kelembaman tinggi yang sangat kasihan karena ditekan rutinitas dan dorongan kebaikan yang murni untuk anak-anak yang sama yang waktu itu makan opor di hari lebaran. Berbeda dengan saya yang turun dari mobil, belum punya rutinitas, anak-anak, uang, opor, hak untuk berkata “saya sudah mandi”, dorongan kebaikan, mobil dengan asuransi, dan sandal kain yang sudah dicuci. Paling tidak saya punya Ibu di rumah pagi itu dan semoga seterusnya, yang bertanya-tanya kenapa pagi ini agak lebih lama pulangnya. Juga punya teman yang semoga tidak akan pernah senewen di kursi sebelah kiri mobil ketika ada situasi seperti ini. Beda lagi ceritanya kalau kita nanti main rumah-rumahan di negara setir kiri dan musim panas sounds good. Kalau begitu ceritanya jadi teman tidak pernah senewen di kursi sebelah kanan mobil.

Belum ada yang turun lagi. Ada pengemudi motor yang marah. Mungkin ia marah karena sedang bermasalah dengan orang-orang penting di hidupnya. Lalu ada pemuda ganteng kalem dengan kacamata yang kalau kena matahari akan berubah jadi coklat. Sama seperti kulitnya jika kebanyakan dijemur akan jadi coklat eksotis kalau kata penggiat lifestyle. Dia hanya tersenyum santai dan berterima kasih namun tidak turun dari mobil gantengnya. Seperti saya dulu yang sudah lega ketika melihat ada orang yang mengatur keruwetan dan kebetulan dikejar oleh batas waktu cap jari pukul 8 pagi. Ada pengemudi mobil tua yang hebat sekali pendingin udaranya belum rusak karena ia menutup rapat-rapat jendelanya. Untung saja mau mundur sedikit membuka jalan karena jika tidak mungkin tangan saya bisa jadi alat pembuat pendingin udara manual menembus sembilan dimensi, selapis kaca film, sekaligus tiga kali pengadilan.

Lalu ada pengemudi panik yang turun lalu masuk lagi ke singgasana jok kulit dan dialuni musik jazz yang tidak tahu judulnya. Lalu ada pengemudi tua yang membantu mengibar-ngibarkan tangan dan semangat 45nya. Lalu ada pria 35 tahun yang mungkin sudah 40 tahun tapi terlihat 47 tahun karena hidupnya serius sekali dan mengetuk pintu warga untuk memindahkan mobil yang diparkir depan jalan. “Bukan mobil saya pak, mungkin rumah depan.” Bukan salah saya juga kalau di siang hari ternyata mobil rumah depan itu jadi mobil dia. Lalu ada saya yang bentuknya sudah diceritakan, watak sombongnya juga sudah kentara, namun hari itu sedang berbaik hati karena diberikan rasa lapang dada dan lapang sintetis dari kenikmatan duniawi yang non-futsal. Lalu ada seorang baik yang turun dari mobilnya. Lalu dua orang baik menambah beberapa orang baik yang sudah turun duluan. Saya tidak baik, hanya orang riya yang punya banyak waktu luang dengan rasa bersalah karena mengkhianati teman.

Jalanan kembali lancar. Saya tidak akan terlambat sampai ke rumah. Mungkin mereka yang marah dan kesal dan tersenyum dan kram betis dan sebagainya ada yang terlambat sampai ke tujuannya.

Tapi semoga kami semua jadi tahu. Bertolak pinggang hanya menghilangkan sedikit pegal.

Kerlip Kecil

Mengapa kita merayakan ulang tahun?

Bukanlah sebuah prestasi untuk sekedar terlahir. Untuk hidup dari tahun ke tahun. Untuk keseharian yang tiga ratus enam puluh lima. Tidak sulit pada zaman teknologi dan globalisasi untuk sekedar bertahan hidup. Lain halnya jika kita hidup pada abad pertengahan, di mana harapan hidup tidak sejauh ini, dan untuk bisa menembus usia paruh baya  pun adalah sebuah peraihan spektakuler.

Di dunia yang beracun. Ketika kita tidak terancam oleh peperangan, penyakit dan wabah, lingkungan yang rusak, kejahatan karena kebencian, banjir di stasiun dan rumah sakit, target rasisme, dijatuhkannya pejabat-pejabat yang hebat, motivator yang kehilangan integritas, kekurangan makanan, tornado, kekerasan dalam rumah tangga, dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri. Kita berhasil hidup untuk satu tahun lagi. Bahkan sangat mungkin untuk tahun-tahun berikutnya. Maka, selamat ulang tahun.

Ulang tahun hanyalah satu hari yang sama seperti hari-hari lainnya. Matahari sama panasnya, hujan sama basahnya, dan udara poliklinik sama pekat pesakitannya. Sebuah obligasi untuk menghargai setiap hari sebagai sebuah berkah, dengan rasa syukur, karena setiap menit adalah kebaikan dari yang maha kuasa.

Hidup ini sudah hiruk-pikuk dan padat. Tidak ada salahnya kita menghias perjalanan tidak masuk akal ini dengan kue, hiasan, dan barang-barang yang dibungkus kertas warna-warni. Sangat boleh pula kita menghias rumah yang sudah penuh, berantakan, dan padat isi.  Tentu tidak akan memburuk jika ditempel pita-pita lucu. Toh jika setiap hari adalah sama, tidaklah salah memberi nama pada satu selasa, atau rabu, atau kamis, yang kebetulan beruntung, dan menjadikannya hari bebas marah dan gelisah dari dini hari sampai selimut ditarik ke muka pada pukul 11 malam yang lelah. Maka, selamat ulang tahun.

Hidup ini sementara, dan kita sangat rentan terhadap rasa kehilangan. Kita takut kehilangan rasa nyaman, orang yang disayang, dan dunia. Sehingga kita beranggapan ada kehidupan sesudah kematian, berharap setelah kita meninggal akan bertemu dengan orang-orang yang sudah lebih dulu berada di langit surga sejuk. Bahwa hidup sementara, kefanaannya membuat ini kurang berharga.

Tapi bahkan jika kita hanyalah satu kerlip lampu di bentangan bumi ketika batas antara malam dan siang berputar. Bukankah lampu itu pun sempat menyala dan menjadi lampu yang menjadi tanda eksistensi kita. Menjadi kerlip yang berada dalam kumpulan lampu-lampu lainnya dalam penglihatan astronot yang mengambang-ngambang melamun. Maka, selamat ulang tahun.

Seorang ibu, dan seorang ayah, dan anak, dan bibi, dan paman, dan siapapun itu. Terbingung ketika ditanya kapan ulang tahunnya, kapan lahirnya, hari apa ketika ia pertama kali menjadi seorang ayah atau ibu. Hidup yang penuh durjana, hidup dari tangan ke mulut, dari subuh sampai maghrib, diselingi shalat 5 waktu berharap adanya keadilan dari Gusti yang maha kuasa. Boro-boro mengingat ulang tahun, nama lengkap kamu siapa? Ah anak saya terlalu banyak. Dagangan saya juga banyak, yang tidak laku.

Jika hidup dalam kesendirian dan kesulitan. Menjadi waktu untuk menyortir ulang hal-hal yang diperlukan, sekaligus yang tidak perlu. Merapikan mimpi-mimpi yang terlupakan di bagasi. Mencatat ulang hal-hal yang terlewat dalam daftar belanjaan. Mengingat kebahagiaan yang sedikit, yang pernah terjadi. Bahwa di tanggal ini saya pernah merasa bahagia. Menjadi jangkar atas rasa syukur dari potongan-potongan berkah yang dibagi oleh si Gusti yang maha kuasa.

Ulang tahun adalah sebuah propaganda keburukan dan keduniawian, hidup kita yang sebentar ini sesungguhnya hanya berkurang. Satu tahun menuju kematian yang lebih dekat. Satu tahun menuju ajal dan segala siksaan dua meter di bawah tanah.

Sama seperti sebuah gelas yang setengah kosong dan setengah penuh.  Hidup kita bertambah satu tahun lagi, atau berkurang satu tahun lagi. Bukan itu isunya. Sebuah ulang tahun tidak mesti menjadi pengharapan bagi tahun-tahun yang akan datang. Hal-hal buruk yang sudah dilewati, ujian-ujian berat yang berhasil dialami, dan momen-momen yang sudah ditabung, butuh untuk dipeluk dan diberi apresiasi. Bahwa yang tahun lalu tentu berbeda dengan yang hari ini.

Sibuk. Butuh efektivitas dan kebermanfaatan.

Sibuk. Butuh rasa syukur, perenungan, sedikit kebahagiaan ekstra, keluarga, kebaikan.

 

 

Tulisan miring adalah saya. Tulisan tidak miring adalah saya. Beberapa hari yang lalu saya mendapat notifikasi bahwa blog saya berulang tahun yang keenam. Berdekatan dengan ulang tahun keempat Nostra. Berjeda satu bulan setelah kepelikan ulang tahun Ibu dan Puput di mana saya  merasa saya gagal memberi kebahagiaan dan balasan pada kebaikan mereka. Sulit menjadi orang yang nihilis, optimis, pemalas, sekaligus sentimental di masa penuh ulang tahun. Tepatnya, bukan mengapa, tapi bagaimana. Bagaimana kita merayakan ulang tahun? Saya memilih dengan sederhana. Dengan penuh syukur dan sedikit rasa kenyang.

 

 

Nihilis

Waktu kelas 4 SD, saya pernah duduk sedih dan bermasalah dengan seorang guru, duduk di bangku selasar menghadap lapangan rumput. Saya dihampiri seorang guru, bertanya, kenapa, apakah saya bosan.

Bertahun lewat, kadang saya masih merasakan perasaan waktu itu. Sedih, bosan, seperti ada yang tidak selesai.

Waktu umur 16, saya ingin lebih rajin, pintar, teratur.

Waktu umur 17, saya ingin lebih sopan, ramah, manis.

Waktu umur 18, saya ingin lebih memberi manfaat, diingat, juara.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sampai waktu umur 21. Saya masih merasa ada yang belum selesai. Di tahun-tahun yang lewat, di waktu yang tersia-siakan.

Tapi, sadar bahwa semua orang mengalami krisis ketidakjelasan hidup membuat saya merasa agak lebih baik. Putus asa mencari petunjuk entah dari mana datangnya.

Sampai di Quora, tempat orang asing yang semoga bijak. Paling tidak saya merasa seakan-akan lebih baik.

  1. Dunia ini sangat besar. Titik biru pucat di alam semesta. Kenapa mesti tidak bahagia, kenapa mesti tidak membuat orang lain bahagia. Mengetahui hidup kita pun tidak penting-penting amat. Tidak semua hal mesti punya tujuan. Kalaupun misalnya mati jadi debu dan tak ada kelanjutannya, ya begitulah nasib.
  2. Setiap waktu yang lewat, memang lewat, jangan terlalu terobsesi.
  3. Menjadi baik. Kata-kata yang selalu diucapkan Ibu pada saya. Lebih baik punya anak cacat tolol miskin kurap buruk rupa yang baik tulus hatinya. Daripada segala kebalikan itu tapi miskin manfaat, pelit kebaikan.
  4. dan seterusnya

Bahagia itu dari dalam ya. Pada saat kita dewasa, tidak meraih apa-apa, lalu menyerah pada keadaan. Lalu berusaha bahagia dari kata-kata orang asing di laut seberang. Padahal jati dirinya runtuh. Tapi masih berusaha bahagia, mencari kegiatan yang inginnya melawan rutinitas. Lalu nyangkut lagi nyangkut lagi di jalan yang sama. Lalu tiba-tiba sudah 21 tahun. Tapi masih pura-pura bahagia, karena katanya bahagia dari dalam. Bahagia dari kata-kata dan simpulan yang sudah ditulis sendiri. Lalu jadi bahagia. Bahagia yang justru paling sedih.

Saya cuma ingin orangtua saya bahagia.

Reruntuhan

Malam tahun baru. Sudah 3 malam tahun baru, saya melaluinya bersama keluarga. Kumpulsasmita, becandaan nama eyang entah darimana, yang mungkin membuat kami selalu berkumpul di momen seperti ini. Kembang api, makanan yang dibakar, gerimis, gitar, dan gelak tawa. Tidak ada yang absen lagi tahun ini.
Dan setiap tahun pula, saya selalu merasa kekurangan. Kurang menghayati tiap momennya, tiap menit yang berharga, yang lalu tiba-tiba jadi tanggal 2. Tiap hari yang berharga pula, yang lalu tiba-tiba sudah malam tahun baru lagi.

“Lo mellow ga”, saya bertanya ke salah satu teman baik saya. Tidak dibalas. Mungkin dia sibuk, mungkin dia sakit. Siapa pula yang butuh saya di malam tahun baru, ketika semua orang menikmati tempatnya masing-masing, dengan kebisingannya masing-masing. Kebisingan kembang api, acara TV spesial, atau hanya riuh suara obrolan.

“Aku butuh temen ngobrol”, saya berkata ke teman baik saya yang lain lagi. “Ya ngobrol lah, Kaf.” Bukan itu, saya mau ngobrol sama kamu, saya kesepian, kesepian di antara keluarga yang sangat saya sayang sedunia.

“Bena sayang bena” lalu berlanjut ke obrolan hangat, tapi sulit koheren. Sinyal disini lemah.

“A udah minorthesis belom, skripsi”, saya bertanya. Selalu ingin ada obrolan hati ke hati, tapi sulit. Sepupuku nomor 1. Kebanggaan para Kumpulsasmita. Kita hanya memandangi api unggun dari puluhan kilo kayu. Sampai sepertiga malam, sampai cuma abu yang abu-abu tertinggal. “Ayo tidur, A”

“Happy new year”, dan banyak variasi lainnya. Terimakasih sudah mendoakan. Kalian mungkin lupa kalau itu adalah doa. Semoga tidak lupa bilang amin.

Terimakasih, saya bahagia awal tahun ini. Mungkin karena doa semua orang, mungkin karena saya bisa bersyukur, mungkin saya sebaiknya tidak menyesali waktu yang terlewat di tahun sebelumnya, mungkin sebaiknya tidak setiap malam tahun baru saya merasa kekurangan. Meskipun janji awal tahun hanya akan lewat. Kita masih bisa menghitung hal kecil. Mandi pertama tahun ini. Baju pertama tahun ini. Makan siang pertama. Lalu tulisan pertama. Lalu kita lupa bahwa ini tahun baru, dan sudah tidak menghitung lagi.

Saya tidak tahu apakah Julius Caesar yang membuat pergantian hari Masehi pada malam hari. Tapi terimakasih. Kembang api lebih indah malam-malam, dan impian lebih optimis pada pagi hari saat kita semua terbangun. Itu jika kita sudah bangun dari tahun lalu. Bangun dari reruntuhan impian yang lagi-lagi lewat. Reruntuhan yang bisa kita tumpuk jadi tinggi, dan membuat kita berdiri di tempat lebih tinggi.