Figur dan Fasad

Jika premis “selebriti lebih pesolek dari fotonya”, atau, “lebih menawan ketika dilihat langsung” adalah benar, maka premis “seorang pemimpin politik nampak lebih kharismatik ketika bertemu langsung” adalah kebisajadian untuk jadi benar. Tentu definisi selebriti di sini semisal pelaku seni olah suara, seni musik, seni akting. Namun tidak termasuk seni lukis dan seni pahat karena tidak tahu siapa yang cukup pesolek. Bapak Sapardi pun bisa disangka Bapa Joko Pinurbo, pernah jadi seniman tulis menulis yang tampan pada umumnya, suka yang cantik pada umurnya, makan siang di kantin kampus bergengsi, sedikit ganteng namun sakit perut kronis, siapa yang tahu. Pesona yang dilihat di dunia nyata sepatutnya bertambah. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa ada orang yang jelek di Instagram namun lebih pesolek di dunia nyata. Atau jelek di dunia nyata dan di Instagram hanya diikuti 89 orang. Mungkin memang absolut kurang disukai teman-temannya secara rupa. Atau captionnya tidak konsisten dengan perbuatannya. Kadang captionnya lucu tapi orangnya bikin meringis. Bisa jadi pula captionnya bawa-bawa ayat suci non fiksi tapi suka colak-colek wanita di stasiun.

Saya sendiri menyukai premis “orang tua terlihat sempurna di atas kertas dan di mata anak orang lain yang tidak bersyukur” atau “orang tua baru disadari semua kelebihan dan kehebatannya ketika sudah tidak ada dan anaknya bergumam dalam hati “apa yang orang tua saya bilang ternyata benar””. Walau pun premisnya saya buat sendiri dan saya tidak suka menggunakan kata “meninggal” sejak masih kecil, tidak menapiskan bahwa premis tersebut bisa jadi benar. Mengomentari dengan prasangka gelas “Greatest Dad in The World” atau “The World’s Best Mom” dapat berarti beberapa hal. Yaitu berarti kita menyangsikan bisnis legal gelas cantik yang menyebar energi positif. Dapat berarti kita tidak percaya bahwa orang tua kita adalah yang terbaik di dunia. Dapat pula berarti kita sudah mengubur dalam-dalam kenaifan yang mestinya disiram baik-baik dan dipupuki oleh rasa penasaran dan kebaikan agar terus berkembang. Atau bisa juga berarti saya adalah orang yang klise dan tersinggung dengan keberadaan gelas. Gelas yang mudah pecah karena pertengkaran di rumah atau hilang ketika pindah rumah.

Otak manusia memilih-memilih memori. Yang buruk-buruk diingat sampai lama, tapi begitu pula yang indah-indah. Yang penting-penting sering lupa ketika dibutuhkan. Ingatan baik makin sering diceritakan, makin bergeser ceritanya. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan jadi kebenaran. Kebohongan yang disompral-sompralkan, lama kelamaan jadi kebeneran. Kebeneran terjadi lalu menyesal. Seperti ucapan orang tua pada umumnya yang bilang “tidak tahu diuntung”. Mungkin kalimat itu berasal dari sinetron lalu terukir di otak para orang tua lalu viral ke generasi berikutnya. Atau karena memang sering diucapkan orang tua, lalu menginspirasi penulis naskah sinetron karena mereka tidak punya lagi referensi yang keren selain ucapan masa kecil dari orang tua mereka.

Kitab suci dijual di rak kitab suci karena kalau dipajang di rak buku-buku fiksi akan menyebabkan si pengusaha toko buku diarak sampai kelurahan. Kalau beruntung bisa sekalian ditemani kasirnya. Tapi kalau diletakkan di rak buku non-fiksi bisa dianggap mengerdilkan keberadaan satu sama lain. Kalau buku Tan Malaka dijual bersebelahan dengan biografi Nikolas Tesla, selain tidak terlalu nyambung, sepertinya mereka juga tidak keberatan. Kecuali ketika dipajang bersebelahan dengan buku “Tan Malaka Sang Nabi Palsu Meninggal di Tempat Pembacaan Proklamasi Karena Batuk Menahun” atau “Tesla dan Edison: Kisah Asmara Rahasia Abad 18”. Selain informasinya serba salah—dalam artian semua informasinya salah—tapi juga penuh fitnah dan niscaya memiliki kemungkinan laku di pasaran. Harga berhala lagi murah.

Teman baik saya pernah bilang bahwa tidak mau terlalu kenal dalam dengan saya, karena takut akan menghancurkan ilusi atas diri saya yang menurutnya cukup bagus. Membaca buku adalah menjalani sedikit perjalanan hidup seseorang sekaligus meninggali sepenggal ruangan di otak sang penulis. Tapi ruangannya adalah ruangan yang memang dibersihkan dan dihias untuk kemudian disewakan di Airyrooms atau Traveloka. Bukan kamar penuh privasi yang istri sendiri pun enggan tinggal karena bau bujangan. Pasti tidak sedikit penulis yang bermasalah rumah tangganya. Karena angka perceraian di Amerika kira-kira sampai 50%. Menjalani perkawinan hampir sama seperti berjudi koin. Kalau beruntung bisa saja koinnya jatuh dalam kondisi berdiri. Atau ketika koin dihempaskan ke udara, tiba-tiba sangkakala akhir zaman ditiup tepat saat koin menyentuh tanah. Anggap ada 20.000 penulis yang berkeluarga. Maka ada 10.000 penulis yang rumah tangganya pecah dan satu tukang blog yang harus belajar lagi mengenai statistik dasar, analisa data, dan analogi. Dan jumlah itu terlalu banyak.

Maka dari itu kisah sukses dipenuhi dengan banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tentu dalam dosis yang tepat. Membaca setiap kata di dalam buku lalu mengulang-ngulang setiap caturwulan, ditambah berbaring seharian dan tidak sempat mengobrol sama teman-teman, apalagi jalan-jalan pakai transportasi publik. Kelakuan seperti itu hanya akan meningkatkan risiko terkena borok di punggung yang sulit sembuh. Menonton film seri hingga beratus-ratus episode akan membuat kita merasa seperti telah kenal dengan sang pemeran utama selama bertahun-tahun. Padahal bagi para aktor, film seri itu hanya pekerjaan yang menghabiskan tidak sampai 10% waktu hidupnya. Kegiatan menulis, meski menghabiskan waktu bisa lebih dari 10% waktu hidup penulisnya, tetap bisa membuat kita merasa mengenalnya sejak lama, dan tetap tidak valid jika kita merasa sok kenal. Bukunya dibawa ke mana-mana, diajak makan, ngobrol, dan diceritakan ke orang-orang. Namun sesungguhnya tidak baik juga menilai seseorang dari tulisannya. Apalagi tulisannya di sosial media. Karena sangat mungkin bahwa Tere Liye adalah orang yang menyenangkan.

Saya sendiri belum pernah membelikan gelas-gelas cantik bagi orang tua saya yang dipersepsikan seperti selebriti bagi beberapa orang lain. Termasuk saya. Sepasang selebriti sekaligus pahlawan super dan pemimpin yang plot krisis kehidupan pribadi dan bagian ngobrolnya agak banyak. Karena itu lah saya masih bisa hidup tenang leha-leha karena percaya orang tua saya bisa melakukan apa saja bahkan mengeluarkan saya dari penjara jika terlibat huru-hara lalu lintas. Meski mereka belum juga menulis buku yang sudah diwacanakan sejak lama, ada seorang tua yang menulis buku non-fiksi dan tidak dipajang berbarengan dengan kitab suci. Bahkan mungkin tidak dijual di toko buku Indonesia.

Beliau menulis buku yang akhir-akhir ini sering sekali saya sebut, hingga hampir seperti kitab suci, padahal isinya saja tidak hapal dan tidak paham sepenuhnya. Saya memang tidak membaca sebanyak itu buku, sedikit di atas rata-rata kalau angka rata-rata orang sekitar saya adalah membaca 3 buku per tahun di luar buku pelajaran. Saya cukup yakin angkanya di bawah itu karena toko buku sepertinya tetap sintas karena jualan beragam pensil dan alat musik. Agak malu juga, karena menyebut hal yang sama berulang kali adalah tanda kekurangan. Seperti hanya satu kali piknik tapi diacu berulang kali. Baru nonton dua kali di bioskop dan filmnya diceritakan beberapa kali. Baca buku karena memang hanya 6 buku per tahun, jadi diacu berkali-kali. Paling tidak dua kali di atas rata-rata dan paling tidak beliau ini adalah 50% dari penulis yang rumah tangganya tidak pecah. Ternyata, selain saya krisis berhala, saya juga agak krisis membaca.

Hans Rosling menulis buku yang sebegitu menggugahnya hingga memori saya atas buku tersebut berputar-putar dan terdistorsi menjadi ilmu yang bisa jadi bahkan tidak tertulis di dalamnya. Saya menonton kuliahnya dan presentasinya tentang dunia ini yang secara langsung dan tidak langsung membuat saya lebih bahagia dan mau membuat perubahan dalam tujuan hidup. Tidak sampai satu minggu setelah saya memulai membaca buku paling baru beliau dan menonton beberapa tayangannya, saya mengetahui bahwa beliau sudah meninggal tahun lalu. Beberapa sesi menonton video berikutnya saya lalui dengan air mata. Saya baru bisa paham mengapa orang bisa merindukan Rasulullah yang bahkan mereka tidak pernah bertemu dan padahal baru baca bukunya satu saja. Sebab terlalu berat untuk baca buku hadits, Sunnah, dan kajian. Saya juga belum pernah baca bukunya yang lain.

Rasa rindu pada tokoh yang tidak pernah ditemui ini kemudian dijaga seperti perasaan teman saya terhadap saya yang tidak mau mendalami lebih jauh tentang kecacatan hidup sang penulis. Pun buku Tan Malaka belum pula selesai saya baca. Kelak nanti akan saya acu dan rindukan. Tapi buat saat ini sebijak-bijaknya adalah orang yang mengambil pelajaran dari “The World’s Best Mom” dan “Greatest Dad in The World”  sebanyak-banyaknya sebelum gelas itu jadi pajangan berharga yang kalau pecah bisa terbayang berhari-hari dan memorinya tercampur-campur.

 

 

 

Advertisements

Repot Juga

Karena usaha menyatukan tumblr saya dengan akun wordpress saya tidak berakhir dengan baik, saya mempertimbangkan untuk berhenti menulis dan memutuskan untuk hilang dari jejak internet. Sebaiknya menghabiskan hidup di warung kopi saja, membicarakan Pilkada Serentak yang ternyata tidak digelar dua putaran.

Bercanda.

Banyak sekali ucapan dari orang-orang perihal tulisan saya dan kebiasaan saya menulis anekdot (yang cita-cita terpendamnya adalah menjadi kolumnis tetap koran minggu) yang entah kenapa melekat hingga bertahun-tahun lamanya. Seperti betapa menyentuhnya tulisan saya, betapa berantakannya tulisan saya yang padahal jika dikaji komponen kalimatnya lengkap (atau paling tidak, tidak membingungkan dan terbaca seperti orang yang sedang berbicara), dan rasa personal yang sangat kental serta tidak informatif. Tidak ada yang memberi respon mengenai sajak-sajak saya. Tidak apa-apa. Memang saya juga malu pernah menulis yang demikian. Nanti saya belajar lagi atau jongkok-jongkok di toko buku, buka-buka plastik buku lalu diperhatikan satu-satu rima dan diksi dari buku murah yang entah bagaimana bisa terbit.

Katanya menerbitkan buku adalah bagaikan melahirkan dan membesarkan anak, maka  blog yang menggelisahkan ini adalah anak pertama saya yang baru dihamili pacarnya, lalu pacarnya kabur. A bit fucked up. Desainnya berubah dan tercampur berantakan dengan tumblr saya yang bentuknya memang sudah seperti lelaki yang kabur ketika pacarnya hamil. Sekilas tidak ada yang tidak wajar. Memang kesedihan dan kekacauan akibat kekerasan seksual tidak mudah dilihat dari luar dengan sekilas. Yang sadar hanya orang-orang dekat dan yang berniat scroll down hingga ke tahun 2012. Berantakan dan terlihat “lebih rapih blog sama tulisan-tulisan si X ya daripada blog lo”. Yang mana itu adalah benar. Terima kasih temanku, kata-katamu akan saya ingat seumur hidup sebagai penambah rasa inferior yang luar biasa sedap. PS: Si X adalah pacar saya. Pacar saya yang makin ke sini gaya nulisnya makin mirip dan idenya menyatu sama saya seperti jalan tol.

Setiap tulisan adalah curhat. Begitu pula akting dan bahkan karya seni apapun dalam bentuk lain. Kalau aktor diminta untuk marah dan nangis dengan mudah, ada yang bilang bahwa itu karena emosinya dipendam dan hanya bisa keluar di depan kamera. Opini seperti ini menjelaskan kenapa saya jelek dalam berakting tapi sekaligus menyedihkan di belakang dan banyak ketawa yang tidak lucunya. Kekasih saya biasanya jadi kamera. Di rumah sih hidup saya muram, tapi di luar saya “so vibrant dan hangat”. Bukan orang tua saya yang opresif, tapi mungkin kepribadian kita kurang cocok. Ibu bilang bahwa ketika seseorang sikap pada keluarganya jahat dan marah-marah tapi di luar rumah menyenangkan, itu tanda orangnya palsu. Padahal saya tidak palsu, cuma canggung kalau misalnya haha-hihi tapi lalu terlibat dalam kesulitan rutinitas dan konflik antarkamar, sehingga persona saya berbeda. Tapi mungkin saya memang palsu dan seharusnya hidup di KW Thailand atau plastik Korea Selatan. Yang baik dan peduli akan setia. Karena beberapa orang terlalu partikelir untuk diambil pusing hal-hal kecilnya.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” bocor standar.

Kembali berbicara mengenai “tulisan adalah curhat”, saya dan anak saya ini sudah melewati banyak akhir minggu yang tidak ke mana-mana. Meski yang ditulis sedikit, saya sering membuka blog ini lalu berharap ada yang membaca dan menyemangati dari jauh, via komen dan akun rahasia. Menulis draft, lalu menghapus, dan tidak jadi melakukan tindak publikasi sama sekali. Persis anak-anak pemalu yang kalau chatting menulis panjang lalu tidak malu karena jadi. Romantisasi awal era informatika memang ajaib dan norak. Maka dari itu saya berniat untuk memindahkan blog yang satu ke blog yang satu lagi. Karena dihalangi Kemonkokminiminfo akibat ulah para penikmat pornografi yang dengan hebatnya bisa doyan nyari konten porno di tumblr, bisa-bisa tulisan saya makin tidak dibaca.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” substandar.

Tulisan berisi curhatan saya kebanyakan berupa hal yang sama dan atau mirip-mirip. Waktu itu pernah membahas teori sosial. Dua kalimat saja. Fisika luar angkasa. Tiga kalimat saja. Tips-tips sukses menjadi orang sukses. Entah berapa kalimat. Ujung-ujungnya sentimental dan lebih meresahkan dari pembunuh berantai yang berkeliaran di sekitar kita. Dan daripada mengulang hal-hal yang sudah diulang, lebih baik otak kita dibiasakan untuk berbuat hal yang sama agar makin pandai. Perubahan dibentuk oleh kebiasaan dan setumpuk bite sized bit and don’t overstuff your stomach. Kecuali oleh Pak Gubernur yang mandraguna. Beliau bisa memindahkan seorang pegawai senior yang tidak gabut tapi salah tempat lalu keluarganya meratapi nasib bapaknya yang mesti pindah kerja. Perubahan terjadi dalam semalam. Malam-malam berikutnya sang anak harus menyesuaikan diri dengan anak-anak judes di sekolah baru. Karena judes pada anak baru adalah keharusan dari sudut pandang anak yang sensitif. Brad Pitt pernah masuk 100 orang paling berpengaruh versi Time mungkin karena dia bisa melakukan hal seperti ini.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat repot juga” metastandar.

Jadi daripada meratapi kehamilan anak saya, anak saya yang malu bicara dengan orang, dan anak saya yang harus dijuteki oleh geng tajir cantik majalah Hai, Gadis, dan Kawanku di sekolah barunya. Mari saya menulis di atas cucu saya dan bangun lebih pagi meski bangun pagi terlalu dipuja-puja di dunia ini.

Hari ini saya mau membersihkan tempat parkir sebelah Puskesmas dari ribuan sampah plastik, biar kalau air pasang tidak hanyut ke laut. Itu juga kalau ada trashbag.

 

 

Happy Sweet 17, Happy SBMPTN, and Happy Life-Go-Lucky.

Tadinya mau nulis ini tadi malam waktu Cici sedang stress, tapi karena mati listrik, laptop “plugged, charging, but not charging”, dan sakit pinggang sampai ke tangan, jadinya ditulis pagi-pagi. Pasti Cici sedang sibuk waktu tulisan ini ditulis dan selesai dibuat. Dan pasti Cici pasti ga punya kenangan tentang SNMPTN 6 tahun yang lalu. Karena masih kecil dan abang juga ga cerita-cerita banyak. Waktu itu abang berangkat diantar Ayah juga, semoga beberapa hal ga berubah ya kayak gitu, sampai ade SBMPTN juga toh sebentar lagi, dan sampai ade sumpah dokter (siapa tau salah pencet), dan sampai Cici kalau punya anak, anaknya wisuda juga Ayah Ibu datang.

SNMPTN 2012, abang ada perasaan sedikit ingin boker waktu mulai ngerjain soal, dan waktu itu sempat terpikir kalau boker akan banyak makan waktu tersisa, mending dibokerin di celana lalu kerjakan soal lalu balik. Malu boker di celana paling masuk berita detikcom, tapi ga keterima kuliah lebih malu. The stakes were that high, in my mind, you might feel the same. Mana celana abang licin banget, celana bahan entah dari bahan apa itu dibikinnya, di bangku kayu SD yang licin dan harus ngerjain matematika IPA. Rasa sengsaranya abang masih paham. Lalu pulang ketemu temen di angkot yang kata dia sih bisa, lah abang cuma ngerjain tiga, balik ke rumah diperiksa salah dua, nangis sambil nonton unduhan The Killers Live at Royal Albert Hall di atas. Cici baru lulus SD mana tau. Memang ujian seperti ini faktor keberuntungan, dan faktor X, faktor Z, faktori outlet, Richeese faktor kek, dan faktor-faktor lainnya besar banget, ga seharusnya disombongkan kalau cici sudah lulus ya, boleh lah beberapa bulan pertama aja. Abang juga mulai benar-benar konsisten menulis blog sebenarnya dekat SNMPTN 2012. Benar-benar masa di mana abang ditempa secara emosional dan banyak mikir sendirian di angkot, makanya mau nulis lagi setelah zaman SMP. Waktu itu terasa sih, hardship makes you grow, dari membeda-bedakan teman yang serius, teman yang tidak serius, teman yang supportif, dan teman yang cuma goodluck-goodluck doang. Abang mau cerita lagi dan membahayakan martabat (yang ga ada-ada banget juga) dan kebebasan bernegara bahwa pernah berbuat jahat sama pacar SMA karena menurut abang dia membahayakan ujian-ujian abang (Maaf banget, Nishrin). Kalau Iqbal jahat dan ngasih pengaruh buruk sama Cici, tampol aja ci, ada third wave feminists yang selalu suportif. Kalau jahatnya beneran evil bukan sekedar he’s not so nice, ntar abang dan orang-orang rumah akan tampol juga. Ini saran-saran untuk adolescents nanti lagi beda acara. Tapi sesungguhnya terserah cici mau ngapain sama dia, love will find a way, SAPPK will find you anyway, asal jangan mau kalo ditawarin ngerokok dan ena-ena, nanti ada guilt, STD, then I’m an expecting brother. Tapi dari pelajaran-pelajaran abang di saat masa-masa yang rasanya berat itu lah, abang dapat teman-teman seumur hidup yang beberapa ga keterima juga beberapa keterima, tapi masih berteman dan nongkrong. Abang cuma berharap beberapa dari mereka berhenti manggil abang “Dok” aja.

Cici pasti sering dengar, bagaimana sebenarnya SBMPTN dan ujian semacamnya adalah hanya ujian. Hidup adalah ujian yang sebenarnya (tapi tidak ada yang bilang bahwa SBMPTN adalah bagian besar dari hidup, jadi ini bahaya juga bos). Kalau kita lihat di jalan takdir yang bercabang-cabang, atau entahlah mungkin sebenarnya cuma satu jalan panjang tapi dimanipulasi Tuhan jadi rasanya bercabang-cabang, SBMPTN dan ujian-ujian seperti ini memang membelokkan jalan hidup, Ci. Lihat Ayah dan Ibu, ketemu di kampus dan juga ketemu teman-temannya yang banyak itu, lalu pola pikirnya karena berada di iklim aktivis dan akademis kampus yang seperti itu, jadi terbentuk seperti itu, lalu mendidik kita jadi seperti ini, you get the point, butterfly effects and shit. Lalu calon kakak ipar yang baik dan cantik kata cici, tapi gampang sakit kulit, kasihan, dia pula bermasalah dengan SBMPTNnya dulu, tapi memang dibelokkan jalannya biar ketemu abang di Unpad. Sekarang hidup bahagia di UI. Di Unpad dapat pelajaran hidup katanya. Apalagi sekarang dia bikin email layanan masyarakat untuk konsul SBMPTN dan tulisan di Askfm serta Tumblrnya menginspirasi entah berapa orang perihal SBMPTN.

Pasti malah jadi pertanyaan, “jadi ini penting atau ga penting, bang?” Gatau juga, waktu cici lahir abang masih kesel-kesel mau nonton Digimon di Indosiar malah dibawa ke Borromeus, I am too, still figuring out life. Kalau kata ibu bisa jadi ga penting (dengan alasan menaikkan self-esteem cici), atau penting sekali (dengan alasan yang sama, intinya adalah alasannya), abang sendiri sejujurnya tidak tahu sebenarnya ini apa karena hal-hal yang abang udah bilang tadi. Abang juga pernah bilang, di dunia globalisasi (kalau sekarang namanya Industri 4.0 dan IoT yakni Internet of Things, it’s true, look it up everyone’s talking about it, seakan-akan mereka ahlinya) ga seharusnya lagi hal-hal kayak gini jadi polemik, makanya kalau ada anak yang orangtuanya mampu dan semangat masuk swasta seharusnya didukung supaya makin banyak pembukti-pembukti bahwa kuliah di mana sama-sama aja. Akses dan pembukaan wawasan yang lebih mantap kalau kuliah di kampus idaman, tidak serta merta jadi penentu kesuksesan, itu juga tidak ada studi resminya jadi gak seharusnya kita bangga-banggakan dan andalkan sebagai alasan. Kecuali misalnya ITB bikin penelitian resmi bahwa kuliah di ITB lebih mungkin sukses 42% dibanding common people baru lah pantas orang-orang berlomba masuk ke sana. Apalagi kalau misalnya ada publikasi bahwa kuliah di Unpad lebih bahagia 77%, sebaiknya cici masuk sana ci, buat apa sukses tapi gak bahagia. Satu-satunya yang membedakan adalah rasa bangga dari dalam diri sendiri yang jadi headstart serta berkembang terus dan berdampak ke mana-mana. Abang hanya melihat langsung sendiri sih, dari sahabat, orang tua, orang tua sahabat, teman, orang tua teman, pacar, orang tua pacar, tetangga, anak tetangga, dan abang sendiri yang merupakan anak tetangga kalau kata tetangga, bahwa rasa bangga itu ada walau kecil, dan buruknya kadang rasa bangga itu terbawa sampai dewasa dan berlebih-lebihan sampai ke taraf yang tidak perlu. Abang sih untungnya ga ngebangga-banggain kayak gitu, kalau ditanya Go-jek atau orang basa-basi kuliah di mana pernahnya jawab FSRD Maranatha, Teknik Lingkungan ITB, dan Statistika Unpad. Lama-lama malu juga jadi dokter, mau makan harus cuci tangan dulu atau bakal dikata-katain, lah yang mencret kan gua, elu kalau mencret juga ngeLine gua nanya obatnya apa. Intinya rasa kepuasan dan rasa percaya bahwa anda adalah seorang yang bisa menaklukkan ujian dan masuk ke kampus yang katanya bagus dan idaman, dapat membawa positivitas ke masa depan dan berdampak pada hal baik lainnya. Kalau cici, sudah lahir di keluarga yang baik, yang ikatannya kuat, yang bisa dibanggain dan suportif walau threshold marahnya pada rendah-rendah semua kecuali Apong, yang selalu percaya that blood is thicker dan water, and even though it’s amniotic water, blood is still thicker than any water and sweat, keluarga yang bisa makan-makan tiap minggu dan film jelek di bioskop aja kita tonton bareng-bareng, dan kalau mau apapun sebenernya tinggal minta, dari minta pijitin Ibu Ayah sampai minta yang mahalan dikit, seharusnya sudah punya positivitas yang lebih tinggi dan ditempatkan di manapun akan berkembang dan conquering the world. Itu kalau yang cici mau adalah menaklukkan dunia, tapi jangan lah Ci, kayaknya gajinya tidak sesuai dengan beban kerja.

Apapun yang Cici rasakan beberapa bulan terakhir ini, belajar malam-malam di bimbel yang udah abang jemput eh abang marah-marah karena jalanannya macet (padahal bukan salah cici), dan kebahagiaan-kecemasan karena countdown Infinity War adalah juga countdown SBMPTN, yang jelas Cici harus tau apapun yang terjadi setelah usaha-usaha yang berat itu adalah takdir, makanya disuruh berdoa ya Allah berikan aku yang terbaik, dan yang terbaik adalah keterima di SAPPK dan punya kakak dokter internship gabut. Cici pasti baca ini setelah ujian dan merasa dunia jauh lebih terang dan panas, juga secara harfiah karena nanti cici keluar ujian adalah sekitar jam 10 betul tidak. Nanti cici preserve perasaannya ya, write me something, walau nanti pasti dijemput Ayah, dan di rumah makan siang enak lalu bobok saat main hape, ketebak lah, yang penting cerita. Karena penting atau ga penting, keterima atau ga keterima, takdir atau bukan takdir, having and seeing you grow, transcend, and desperately want to make this world a better shithole, is one of the greatest gift given by Ibu, Ayah, and God. Happy very very belated supalate sweet 17 and happy vacation and happy SBMPTN, Ci. We don’t owe each other anything except for that 750rb, but let’s give each other the best shot every time.

Lapar

Manusia harus dipenjara dulu baru bisa menulis buku. Karena di penjara banyak waktu luang. Karena di penjara tidak punya uang. Di penjara lebih baik minta pena atau pensil untuk menulis di dinding daripada minta pisau dan garpu untuk alat bertahan dari pertengkaran antar napi, selain karena tidak akan dikasih juga. Lebih baik bertahan hidup dengan menulis di dinding dan makan harapan bahwa tulisannya bisa jadi buku setelah keluar penjara dan masuk surga bersama Nelson Mandela.

Saya beberapa kali dalam keadaan terdesak untuk menulis, sering kali karena alasan takut tidak bisa makan di masa depan, dan atau untuk bisa makan di akhir pekan. Toh menulis terjemahan yang tidak disumpah dan esai bercandaan tugas kawan untuk beberapa ratus ribu dolaran kadang lebih berat isi dompetnya daripada dosa di timbangan. Tapi kali ini saya didesak menulis beberapa ribu karakter yang lebih banyak daripada karakter di Mahal Cinematic University, dan rasanya cukup menggelisahkan. Saya ingin bergabung dalam perseteruan global tapi belum bergabung sudah menderita. Dunia keras, yang lunak cuma awan (awan di sini artinya mimpi dan bermimpi, siapa tahu pembaca tidak mendapatkan pencerahan yang saya inginkan). Kamu juga lunak.

Kalau gelisah karena hidup tidak punya deadline, kadang perlu diingatkan lagi bahwa justru hal-hal kecil yang memiliki batas waktu. Seperti apel pagi baso basi jam 7.45, pekerjaan sampingan sore hari jam 17.00, dan menyiapkan pakaian untuk ulang tahun sendiri yang kian dekat. Hal besar seperti pulang mendadak memeluk Ibu, Ayah, adik-adik, penduduk Depok, dan menulis buku di penjara tidak ada deadlinenya. Mana ada pula yang mau dipenjara dilebihkan 40 hari karena bukunya belum rampung, kurang 2 bab. Ada juga dilebihkan 40 hari di neraka karena di dunia banyak bercinta.

Saya cukup sering pakai lauk tidur untuk makan malam. Bukan karena tidak punya uang, tapi karena para pedagang makanan di sekitar tempat saya tinggal tidak punya cukup uang karena tidak cukup berusaha membuat jasa makanan pesan antar depan kamar 24 jam. Tidak punya uang pun masih bisa mencuri nasi padang, kenyang, lalu dipenjara. Nanti di penjara dapat waktu luang, pena, dan makan-makan bersama pembuat ijazah palsu. Semoga saja tidak berdua dalam satu kobokan.

Lapar, waktu luang, waktu, dan uang, saya sampai ke kesimpulan bahwa yang paling mewah adalah menulis di penjara. Apalagi kalau masih sempat-sempatnya menulis saat kelaparan di tengah deadline hal-hal yang katanya kecil.

Kontroversi

Tidak ada yang tahu betul, hal apa yang menjadi faktor utama kesuksesan (yang didefinisikan berbeda-beda pula oleh setiap orang). Karena bahkan kesuksesan pun sama seperti kebahagiaan; setiap orang bebas mendefinisikannya. Tentu setiap kata juga demikian. Jika saya menganggap nongkrong adalah duduk dan ngobrol sambil minum kopi saset yang profitnya 150% bersama teman-teman baik, maka nongkrong adalah kebahagiaan yang juga merupakan kesuksesan jika misalnya kesuksesan adalah kebahagiaan. Mari kita potong omong kosongnya, karena tidak semua kata bisa didefinisikan seromantis hal-hal itu. Seperti halnya makan siang. Makan siang adalah makan yang dilakukan saat siang hari. Namun makan siang bersamamu tentu adalah kebahagiaan dan mungkin kesuksesan, dan mungkin juga dapat dikatakan sebagai nongkrong, karena menyangkut ketiga hal yang sama tidak jelasnya tadi. Saya juga kurang sukses menulis paragraf pertama ini yang kalimat pertamanya kurang menarik; seperti tulisan yang katanya dalam dan menggetarkan jiwa karena menurut tulisan itu, kesuksesan bukanlah diukur dengan banyaknya aset dan rekening sebelas digit. Ketidakmenarikan kalimat pertama saya dapat dikategorikan sebagai bukan-kesuksesan, yang dapat menuju ke bukan-kebahagiaan, dan mungkin akan membuat saya malas nongkrong kemudian. Walau saya tidak keberatan juga jika rekening saya 10 digit dan tubuh saya lebih sehat.

Malam ke rumah saya, sunyi. Kami nongkrong di pinggir jalan, lalu mengejawantahkan beberapa kejadian yang terjadi beberapa waktu ke belakang. Beberapa waktu di sini adalah beberapa hari, bulan, dan tahun yang meski tanggalnya lupa tapi kejadiannya ingat betul. Kami sering membicarakan ide, kejadian, dan orang-orang, yang orang-orangnya juga itu-itu lagi. Untungnya orang yang itu-itu lagi cukup menarik jadi kami tidak terjebak menjadi dialog drama anak SMP yang membicarakan orang yang itu-itu lagi namun orangnya tidak menarik.

Kalau orang yang pikirannya tidak baik, jalan berpikirnya tidak runut, kemampuan berlogikanya di bawah rata-rata, dan membuat kalimat dalam urutan kata-kata yang tidak jelas dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Maka, ke mana kah jalan akhir orang yang mendidik diri menjadi berpikiran baik, berpikiran runut, berlogika dengan baik, dan mampu membuat kalimat yang rapi. Paling tidak yang jelas saya bukan bagian dari orang yang membuat kalimat dengan terstruktur dan menulis tanpa salah ketij. Agak sedikit kurang adil, tapi toh yang penting masih bisa nongkrong.

Dalam kenaifan kami, ia bertanya. “Apa gunanya capek-capek?” Saya menjawab dengan sok bijak karena menjawab tidak tahu pun adalah jawaban yang cukup bijak, daripada menjawab asal jeplak, salah-salah ia mendapat tuntunan agar hidup porak poranda. Ketidakadilan ini pun hanya tertiup angin pada akhirnya.

Di lain hari, sebuah musibah datang. Berkaitan dengan seorang balita cantik berinisial T, sebut saja Tania. Nama asli tapi tidak penting untuk disamarkan. Ia berceloteh di dalam mobil bertempat duduk 14 buah yang isinya orang-orang sedih atau bosan karena harus menunggu kemacetan atau harus bepergian jauh meninggalkan hal-hal kesayangannya. Seperti bantal guling, colokan di dekat kasur, dan orang-orang baik. Dalam keributannya, sang ibu tidak kunjung menenangkan sang balita T alias Tania yang entah rewel, entah kurang ajar, entah sakit infeksi, atau entah tenggorokannya gatal jika tidak berteriak-teriak. Ibu tersebut melakukan hal-hal yang saya tidak suka. Tidak perlu dijelaskan di sini karena akan menjadi seperti orang yang berpikiran tidak baik, karena saya telah menjadi demikian di saat itu dan berakibat berkata kasar ke orang lain. Lagi pula menilai seseorang tidak baik atau mengacau hanya dari pertemuan beberapa jam tidak hanya merupakan sebuah kejahatan dalam berpikir, tapi juga sebuah cacat logika yang tidak akan habis diperdebatkan. Andaikan kebahagiaan bisa seperti debat. Pada akhirnya hanya terlihat seorang ibu yang bingung dan seorang anak yang sangat disayang. Sangat disayang hingga kelak semua makanan dan baju agak mahal dari mall-mall besar akan dibelikan saja agar anaknya cantik dan percaya diri hingga pria-pria yang kebetulan mapan akan datang dan berbagi sedikit kebahagiaan makan siang bersama, nongkrong, atau berbagi aset. Tapi jika demikian, ketidakadilan masih tertiup angin. Kali ini angin panas siang hari.

Ibu bilang, jangan suka ganggu orang. Kalau suka tidak apa-apa tapi jangan ganggu. Maka dari kecil jika menunggu di tempat kerja cukup membaca buku saja dan tidak rewel meski suka untuk rewel dan menganggu orang. Nanti tidak ada manusia mapan untuk berbagi tongkrongan untuk saya yang kurang suka bersolek, karena kebahagiaan meski tidak hanya didapat dari nongkrong, juga tidak hanya didapat dari hal-hal yang bisa dibeli dan tidak bisa dibeli (karena tidak ada uangnya). Dan karena peran saya adalah menjadi lelaki mapan yang berbagi tongkrongan dan bukan-kejahatan-dalam-berpikir. Kasih Ibu dan Ayah beda lagi karena tidak ternilai, beda dengan tidak bisa dibeli.

Anak itu belum juga berhenti berteriak. Saya juga ingin berteriak (karena tidak ternilai). Tapi saya memilih untuk diam saja dan mendengarkan tembang dari orang-orang yang senang nongkrong.

 

Repetisi

Saya menyetir melewati toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Meski pada akhirnya, saya selalu bertanya lagi setiap hendak membeli bunga di sana.

Gejolak sesaat atas kesempatan-mungkin-emas yang mungkin-akan-terjadi,  kembali mengundang rasa haru yang mengesalkan. Penemuan obat diabetes yang penuh kenaifan ditambah dengan kemungkinan ditemukannya jawaban atas pertanyaan yang tidak jelas juga apa yang ditanyakan hanya menambah rasa haru yang mengesalkan tersebut.

Anggap saja waktu itu hari kamis dan gejolak itu akan menemui wadahnya di hari sabtu. Sementara, saya sendiri pura-pura lupa dengan hari. “Saya tidak jumatan kemarin, karena kemarin hari minggu.”

Ketika seseorang hampir menangis, tentu  ada reaksi fisiologis yang patutnya sudah dikenali oleh segala macam manusia. Rasa yang kita kenal sejak kita baru mengenal orang tua, rumah, dan makanan enak atau tidak enak. Hidung yang kembang kempis dan menghembus-hembus. Merah di sudut sini dan sana, juga rasa tertindih di sekitar perut dan dada meskipun sedang berdiri. Tentu jika benar itu ketindihan, maka benda yang menindih akan jatuh lurus ke kaki dan membuat lecet alas kaki. Namun, lega lah dadanya.

Saya berusaha membedah perasaan-perasaan yang katanya tidak satu macam. Lalu berputar-putar dalam lingkaran satu macam. Mungkin itu sebabnya dinamakan pola pikir, bukan tebak-tebakan pikir. Lucu juga tidak.

Ketika tangisan sudah terjadi, biasanya di dada akan terasa ngilu dan nyeri tanggung. Mudah sekali mengeluarkan air mata yang sebelumnya sudah duluan keluar satu tetes. Meski, dosis setiap orang beda-beda, karena air mata lebih mirip dengan benang laba-laba yang memanjang lalu bandel menempel. Jika wajah tegak lurus ke bawah, lalu memfokuskan diri pada tetesan air mata yang terjun bebas ke lantai, mungkin orang yang sedang menangis tersebut akan lupa dengan laranya lalu meneteskan beberapa bulir yang besar, lalu bulir kecil, lalu habis, dan hanya tersisa lengket di mata. Orang tua, rumah, dan makanan enak. Lalu, merasa bodoh lah ia.

Saya akan berangkat. Lalu pulang dengan sehat. Pulang untuk kembali duduk-duduk dan bercerita. Kadang menceritakan orang yang lebih baik, atau lebih kurang baik. Karena cerita orang yang sama baik rasanya kurang menarik. Lebih baik pura-pura kagum dan melontarkan tebak-tebakan yang semoga belum pernah kita dengar sebelumnya.

Di dalam pikiran orang yang sedang lengket matanya, ada banyak sekali reaksi kimia yang membuat bentuk-bentuk orang jadi ajaib. Kadang pikirannya berputar, ke sarapan enak beberapa hari yang lalu, ke pertanyaan berapa tepatnya populasi mobil tangki bensin kiri dan tangki bensin kanan yang harusnya disesuaikan dengan jumlah kiri atau kanan pompa bensin atau bisa dikompensasi dengan selang bensin yang lebih panjang, ke tetesan air mata di lantai berdebu yang tidak tahu siapa yang menyapu, ke cerita-cerita lama yang tiba-tiba ingat.  Lalu lengket lagi.

Saya masih melakukan pekerjaan melamun tadi di tempat yang sama. Mungkin saya pernah berpikir tentang hal yang mirip di dalam baju yang sama. Baju yang ketika pertama dipakai membuat pemakainya merasa ganteng, namun setelah beberapa kali dipakai akan terasa biasa saja. Entah bajunya yang memburuk, atau orangnya yang semakin ganteng hingga baju itu tidak bisa mengejar ketertinggalan. Lebih baik ketinggalan baju dari pada ketinggalan teman. Ketinggalan baju tinggal beli lagi, sekalian beli kado untuk teman yang lupa tanggal ulang tahun dan nama lengkap namun tidak lupa memberi dukungan sehari-sehari 4 sehat 5 sila berbeda-beda namun tetap satu. Sementara, ketinggalan teman harus kembali menjemput atau lurus terus membungkus rasa tega baik-baik agar bisa dibekal dan dihabiskan sedikit-sedikit untuk perjalanan panjang. Kalau tertukar dengan yang disobek atau karetnya dua, mungkin perjalanannya akan butuh air dingin lebih banyak.

Tidak ada yang tahu betul kapan orang berhenti menangis. Ketika penelitian akan dilaksanakan, lalu peneliti memaksa responden untuk menangis, tentu ketika diukur dengan jam yang akurat pun para penangis akan kesal dan berteriak pada sang pengukur detik sehingga penghitungannya jadi bias. Sebut saja rata-rata orang menangis ada dalam rentang 4 hitungan hingga 11 kali lebaran. Dan, penyebabnya juga macam-macam. Dari salah makan sambal yang terlalu pedas. Tidak sempat bikin sambal. Sudah bikin sambal lalu diambil kucing. Sudah bikin sambal lalu hilang diambil kucing bersama kucing-kucingnya juga. Karena sambalnya tidak pedas. Karena tidak punya sambal. Karena sambalnya enak, tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, tapi ternyata sudah habis.

Saya ingin berhenti berputar-putar dalam lagu-lagu lama yang liriknya tidak pernah saya hapal, dalam keinginan menjadi orang terkenal yang sangat sibuk hingga tidak sempat mematikan lampu sebelum tidur, dalam penyesalan yang itu-itu lagi yang membuat menyesal kenapa harus menyesal atas hal yang itu-itu lagi. Konon, dalam tiga kali kelahiran ada satu kematian dan orang-orang juga memusingkan hal yang itu-itu lagi, padahal yang baru lahir dan yang sudah meninggal pun dibungkus kain. Bukan dibungkus sambal.

Namun, hal itu pasti berhenti dan gumpalan empuk yang jalan-jalan serta bekerja itu akan terbiasa.

Saya pergi ke tempat yang sama dua kali dalam rentang waktu satu minggu. Tempatnya jauh. Menepi sebentar ke toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Menanyakan harganya karena memang sudah selalu begitu aturannya.

Ternyata bunga itu jadi mahal.

 

Bertolak Pinggang

Saya mengemudi pulang dari pusat kota ke perumahan kelas menengah tempat saya tinggal. Jalannya buruk, dua ratus juta rupiah yang mungkin dipakai Pak RW untuk anaknya beli Meikarta atau masuk kuliah. Jalannya sempit, dua ratus tahun peradaban dan kendaraan masih diparkir di pinggir jalan.

Manusia adalah pengemudi yang buruk. Memainkan handphone, mengganti kanal radio, atau bahkan bermain gitar kecil saat menunggu lampu merah berganti hijau. Lalu terlambat sepersekian detik yang menjadi sepersekian menit bagi ratusan pengemudi yang juga buruk di belakangnya. Beginilah sebab-sebab mobil otomatis terkomputerisasi dan angkutan moda massal taktis jadi khayalan yang ditunggu-tunggu untuk dipertengkarkan.

Mengurai kemacetan tidak seperti mengurai rambut kusut yang tinggal digunting jika frustasi, atau juga mainan teka-teki yang dengan mudahnya disumbangkan dengan kedok dermawan jika tidak kunjung selesai padahal karena kesal karena mainan itu gagal memenuhi fungsi utamanya yaitu mengurangi stress. Mengurai kemacetan harus dengan hati-hati yang penuh resiko kunjungan ketok mejik atau jalan-jalan mahal ke instalasi gawat darurat.

Dalam “broken window theory” yang sering sekali Ayah saya utarakan, bahwa ketika ada satu jendela pecah dan dibiarkan, maka jendela yang lain akan lebih rentan untuk pecah karena “toh sudah pecah juga”. Atau pada kasus sampah yang dibuang sembarangan. Awalnya satu kemasan kacang pilus yang tidak enak itu tergeletak, lalu karena kondisi psikologis jendela rusak, makin lama makin lumrahlah tumpukan kemasan kacang pilus. Kadang disertai kemasan teh di dalam gelas yang tidak enak juga rasanya.

Atau dalam cerita ini. Ketika orang-orang menjebakkan dirinya di dalam rantai panjang kendaraan, para pengemudi tidak mau berhenti sekedar mempersilahkan motor bebek lewat atau mobil LCGC menyeberangi mobil kita yang sebenarnya ketika kita maju pun tidak akan ke mana-mana, atau sekedar menunggu beberapa detik ketika berpapasan di jalan sempit agar kita tidak berselisihan dan lalu tersangkut bersama di bagian paling sempit dari jalannya. Dengan prinsip “ah sudah kacau juga”, kami sering maju tanpa otak, tunjang, dan asam padeh. Atau saat saya sempat dengan sekilas berpikir jahat, “seseorang akan membetulkan keramaian ini dan jendela-jendela pecah di dalamnya.” Banyak hal memang harus dialami baru dapat dimengerti. Dan banyak hal baru dipahami setelah ada lecet horizontal memanjang di sebelah kanan kendaraan.

Mobil di depan memberi tanda lampu kanan dan mobil yang di dalamnya berisi saya memberi tanda yang sama. Kami maju dengan pasukan di belakang yang sama-sama egois. Egois ketika salah satu anggota pasukan mengalami henti jantung lalu menabrak trotoar, maka itu adalah tontonan yang menarik bagi kawanan yang tidak tahu teknik resusitasi jantung paru. Beberapa juga bingung di bagian belakang pasukan karena adanya kemacetan, padahal sedang terburu-buru mengejar kelas jam 7 tentang resusitasi jantung paru.

Pengemudi itu maju. Penyiar radio yang bahagia tiap pagi itu berceloteh dan tertawa-tawa karena lampu-lampu sen yang menyala tadi sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Saya mengecilkan suara mereka dan menunggu selama beberapa detik. Puluhan detik. Lalu ratusan detik yang diikuti puluhan nyaring klakson dan ribuan rasa panik.

Saya sedang tidak dikejar apa-apa kecuali kepastian tentang masa depan. Belum cuci muka, apalagi mandi biar terlihat lebih tampan. Mungkin satu dari banyak momen yang mana saya dinilai dari rambut mencuat dan pakaian tidur kumal, bukan dari perbuatan yang dilakukan seseorang di balik pakaian tidur kaos panitia yang terkenal.

Di saat-saat kacau, diam adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan. Saya sering diam. Baiklah tentu tidak sedikotomi itu jika ingin membela diri. Lagi pula, konon kata Ibu, kelembaman itu nyata adanya. Bahwa seseorang bergerak dengan kecepatan tetap hingga ada gaya yang menyebabkannya mengubah kecepatan atau arahnya. Didorong rute ke rumah makan, arah penasaran, kecepatan jatuh cinta, dorongan kebaikan yang murni, dan macam-macam bentuk dopamin yang semoga tidak dinamai munafik.  Apa lagi pada orang-orang yang jauh lebih dewasa, yang secara fisik pun otot-ototnya sudah lebih malas sekaligus sombong karena mengaku sudah lebih banyak jalan-jalan dan banting tulang ayam untuk makan opor sama anak-anaknya di hari lebaran. Kasihan. Jika nanti semua orang pada akhirnya hanya berbicara pada pohon.

Saya turun dari mobil. Menuntun perlahan-lahan para pengemudi dengan kelembaman tinggi yang sangat kasihan karena ditekan rutinitas dan dorongan kebaikan yang murni untuk anak-anak yang sama yang waktu itu makan opor di hari lebaran. Berbeda dengan saya yang turun dari mobil, belum punya rutinitas, anak-anak, uang, opor, hak untuk berkata “saya sudah mandi”, dorongan kebaikan, mobil dengan asuransi, dan sandal kain yang sudah dicuci. Paling tidak saya punya Ibu di rumah pagi itu dan semoga seterusnya, yang bertanya-tanya kenapa pagi ini agak lebih lama pulangnya. Juga punya teman yang semoga tidak akan pernah senewen di kursi sebelah kiri mobil ketika ada situasi seperti ini. Beda lagi ceritanya kalau kita nanti main rumah-rumahan di negara setir kiri dan musim panas sounds good. Kalau begitu ceritanya jadi teman tidak pernah senewen di kursi sebelah kanan mobil.

Belum ada yang turun lagi. Ada pengemudi motor yang marah. Mungkin ia marah karena sedang bermasalah dengan orang-orang penting di hidupnya. Lalu ada pemuda ganteng kalem dengan kacamata yang kalau kena matahari akan berubah jadi coklat. Sama seperti kulitnya jika kebanyakan dijemur akan jadi coklat eksotis kalau kata penggiat lifestyle. Dia hanya tersenyum santai dan berterima kasih namun tidak turun dari mobil gantengnya. Seperti saya dulu yang sudah lega ketika melihat ada orang yang mengatur keruwetan dan kebetulan dikejar oleh batas waktu cap jari pukul 8 pagi. Ada pengemudi mobil tua yang hebat sekali pendingin udaranya belum rusak karena ia menutup rapat-rapat jendelanya. Untung saja mau mundur sedikit membuka jalan karena jika tidak mungkin tangan saya bisa jadi alat pembuat pendingin udara manual menembus sembilan dimensi, selapis kaca film, sekaligus tiga kali pengadilan.

Lalu ada pengemudi panik yang turun lalu masuk lagi ke singgasana jok kulit dan dialuni musik jazz yang tidak tahu judulnya. Lalu ada pengemudi tua yang membantu mengibar-ngibarkan tangan dan semangat 45nya. Lalu ada pria 35 tahun yang mungkin sudah 40 tahun tapi terlihat 47 tahun karena hidupnya serius sekali dan mengetuk pintu warga untuk memindahkan mobil yang diparkir depan jalan. “Bukan mobil saya pak, mungkin rumah depan.” Bukan salah saya juga kalau di siang hari ternyata mobil rumah depan itu jadi mobil dia. Lalu ada saya yang bentuknya sudah diceritakan, watak sombongnya juga sudah kentara, namun hari itu sedang berbaik hati karena diberikan rasa lapang dada dan lapang sintetis dari kenikmatan duniawi yang non-futsal. Lalu ada seorang baik yang turun dari mobilnya. Lalu dua orang baik menambah beberapa orang baik yang sudah turun duluan. Saya tidak baik, hanya orang riya yang punya banyak waktu luang dengan rasa bersalah karena mengkhianati teman.

Jalanan kembali lancar. Saya tidak akan terlambat sampai ke rumah. Mungkin mereka yang marah dan kesal dan tersenyum dan kram betis dan sebagainya ada yang terlambat sampai ke tujuannya.

Tapi semoga kami semua jadi tahu. Bertolak pinggang hanya menghilangkan sedikit pegal.