Happy Sweet 17, Happy SBMPTN, and Happy Life-Go-Lucky.

Tadinya mau nulis ini tadi malam waktu Cici sedang stress, tapi karena mati listrik, laptop “plugged, charging, but not charging”, dan sakit pinggang sampai ke tangan, jadinya ditulis pagi-pagi. Pasti Cici sedang sibuk waktu tulisan ini ditulis dan selesai dibuat. Dan pasti Cici pasti ga punya kenangan tentang SNMPTN 6 tahun yang lalu. Karena masih kecil dan abang juga ga cerita-cerita banyak. Waktu itu abang berangkat diantar Ayah juga, semoga beberapa hal ga berubah ya kayak gitu, sampai ade SBMPTN juga toh sebentar lagi, dan sampai ade sumpah dokter (siapa tau salah pencet), dan sampai Cici kalau punya anak, anaknya wisuda juga Ayah Ibu datang.

SNMPTN 2012, abang ada perasaan sedikit ingin boker waktu mulai ngerjain soal, dan waktu itu sempat terpikir kalau boker akan banyak makan waktu tersisa, mending dibokerin di celana lalu kerjakan soal lalu balik. Malu boker di celana paling masuk berita detikcom, tapi ga keterima kuliah lebih malu. The stakes were that high, in my mind, you might feel the same. Mana celana abang licin banget, celana bahan entah dari bahan apa itu dibikinnya, di bangku kayu SD yang licin dan harus ngerjain matematika IPA. Rasa sengsaranya abang masih paham. Lalu pulang ketemu temen di angkot yang kata dia sih bisa, lah abang cuma ngerjain tiga, balik ke rumah diperiksa salah dua, nangis sambil nonton unduhan The Killers Live at Royal Albert Hall di atas. Cici baru lulus SD mana tau. Memang ujian seperti ini faktor keberuntungan, dan faktor X, faktor Z, faktori outlet, Richeese faktor kek, dan faktor-faktor lainnya besar banget, ga seharusnya disombongkan kalau cici sudah lulus ya, boleh lah beberapa bulan pertama aja. Abang juga mulai benar-benar konsisten menulis blog sebenarnya dekat SNMPTN 2012. Benar-benar masa di mana abang ditempa secara emosional dan banyak mikir sendirian di angkot, makanya mau nulis lagi setelah zaman SMP. Waktu itu terasa sih, hardship makes you grow, dari membeda-bedakan teman yang serius, teman yang tidak serius, teman yang supportif, dan teman yang cuma goodluck-goodluck doang. Abang mau cerita lagi dan membahayakan martabat (yang ga ada-ada banget juga) dan kebebasan bernegara bahwa pernah berbuat jahat sama pacar SMA karena menurut abang dia membahayakan ujian-ujian abang (Maaf banget, Nishrin). Kalau Iqbal jahat dan ngasih pengaruh buruk sama Cici, tampol aja ci, ada third wave feminists yang selalu suportif. Kalau jahatnya beneran evil bukan sekedar he’s not so nice, ntar abang dan orang-orang rumah akan tampol juga. Ini saran-saran untuk adolescents nanti lagi beda acara. Tapi sesungguhnya terserah cici mau ngapain sama dia, love will find a way, SAPPK will find you anyway, asal jangan mau kalo ditawarin ngerokok dan ena-ena, nanti ada guilt, STD, then I’m an expecting brother. Tapi dari pelajaran-pelajaran abang di saat masa-masa yang rasanya berat itu lah, abang dapat teman-teman seumur hidup yang beberapa ga keterima juga beberapa keterima, tapi masih berteman dan nongkrong. Abang cuma berharap beberapa dari mereka berhenti manggil abang “Dok” aja.

Cici pasti sering dengar, bagaimana sebenarnya SBMPTN dan ujian semacamnya adalah hanya ujian. Hidup adalah ujian yang sebenarnya (tapi tidak ada yang bilang bahwa SBMPTN adalah bagian besar dari hidup, jadi ini bahaya juga bos). Kalau kita lihat di jalan takdir yang bercabang-cabang, atau entahlah mungkin sebenarnya cuma satu jalan panjang tapi dimanipulasi Tuhan jadi rasanya bercabang-cabang, SBMPTN dan ujian-ujian seperti ini memang membelokkan jalan hidup, Ci. Lihat Ayah dan Ibu, ketemu di kampus dan juga ketemu teman-temannya yang banyak itu, lalu pola pikirnya karena berada di iklim aktivis dan akademis kampus yang seperti itu, jadi terbentuk seperti itu, lalu mendidik kita jadi seperti ini, you get the point, butterfly effects and shit. Lalu calon kakak ipar yang baik dan cantik kata cici, tapi gampang sakit kulit, kasihan, dia pula bermasalah dengan SBMPTNnya dulu, tapi memang dibelokkan jalannya biar ketemu abang di Unpad. Sekarang hidup bahagia di UI. Di Unpad dapat pelajaran hidup katanya. Apalagi sekarang dia bikin email layanan masyarakat untuk konsul SBMPTN dan tulisan di Askfm serta Tumblrnya menginspirasi entah berapa orang perihal SBMPTN.

Pasti malah jadi pertanyaan, “jadi ini penting atau ga penting, bang?” Gatau juga, waktu cici lahir abang masih kesel-kesel mau nonton Digimon di Indosiar malah dibawa ke Borromeus, I am too, still figuring out life. Kalau kata ibu bisa jadi ga penting (dengan alasan menaikkan self-esteem cici), atau penting sekali (dengan alasan yang sama, intinya adalah alasannya), abang sendiri sejujurnya tidak tahu sebenarnya ini apa karena hal-hal yang abang udah bilang tadi. Abang juga pernah bilang, di dunia globalisasi (kalau sekarang namanya Industri 4.0 dan IoT yakni Internet of Things, it’s true, look it up everyone’s talking about it, seakan-akan mereka ahlinya) ga seharusnya lagi hal-hal kayak gini jadi polemik, makanya kalau ada anak yang orangtuanya mampu dan semangat masuk swasta seharusnya didukung supaya makin banyak pembukti-pembukti bahwa kuliah di mana sama-sama aja. Akses dan pembukaan wawasan yang lebih mantap kalau kuliah di kampus idaman, tidak serta merta jadi penentu kesuksesan, itu juga tidak ada studi resminya jadi gak seharusnya kita bangga-banggakan dan andalkan sebagai alasan. Kecuali misalnya ITB bikin penelitian resmi bahwa kuliah di ITB lebih mungkin sukses 42% dibanding common people baru lah pantas orang-orang berlomba masuk ke sana. Apalagi kalau misalnya ada publikasi bahwa kuliah di Unpad lebih bahagia 77%, sebaiknya cici masuk sana ci, buat apa sukses tapi gak bahagia. Satu-satunya yang membedakan adalah rasa bangga dari dalam diri sendiri yang jadi headstart serta berkembang terus dan berdampak ke mana-mana. Abang hanya melihat langsung sendiri sih, dari sahabat, orang tua, orang tua sahabat, teman, orang tua teman, pacar, orang tua pacar, tetangga, anak tetangga, dan abang sendiri yang merupakan anak tetangga kalau kata tetangga, bahwa rasa bangga itu ada walau kecil, dan buruknya kadang rasa bangga itu terbawa sampai dewasa dan berlebih-lebihan sampai ke taraf yang tidak perlu. Abang sih untungnya ga ngebangga-banggain kayak gitu, kalau ditanya Go-jek atau orang basa-basi kuliah di mana pernahnya jawab FSRD Maranatha, Teknik Lingkungan ITB, dan Statistika Unpad. Lama-lama malu juga jadi dokter, mau makan harus cuci tangan dulu atau bakal dikata-katain, lah yang mencret kan gua, elu kalau mencret juga ngeLine gua nanya obatnya apa. Intinya rasa kepuasan dan rasa percaya bahwa anda adalah seorang yang bisa menaklukkan ujian dan masuk ke kampus yang katanya bagus dan idaman, dapat membawa positivitas ke masa depan dan berdampak pada hal baik lainnya. Kalau cici, sudah lahir di keluarga yang baik, yang ikatannya kuat, yang bisa dibanggain dan suportif walau threshold marahnya pada rendah-rendah semua kecuali Apong, yang selalu percaya that blood is thicker dan water, and even though it’s amniotic water, blood is still thicker than any water and sweat, keluarga yang bisa makan-makan tiap minggu dan film jelek di bioskop aja kita tonton bareng-bareng, dan kalau mau apapun sebenernya tinggal minta, dari minta pijitin Ibu Ayah sampai minta yang mahalan dikit, seharusnya sudah punya positivitas yang lebih tinggi dan ditempatkan di manapun akan berkembang dan conquering the world. Itu kalau yang cici mau adalah menaklukkan dunia, tapi jangan lah Ci, kayaknya gajinya tidak sesuai dengan beban kerja.

Apapun yang Cici rasakan beberapa bulan terakhir ini, belajar malam-malam di bimbel yang udah abang jemput eh abang marah-marah karena jalanannya macet (padahal bukan salah cici), dan kebahagiaan-kecemasan karena countdown Infinity War adalah juga countdown SBMPTN, yang jelas Cici harus tau apapun yang terjadi setelah usaha-usaha yang berat itu adalah takdir, makanya disuruh berdoa ya Allah berikan aku yang terbaik, dan yang terbaik adalah keterima di SAPPK dan punya kakak dokter internship gabut. Cici pasti baca ini setelah ujian dan merasa dunia jauh lebih terang dan panas, juga secara harfiah karena nanti cici keluar ujian adalah sekitar jam 10 betul tidak. Nanti cici preserve perasaannya ya, write me something, walau nanti pasti dijemput Ayah, dan di rumah makan siang enak lalu bobok saat main hape, ketebak lah, yang penting cerita. Karena penting atau ga penting, keterima atau ga keterima, takdir atau bukan takdir, having and seeing you grow, transcend, and desperately want to make this world a better shithole, is one of the greatest gift given by Ibu, Ayah, and God. Happy very very belated supalate sweet 17 and happy vacation and happy SBMPTN, Ci. We don’t owe each other anything except for that 750rb, but let’s give each other the best shot every time.

Advertisements

Kontroversi

Tidak ada yang tahu betul, hal apa yang menjadi faktor utama kesuksesan (yang didefinisikan berbeda-beda pula oleh setiap orang). Karena bahkan kesuksesan pun sama seperti kebahagiaan; setiap orang bebas mendefinisikannya. Tentu setiap kata juga demikian. Jika saya menganggap nongkrong adalah duduk dan ngobrol sambil minum kopi saset yang profitnya 150% bersama teman-teman baik, maka nongkrong adalah kebahagiaan yang juga merupakan kesuksesan jika misalnya kesuksesan adalah kebahagiaan. Mari kita potong omong kosongnya, karena tidak semua kata bisa didefinisikan seromantis hal-hal itu. Seperti halnya makan siang. Makan siang adalah makan yang dilakukan saat siang hari. Namun makan siang bersamamu tentu adalah kebahagiaan dan mungkin kesuksesan, dan mungkin juga dapat dikatakan sebagai nongkrong, karena menyangkut ketiga hal yang sama tidak jelasnya tadi. Saya juga kurang sukses menulis paragraf pertama ini yang kalimat pertamanya kurang menarik; seperti tulisan yang katanya dalam dan menggetarkan jiwa karena menurut tulisan itu, kesuksesan bukanlah diukur dengan banyaknya aset dan rekening sebelas digit. Ketidakmenarikan kalimat pertama saya dapat dikategorikan sebagai bukan-kesuksesan, yang dapat menuju ke bukan-kebahagiaan, dan mungkin akan membuat saya malas nongkrong kemudian. Walau saya tidak keberatan juga jika rekening saya 10 digit dan tubuh saya lebih sehat.

Malam ke rumah saya, sunyi. Kami nongkrong di pinggir jalan, lalu mengejawantahkan beberapa kejadian yang terjadi beberapa waktu ke belakang. Beberapa waktu di sini adalah beberapa hari, bulan, dan tahun yang meski tanggalnya lupa tapi kejadiannya ingat betul. Kami sering membicarakan ide, kejadian, dan orang-orang, yang orang-orangnya juga itu-itu lagi. Untungnya orang yang itu-itu lagi cukup menarik jadi kami tidak terjebak menjadi dialog drama anak SMP yang membicarakan orang yang itu-itu lagi namun orangnya tidak menarik.

Kalau orang yang pikirannya tidak baik, jalan berpikirnya tidak runut, kemampuan berlogikanya di bawah rata-rata, dan membuat kalimat dalam urutan kata-kata yang tidak jelas dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Maka, ke mana kah jalan akhir orang yang mendidik diri menjadi berpikiran baik, berpikiran runut, berlogika dengan baik, dan mampu membuat kalimat yang rapi. Paling tidak yang jelas saya bukan bagian dari orang yang membuat kalimat dengan terstruktur dan menulis tanpa salah ketij. Agak sedikit kurang adil, tapi toh yang penting masih bisa nongkrong.

Dalam kenaifan kami, ia bertanya. “Apa gunanya capek-capek?” Saya menjawab dengan sok bijak karena menjawab tidak tahu pun adalah jawaban yang cukup bijak, daripada menjawab asal jeplak, salah-salah ia mendapat tuntunan agar hidup porak poranda. Ketidakadilan ini pun hanya tertiup angin pada akhirnya.

Di lain hari, sebuah musibah datang. Berkaitan dengan seorang balita cantik berinisial T, sebut saja Tania. Nama asli tapi tidak penting untuk disamarkan. Ia berceloteh di dalam mobil bertempat duduk 14 buah yang isinya orang-orang sedih atau bosan karena harus menunggu kemacetan atau harus bepergian jauh meninggalkan hal-hal kesayangannya. Seperti bantal guling, colokan di dekat kasur, dan orang-orang baik. Dalam keributannya, sang ibu tidak kunjung menenangkan sang balita T alias Tania yang entah rewel, entah kurang ajar, entah sakit infeksi, atau entah tenggorokannya gatal jika tidak berteriak-teriak. Ibu tersebut melakukan hal-hal yang saya tidak suka. Tidak perlu dijelaskan di sini karena akan menjadi seperti orang yang berpikiran tidak baik, karena saya telah menjadi demikian di saat itu dan berakibat berkata kasar ke orang lain. Lagi pula menilai seseorang tidak baik atau mengacau hanya dari pertemuan beberapa jam tidak hanya merupakan sebuah kejahatan dalam berpikir, tapi juga sebuah cacat logika yang tidak akan habis diperdebatkan. Andaikan kebahagiaan bisa seperti debat. Pada akhirnya hanya terlihat seorang ibu yang bingung dan seorang anak yang sangat disayang. Sangat disayang hingga kelak semua makanan dan baju agak mahal dari mall-mall besar akan dibelikan saja agar anaknya cantik dan percaya diri hingga pria-pria yang kebetulan mapan akan datang dan berbagi sedikit kebahagiaan makan siang bersama, nongkrong, atau berbagi aset. Tapi jika demikian, ketidakadilan masih tertiup angin. Kali ini angin panas siang hari.

Ibu bilang, jangan suka ganggu orang. Kalau suka tidak apa-apa tapi jangan ganggu. Maka dari kecil jika menunggu di tempat kerja cukup membaca buku saja dan tidak rewel meski suka untuk rewel dan menganggu orang. Nanti tidak ada manusia mapan untuk berbagi tongkrongan untuk saya yang kurang suka bersolek, karena kebahagiaan meski tidak hanya didapat dari nongkrong, juga tidak hanya didapat dari hal-hal yang bisa dibeli dan tidak bisa dibeli (karena tidak ada uangnya). Dan karena peran saya adalah menjadi lelaki mapan yang berbagi tongkrongan dan bukan-kejahatan-dalam-berpikir. Kasih Ibu dan Ayah beda lagi karena tidak ternilai, beda dengan tidak bisa dibeli.

Anak itu belum juga berhenti berteriak. Saya juga ingin berteriak (karena tidak ternilai). Tapi saya memilih untuk diam saja dan mendengarkan tembang dari orang-orang yang senang nongkrong.

 

Kenapa Saya Sanggup Makan Padang 7 Kali Seminggu

Minggu lalu Ompung dari Padang datang. Tidak disangka. Saya hanya pulang dan berharap bertemu orang-orang rumah seperti biasa. Namun terkejut waktu beliau keluar dari toilet rumah. Agak memendek, dan lebih kurus dari waktu terakhir bertemu 6 tahun yang lalu. Langsung saya peluk. Beliau mengajak saya mengobrol di atas. Waktu itu saya sangat mengantuk, pukul 10.30 malam, dan banyak tugas yang belum saya kerjakan dengan deadline besok pagi.

Saya berakhir di lantai, duduk bersila mendengarkan beliau bercerita. Cerita tentang dokter, kedokteran, dan cara menjadi sehat. Tentang anak-anak Ompung, dan pendapat-pendapat saya tentang beberapa hal. Sembari diam-diam menyalakan perekam suara di handphone, saya terus mendengarkan. Ompung beberapa kali lupa bahwa beliau berbicara dengan orang Bandung berdarah setengah Sumatera, Ompung berbicara bahasa Padang.

Saya menyalakan perekam suara di handphone saya, bagaikan mendengarkan seorang artis atau pernyataan pejabat publik. Kenyataannya, kata-kata Ompung itu suatu hari akan jauh lebih berharga.

Sampai jam 12 malam. Tanggung. Toh memang biasa saya kurang tidur dan kembali bangun jam 4.30. Ompung batuk-batuk jam 1 pagi waktu itu. Saya temani minum. Ompung seperti sesak dan kelelahan. Saya lupa berapa umurnya. Jam 5 saya bangunkan Ompung untuk shalat subuh. Beliau kaget karena kesiangan. Saya bilang kalau saya sudah shalat. Padahal belum.  Sudah lama sekali saya tidak shalat subuh. Beliau shalat sendiri sementara saya membereskan barang dan berpakaian, bersiap untuk berangkat lagi ke rumah sakit. Waktu pamit Ompung bilang “sungguh perjuangan”.  Meski yakin, Ompung dulu lebih keras perjuangannya, sekarang memang sudah waktunya bersantai di rumah saudara-saudara. Katanya Ompung pulang hari ini.

Saya berangkat lebih semangat dari biasanya. Sedikit sedih.

Sempat bimbang untuk tidak mengambil tawaran menarik jaga malam hari itu. Akhirnya tetap diambil juga. Ompung tidak jadi pulang hari ini. Saya kembali ke rumah pukul 11 malam. Mengintip kamar yang Ompung tiduri. Ternyata ada anak Ompung yang paling muda. Sudah tidur juga. Bang Seno terlentang. Ompung terlentang. Saya juga terlalu lelah, hanya ingin tidur cepat supaya bisa bangun jam 4 lalu mengobrol di perjalanan ke Masjid.

Agak sedikit kecewa, mungkin karena perjalanan nanti subuh ke Masjid tidak akan hanya berdua, Bang Seno pasti ingin ikut.

Lebih kecewa,karena saya tidak terbangun jam 4 pagi. Begitu pula Ompung dan mungkin Bang Seno.

Saya bersiap, mandi, mengintip ke kamar yang Ompung tiduri lagi. Ompung sedang mengobrol dengan Bang Seno. Saya tidak ingin bertemu dulu sebelum benar-benar akan berangkat. Akhirnya saya pamit, harus berangkat. Saya peluk Ompung erat-erat. Maaf Ompung, rencana saya dalam hati untuk shalat berjamaah di Masjid gagal. Rencana mengobrol di jalan sambil kedinginan subuh-subuh gagal. Gagal untuk kembali jadi anak kecil yang hanya mendengarkan Ompungnya bercerita. Saya peluk Ompung, kalau Ompung ke Bandung lagi, pasti saya ajak jalan-jalan dan makan-makan. Mengobrol di kendaraan. Lupa kemacetan. Cuma ingin kalau nanti Ompung ke Bandung lagi adalah akhir pekan.

Mungkin saya sudah lebih dewasa. Lebih ingin menghargai momen. Lebih ingin memanfaatkan waktu. Lebih butuh banyak wejangan dan sekedar cerita dari orang bijak. Dari pria-pria tua yang kebanyakan sudah pada pergi. Yang dulu saya tidak dengarkan ceritanya.

Saya berangkat kurang semangat dari biasanya.  Banyak sedih.