Archive

negara

Rainer Weiss, Kip S Thorne, dan Barry C Barish masing-masing berusia 85, 77, dan 81 tahun ketika mereka meraih penghargaan paling prestisius di muka bumi dan muka mereka. Nobel fisika yang keajaibannya tiap tahun hanya bertambah ajaib tanpa mengurangi keajaiban-keajaiban sebelumnya.

Saya belum mencari tahu seperti apa wajah mereka yang telah mengeluarkan teorema tentang gelombang gravitasi, atau bahkan mungkin mereka sebenarnya tidak membuat formulasi dan teori, tetapi bekerja sebagai pembuat alat pendeteksi gelombang gravitasi, yang notabene pasti memerlukan berbagai macam formulasi dan pengejawantahan matematis. Saya tidak paham. Saya juga tidak tahu jika mungkin ternyata mereka sudah meninggal saat hadiah Nobel 2017 diumumkan dan nama merekalah sebagai pemenangnya.

Saya tidak tahu apakah mereka bertiga berteman baik. Saya tidak tahu jika mereka pernah bertengkar saat mengajukan argumen dan hal-hal yang sama sekali tidak berbau Nobel seperti kopi yang kebanyakan gula atau salah satu dari mereka datang terlambat sehingga membuat kopi yang kebanyakan gula itu tidak terminum karena mereka yang sudah sangat tua tidak mau minum kopi duluan tanpa sahabat fisikawan yang terlambat karena kunci sepedanya lupa disimpan di mana. Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya gambaran romantisasi para peneliti di film yang memberikan gambaran salah pada anak muda di seluruh dunia bahwa ilmuwan punya kantor dan mesin-mesin besar dan rekan kerja yang berbicara di belakang.

Mereka mungkin berpelukan lalu mengundang anggota keluarga masing-masing yang belum meninggal karena komplikasi diabetes dan berharap cucu-cucu mereka yang mampu berkuliah tanpa hutang ke negara bisa datang, juga cucu-cucu yang tidak sepintar itu namun masih bisa diatur untuk acara makan-makan keluarga kakek fisikawan yang nanti melunasi tagihan kalkun dengan hadiah Nobel yang besarnya ratusan ribu mata uang entah apa. Saya banyak tidak tahu. Yang saya tahu para peraih Nobel tidak materialistis dan meributkan biaya transfer antar bank yang besarnya 6500 rupiah.

Mereka mungkin lolos dari berbagai lubang hitam di masa muda. Dengan kebetulan atau dengan keajaiban dan usaha setengah mampus, mereka bisa hidup sejauh itu dan membuat pilihan-pilihan yang syukurnya tidak berujung sial-sial amat. Saya sendiri tidak tahu. Masih elektromagnetik. Gelombang gravitasi bisa lolos dari lubang hitam menembus lengkung ruang dan waktu dan pilihan dan belokan dan lalu tiba menabrak entah di sudut rumah yang mana. Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa sekarang lebih banyak lagi ilmu pengetahuan yang saya tidak tahu dan meskipun kemungkinan manusia bisa piknik ke planet sebelah makin besar, tapi kemungkinan saya pun sekaligus makin kecil.

Mereka mungkin merasa bangga sekali atas pencapaian mereka, lalu makin bersemangat untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa yang punya akun Instagram namun nanti juga punya laman Wikipedia dengan kolom peraihan: Nobel fisika 2042. Saya tidak tahu. Yang saya tahu mereka sangat produktif dan tidak ikut-ikutan voting di bilik suara negara saya ataupun di kotak IG Story teman-teman saya.

Nanti saya akan berusia 82 tahun, itu pun jika belum tewas sengsara karena nyeri pinggang atau kesedihan akibat istri yang berangkat duluan karena komplikasi hipertiroid, mungkin saya akan tidur nyenyak jika nama saya dinobatkan sebagai pemenang Nobel perdamaian, sastra, atau kedokteran.
Nanti mungkin saya yang sudah menjadi gelombang gravitasi bisa tetap bangun dan hidup sehat dengan sepatu Nike hijau-kuning muda yang dijaga terus agar tidak lapuk, karena sudah terlalu banyak yang lapuk bekas jogging via lubang hitam yang bikin masuk angin.

Atau mungkin saya masih tidak tahu.
Atau mungkin saya akan sangat sedih, berharap istri dan orang tua dan sahabat saya belum pergi, karena mereka pasti sujud syukur dan melihat saya dengan penuh kasih, karena beberapa hal memang mustahil terjadi. Seperti cerita peraihan Nobel atau sekedar hidup sampai presiden berganti ke 11 kalinya. Mungkin anak atau cucu saya yang semoga tidak kurang ajar dan nakal masih mau berkunjung membawakan DVD edisi kolektor film drama musikal tahun 2016 lalu menonton dengan bapak dan kakeknya yang pemenang hadiah Nobel tapi masih suka sekali film warna-warni bernyanyi-nyanyi dari 60 tahun yang lalu.

Atau mungkin saya hanya merasa puas lalu tidak melakukan apa-apa lagi. Karena tidak mau apa-apa lagi. Tidak mau lagi mengajar karena akan mengingatkan saya pada masa lalu yang penuh semangat dan impian bersama istri. Pada impian mustahil tentang membangun sekolah dari hadiah uang Nobel yang jika dirupiahkan bisa membangun 37 SD akreditasi A gedung kecil sekaligus staf-stafnya yang harus pintar-pintar. Pada impian-impian berharga yang tidak ada gunanya jika dilakukan sendiri. Pada impian luar biasa yang tidak lengkap jika tidak ada orang tua yang akan melihat lalu bangga dan memeluk saya dengan erat. Lagi-lagi yang menjadi pembeda antara saya dan para kaum peraih.

Saya memang tidak tahu. Belum lagi 21 tahun pun. Juga 24.

Advertisements

Bapak tidak mau lihat kemari
Lihat keringat teman kami
Kaus basah dorong-dorongan
Susah payah hujan-hujanan

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke dalam yang menyala-nyala
Hingga kan terbakar menari-nari
Seperti pedansa yang menggila

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke bingkai kelam televisi
Balita yang menghisap palsunya nubuat
Tersesat

Bapak tidak mau lihat kemari
Hati dikubur rapat-rapat
Takut lihat pakai mata sendiri
Nyatanya sudah pada cacat

Bapak pasti akan lihat kemari
Saat keluarga bapak
Mati

Bapak perokok
Yang baru akan berhenti
Ketika terlambat

Saya sering terlibat obrolan malam yang topiknya tidak berhenti. Kadang ada yang mencerahkan, banyak yang membingungkan, dan beberapa membuat kesal.
Bermalam-malam yang saya lewati itu, membuat saya sadar akan hal sederhana bahwa benar manusia bermacam-macam, bahwa semua punya pengetahuannya masing-masing, bahwa ada alasan kenapa ada kelompok dan pengotak-ngotakan sosial, bahwa kita tidak bisa memaksakan prinsip pribadi, lantas kehilangan teman.

“Gue sih mending pindah kewarganegaraan aja kalo jadi dia (Rio Haryanto). Lebih mendingin karier lah.”

Kata mereka, lalu diiyakan.

Nasionalisme adalah abstrak. Karakter tercipta dari perspektif.

Saya hanya terhenyak, merasa tidak selaras, lalu tidur dengan lelah, mungkin gelisah, tidak bermimpi apa-apa. Bahkan tidak memimpikan Indonesia.