Archive

negara

Bapak tidak mau lihat kemari
Lihat keringat teman kami
Kaus basah dorong-dorongan
Susah payah hujan-hujanan

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke dalam yang menyala-nyala
Hingga kan terbakar menari-nari
Seperti pedansa yang menggila

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke bingkai kelam televisi
Balita yang menghisap palsunya nubuat
Tersesat

Bapak tidak mau lihat kemari
Hati dikubur rapat-rapat
Takut lihat pakai mata sendiri
Nyatanya sudah pada cacat

Bapak pasti akan lihat kemari
Saat keluarga bapak
Mati

Bapak perokok
Yang baru akan berhenti
Ketika terlambat

Saya sering terlibat obrolan malam yang topiknya tidak berhenti. Kadang ada yang mencerahkan, banyak yang membingungkan, dan beberapa membuat kesal.
Bermalam-malam yang saya lewati itu, membuat saya sadar akan hal sederhana bahwa benar manusia bermacam-macam, bahwa semua punya pengetahuannya masing-masing, bahwa ada alasan kenapa ada kelompok dan pengotak-ngotakan sosial, bahwa kita tidak bisa memaksakan prinsip pribadi, lantas kehilangan teman.

“Gue sih mending pindah kewarganegaraan aja kalo jadi dia (Rio Haryanto). Lebih mendingin karier lah.”

Kata mereka, lalu diiyakan.

Nasionalisme adalah abstrak. Karakter tercipta dari perspektif.

Saya hanya terhenyak, merasa tidak selaras, lalu tidur dengan lelah, mungkin gelisah, tidak bermimpi apa-apa. Bahkan tidak memimpikan Indonesia.