Archive

Nostra

Mengapa kita merayakan ulang tahun?

Bukanlah sebuah prestasi untuk sekedar terlahir. Untuk hidup dari tahun ke tahun. Untuk keseharian yang tiga ratus enam puluh lima. Tidak sulit pada zaman teknologi dan globalisasi untuk sekedar bertahan hidup. Lain halnya jika kita hidup pada abad pertengahan, di mana harapan hidup tidak sejauh ini, dan untuk bisa menembus usia paruh baya  pun adalah sebuah peraihan spektakuler.

Di dunia yang beracun. Ketika kita tidak terancam oleh peperangan, penyakit dan wabah, lingkungan yang rusak, kejahatan karena kebencian, banjir di stasiun dan rumah sakit, target rasisme, dijatuhkannya pejabat-pejabat yang hebat, motivator yang kehilangan integritas, kekurangan makanan, tornado, kekerasan dalam rumah tangga, dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri. Kita berhasil hidup untuk satu tahun lagi. Bahkan sangat mungkin untuk tahun-tahun berikutnya. Maka, selamat ulang tahun.

Ulang tahun hanyalah satu hari yang sama seperti hari-hari lainnya. Matahari sama panasnya, hujan sama basahnya, dan udara poliklinik sama pekat pesakitannya. Sebuah obligasi untuk menghargai setiap hari sebagai sebuah berkah, dengan rasa syukur, karena setiap menit adalah kebaikan dari yang maha kuasa.

Hidup ini sudah hiruk-pikuk dan padat. Tidak ada salahnya kita menghias perjalanan tidak masuk akal ini dengan kue, hiasan, dan barang-barang yang dibungkus kertas warna-warni. Sangat boleh pula kita menghias rumah yang sudah penuh, berantakan, dan padat isi.  Tentu tidak akan memburuk jika ditempel pita-pita lucu. Toh jika setiap hari adalah sama, tidaklah salah memberi nama pada satu selasa, atau rabu, atau kamis, yang kebetulan beruntung, dan menjadikannya hari bebas marah dan gelisah dari dini hari sampai selimut ditarik ke muka pada pukul 11 malam yang lelah. Maka, selamat ulang tahun.

Hidup ini sementara, dan kita sangat rentan terhadap rasa kehilangan. Kita takut kehilangan rasa nyaman, orang yang disayang, dan dunia. Sehingga kita beranggapan ada kehidupan sesudah kematian, berharap setelah kita meninggal akan bertemu dengan orang-orang yang sudah lebih dulu berada di langit surga sejuk. Bahwa hidup sementara, kefanaannya membuat ini kurang berharga.

Tapi bahkan jika kita hanyalah satu kerlip lampu di bentangan bumi ketika batas antara malam dan siang berputar. Bukankah lampu itu pun sempat menyala dan menjadi lampu yang menjadi tanda eksistensi kita. Menjadi kerlip yang berada dalam kumpulan lampu-lampu lainnya dalam penglihatan astronot yang mengambang-ngambang melamun. Maka, selamat ulang tahun.

Seorang ibu, dan seorang ayah, dan anak, dan bibi, dan paman, dan siapapun itu. Terbingung ketika ditanya kapan ulang tahunnya, kapan lahirnya, hari apa ketika ia pertama kali menjadi seorang ayah atau ibu. Hidup yang penuh durjana, hidup dari tangan ke mulut, dari subuh sampai maghrib, diselingi shalat 5 waktu berharap adanya keadilan dari Gusti yang maha kuasa. Boro-boro mengingat ulang tahun, nama lengkap kamu siapa? Ah anak saya terlalu banyak. Dagangan saya juga banyak, yang tidak laku.

Jika hidup dalam kesendirian dan kesulitan. Menjadi waktu untuk menyortir ulang hal-hal yang diperlukan, sekaligus yang tidak perlu. Merapikan mimpi-mimpi yang terlupakan di bagasi. Mencatat ulang hal-hal yang terlewat dalam daftar belanjaan. Mengingat kebahagiaan yang sedikit, yang pernah terjadi. Bahwa di tanggal ini saya pernah merasa bahagia. Menjadi jangkar atas rasa syukur dari potongan-potongan berkah yang dibagi oleh si Gusti yang maha kuasa.

Ulang tahun adalah sebuah propaganda keburukan dan keduniawian, hidup kita yang sebentar ini sesungguhnya hanya berkurang. Satu tahun menuju kematian yang lebih dekat. Satu tahun menuju ajal dan segala siksaan dua meter di bawah tanah.

Sama seperti sebuah gelas yang setengah kosong dan setengah penuh.  Hidup kita bertambah satu tahun lagi, atau berkurang satu tahun lagi. Bukan itu isunya. Sebuah ulang tahun tidak mesti menjadi pengharapan bagi tahun-tahun yang akan datang. Hal-hal buruk yang sudah dilewati, ujian-ujian berat yang berhasil dialami, dan momen-momen yang sudah ditabung, butuh untuk dipeluk dan diberi apresiasi. Bahwa yang tahun lalu tentu berbeda dengan yang hari ini.

Sibuk. Butuh efektivitas dan kebermanfaatan.

Sibuk. Butuh rasa syukur, perenungan, sedikit kebahagiaan ekstra, keluarga, kebaikan.

 

 

Tulisan miring adalah saya. Tulisan tidak miring adalah saya. Beberapa hari yang lalu saya mendapat notifikasi bahwa blog saya berulang tahun yang keenam. Berdekatan dengan ulang tahun keempat Nostra. Berjeda satu bulan setelah kepelikan ulang tahun Ibu dan Puput di mana saya  merasa saya gagal memberi kebahagiaan dan balasan pada kebaikan mereka. Sulit menjadi orang yang nihilis, optimis, pemalas, sekaligus sentimental di masa penuh ulang tahun. Tepatnya, bukan mengapa, tapi bagaimana. Bagaimana kita merayakan ulang tahun? Saya memilih dengan sederhana. Dengan penuh syukur dan sedikit rasa kenyang.

 

 

Advertisements

Saya sering terlibat obrolan malam yang topiknya tidak berhenti. Kadang ada yang mencerahkan, banyak yang membingungkan, dan beberapa membuat kesal.
Bermalam-malam yang saya lewati itu, membuat saya sadar akan hal sederhana bahwa benar manusia bermacam-macam, bahwa semua punya pengetahuannya masing-masing, bahwa ada alasan kenapa ada kelompok dan pengotak-ngotakan sosial, bahwa kita tidak bisa memaksakan prinsip pribadi, lantas kehilangan teman.

“Gue sih mending pindah kewarganegaraan aja kalo jadi dia (Rio Haryanto). Lebih mendingin karier lah.”

Kata mereka, lalu diiyakan.

Nasionalisme adalah abstrak. Karakter tercipta dari perspektif.

Saya hanya terhenyak, merasa tidak selaras, lalu tidur dengan lelah, mungkin gelisah, tidak bermimpi apa-apa. Bahkan tidak memimpikan Indonesia.

Kamu sedang berdiri di depan sebuah maha karya lukisan yang dibuat ratusan tahun lalu. Ada perjalanan hingga benda itu bisa sampai di depanmu. Perhatikan, setiap titik di lembaran yang bersatu membentuk cerita. Setiap goresan yang memberi warna. Setiap bulir debu yang telah dan sedang menempel di benda itu.

Bagus.

Kamu sedang memegang sebuah karya ilmu pengetahuan yang dicetuskan ratusan tahun lalu. Ada subjek, predikat, dan objek yang diatur dengan usaha. Perhatikan, setiap koma di lembaran yang bertabur membentuk makna. Setiap lekukan yang mengajarkan semesta. Setiap tetes keringat yang tidak mengetahui bahwa ia telah tertetes. Tertetes untuk selembar ilmu yang kamu sedang pegang itu.

Bagus.

Kamu tidak lagi berdiri atau memegang. Kamu dikubur. Tapi dia sedang memegang dan berdiri. Ada perjalanan yang telah kamu lewati hingga sepatumu menipis. Ada keringat yang telah tertetes. Ada debu-debu berterbangan yang pernah bersamamu di badan. Ada goresan dan titik-titik yang ditulis dengan tujuan. Tidak dengan kebetulan.

Kita selalu tertekan. Sampai di akhir tertekan tanah.

Tapi akan tiba saatnya kita berakhir pekan. Lalu tiba hilangnya lelah.

Karena kamu akan membawa cerita yang orang tak pernah dengar sebelumnya.

 

Saya berdiri di antara puluhan teman-teman baik saya. Memukul-mukul tong warna biru yang bunyinya dipaksakan keras. Pemandangan yang saya lihat hanya tong di depan saya yang dipukul-pukul dengan tangan yang sudah mulai lecet. Bahagia sekali rasanya, berapi-api, penuh semangat, dan penuh rasa memiliki. Entah kenapa saya bahagia.

Ketika saya disuruh memimpin yel-yel, apa yang ada di dalam pikiran saya banyak sekali. Takut gagal memberikan komando, takut garing, takut salah berteriak. Tapi ketika teriakan saya diikuti oleh semua teman-teman di sekeliling saya, rasanya luar biasa lega. Dan gelombang semangat pun kembali masuk bersama gemuruh suara yang kalian teriakkan. Pasti begitu pula yang kalian rasakan kan? Tam, Wit, Iqi, Elsa, Fatimah, Ayu, Nanda, Fachri, Pradit. terimakasih Nostra punya sangat banyak korek untuk menyulut kami semua, bensin yang kadang cukup cepat menguap.

Ketika yel-yel berkumandang, raga ini otomatis bergerak. Saya ingin semangat yang saya miliki bisa tertular pada kalian. Lewat gerakan yang gila, badan juga tangan yang tersenggol, dan peluh yang terciprat. Bagi semua yang selalu datang dan berteriak, para ‘Suara Abis’ yang selalu menyemangati para kebanggaan Nostra. Kalian pasti tahu rasanya seperti apa. Rasa semangat yang menguar di udara, dan kepuasan ketika kita seakan-akan berhasil menyemangati para kebanggaan itu.

Saya berdiri di antara serakan bahan dekor dan kalian yang tergeletak tidur kelelahan. Kalian yang sudah sangat kelelahan beberapa minggu ke belakang, menyiapkan properti dan kostum untuk segala sesuatunya. Saya cuma mampu berusaha untuk selalu ada, menyemangati kalian seadanya dan ingin jika mampu menteleport kalian ke kasur waktu ketiduran. Saya tidak cukup niat seperti kalian yang mengonsep dan bekerja keras berkarya. Saya tahu lelahnya mengecat dan mencium bau pekat, menggunting bahan-bahan keras, menempel sana sini, mendesain kostum, dan saya salut kepada kalian yang mampu bergadang berhari-hari mengerjakan semua ini. Udah hilang belum trauma dan capenya? Bert, Nis, Aul, Gret, Pus, Shof, Sri, Ju, Mor, Diar, Cel, Git, Ran, Elsa, Tant, Del, Bel, Yar, Kia, Pipit, Sarah, Fani, Tace, semua yang kelewat lapor ya 🙂 tangan-tangan ahli kalian luar biasa.

Saya duduk di antara kalian semua. Menunggu detik-detik pengumuman siapa yang terbaik. Dan ketika hasilnya seperti yang diharapkan kalian berteriak sampai paru-paru kalian bergeser salah posisi. Jika tidak, kadang air mata dan bisikan kata kotor yang keluar, sungguh besar cinta kalian. Di tengah riuh rendah itu mungkin saya melihat wajah-wajah kecewa kalian dengan mereka yang terlihat lebih asik, yang punya atribut. Pasti menyenangkan ya bisa seragaman nanti. Maafkan saya tidak bisa menyelesaikan hal dengan benar dan tepat waktu. Maafkan ketua angkatan. Ketua kontingen. Semuanya.

Yang teman-teman hebat saya alami ini mungkin mirip seperti nasionalisme fanatik, atau suporter bola anarkis, atau fans artis, atau penggila partai politik. Meneriakkan yel-yel yang sama berulang-ulang dan berharap bisa merubah keadaan. Tapi saya yakin ini berbeda. Suatu bentuk kecintaan yang lain, keinginan mendukung dan melihat teman seperjuangan kita meraih keberhasilan. Karena yang sedang berjuang bukanlah orang asing atau suatu yang abstrak. Tapi mereka yang duduk di sebelah kita saat tutor, teman satu kamar atau satu lantai atau satu bale dulu waktu tahun pertama, teman dekat yang selalu bersama kita bergerombol-gerombol, sahabat yang selalu kita repotkan, kekasih, kekasih sahabat-sahabat kita sendiri. Saya percaya karena hal inilah teman-teman rela sampe larut malam pun berteriak-teriak sampai C6-C3-C5 sepertinya retak karena kalian semua.

Apa yang terjadi 2 minggu ke belakang ini sangat luar biasa. Kalian yang mungkin bertengkar tanpa ada yang tahu karena mengurusi semua ini, yang uangnya terpakai banyak sekali dan belum diganti, yang waktu luangnya terkuras habis, yang isi otaknya dikuras habis-habisan mengeluarkan ide cemerlang, yang jari-jari dan hatinya cedera, dan yang menangis sedih, kecewa, marah dan kelelahan. Air mata kalian luar biasa. Yang tumpah menetes ke lapangan atau pundak teman sebelahnya. Kali itu lah air mata rasanya tidak terlalu asin, namun manis.

Untuk teman-teman yang berkontribusi di tempat lain, terimakasih tak terhingga. Kalian pahlawan yang tidak terlihat dan jasa kalian tak terbayarkan. Lain kali kita rasain semangat dan suara abis bareng-bareng ya. Untuk Kebanggaan Nostra, kalian hebat. Dan untuk Puput yang selalu ada mendukung saya, terimakasih. Besok semua ini selesai, dan apapun yang terjadi, kita akan kembali ke rutinitas. Tapi lihatlah sekeliling, pasti banyak di antara kalian yang menjadi lebih dekat, lebih akrab, dan bersyukurlah bisa terikat lebih dalam bersama mereka. Mereka, para orang-orang yang dulunya asing sama sekali, dan dengan milyaran probabilitas dipertemukan oleh takdir di bawah langit Jatinangor tahun 2012.