Archive

romantika

Seorang ibu dan seorang ayah yang baru saja menjadi ibu dan ayah dalam beberapa belas jam terakhir duduk saling menyandarkan kepala. Mereka menatap bayi sangat kecil milik mereka, yang diberi pancaran sinar hangat transparan agar tidak mati kedinginan. Di ruangan itu hanya mereka bertiga. Diam saja. Tidak ada yang berbicara.

Romantis, meresahkan, menyedihkan, hangat sekaligus dingin.

Tiga laki-laki yang tidak saling mengenal, tidak mendapat tempat menginap di negara orang karena kesalahan pemesanan via internet dan pihak hotel. Mereka lalu berkenalan dan membiarkan kamar satu-satunya kosong daripada menuruti rasa egois mereka. Kafe dan masjid bersejarah menjadi tempat mereka bernaung malam itu.

Kepercayaan, rasa terima kasih, lelah, kesal, jam-jam yang hangat sekaligus dingin.

Seorang bijak yang tidak pernah lama jauh dari keluarganya harus tidur sendiri malam itu. Dalam kesendiriannya ia sadar bahwa menjadi sendiri tidak seburuk yang dibayangkannya. Membuat markas rasa nyaman sendiri lalu terlelap. Hal terakhir yang ia lihat adalah karat-karat kelabu di jeruji rapat yang menjaganya agar tetap di dalam.

Kesepian, kesadaran, amarah, dingin sekaligus hangat.

Seorang laki-laki manja tidak bisa tidur. Lalu seorang wanita menyanyikan lagu untuknya agar malam yang seharusnya panjang jadi lebih bisa dinikmati. Telapak tangannya jadi merah seperti seseorang yang baru berpegangan tangan dengan sahabat barunya. Lehernya nyeri dan kaku karena menahan beban kepala wanita yang pertama kali tidur sepanjang malam di lengannya. Nyeri dan kaku leher itu dinikmatinya seharian.

Kebahagiaan, kesepian, dan kerinduan yang dingin sekaligus hangat.

Sebuah perasaan yang gagal didefinisikan dengan kata-kata, bukanlah sebuah kegagalan dan kebohongan. Sebuah perasaan yang gagal disampaikan dengan nada dan gerakan, bukanlah sebuah kesalahan dan kedangkalan. Sederhana, bahwa manusia dan interaksi di antaranya terlalu menyilaukan, yang harus dihadapi sendiri, dialami dengan wajah tegak lurus hingga mata berair dan kulit memerah. Berbalik sesekali, dengan punggung yang lalu hangat, lalu sadar bahwa silau itu tidak terlalu buruk, namun memberi kesan pada sisi yang kini dingin.

Saya siap untuk perasaan-perasaan menyilaukan yang dunia ini bisa berikan.

Kamu seharusnya kagum. Pada besarnya kombinasi nada, ritme, progresi kord, dan penekanan yang menyebabkan lagu akan selalu baru bagi mereka yang mau mendengar. Aku berharap begitu.

Pada jutaan kombinasi pembukaan permainan catur dan jutaan kemungkinan pengocokan kartu remi. Kekalahanku bermain catur dengan adik kelas dan kocokan kartu sulap murahan penggaet wanita sekian tahun lalu tidak akan pernah terulang lagi.

Wajah sombong namun bangga teman masa remajaku yang berhasil menyelesaikan kubus rubik dengan algoritma itu mungkin bisa terulang. Tapi warna-warna yang berputar waktu itu tidak akan pernah lagi. Bahkan mungkin senyumnya pun tidak akan terulang, mengetahui bahwa kehidupan setelah wisuda tidak semudah kubus rubik dengan panduan algoritma yang dapat dibeli di toko buku diskon. Atau karena mengetahui bahwa kubus rubik kesayangan berlumur daki telah hilang dan sekarang harganya lebih mahal dari ongkos kereta api Bandung-Jakarta.

Kubus rubikku juga hilang.

Kalau tidak salah benda itu punya enam warna. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Putih, dan Hitam. Sejujurnya saya lupa warna mana yang ada dan warna mana yang tidak ada. Tapi menentukan dua warna yang akan saya hapus dari daftar-warna-yang-ada-di-kubus-rubik juga sama sulitnya. Sehingga lebih baik saya sebut semua karena mengecewakan warna bukan sesuatu yang baik. Apalagi mengecewakan manusia yang menyayangi kita. Seperti Ibu, Ayah, adik, kakak, pacar, teman-teman, satpam Puskesmas, Pak Budi, Iwan Fals, dan junjungan bumi alam Rasulullah S.A.W.

Dalam kubus rubik enam sisi dan sembilan warna terdapat empat puluh sekian sesuatu dengan digit yang jumlahnya terlalu sulit untuk dikomprehensi. Namun pengetahuan bahwa terdapat kombinasi sebesar itu didapat dari perenungan seorang ahli matematika yang tidak bisa tidur karena baru saja bertengkar dengan pasangannya dan kebetulan waktu maghrib baru minum cappuccino yang ternyata kurang susu sehingga sebenarnya bisa dikategorikan sebagai espresso berwarna pucat. Lagipula saya yakin ahli matematika banyak berasal dari negara radius kurang dari 2000 kilometer dari asal usul nama cappuccino.

Anggap satu sisi dari kubus rubik adalah hidupmu. Atau hidupku juga jika misalnya nanti kita punya satu kehidupan dengan segala kerumitan dan bunga-bunganya. Sayangnya jika kita menganalogikan kehidupan kita menjadi satu dalam satu sisi kubus, perbuatan itu akan mengontradiksi analogi yang akan dibuat.

Anggap satu sisi dari kubus rubik adalah hidupmu.

Di tengah sana ada kotak kecil berwarna merah atau jingga atau kuning atau hijau atau biru atau ungu atau putih atau hitam. Kotak itu keras kepala. Jika kamu putar dengan sekuat tenaga maka yang berputar adalah seluruh kubus itu terhadap tangan atau meja. Sampai sini kita setuju bahwa kotak kecil entah berwarna apa di tengah kubus itu adalah keras kepala sekaligus dirimu.

Lihat ke sebelah kirimu, lalu kanan, lalu depan, belakang, dan kalau bisa ke segala arah. Semua yang kamu lihat adalah buah perbuatan satu sama lain. Entah dalam kendalimu, atau dari luar sana sehingga tidak bisa diintervensi.

Buku-buku yang bertumpuk di meja, gorden yang berdebu, nyamuk yang hinggap, lagu yang berkumandang, sejadah yang terbentang, anggota keluarga yang memanggil barusan, dan notifikasi dari alat elektronik, bisa berada di tempat itu adalah karena perbuatan.

Pengetahuan, risiko, bahasa, kebudayaan, agama, keluarga, hubungan.

Kamu yang keras kepala dan berwarna entah apa, sangat sah untuk diam saja dan menunggu kedatangan warna-warna lain yang kadang cocok namun sering kali tidak. Sehingga kamu memindahkan sejadah, mengganti lagu, menepok nyamuk sesuai keinginanmu, dan lalu membuka bintik merah notifikasi.

Tanpa sadar kamu menggeser itu semua, ke dalam ranah lain yang kamu tidak ketahui seperti apa pengaruhnya. Kamu yang dengan sadar menarik apa yang kamu perlukan. Ke dalam lingkup kecilmu yang sesempit 3 x 3 meter.

Ketika kamu sudah menyempurnakan itu semua. Menjadi seorang paripurna yang bukunya bersih dari debu dan plastik pembungkus, gorden yang bersih, kamar yang bebas nyamuk, lagu yang bahasanya adalah bahasa kelimamu, sejadah dengan kompas kiblat presisi, anggota keluarga yang sehat, dan notifikasi yang tidak ada.

Maka ada buah perbuatan di tempat lain yang terjadi.

Sangat sulit menyempurnakan kehidupan, dan sekarang kamu tahu, itu berharga mahal pada kehidupan orang lain. Mungkin seharga kebebasan untuk memiliki sejadah berkompas kiblat presisi dan gorden warna biru milik orang dengan warna favorit hijau.

Kita bisa membuat semua sempurna. Dengan variabel sebanyak sekian ribu kali kubus rubik. Berakibat pada kombinasi yang lebih tidak mungkin lagi untuk dikomprehensi.

Butuh kerja keras. Serta algoritma lebih canggih yang mungkin hanya dijual di toko buku kredibel non diskon bersampul keras.

Jika kamu belum sempurna,

Saya adalah merah muda yang paling keras kepala.

 

 

 

 

Bergenggaman
Di antara tempat pizza dan pepohonan
Aku yang waktu itu sering berangan
Membuat tepuk tangan

Saling kesal
Di depan tukang roti dan minuman mahal
Aku kira kita gagal
Lupa kalau aku yang bebal

Mengenang
Di seberang gerai sepatu dan barang-barang
Katamu sangat ringan, seperti melayang
Sepatuku tebal, toh aku serasa mengambang

Bersyukur kamu masih tinggal
Karena di situ
Menyembul di antara pipimu
Lengkung halus sangat kukenal
Yang tidak jauh
Kesukaan