Archive

sajak

Secangkir air hangat
Dimasak dengan baik
Dengan nyata
Buat tamu yang baru tiba

Sebotol air biasa
Untuk orang yang biasa
Diminumnya
Dengan berdosa

Segalon
Bukan air

Cuma tanah
Pecah luka luka
Ditukas pria pemarah
Tidak menjaga perasaannya

Sebab yatim yang haus
Serta sekaligus
Harus dijaga perasaannya

Advertisements

Pagi di bangsal enam
Waktu kamu masih terpejam
Ibu Ayahmu hanya ingin tentram
Tidak padam

Siang di bangsal depan
Merangsek kami masuk perlahan
Ibumu yang berharapan
Dan Ayah, tercekat.
Tertahan

Petang di bangsal yang sama
Namanya juga air mata
Senasib dengan jelangkung
Pulang tak diantar, datang tak terbendung

Malam di bangsal sialan
Aku harus pulang
Ayah Ibuku ingin aku pulang
Ayah Ibumu tidak ingin kamu pulang

Kamu malah ikut aku pulang

Untuk Kahfi, Yusuf, dan orangtua mereka
Jika terjadi hal paling buruk
Maafkan saya

6 Mei 2016
Kenanga 2

Bapak tidak mau lihat kemari
Lihat keringat teman kami
Kaus basah dorong-dorongan
Susah payah hujan-hujanan

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke dalam yang menyala-nyala
Hingga kan terbakar menari-nari
Seperti pedansa yang menggila

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke bingkai kelam televisi
Balita yang menghisap palsunya nubuat
Tersesat

Bapak tidak mau lihat kemari
Hati dikubur rapat-rapat
Takut lihat pakai mata sendiri
Nyatanya sudah pada cacat

Bapak pasti akan lihat kemari
Saat keluarga bapak
Mati

Bapak perokok
Yang baru akan berhenti
Ketika terlambat

Pak tua di belakang suka geram
Siapa peduli, asal nyawa tidak terancam
Pak polisi di pinggir suka marah
Siapa beli, acap jalanan jadi tong sampah

Bukan embun pagi
Apalagi cahaya bulan
Refleksi perjuangan akhir hari
Tertabung di kaca belakang

Redup pijar ini
Menghangati yang tak berada
Pecah nyala warna-warni
Jadi hiasan jalan-jalan kota

Dicaci muda mudi pongah
Rezeki direbut dicari-cari
Dimarahi orang-orang gerah
Dipatok ayam duluan kita yang nyeri

Bising sekali bapak
Di jalan di surat kabar
Pusing namun pula muak
Jalanan jahat jadi gemetar

Sekedar ngasih tahu
Jok hitam berdaki ini saksi kelabu
Atas anak yang gelisah
Dan ibu yang terguyur resah

Punya kita diletup dimusnah
Lantaran bapak butuh lahan basah
Tapi saya cukup sudah
Malam-malam di rumah bikin bantal basah

Hari ini naik angkot lagi.
Jadi angkot sekarang susah. Digadang-gadang akan lenyap.
Aku coba jadi supir angkot, walau tidak harfiah.
Tetap sedih.

Tatkala senang jadi perhatian
Keringat dingin mengalir enggan
Tidak bisa disuruh berhenti menetesi
Siang hari waktu lima pasang mata menghakimi

Konon suka baca buku
Tapi dibilang kurang baca melulu
Sebab musabab lagi tak pandai berkata
Dan telinga berdenging diri payah percaya

Ngaku cinta pengetahuan
Tapi pegal hati capek tangan
Ngerjakan yang itu-itu lagi
Berdoa yang besok tidak kelima kali

Bilangnya senang mengobrol
Kaki selonjor telinga nonjol
Disuruh datang ujian lagi nanti
Karena tidak nanya agama orang di warung kopi

Aku telah terserang radang

Aku sedang terserang sakit meradang

Jangan kecil hati karena sakit

Jangan besar hati karena pernah banyak sulit

Berjalan ke arah pulang

Terlantar dan lantaran tak punya rumah

Aku hanya berjalan ke sana

Sana, yang mungkin ada lampu-lampu dan sinar oranye hangat

Karib-karibku menyapa

Kata siapa karib, kataku saja

Kata siapa menyapa, mereka hanya menggerakkan lengan

Lengan-lengan orang yang punya tempat pulang

Aku senang, kata siapa aku tidak senang

Sendirian dengan barang-barang kesukaanku

Sendirian dengan Surayah teman baikku

Dan Dilannya tahun 1990

Kupakai Heimatau untuk terakhir kali

Semoga beruntung, perjalanan aman lewat samudera

Aku ingin jadi kakak yang baik

Tidak hanya jadi kakak yang meraja

Rumput-rumput menjelma jadi tempat berlari

Karena kosong tak lagi kita berjalan

Katamu harus belajar berjalan sebelum bisa berlari

Agar tidak jatuh di hari kemudian

Aku bahagia, aku senang, kata siapa aku tidak senang

Lihat di wajahku ada alis yang naik

Dan gigi kuning tidak diingatkan sikat gigi

Berlari dan bersembunyi bersama saudaraku

Karib

Jika Bandung diciptakan indah

Tidak pasti tidak memberikan sedih

Sedih dalam setiap lampu merah

Sepi dan selalu perih

Aku tak mau Bandungku jadi Bandungmu

Punya hak apa kau mengisi Bandung dengan tiap tindak-tandukmu

Tindak-tanduk kita

Katamu hanya sementara, hanya satu hari saja

Untukku, jangan sedih lagi

Tentang saya dan beberapa hari terakhir yang nelangsa. Tentang Bandung dan tentang adik-adikku. Tentang teman dan tentang kamu.