Archive

selibat pikiran

Ada saatnya aku lelah. Kembali ke rumah setelah hari yang panjang. Berhasil dengan selamat melewati ratusan angkot dan ribuan motor tanpa goresan. Aku masih merasa ajaib tentang itu.
Ada saatnya aku sangat lelah. Mengelilingi kota di setiap liuk-liuknya. Melihat ke dalam kepalaku pun sama kusutnya. Sama seperti liuk di hati orang-orang. Tidak pernah aku tidak ingin tahu apa yang ada di hati mereka.
Ada saatnya aku terlalu lelah. Terlalu lelah bahkan untuk bersyukur dan meminta pertolongan. Pada akhirnya hanya bercerita, bukan pada siapa-siapa, berharap ada yang paham.

Tapi, aku selalu sakit.

Sebelum hilang mood nulis.
Sebelum tidur.
Sebelum tulisan panjang sesudah ini.
Tentang pertemanan. Tentang rasa iri dan dengki. Lagi-lagi tentang itu.
Sudah jarang aku bikin tulisan yang bahkan menurut aku sendiri bagus. Mungkin karena makin skeptis dalam menghadapi hidup. Juga karena tulisanku makin sendu dari waktu ke waktu. Kayak pernah bikin tulisan bener aja, Kaf.
Katanya mau nulis tentang waktu lalu. Tentang ayah. Tentang teman-teman. Tentang kejadian. Tentang usia. Banyak omong ya kamu, Kaf.
Iya, kata orang aku banyak omong. Semoga banyak nulis juga ya, Kaf. Toh Rasulullah pun yang tersisa hanya omongan dan tulisannya. Itu pun bukan tulisan beliau. Argumen tadi ga cacat logika, kan?
Makin jelek aja tulisan kamu, Kaf. Tapi apalah hari ini, cuma kejadian tidak penting. Wanita cilik yang berlarian, ke dekat ayahnya yang pedagang baso bakar. Dikecup oleh ayahnya. Lalu kembali berlarian.
“Pedes ga, A?”
Dagangan boleh tidak manis. Kecupan untuk anaknya harus manis.

Besok rencananya 1 ramadhan, kalau kata pemerintah. Kalau kata Muhammadiyah sih hari ini. Kata Naqsabandiyah people sih kemaren. Kata Jemaah Al-Sarap sih hari minggu. Pokoknya kemaren ada pengumuman SBMPTN, mau gimana juga tetep aja menarik liat orang-orang bereaksi. Macem-macem banget, ga pernah satu macem. Intinya pasti ada yang ikhlas-ikhlasan gitu loh.

Berhubung besok saya mau 1 Ramadhan-an, saya mau curhat kalo masih belum bisa mengikhlaskan banyak hal. Banyak banget deh, saya masih belum bisa memulai hidup baru dengan hati baru di bulan baru. Salah satu hal sepele yang belum bisa ikhlaskan adalah tumpukan sajak, puisi, dan cerpen. Tulisan-tulisan yang saya bikin di hape lama saya yang butut luar biasa itu. Tulisan-tulisan di hape itu ga ternilai, lalu hilang. Saya kena trauma jurnalistik kali ya haha. Berlebihan dan curhat banget sih, tapi gakpapa lah. Selamat 1 ramadhan-an ya. Mudah-mudahan taun ini ada jangkar-jangkar baru lagi 🙂

Jatinangor agak lebih dingin dari biasanya siang dan sore hari ini. Sementara saya sendiri ngerasa biasa aja, ga ada yang luar biasa. Ngga lebih dingin dari sebelumnya. Saya ngobrol ringan sama teman saya seperti biasa juga, yang pasti, saya lebih hangat dari udara Jatinangor sekarang. Namanya juga cuaca, ga menentu, hati manusia juga berubah-ubah. Ga ada korelasinya sih, tapi saya pengen cerita.

Rasa ngantuk karena kurang tidur, atau karena tidur semalam kurang berkualitas pasti sering terjadi sama anak muda. Atau ngantuk karena ngantuk aja. Saya udah niat banget untuk tidur sekarang.  Sehabis obrolan-obrolan singkat dan tongkrongan-tongkrongan nikmat. Saya pasanglah lagu-lagu yang saya suka, terdengar juga lagu metal temen saya. Tau sendiri kan, suasana hening yang dipecah sama lagu sayup-sayup. Lalu hujan turun. Tambah dingin aja Jatinangor. Saya putuskan untuk ga jadi tidur sore. Satu temen saya udah melipat diri siap-siap untuk tidur. Saya keluar kamar, ada temen saya tertidur dengan wajah nimpa buku. Ada juga yang tidur di meja seberang, tapi sengaja bawa bantal. Di kamar lain, bergeletakan empat manusia tertidur dengan damai. Betapa ringkihnya mereka, dalam keadaan yang sangat lemah, tidak waspada, dan terlihat tidak cemas. Tapi siapa yang tau isi pikiran mereka, mungkin mereka lagi dimarahin dosen dalam tidurnya.

Sampai kapan saya bisa bersama orang-orang ini? Orang-orang yang sedang tidur sore. Mungkin merekalah temen-temen terdekat saya di sini, dan pas mereka tidur sementara saya terbangun sendiri, saya ngerasa jadi penjaga mereka.  Berlebihan sih, tapi sesekali melihat temenmu lagi tidur dan merenungi mereka dalam-dalam rasanya aneh juga. Ada rasa memiliki, geli, dan kasihan. Kasihan karena muka mereka sama sekali nggak bagus saat tidur. Sama juga seperti saat melihat adik-adik atau keluarga sedang tidur. Ada rasa yang lebih dalam, memang. Rasa sayang yang beda, geli, ingin melindungi, dan kasihan. Kasihan karena mereka punya anak atau kakak yang mengerikan banget suka ngeliatin orang lagi tidur.

Saya ga tau orang yang di gedung sebelah lagi tidur atau apa. Sedang mikirin sesuatu atau belajar. Kalau saya sih detik barusan lagi mikir apakah dia lagi mikirin saya. Tapi gerimis masih turun, ngejaga supaya udara tetap adem. Supaya orang-orang yang lagi tidur ga kepanasan. Ujian yang paling menegangkan tinggal sebentar lagi. Syukuri aja kalo masih bisa tidur nyenyak, masih bisa ketawa-ketawa.  Toh hidup itu memang ujian tiada akhir. Jangan sampai lah kita dibutakan sama ujian. Jangan sampai kita lupa sama keluarga, sama kehidupan, atau sampai ga merhatiin hal yang ga penting kayak temen-temen yang lagi tidur.  Selamat tidur ya. Selagi masih bisa.

Dahan pohon palem itu jatuh menghantam barisan sepeda di depan masjid saat sholat jumat. Berantakan sekali. Pak Satpam lalu datang, memindahkan patahan-patahan dahan dan dedaunan. Dibetulkannya sepeda-sepeda yang berjatuhan. Khotib masih berdoa antusias pakai bahasa arab. Terus saya lihat ke langit, ada awan, ada goresan-goresan sinar matahari. Kata orang, sehelai daun yang jatuh pun adalah dengan ijin Allah. Allah kan Maha Baik.

 

“Orang baik matinya cepet”
Meninggal di Atap Dunia seperti Soe Hok Gie.
Pergi membawa kegelisahan dan mimpi-mimpi besar.
Menempelkan sisa kebaikan dan ketulusan bagi orang-orang yang pernah kenal dengannya.
“Di tengah pertentangan, Ia tegak berdiri demi kemajuan bangsa”

Semoga beristirahat dengan tenang, Prof. Wijajono Partowidagdo. Wamen ESDM. Pemimpin. Pengajar. Pendidik.

Bisa jadi gara-gara dibunuh, assassination gitu deh.
Dari ribuan taun yang lalu juga udah jadi kebiasaan kan. Orang yang membahayakan pihak mana atau nyerempet-nyerempet rahasia gitu deh dibunuh karena kepentingan
sendiri atau rame-rame.

Kayak Bapak Prof ini nih… Dalam pandangan su’udzon realistis penulis. Bapak yang terhormat ini meninggal karena dibunuh. Loh kok bisa.
Bukan dibunuh sama geng motor atau digantung di Monas, tapi beliau ini dibunuh oleh pihak intelejen.
Nahloh ga tau deh ya, gitu deh kata penulis mah. KATA SAYA LOH KATA SAYA.

Kecurigaan saya berawal saat mendengar kabar dari Ibu yang menangis sesenggukan katanya Pak Wied meninggal di Gunung Tambora.
Beliau dosen yang dulu cukup dekat dengan Ibu, rekan yang baik dan visioner lah, dengan kerendahan hati, kenyentrikan dan ide-ide luar biasanya untuk memajukan bangsa.
Katanya sehat-sehat saja, dengan catatan kesehatan yang lumayan baik, tanpa riwayat sakit jantung, pendaki dari mahasiswa.
Meninggal di gunung karena sakit jantung, kehabisan napas. Udah tua memang. Tapi ga masuk akal aja.

Tercium bau konspirasi nih.

Ibu pulang melayat, terus ngobrol-ngobrol dengan temannya. Katanya Pak Wied, karena pejabat negara, dipaksa untuk check-up dan selalu memeriksakan kesehatan di RS.XXXXXXXXX
Dari situ diceritakan kalau data-data kesehatan mungkin diarsipkan semua oleh para Intelejen, sebagai ‘pengontrol’ dan ‘database’ mereka.
Jadi kalo para pejabat negara bertindak aneh-aneh atau membahayakan para mafia, dengan mudah mereka bisa mengetahui segala seluk-beluk mereka.
Dilihat juga kebiasaan-kebiasaannya, Pak Wied biasa kesini-kesitu, main ini-itu, berolahraga dan mendaki..
Ketika ada jadwal mendaki, mereka bertindak, syuuuuuuuuuut. Lalu tiba-tiba kena serangan jantung deh beliau.

Ibu langsung ngasih tau temennya yang Dirut mana gitu. Temen deketnya sih, mudah-mudahan percaya.

Ibu juga pernah cerita tentang teman-temannya yang meninggal karena alasan yang kurang rasional.
Temannya di Freeport misalnya, peneliti nyamuk tapi di Freeport.
Meninggal di kamar hotel setelah dikabarkan sehat-sehat saja. Masih muda. Karena serangan jantung.
Dan ada beberapa kasus lainnya. Kasus pembungkaman diam-diam.

Novel misteri banget ya.

Bukan hanya orang-orang itu saja, tapi banyak di seluruh dunia yang dibunuh diam-diam seperti kecelakaan untuk menghilangkan bukti dan ancaman.
Kayak di novel Sidney Sheldon “The Doomsday Conspiracy”.

Katanya bekas Menkes Bu Siti Fadillah Supari lagi kena skandal korupsi yah?

Oh iya Menkes kita sekarang tiba-tiba kena kanker stadium 3 loh.

Tulisan di atas saya bikin sesudah Pak Wied meninggal. Beberapa minggu ga dipost-post, tiba-tiba Menkes meninggal ajah. Gmana ga serem. Ini mah beneran. Ga dibikin-bikin.