Menghidupi Sekitarnya

Di dalam salah satu buku catatan harian saya yang lusuh oleh daki dasar tas dan serbuk-serbuk sisa serutan pensil, tertulis satu kalimat dari tahun 2016 menyangkut dokter-dokter yang rutin saya datangi.

“Jika saya meninggal, apakah dokter Kelly dan dokter gigi Doddy akan tahu kabarnya? Saya pada akhirnya adalah pasien yang pulang pergi muncul hilang berkala, belaka.”

Beberapa tahun ke belakang, sebelum saya menyelesaikan pendidikan dokter, semestinya adalah tahun-tahun yang sangat padat. Walaupun katanya pendidikan dokter tidak akan selesai, lifelong learning, patut belajar seumur hidup karena penyakit terlalu macam-macam dan para dokter senior juga banyak lupa akibat terjebak rutinitas. Mereka dan kami yang tahu ini menjadikan wejangan lifelong learning sebagai pesan mujarab, sekaligus alasan parsial karena semua orang kelak akan lupa. Kecuali dokter, dokter harusnya tidak boleh lupa. Kalau lupa bisa googling di bawah meja pemeriksaan. Tapi nanti digosipkan di ruang tunggu bahwa dokternya masih muda dan doyan main handphone. Saya tidak akan mempermasalahkan ini (sifat lifelong learning, bukan googling di bawah meja) sama sekali karena toh sikap pembelajar seumur hidup adalah mutlak bukan merupakan sikap buruk. Dan, punya keinginan untuk terus berkembang adalah awal yang baik. Sebaik menanam saham yang sehat.

Beberapa tahun pertama kehidupan manusia adalah fase perkembangan yang terkondensasi, demikian kata oknum peneliti yang sepertinya kredibel, dan juga sebagaimana kita banyak mengingat kejadian-kejadian penting di tahun-tahun awal kehidupan, begitulah awal kehidupan di dunia kedokteran yang banyak gayanya. Penting karena baru beberapa kali, dan di awal kali adalah yang paling banyak pembelajarannya. Berbeda dengan tahun-tahun setelah usia 40an yang mana orang sering mengaku kehilangan masa muda karena bekerja, padahal lebih disebabkan oleh kurang mencatat dan menabung. Kadang disebabkan juga oleh kurang ibadah dan kebanyakan cicilan. Saya bersyukur masih sempat menulis beberapa catatan dan mengambil beberapa foto di masa muda yang ngantuk kronis, meski banyak sekali foto yang hilang akibat maling, rampok, dan sikap abai terhadap keamanan penyimpanan data. Sudah berapa kali saya sesalkan, andai para kriminal yang kasihan itu minta saja ke saya uang untuk pengobatan adiknya yang sakit keras pilek lemas menahun, mungkin akan saya acuhkan karena empati saya kurang. Salah sendiri tidak mengurus BPJS PBI dan segala tetek bengkeknya ke kelurahan dan atau kecamatan. Atau jika ternyata terlihat betulan kasihan dan menggetarkan hati kecil saya, saya bisa menelepon ibu meminta patungan sumbangan lalu mengantar ke apa-apa yang diperlukannya. Bisa pula membuka bantuan di portal mengemis online atau membantu mendaftarkan BPJS jika saya benar-benar tergugah dan sedang sedikit waktu nongkrong. Menjadi dokter yang profesional adalah dengan menyiram empati agar tumbuh tapi jangan sampai terlalu rimbun karena ongkos potong semak harganya tidak menentu. Sama seperti nilai sumbangan dan pahala-pahalanya sekalian. Tidak menentu dan kembaliannya tidak jelas.

Tahun-tahun awal pendidikan kedokteran saya memang padat sekaligus begitu saja lewat. Disebabkan oleh rotasi-rotasi antar bagian yang sangat singkat, yang juga membuat dosen yang baik pun sulit mengingat siapa saja yang pernah diajar olehnya. Rasa sengsara yang unik, merasa jadi anak kesayangan padahal nama saja beliau lupa. Pendidikan dan menjadi mentor kedokteran mungkin bisa diperbaiki sejak dari aspek ini. Saya saja kadang lupa dengan dosen-dosen saya yang baik. Lupa dalam artian lupa kacang, sepah dibuang. Meski kadang lupa hingga ke nama dan tampang-tampangnya sekalian.

Saya menuliskan kalimat yang gelisah itu didasari oleh tahun-tahun awal saya waktu empati masih tumbuh liar. Hari-hari awal saat bertemu Yusuf, Rafi, Kafi, Anggun, Nisna, Daffa. Beberapa nama di situ adalah nama asli pasien yang saya temui, beberapa adalah nama fiksi yang dibaurkan dengan nama asli. Intinya, beberapa dari nama tersebut meninggal dan diiringi jerit tangis yang saya baru pertama kali alami secara langsung. Tenang saja, setelah tiga kali juga sudah mulai agak terbiasa. Tapi di luar nama-nama itu, ada ratusan pasien yang saya lupakan namanya bahkan tidak tahu sama sekali. Mengingat cita-cita naif saya adalah menjadi Patch Adams generasi baru, maka lahir lah peribahasa “bagai Patch Adams makan ayam krispi”. Yang artinya banyak situasi yang terlalu pekat dengan realita sehingga untuk mengubah pakem adalah sesulit bangun dari mimpi buruk saat kita kurang tidur. Atau bisa diartikan bahwa Patch Adams sebenarnya orang yang sangat serius dan tidak sempat makan ayam krispi di mess koas karena akrab dengan pasien hingga dicap aneh oleh teman-temannya dan sesungguhnya tidak ada yang mau mengambil jalan seekstrim itu meski nyatanya tidak terlalu ekstrim, hanya melelahkan dan makan hati. Saya tidak bisa jadi seorang profesional yang seperti itu. Mengakibatkan sekian puluh nama pasien di Puskesmas hari ini pun saya hanya ingat dua. Tapi kalau ada teman sepekerjaan saya yang ingat semua nama pasien yang ditemui hari ini sekaligus hapal riwayat dan kenal orangnya, harap menghubungi saya. Nanti akan saya catat karena anda berarti pembohong atau anda adalah orang dengan kemampuan mengingat luar biasa supernatural yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Membahas keramaian dan pertunjukan teater di rumah sakit selagi masih banyak hal lain yang bisa dibahas kesannya terlalu sombong dan mengekslusifkan diri. Kata Affandi, kalau masih ada penderitaan, beliau akan membahas tentang penderitaan, dan dalam hari-hari yang saya alami, penderitaan tidak hanya ada di dalam rumah sakit. Orang tua saya sering meminta saya untuk menulis semua yang saya ceritakan ketika pulang di akhir minggu pada mereka mengenai keseharian di pendidikan kedokteran. Saya tidak tahu jika kuliah di jurusan lain, kehutanan misalnya, apakah saya masih sering disuruh menulis. Toh sepertinya, dan hampir pasti, tidak kalah spesial. Tapi bisa juga mereka malah akan meminta saya untuk menanam pohon banyak-banyak dan dagang furnitur. Sulit kalau yang kita ingin tulis adalah tentang diri kita sendiri yang kebanyakan hidup di kamar, di sekitar kosan, atau inginnya menulis bahasan kejadian terkini dan sinopsis film. Itu pun tidak rutin.

Bicara soal mengingat, jalan Maulana Yusuf di Bandung adalah jalan dari masa kecil saya yang akan saya ingat terus sebagai potongan besar yang manis pahit. Daerah itu adalah daerah yang saya kenal sebagai “Bandung” waktu masih kecil. Karena kalau sakit, saya yang masih kecil dibawa ke sana baik itu pagi sore atau malam. Kebetulan tidak dibawa siang karena bisa ditahan sampai sore dan asma jarang eksaserbasi di siang hari. Selain karena dokter Kelly tidak buka di siang hari. Di jalan itu ada Sate Maulana Yusuf yang mahal dan sebenarnya tidak enak-enak amat tapi terlanjur terkenal, rumah-rumah besar yang pagar-pagarnya selalu terkunci, kavling restoran setengah mewah yang bangkrut rutin, tempat dagang baju produksi lokal, gereja yang pernah saya ikuti kegiatannya, Mang Balon dengan tabung gasnya yang bertahun-tahun selamat tidak meledak, warung dan Mang Parkir abadi, trotoarnya yang minimalis, dan tentu rumah besar berpagar tinggi yang penuh kamera keamanan, makanan kecil, dan mobil-mobil orang tua yang anaknya batuk, pilek, kejang, demam, kejang demam, mencret, muntah, gejala tipes, gejala demam berdarah, gejala durhaka, dan gejala bodoh yang perlu diimunisasi kebodohan namun untung nasib di emperannya pun menjual buku serta majalah. Tidak lupa yang paling penting, di depannya berdiri tegak papan nama “dr. Kelly Munazar, Med.” disertai nomor izin praktek dan tetek bengeknya. Kurang lebih seperti itu.

Tempat praktik itu lah yang selalu terbayang oleh saya jika misalnya harus membayangkan yang namanya “tempat praktik dokter”. Ada ruang tunggunya yang nyaman. Atau, menjadi nyaman karena sering ke sana. Nyatanya banyak kuman. Ada tempat ganti popok, majalah-majalah lama yang memicu reaksi alergi, dan lampu UV yang kalau mengenai pakaian putih akan membuat pakaiannya menyala ungu lemah. Katanya bisa membersihkan baksil-baksil dari udara dan pakaian. Yang jelas lampu itu kadang mengalihkan perhatian dari anak-anak yang rewel. Lalu ada salib-salib di dinding dan lukisan-lukisan bagus. Saya sempat mengira kalau jadi dokter aturannya harus pasang-pasang salib karena kalau sakit hanya dibawa ke dokter Kelly atau RS Borromeus. Ternyata tidak usah. Yang usah adalah tempatnya nyaman dan banyak senyum. Saya dulu tidak pernah menangis kalau dibawa ke dokter Kelly. Karena kurang lebih tujuh dari sepuluhnya kedatangan adalah kedatangan karena serangan asma. Jadi boro-boro menangis, napas saja sulit.

Di dalamnya bekerja perawat-perawat baik yang setiap saya ke sana mereka ada di sana. Ibu yang sering memanggil saya lewat interkom “AFI, MASUP”.  Saya dipangil “Afi” kadang oleh diri sendiri kalau berbicara dengan saudara dan keluarga Jakarta. Juga oleh seantero penduduk praktik dokter Kelly. Ibu yang itu juga kadang membereskan tempat vaksin dan membunyikan hiasan dinding dan hiasan gantung yang sebenarnya menyebalkan karena berisik. Waktu itu saya pernah bertemu beliau di dalam angkot Ciroyom-Ciwastra dan beliau yang menyapa duluan. Saya sudah kuliah waktu itu. “Afi ya yang suka ke dokter Kelly?” sapa beliau. Waktu itu ketahuan kalau beliau sedang hiatus dari praktik dokter Kelly dan kerja di tempat lain. Sayang sekali tidak sempat foto bersama.

Ada juga ibu yang dagang nasi kuning dan kadang membantu pendaftaran. Mirip dengan kejadian Mang Ketoprak yang ketika Mang Sate sedang buang air, dibantu dulu pelanggan tukang satenya. Dalam istilah Bandung disebut sebagai “ngeladangan”. “Diladangin” dulu, begitu. Ladang nafkahnya dibantu. Saking akrabnya. Lalu tukang majalah yang sepertinya ganti-ganti. Bapa yang kerja membersihkan muntah dan ompol anak-anak. Beliau menimbun muntah pakai abu gosok, lalu disapu bersih begitu saja. Seperti sihir dan ilmu rahasia turun temurun para bapak pembersih. Terakhir bertemu beliau di BEC sebagai bapa pembersih juga, katanya sejak dokter Kelly sakit mereka pindah kerja. Beliau menyapa Ibu duluan karena muka saya berubah dan secara identitas sudah berubah dari Afi yang bengek menjadi Kafi yang kurang piknik. Dan A’a perawat nebulizer yang kerjanya membersihkan alat, selang, merapihkan meja, membawakan tisu, dan menyapa anak-anak yang sesak napas sambil menangis. “Ke sini lagi, Afi?” Kata ayah dan ibu, wajah beliau tidak menua, mungkin karena tiap hari terpapar uap obat asma, dan rutin ketemu anak-anak. Basa-basi yang tidak perlu dijawab karena nyatanya kami ke sana lagi dan lagi disebabkan tidak mampu beli alat nebulizer.

Mengenai memori tempat itu, yang kini muram dan terhias bunga-bunga ucapan duka cita, saya meyakini bahwa banyak sekali anak yang pernah datang ke dokter Kelly dan ingatannya bercampur-campur. Bisa karena baru datang beberapa kali, bisa karena kalau datang ke sana dalam keadaan sakit, atau sesederhana karena tidak ingat dan atau tidak peduli. Semua yang pernah hidup di sekitar sana seperti hilang tanpa jejak. Kecuali warungnya. Itu pun benda mati.

Saya sangat mungkin merupakan salah satu anak yang paling sering datang ke dokter Kelly. Dari lahir hingga tahun ketiga kuliah bersama pacar lama saya mengantar adik yang sakit. Sekalian iseng minta diperiksa dokter Kelly lalu basa-basi. Betul sekali, dok, saya sudah hampir koas waktu itu. Beliau menyelamatkan nyawa saya beberapa kali dari hepatitis yang tidak manis, berbagai macam radang, ratusan macam demam, dan ratusan eksaserbasi. Pandangan baik saya agak ternoda karena dipikir-pikir bayarannya cukup mahal untuk orang tua saya yang pas-pasan. Tapi bukan salah beliau. Seharusnya ada gratis satu kali periksa setiap sepuluh kali datang. Lagi-lagi bukan salah beliau. Dan obatnya yang setelah saya tahu, bukan ramuan ajaib yang beliau racik sendiri di lantai dua rumah besarnya. Meski pahit. Seperti obatnya. Di luar itu, beliau adalah dokter paling hangat dan tidak banyak macam, bahkan setelah saya bertemu ratusan dokter saat pendidikan. Dipegang tangan beliau dulu rasanya sakit sudah reda. Efek placebo yang bisa saja memang belum terbuktikan, keajaiban lintas dimensi. Kadang disebut dukun.

Pertanyaan saya di buku lusuh itu tidak akan pernah terjawab sebagian dan saya malah ngalor ngidul membicarakan detil dan kenangan-kenangan atas tempat yang tidak indah-indah amat juga. Indah karena terasosiasi dengan rasa lega napas, obrolan, dipeluk di pangkuan, banyak sekali buku yang dibelikan, dan makanan enak yang bebas ambil. Indah karena ketika sakit, perhatian orang tua saya meningkat beberapa kali lipat dari yang sebelumnya pun sudah sangat diperhatikan. Terjawab sebagian, dan saya lah yang menerima kabar. Beliau pernah lupa dan sepertinya memang melupakan saya beberapa kali, karena demikianlah fisiologi seorang dokter setelah saya alami, meski baru sebentar. Kadang sangat berkesan, kadang hanya sebagai angka yang berlalu, namun di tengah kesibukan, terlalu banyak yang mesti dihapalkan. Cerita di pagi dan malam hari yang sesak di Maulana Yusuf akan saya ceritakan lain kali. Selalu ramai di sana, dulu. Untuk kali ini adalah cerita tentang dokter Kelly dan kehidupan yang beliau bangun dan hidupkan di sekitarnya selama berpuluh tahun, yang ketika beliau meninggal beberapa hari lalu, saya berkata bahwa beliau sudah seperti Bapak saya nomor sekian belas. Pagarnya tutup dan saya sesak napas.

 

639766

 

Advertisements

Repot Juga

Karena usaha menyatukan tumblr saya dengan akun wordpress saya tidak berakhir dengan baik, saya mempertimbangkan untuk berhenti menulis dan memutuskan untuk hilang dari jejak internet. Sebaiknya menghabiskan hidup di warung kopi saja, membicarakan Pilkada Serentak yang ternyata tidak digelar dua putaran.

Bercanda.

Banyak sekali ucapan dari orang-orang perihal tulisan saya dan kebiasaan saya menulis anekdot (yang cita-cita terpendamnya adalah menjadi kolumnis tetap koran minggu) yang entah kenapa melekat hingga bertahun-tahun lamanya. Seperti betapa menyentuhnya tulisan saya, betapa berantakannya tulisan saya yang padahal jika dikaji komponen kalimatnya lengkap (atau paling tidak, tidak membingungkan dan terbaca seperti orang yang sedang berbicara), dan rasa personal yang sangat kental serta tidak informatif. Tidak ada yang memberi respon mengenai sajak-sajak saya. Tidak apa-apa. Memang saya juga malu pernah menulis yang demikian. Nanti saya belajar lagi atau jongkok-jongkok di toko buku, buka-buka plastik buku lalu diperhatikan satu-satu rima dan diksi dari buku murah yang entah bagaimana bisa terbit.

Katanya menerbitkan buku adalah bagaikan melahirkan dan membesarkan anak, maka  blog yang menggelisahkan ini adalah anak pertama saya yang baru dihamili pacarnya, lalu pacarnya kabur. A bit fucked up. Desainnya berubah dan tercampur berantakan dengan tumblr saya yang bentuknya memang sudah seperti lelaki yang kabur ketika pacarnya hamil. Sekilas tidak ada yang tidak wajar. Memang kesedihan dan kekacauan akibat kekerasan seksual tidak mudah dilihat dari luar dengan sekilas. Yang sadar hanya orang-orang dekat dan yang berniat scroll down hingga ke tahun 2012. Berantakan dan terlihat “lebih rapih blog sama tulisan-tulisan si X ya daripada blog lo”. Yang mana itu adalah benar. Terima kasih temanku, kata-katamu akan saya ingat seumur hidup sebagai penambah rasa inferior yang luar biasa sedap. PS: Si X adalah pacar saya. Pacar saya yang makin ke sini gaya nulisnya makin mirip dan idenya menyatu sama saya seperti jalan tol.

Setiap tulisan adalah curhat. Begitu pula akting dan bahkan karya seni apapun dalam bentuk lain. Kalau aktor diminta untuk marah dan nangis dengan mudah, ada yang bilang bahwa itu karena emosinya dipendam dan hanya bisa keluar di depan kamera. Opini seperti ini menjelaskan kenapa saya jelek dalam berakting tapi sekaligus menyedihkan di belakang dan banyak ketawa yang tidak lucunya. Kekasih saya biasanya jadi kamera. Di rumah sih hidup saya muram, tapi di luar saya “so vibrant dan hangat”. Bukan orang tua saya yang opresif, tapi mungkin kepribadian kita kurang cocok. Ibu bilang bahwa ketika seseorang sikap pada keluarganya jahat dan marah-marah tapi di luar rumah menyenangkan, itu tanda orangnya palsu. Padahal saya tidak palsu, cuma canggung kalau misalnya haha-hihi tapi lalu terlibat dalam kesulitan rutinitas dan konflik antarkamar, sehingga persona saya berbeda. Tapi mungkin saya memang palsu dan seharusnya hidup di KW Thailand atau plastik Korea Selatan. Yang baik dan peduli akan setia. Karena beberapa orang terlalu partikelir untuk diambil pusing hal-hal kecilnya.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” bocor standar.

Kembali berbicara mengenai “tulisan adalah curhat”, saya dan anak saya ini sudah melewati banyak akhir minggu yang tidak ke mana-mana. Meski yang ditulis sedikit, saya sering membuka blog ini lalu berharap ada yang membaca dan menyemangati dari jauh, via komen dan akun rahasia. Menulis draft, lalu menghapus, dan tidak jadi melakukan tindak publikasi sama sekali. Persis anak-anak pemalu yang kalau chatting menulis panjang lalu tidak malu karena jadi. Romantisasi awal era informatika memang ajaib dan norak. Maka dari itu saya berniat untuk memindahkan blog yang satu ke blog yang satu lagi. Karena dihalangi Kemonkokminiminfo akibat ulah para penikmat pornografi yang dengan hebatnya bisa doyan nyari konten porno di tumblr, bisa-bisa tulisan saya makin tidak dibaca.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat” substandar.

Tulisan berisi curhatan saya kebanyakan berupa hal yang sama dan atau mirip-mirip. Waktu itu pernah membahas teori sosial. Dua kalimat saja. Fisika luar angkasa. Tiga kalimat saja. Tips-tips sukses menjadi orang sukses. Entah berapa kalimat. Ujung-ujungnya sentimental dan lebih meresahkan dari pembunuh berantai yang berkeliaran di sekitar kita. Dan daripada mengulang hal-hal yang sudah diulang, lebih baik otak kita dibiasakan untuk berbuat hal yang sama agar makin pandai. Perubahan dibentuk oleh kebiasaan dan setumpuk bite sized bit and don’t overstuff your stomach. Kecuali oleh Pak Gubernur yang mandraguna. Beliau bisa memindahkan seorang pegawai senior yang tidak gabut tapi salah tempat lalu keluarganya meratapi nasib bapaknya yang mesti pindah kerja. Perubahan terjadi dalam semalam. Malam-malam berikutnya sang anak harus menyesuaikan diri dengan anak-anak judes di sekolah baru. Karena judes pada anak baru adalah keharusan dari sudut pandang anak yang sensitif. Brad Pitt pernah masuk 100 orang paling berpengaruh versi Time mungkin karena dia bisa melakukan hal seperti ini.

Teks di atas adalah contoh dari “tulisan adalah curhat repot juga” metastandar.

Jadi daripada meratapi kehamilan anak saya, anak saya yang malu bicara dengan orang, dan anak saya yang harus dijuteki oleh geng tajir cantik majalah Hai, Gadis, dan Kawanku di sekolah barunya. Mari saya menulis di atas cucu saya dan bangun lebih pagi meski bangun pagi terlalu dipuja-puja di dunia ini.

Hari ini saya mau membersihkan tempat parkir sebelah Puskesmas dari ribuan sampah plastik, biar kalau air pasang tidak hanyut ke laut. Itu juga kalau ada trashbag.

 

 

Lampiran

Masih segar di ingatan kita semua ketika Walikota Surabaya, Ibu Risma, menangis tersungkur di pinggir jalan ketika mendapat kabar tentang bom gereja Surabaya hari minggu. Reaksinya juga tidak kalah heboh saat beliau bersujud dan meminta maaf di tengah forum penuh ustadz. Jika misalnya ada orang yang bilang “The Future is Female”, maka bisa jadi ada tepatnya meski sedikit. Dunia perlu digerakkan oleh orang-orang yang praktis, pandai, taktis, dan berintegritas. Ketika orang-orang dengan kombinasi seperti itu terlalu sibuk membina keluarganya sendiri atau pergi liburan dengan uang beasiswa, mungkin yang diperlukan adalah orang dengan perasaan. Kebetulan Bu Risma praktis, pandai, taktis, berintegritas, dan penuh kepekaan serta perasaan.

Indahnya jadi wanita di masa kini. Didukung oleh banyak lapisan masyarakat, terutama para pendemo Car Free Day Women’s March yang kadang dilakukan tidak di bulan maret dan datang ke CFD menggunakan mobil lalu parkir di Dago Bawah atau Dipati Ukur. “The Future is Female” adalah pemahaman feminisme yang salah. Kita tidak dalam perjuangan membuat wanita “lebih”,  melainkan membuat kesetaraan antara wanita dan pria yang beberapa waktu ke belakang banyak polemiknya. Kita berada dalam perjuangan di mana ketika Kang Emil menangis tersujud-sujud ketika Bandung diledakkan adalah hal yang wajar dan tidak membuat Kang Emil dihina serta disinisi seantero media sosial ditambah sekampung penuh tentara siber Islam. Kurang laki.

Attachment ketika diterjemahkan secara harfiah per kata adalah “lampiran”, “kasih sayang”, “cinta” atau “alat pelengkap dan tambahan”. Masuk akal, tapi tidak seperti yang diharapkan. Bukan “keterikatan” atau “rasa memiliki” dan apalagi “keeratan serta kesedihan yang menempel pada kalbu yang syahdu ketika matahari akan terbenam pada kota yang tidak akan kita datangi lagi”.  Agak berbeda dengan Attachment Theory yang merupakan model psikologi. Bahwa manusia memiliki kebutuhan dan kecenderungan untuk menjadi lampiran dan mendapat kasih sayang serta dukungan dari manusia lain. Kata “attachment” buat banyak orang kerap digunakan untuk menggambarkan perasaan-perasaan indah dan rasa nyaman. Perluasan makna. Bagi dokter, bayi yang sudah punya “attachment” pada “caregiver”nya akan sulit diperiksa dan agak merepotkan karena sering kali akan menangis meraung-raung. A good fascist is a dead fascist. A good kid is the quiet one. Or the dead ones. Tidak untuk dianggap serius.

Yang dialami Bu Risma dengan mudah bisa dikategorikan sebagai “attachment”. Sama dengan Kang Emil yang punya keterikatan dengan Kota Bandung. Sama dengan semua orang yang terluka ketika kota kesayangannya dibom, atau luka belum kering yang kena banjir di Pagarsih dan Dayeuhkolot. Masih bercita-cita dipulihkan.

Saya merasakan keterikatan pada banyak hal. Baik itu yang berwujud ataupun tidak berwujud. Dan tahun kemarin, sejujurnya adalah masa di mana saya kehilangan sangat banyak lampiran-lampiran hidup. Paling banyak. Saya kehilangan tas ransel saya yang keren; berisi laptop dan ribuan hal di dalamnya, surat-surat cinta dari Jakarta, buku catatan selama 5 tahun, buku-buku pelajaran serta novel, dan pelengkap-pelengkap kecil di celah-celah pinggirnya. Kami lulus, lalu saya kehilangan rutinitas yang sangat nyaman, kontrakan yang kotor tapi membetahkan, teman-teman yang sebelumnya mudah sekali ditemui, dan pacar saya selama kurang lebih 4 tahun. Salah satu yang paling berat adalah kehilangan kucing kami semua, Bebi, yang membuat saya keliling komplek sampai ke rel kereta tengah malam membawa dan mengocok-ngocok kotak makanannya berharap ia mendengar lalu muncul. Kebetulan di akhir 2017 ada Thor: Ragnarok, cerita tentang Thor yang kehilangan palu kesayangannya, teman-temannya, rumahnya, tanah airnya, rambut gondrongnya, mata kanannya, dan sikap membosankannya dari film-film sebelumnya. Jika benar demikian maka tahun ini adalah tahun di mana saya mendapat senjata baru, teman baru, dan menjadi orang paling keren dan kuat yang turun dari langit.

Saya ingat pada kejadian belasan tahun yang lalu. Bisa jadi sudah 20 tahun yang lalu, waktu main pasir di pantai Pangandaran dan harus pulang. Saya merasakan kesedihan yang entah datang dari mana. Entah jika sebenarnya hanya ingatan palsu saja, tapi jelas di ingatan saya tentang mataharinya, indahnya pantai dan pasir, perasaan tidak ingin pulang, dan saya yang tersedu-sedu digendong bergantian di dada ibu atau ayah di dalam mobil baris kedua. Tidak ingat siapa yang mengemudi. Kejadian itu menjadi salah satu penyebab juga kenapa saya jauh lebih suka naik gunung daripada menceburkan diri di pantai. Gunung itu untuk bersenang-senang, merenung, dan menyusahkan diri. Pantai itu untuk nongkrong cantik dan rebahan sambil baca buku yang direkomendasikan Warren Buffett. Juga untuk bersenang-senang, lupa daratan, dan gatal-gatal lalu pergi ke WC umum 3000 berak 5000 mandi.

Saya yang terlekat pada hal-hal duniawi ini kadang sedih dan merasa rindu bahkan pada tempat-tempat yang hanya saya datangi sebentar. Memang tidak ditakdirkan untuk akhirat. Saya rindu pada perasaan-perasaan yang sudah lewat, dan pada tempat-tempat yang kemungkinan besar tidak akan bisa didatangi lagi. Kosan-kosan kecil di kota-kota kecil yang ingatan tentangnya kian mengecil, kamar teman, dan hari-hari di kota-kota kecil itu yang manisnya ada karena waktu di sana terbatas.

Kedamaian paling utama didapat dari lepasnya kita pada hal-hal duniawi. Tidak juga pada hal-hal akhiratawi. Ditunjukkan oleh para pemuka agama yang baik. Hidup tenang meski tidak punya Rubicon. Ketenangan utama didapat dari menihilkan dunia dengan tidak serta-merta menyepelekan orang-orang yang hidup di dalamnya. Yang di dalamnya tinggal orang-orang baik di kota-kota baik. Seperti Bu Risma dan kotanya yang sedang dalam kondisi kurang baik. Atau ketenangan karena setelah berpindah-pindah pun masih bisa bersyukur punya tempat tinggal dan orang-orang tersayang untuk membuat kembali kebahagiaan yang tidak kecil di rumah kecil yang penuh ingatan kecil milik kami.

Nikmati Peraduan

Seperti menulis surat cinta untuk aku yang duduk di halaman, daun itu berputar-putar.

Bertumpuk dan berjajar, mereka jadi kecil.

Aku teringat dengan daun coklat-kehijauan yang jatuh bertahun lalu. Kalau tidak ada artinya, maka memang tidak ada artinya. Sama dengan daun kelapa yang dua kali jatuh, juga bertahun lalu.

Menghantam.

Nyeri punggungku masih sama. Mimpiku masih tentang mereka.

Hanya ingin bertanya pada pohon yang dulu.

Dari mana saja? Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.”

 

Dari Kamar Sebelah

Kabel AUX yang longgar akan membuat transmisi listrik-atau-entah-namanya-di-dalam-kabel terganggu. Di dalam listrik itu, terdapat pola-pola dan kode-kode. Harap perhatikan, bahwa pola dan kode adalah hal yang berbeda. Yang satu, bersifat repetitif atau dapat diprediksi. Sementara yang satu lagi, bersifat menerjemahkan, atau menyimpan informasi. Satu hal pasti, dari kabel AUX murah warna-warni hingga yang hampir seharga gaji penjual kabel AUX itu sendiri, musik dapat dilewatkan dan dijejalkan ke dalam lubang sempit di banyak tempat (tentu tempat di sini bukan laut, gunung, atau toilet pusat perbelanjaan. Kecuali di laut, gunung, atau toilet itu ada pemutar musik yang dapat dicolok kabel AUX).

Dia memutar lagu dari perangkat elektroniknya yang canggih mandraguna dan berbayar, karena baginya tidak halal untuk membajak lagu dengan aplikasi lagu yang diakali agar bisa memutar segala jenis lagu tanpa membayar. Saya juga berpikir demikian, selain juga karena alasan keamanan, kita harus adil sejak dari mendengarkan musik. Kabel itu longgar. Lalu, dari sekeliling terdengar suara sayup-sayup. Seakan-akan ada konser musik dan sokley (Ayah saya menyebut lampu sorot konser menyala yang ditembakkan ke langit sebagai sokley) yang menyala-nyala. Suara dari kejauhan itu berasal dari kabel yang sudah usang.

Mendapatkan inspirasi saat buang air besar, atau saat memperhatikan air yang mengalir ke lubang pembuangan saat mandi, adalah suatu konsensus bagi masyarakat bahwa kita selamat sebagai umat karena renungan-renungan yang hadir saat kegiatan rutin itu berlangsung kadang bermanfaat. Saya sendiri banyak merenung di balik setir, selain di atas kloset dan di bawah pancuran air hangat. Entahlah, mungkin karena waktu dan rutinitas yang dialami lebih rutin. Di mana saya tidak mungkin ketiduran lalu tidak menyetir sementara ketika waktu buang air besar datang, saya bisa membuangnya di mana saja, dan ketiduran di banyak tempat adalah hal yang menyenangkan serta sulit dihentikan sebagai kebiasaan. Berbeda dengan berada di balik kemudi. Tentu sulit untuk merasakan renungan-renungan itu lagi, karena sampai satu tahun ke depan saya akan banyak berada di atas kursi penumpang beramai-ramai. Tempat baru akan mengubah seseorang. Jika saya masih melakukan kebiasaan yang sama, pasti lebih sulit untuk tidak menjadi sama. Meski keadaan saat ini agak problematik dan boros bensin. Terlihat juga dari beberapa tulisan terakhir saya yang dimulai dengan premis “di balik kemudi”.

Berbicara tentang konsensus, banyak sekali konsensus yang terjadi di antara kita semua tanpa kita sadari sepenuhnya. Seperti konsensus bahwa banyak orang tidak tahu definisi jelas dari konsensus, dan apakah konsensus sama dengan postulat. Atau konsensus dengan diri sendiri bahwa ketika ada orang yang berdebat dengan agama, lebih baik diam saja, karena kata agama sendiri pun perdebatan lebih baik dihindari. Apalagi dengan ide dan konsep yang belum terpetakan dengan rapi. Konsensus bahwa sebaiknya tidak menulis esai pribadi terlalu panjang, karena tidak akan ada yang membaca. Saya sendiri sering tidak menghormati tulisan-tulisan panjang di blog kawan dengan melewatinya karena terlalu panjang. Atau, konsensus tentang perasaan-perasaan spesifik yang tidak bisa kita jelaskan namun dapat dikonsensuskan sebagai “sangat paham”.

Kembali ke kabel AUX dan dia. Kedua hal tersebut adalah hal yang akhir-akhir ini sering memaksa saya merenung. Dia di sini adalah Ibu, Ayah, kekasih, sahabat satu-satunya, atau bahkan pengemudi di mobil sebelah yang memasang lagu sangat kencang. Suatu hari, saya terdampar ke salah satu kanal video yang berisi suara-suara dari kamar sebelah. Dalam arti harfiah. Di kanal itu, sang pemiliknya menyunting lagu-lagu populer menjadi terdengar seperti dari kamar sebelah. Atau dari dalam mobil di tengah hujan saat malam hari. Atau di pusat perbelanjaan yang sudah tidak ada orang karena entah mengapa jam tutup pusat perbelanjaan itu tidak disesuaikan dengan jam selesai pemutaran film paling akhir di bioskop lantai paling atas.

Suara-suara itu bergema, terdengar sayup-sayup, bising pelan, atau dengan sederhana; sepi. Menemukan hal-hal tersebut adalah kemewahan. Seperti kata konsensus “bahagia itu sederhana”, tentu, mendengarkan suara-suara yang memaksa merenung itu tidak datang dengan sederhana. Kita perlu situasi dan kesempatan-kesempatan yang tidak datang dengan murah.  Bahkan untuk mencapai ide seperti itu pun adalah kemewahan tersendiri.

Hal-hal spesifik ini, yang terkesan universal, dialami orang-orang dengan cara berbeda. Kepribadian dan cara berpikir saya pastinya terbentuk dari kenangan-kenangan tidak penting yang menempel begitu saja, tanpa alasan jelas, dan kadang disertai detail-detail yang mengherankan. Saya ingat bagaimana rasanya ada laptop yang ditinggal begitu saja di meja asrama, memutar lagu yang saya lupa namanya. Waktu itu saya merasa sedih. Seseorang telah menulis dan mendeskripsikan hal-hal seperti ini dalam “Dictionary of Obscure Sorrows”, dan mungkin sekaligus inti dari tulisan ini. Suara itu sayup-sayup menembus pintu banyak kamar dan kebetulan saja menempel pada salah satu orang yang mendengarnya.

Atau pada hari yang lain yang dialami orang lain. Dihadapkan dengan teman yang menangis, atau sakit, rasanya membingungkan. Kita menemaninya muntah-muntah di toilet, sambil terdengar sayup-sayup suara bising dari balik dinding. Kita bertengkar dengan pacar, hingga harus menjauh dari kebisingan sementara lagu-lagu dari panggung yang bertemakan kebahagiaan dalam berpasang-pasangan terus terdengar. Juga suara-suara dari pinggir kolam renang yang terdengar sangat pelan karena telinga kita terhalang air. Banyak lagi cerita yang tidak diingat, membekas tanpa sadar lalu bisa membentuk kesenangan yang terpanggil tanpa tahu alasannya. Banyak hal yang lebih baik tidak diceritakan atau dijelaskan.

Pada akhirnya, hal-hal ini dapat ditarik lagi dan disederhanakan. Menjadi kode yang sedemikian spesifiknya, memicu kode yang spesifik pula pada perasaan banyak orang. Kebetulan sekali, sang pemilik kanal membuat kode yang tepat dan menempatkan posisinya sebagai sang teman yang kebingungan di toilet. Saya kini merasa ketagihan dengan perasaan-perasaan yang menyulitkan ini. Apa yang tidak kita pahami, meski seringkali menakutkan, pada jarang sekali kejadian dapat bersifat menenangkan. Dan saya sangat tenang mendapati bahwa suara-suara itu datang dari kamar sebelah. Kamar dia.

Memunggungi Api Unggun

Seorang ibu dan seorang ayah yang baru saja menjadi ibu dan ayah dalam beberapa belas jam terakhir duduk saling menyandarkan kepala. Mereka menatap bayi sangat kecil milik mereka, yang diberi pancaran sinar hangat transparan agar tidak mati kedinginan. Di ruangan itu hanya mereka bertiga. Diam saja. Tidak ada yang berbicara.
Romantis, meresahkan, menyedihkan, hangat sekaligus dingin.
Tiga laki-laki yang tidak saling mengenal, tidak mendapat tempat menginap di negara orang karena kesalahan pemesanan via internet dan pihak hotel. Mereka lalu berkenalan dan membiarkan kamar satu-satunya kosong daripada menuruti rasa egois mereka. Kafe dan masjid bersejarah menjadi tempat mereka bernaung malam itu.

Kepercayaan, rasa terima kasih, lelah, kesal, jam-jam yang hangat sekaligus dingin.

Seorang bijak yang tidak pernah lama jauh dari keluarganya harus tidur sendiri malam itu. Dalam kesendiriannya ia sadar bahwa menjadi sendiri tidak seburuk yang dibayangkannya. Membuat markas rasa nyaman sendiri lalu terlelap. Hal terakhir yang ia lihat adalah karat-karat kelabu di jeruji rapat yang menjaganya agar tetap di dalam.

Kesepian, kesadaran, amarah, dingin sekaligus hangat.

Seorang laki-laki manja tidak bisa tidur. Lalu seorang wanita menyanyikan lagu untuknya agar malam yang seharusnya panjang jadi lebih bisa dinikmati. Telapak tangannya jadi merah seperti seseorang yang baru berpegangan tangan dengan sahabat barunya. Lehernya nyeri dan kaku karena menahan beban kepala wanita yang pertama kali tidur sepanjang malam di lengannya. Nyeri dan kaku leher itu dinikmatinya seharian.

Kebahagiaan, kesepian, dan kerinduan yang dingin sekaligus hangat.

Sebuah perasaan yang gagal didefinisikan dengan kata-kata, bukanlah sebuah kegagalan dan kebohongan. Sebuah perasaan yang gagal disampaikan dengan nada dan gerakan, bukanlah sebuah kesalahan dan kedangkalan. Sederhana, bahwa manusia dan interaksi di antaranya terlalu menyilaukan, yang harus dihadapi sendiri, dialami dengan wajah tegak lurus hingga mata berair dan kulit memerah. Berbalik sesekali, dengan punggung yang lalu hangat, lalu sadar bahwa silau itu tidak terlalu buruk, namun memberi kesan pada sisi yang kini dingin.

Saya siap untuk perasaan-perasaan menyilaukan yang dunia ini bisa berikan.

Kehidupan Sudah Baik

Kehidupan adalah tentang perubahan. Kematian pada hal yang tidak lebih baik, tepat, atau bugar—terjemahan harfiah dari fit—sepatutnya terjadi demi ketersediaan ruang bagi hal yang lebih baik. Pada konteks Darwin: pemberian ruang bagi individu lebih bugar, agar bisa melanjutkan kode genetik, yang diharapkan lebih ideal.

Kehidupan harus lebih baik. Seperti seorang putra yang hidup lebih baik dari ayahnya. Seperti sebuah kota yang lebih baik ketika satu nyawa hidup di dalamnya. Meninggalkan dunia, jika tidak jadi lebih baik, paling tidak sama dengan ketika kehidupan belum menyentuhnya. 

Lantas, ketika kehidupan telah sampai di puncak. Dalam rentang kebahagiaan dua hari sebelum hari raya dan satu hari sesudah hari raya, perubahan dengan sangat halus, mencari tempat, meringkuk tidak disadari, kerap kali tidak berarti: perubahan enggan diberi tempat.

Dua hari atau lebih sebelum hari raya. Saat kehidupan berputar pada liburan yang entah singkat atau akan panjang, bersiap dari siang, lalu menghabiskan sore dengan mengepak barang. Berangkat untuk perjalanan yang ditunggu sejak awal bulan menjelang.

Keluarga kecil atau besar. Bernostalgia dalam tempat-tempat dan memori berjangkar. Berfoto lalu bercerita setelah sholat ashar. Dalam perjalanan yang melelahkan, yang meski pada satu waktu menyebalkan, adalah harga yang sangat tinggi untuk sebuah kenangan.

Satu hari sebelum hari raya. Saat makanan yang sama, dimasak oleh anggota keluarga yang sama, lalu berbelanja dan berkumpul pada lengangnya jalan kota. Meski tidak serta merta dialami oleh semua dengan serupa, adalah pengulangan yang setia menjadi cerita.

Malam hari setelah bulan sabit tipis. Setipis pembatas antara rasa bahagia dan rasa ingin menangis, ia timbul dan tidak sia-sialah seharian yang habis. Milik nenek dan tante dan bude dan teteh yang mengiris tipis-tipis entah apa komposisi makanan asin pedas untuk hari yang manis.

Di antaranya bergumam dan berbising canda, keponakan, sepupu, dan sebutan lainnya. Di antaranya menguar harum masakan tiga per empat matang. Namun bersamanya, perasaan-perasaan matang menjadi hidangan utama.

Pagi hari raya yang penting, ketika detil tidak lagi perlu diambil pusing. Sebab pakaian, uang warna-warni, dan masakan sudah tersaji di piring. Berjalan bersama orang-orang asing, yang bersalaman meski tidak kenal, adalah penyempurna romantisasi malam tadi yang bising.

Kehidupan pasti berubah.

Sepuluh tahun, lima belas tahun, saat tiba waktunya berkurang sesuatu dari rumah ini, mungkin beliau dengan surat wasiatnya, dan kertas dinding terkelupas pertanda tiba waktu penggantiannya, kita adalah coretan dinding yang membuat rumah ini berharga sebagaimana yang pernah terjadi.”

Di atas sofa lembab yang tidak pernah dibersihkan, tahta sungkeman stereotip keluarga menengah, sebuah tanda perubahan melesak dalam-dalam.

Satu hari sesudah hari raya yang riuh rendah, makanan kemarin yang sudah tidak berkuah, dipanaskan sambil ditambah air, berharap sisa-sisa warna masih bisa menjadi rasa. Hangat, tidak tawar, tidak hambar, hanya seperti rahasia. Menolak hari ini dan sesudahnya. Malu-malu dan enggan menjadi dirinya.

Kehidupan harus berubah.

Demi tempat yang lebih baik bagi hal-hal baik di waktu berikutnya.

Kehidupan harus selalu berubah menjadi lebih baik.

Untuk kali pertama, sebuah perubahan dipertanyakan. Ketika kehidupan belum mau berubah. Ketika kehidupan sudah baik.

Kemanggisan akan berubah.