Archive

SMA

2 bulan tepat pasca 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN. Berujar tiap hari, berterima kasih kepada Allah SWT yang dengan kuasanya bisa meluluskan aku ke FK Unpad.  Ternyata tidak ada aftermath, yang ada hanyalah nomath. Fakultas Kedokteran yang didamba-dambakan banyak orang, yang menggugurkan mimpi ribuan orang, yang menolak ribuan siswa dari penjuru negeri, yang akhirnya dihuni oleh Kafi Harridhi Khaibar. Ternyata besar sekali kebanggaan para penghuni kampus sunda ini. Ternyata besar sekali kekeluargaan antar warganya. Ternyata erat sekali ikatan yang telah diciptakan antar warga dan ikatan baru yang ingin diciptakan dengan warga baru. Ternyata nikmat sekali berkuliah disini, dengan kebanggaan dan fasilitas, dengan nama besar dan budaya di dalamnya.

                Test drive di Bale Padjajaran, waktu awal Agustus rasanya ga betah banget.  Ingin pulang melulu.  Ninggalin zona nyaman, rumah yang sedang nyaman-nyamannya. Ibu ayah yang sedang baik-baiknya.  Adik-adik yang sedang asik-asiknya. Teman-teman yang sedang mesra-mesranya.  Tapi ninggalin zona nyaman untuk 3 hari aja ternyata berat. Disini ga punya teman. Cuma ada beberapa kenalan, dan teman lama yang ga bisa diajak main. Ditambah lagi suasana bulan puasa yang enaknya dinikmati di rumah. Belom betah sama sekali. Akhirnya pulang, dijemput sahabat paling top, si Tito. Akhirnya ngerasa nyaman lagi, main sama dia. Trus dianter pulang, ketemu lagi sama ibu ayah dan keluarga. Ternyata nikmat, punya orang-orang yang dicintai dan mencintai balik.

                Bulan puasa yang sangat indah dan menyimpan cerita panjang nan manis pun akhirnya lewat. Begitulah bulan ramadhan tiap tahunnya selalu berkesan dan menyimpan nuansa tersendiri di antara sel-sel otak. Begitu pula lebaran, lebaran yang terus dihantui perasaan takut berpisah dan takut untuk mulai kuliah. Ketika akhirnya tiba detik-detik terakhir pindah ke Bale, rasanya seperti anak kecil yang takut masuk sekolah lagi setelah lama liburan. Memang perasaan yang sama. Aku pun berangkat, diantar semua orang di rumah. Seperti anak mami yang selalu diberi apapun. Dimanja dan ditimang, padahal kenyataannya ga seperti itu. Sejenak rasanya menyesal, sangat menyesal mesti kuliah disini, jauh dan susah. Dingin dan asing.

                Hari pertama, hari kedua, hari ketiga. Beberapa hari disini, belum juga ketemu teman sejati. Teman yang benar-benar saling membutuhkan.  Teman yang merasa nyaman satu sama lain kita berada bersama. Akhirnya ada yang nangis sembari disiram air super dingin Jatinangor subuh hari pada hari kedua ospek, tangisan kesepian yang ga dibuat-buat. Tangisan kedinginan. Tapi apa yang dikatakan senior saat memberikan inspirasi pagi? Katanya, kita harus bersyukur. Bersyukur atas segalanya, atas rizki luar biasa yang dititipkan ke kita, atas anugerah bisa menjadi bagian dari FK Unpad.  Ada yang merasa tiba-tiba bertenaga, tiba-tiba terharu. Ternyata Allah langsung memberi nasihat langsung di pagi hari, melalui kakak kelas yang enerjik itu. 

                Sekarang hari ketiga belajar, sudah beberapa hari sejak rangkaian ospek yang megah dan berkesan, ospek yang mendidik aku sangat banyak, dan sekarang aku mulai merasa nyaman. Bertemu teman-teman, mulai akrab dan bisa bergabung dalam pembicaraan. Aku merasakan rumah ketika kembali ke komplek asrama. Aku memang bukanlah orang yang mudah bersyukur, bukan orang yang gampang menyadari kenikmatan, dan bukan orang yang mudah beradaptasi. Tapi tempat inilah dimana aku dipanggil. Aku terpanggil dan mengikuti panggilan itu. Walaupan mungkin akan selalu sulit, tapi inilah jalannya. Ketika nanti ada yang menangis lagi ingin pulang, sudah selayaknya nanti menangis sambil menggumamkan syukur, Alhamdulillah, puji Allah pemilik segala sesuatunya aku bisa nangis di asrama FKUP. Lalu jika ada yang merasa disusahkan oleh Allah, maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Advertisements

2 hari sebelum pengumuman SNMPTN nih. Masih punya nyawa, masih punya harapan, masih punya deg-degan, masih punya keyakinan bro.

Seandainya bisa tes kecerdasan, tes keimanan, tes kesehatan mental, tes tingkat stress pra pengumuman dan pasca pengumuman. Penasaran sekali sama hasil tes itu. Segila apa saya sekarang dan segila apa saya sesudah pengumuman.

Atau mesin waktu. Sesudah pengumuman. Kembali ke beberapa minggu sebelum pengumuman atau ke hari ini. Memeluk diri sendiri, nenangin diri sendiri secara harfiah gitu hahahaha.

Banyak dosa sih makanya stres gini,duh gmana ya, orang-orang bilang “minta doa restu ke orangtua dan minta dilancarkan.” Saya sih ga ngerti maksudnya gmana.

Bukannya orangtua yang waras itu selalu mendoakan walau tak disuruh pun?

“Apapun hasilnya, aku yakin itu memang jalan terbaik yang diberikan Allah” 

Basi ga sih ngomong kayak gitu. Yakin kalo itu jalan yang terbaik tapi ga ikhlas. Kalo ga bisa dibilang omong kosong, kalimat semacam itu bisa dibilang sisa-sisa tai keputusasaan lah. Kata si saya mah, orang yang ngomong gitu tuh orang yang nerima takdir apa adanya. Ga mau berjuang lagi. Ga mau memperjuangkan mimpinya. Si gue udah sering jatuh, dan ga yakin kalo keadaan sekarang adalah jalan terbaik yang diberikan Allah. Jatuh nabrak trotoar juga pernah. Tapi ga tau deng. Jika suatu hari nanti aku jatuh lagi. Mungkin itu memang yang terbaik yang diberikan Allah.

Hanya Dia yang Maha Tahu. Serius ini mah. Lagian, siapa sih aku. Aduh sok tau gini. Sok ngejudge-ngejudge deh. Lagian, ngejudge-ngejudge tuh apaan sih.

Kepada yang Maha Tahu, ampun deh ya.

 Udah H-7 UN dan si saya masih melakukan dosa-dosa besar. Ya Allah yang Maha Pengampun, aku hambamu yang hina minta sedikit keagunganmu.

Di Adipati Kertabumi nomor 3, kakak guru fisika mengutip perkataan seseorang; “Kalau kalian bingung dengan science, coba dengan agama”. Woo, yang saya tangkap sih berarti dua-duanya sama-sama ribet yah, agama & science. Tapi ada orang yang susah-susah belajar science dengan motif untuk memperoleh keimanan dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

“Kagok kuliah agama aja ya kalo dipikir-pikir..”

Seperti itu pikiran sempit saya berpikir.

Termangu dan mengambang di hari minggu bulan Maret. Cepat sekali waktu berjalan, tiba-tiba sudah Maret. Heran, kemana 2 bulan awal 2012 itu ya. Begitu sedikit detail yang ada, seharusnya saya bisa lebih baik membawa memori. Samar-samar yang ada cuma aroma kembang api tahun baru di rawa, pertengkaran di pinggir Pasupati, karaoke di kelas, soal-soal, sakit hati, iri, krisis, gigi baru, ditinggal teman, dan sia-sia yang banyak. Menghitung hari menuju ujian besar.. sudah mulai lagi ya? Seakan-akan merayakan hilangnya hari-hari di SMA. Setelah dapat esensinya, lalu diambil. Waktu-waktu berterbangan dan tiba-tiba, seperti kejutan. Sudah bulan Maret dan masih segar pula Maret tahun lalu.