Archive

suka

“Ga akan sedetik pun lebih sayang sama Istri dibanding sayang sama Ibu.”

Ibu diam, mungkin senyum tapi tidak kelihatan. Mungkin gelisah karena anaknya naif sekali.

Beberapa tahun ke belakang, kadang saya tidak betah jika menghabiskan akhir minggu bersama keluarga. Kadang ingin main saja bersama teman-teman, atau teman spesial, begitulah. Mungkin karena krisis eksistensi dan pergaulan.

Tapi baru beberapa tahun akhir ini, saya benar-benar menunggu akhir minggu, untuk jumat malam sampai minggu malam yang akan dipenuhi cerita-cerita, haha-hihi ga jelas, dan omelan-omelan kecil Ibu Ayah. Jalan-jalan keliling Bandung, yang tempatnya memang ke situ situ lagi. Makan makanan yang itu lagi. Saya tidak peduli. Saya akan terus bersama mereka. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan di Bandung tanpa mereka.

Mereka hidup saya.

Kamu sedang berdiri di depan sebuah maha karya lukisan yang dibuat ratusan tahun lalu. Ada perjalanan hingga benda itu bisa sampai di depanmu. Perhatikan, setiap titik di lembaran yang bersatu membentuk cerita. Setiap goresan yang memberi warna. Setiap bulir debu yang telah dan sedang menempel di benda itu.

Bagus.

Kamu sedang memegang sebuah karya ilmu pengetahuan yang dicetuskan ratusan tahun lalu. Ada subjek, predikat, dan objek yang diatur dengan usaha. Perhatikan, setiap koma di lembaran yang bertabur membentuk makna. Setiap lekukan yang mengajarkan semesta. Setiap tetes keringat yang tidak mengetahui bahwa ia telah tertetes. Tertetes untuk selembar ilmu yang kamu sedang pegang itu.

Bagus.

Kamu tidak lagi berdiri atau memegang. Kamu dikubur. Tapi dia sedang memegang dan berdiri. Ada perjalanan yang telah kamu lewati hingga sepatumu menipis. Ada keringat yang telah tertetes. Ada debu-debu berterbangan yang pernah bersamamu di badan. Ada goresan dan titik-titik yang ditulis dengan tujuan. Tidak dengan kebetulan.

Kita selalu tertekan. Sampai di akhir tertekan tanah.

Tapi akan tiba saatnya kita berakhir pekan. Lalu tiba hilangnya lelah.

Karena kamu akan membawa cerita yang orang tak pernah dengar sebelumnya.

 

Saya lagi ngeliat keluar jendela bis saat sadar kalau itu adalah akhir juni. Jendela bis emang selalu bikin orang jadi mikir. Kata banyak orang di dunia, sih. Sambil ganti-ganti lagu, nyari lagu yang pas, saya lihat lagi kalender. Benar ternyata sudah hari terakhir bulan juni. Abah Iwan juga mengulang-ngulang tanggal ini saat memberikan pertunjukan motivasi. Acara keren kampus baru selesai, acara yang inspiratif, dan sedang perjalanan pulang.

                Kata Abah, intinya inspirasi itu datang dari diri kita sendiri. Baru kalimat pertama saja saya langsung berpikir. Beruntunglah orang-orang yang selalu menyempatkan diri untuk bengong. Untuk merenungi sekitarnya. Kata Abah, terimakasih sama pohon sudah ngasih oksigen. Saya lalu teringat sama pohon angsana favorit saya di Jalan Diponegoro, yang beberapa kali saya berikan pelukan terimakasih secara harfiah itu.  Selanjutnya saya lupa beliau bilang apa saja. Tapi saya ingat lagi kata teman saya. Bahwa sebuah momen itu ga perlu diingat bagaimana terjadinya, yang penting adalah momen itu meninggalkan kesan dan tau kalau ‘sesuatu’ dalam momen itu tinggal di dalam diri kita.

                Teringat itu hari terakhir bulan juni, juni taun ini juga memberikan banyak momen. Momen-momen yang ga perlu diceritain panjang-panjang, tapi bakal diingat terus sama saya potongan-potongannya. Lagu-lagu yang jadi jangkar, dan pemandangan yang jadi pemicu indera luar biasa. Momen pertemanan, momen penglihatan, momen kebosanan, momen barang rusak, momen keluarga, momen adik-adik, momen saat gelap datang, momen telepon, momen pak satpam, momen saat di tengah keramaian, momen kesepian, momen bahagia luar biasa, momen ujian, momen tertekan, momen martabak, momen susu beruang, momen desa yang jauh disana, momen awan, momen putus asa, momen hujan, momen berdarah, momen bintang-bintang, momen cahaya lampu, momen lampu jalanan, momen lampu mobil, momen kode-kode, momen kehangatan, momen inspirasi, momen terguncang-guncang, momen orang sakit, momen sakit, momen cemburu, momen nyanyi, momen pendengaran, momen di kendaraan-kendaraan. Saya tau kalau suatu kata diulang berkali-kali akan terasa hilang maknanya. Maafkan saya wahai momen-momen.

                 Perjalanan pulang berlanjut, saya melihat pepohonan di pinggir jalan, dan kabut yang menyemprot-nyemprot masuk lewat jendela bis. Kabutnya hilang, lalu saya lihat awan yang tertembus matahari di kejauhan sana. Mungkin orang di Kecamatan Cidaun ada yang lagi lihat awan itu juga. Tapi kayaknya nggak deh, terlalu jauh. Yang jelas saya sama Cidaun masih satu langit, satu pencipta. Saya cuma bisa berterimakasih kepada sang pencipta. Saya diciptakan disini dan mereka diciptakan disana. Ada bagiannya masing-masing. Saya diciptakan disini untuk terinspirasi, dan yang disana diciptakan untuk menginspirasi. Makasih ya pepohonan, makasih ya bulan juni, makasih ya sang bengong, dan makasih ya langit dan bumi Cidaun. Kalau ada sumur di ladang, boleh saya minta tolong ambilkan air. Kalau ada umur panjang, boleh saya minta tolong ambilkan bulan juni bu dan pedesaan tahun depan bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap dan gelap di malam hari.

Sabtu ini bolos Mabim Agama Islam, terus nonton lagi Petualangan Sherina. Ga kerasa ya waktu berjalan cepat banget. Udah 12 tahun sejak filmnya rilis, 12 tahun sejak pertama kali masuk SD, 12 tahun sejak Cici Khanza lahir. Banyak banget yang udah terjadi selama 12 tahun ini. Bahkan mungkin setiap ingatan dan kesan yang ada di diri saya, 90% lebih dari pengalaman 12 tahun terakhir ini.

Ngeliat suasana Lembang jaman dulu, dan Bosschanya yang megah, jadi pengen main kesana lagi. Sama keluarga atau sahabat-sahabat, atau sama seorang terkasih. Andai hidup semudah itu ya. Liat Sherina kecil, pengen lagi kayak waktu SD, yang diinget sih bahagia banget, tapi emang bahagia kenyataannya juga.

Jaman Petualangan Sherina, ke Bosscha sama Ifa dan Brina. Sekarang mereka apa kabar ya, jadi berjarak banget, padahal kalo akrab kayaknya asik juga. Banyak kenangan. Waktu itu jaman seneng-senengnya sama astronomi juga, dan takut-takutnya sama alien. Ke Bosscha main tapi diajakin nginep ga mau, masih manja sama Ibu Ayah.  Masih sering kumat asthma, pake-pake inhaler, kayak Saddam. Dulu Brina jadi Sherinanya, padahal dia juga kumat melulu asthmanya. Mereka centil, nyanyi-nyanyi lagu Sherina terus.

Dulu nonton Petualangan Sherina di bioskop low-end, terus bioskopnya penuh, asthma saya kambuh jadi aja keluar dulu digendong nangis bengek. Saddam juga di dalam lagi sesak napas. Tapi dia dikecup di kening sama Sherina. Saya dikecup keningnya sama Ibu, biar ga nangis lagi.  Bu, bentar lagi kiamat, ingin dikecup lagi biar horrornya pergi. Ingin pulang ke masa lalu. Tapi kecupan ibu jauh.

“I should be sleeping right now, but I am just so excited with what God’s doing and what He gave for us.  I was laying in bed, trying to sleep, but all I could do was remember my dreams and future plans and struggles and praise God’s eternal grace and love and mercy to humans”

-Muthiya Alfah-

Malam ini saya merasakan situasi yang sama, saudariku. Mimpi kita mungkin berbeda. Tapi sebagai manusia, kita sama-sama punya impian. Seperti kata Ebiet G. Ade, “Mimpi di atas mimpi”.  Saya masih berbaring di kamar asrama. Penjara dunia yang semoga aku tak terperangkap di dalamnya.

“Bucket list udah jadi. Dari yang trivial sampe yang muy importante. Tinggal mulai dicoretin satu-satu”

-Tirta Wening Rachman-

Kita punya impian. Impian-impian manis sederhana, dan juga impian-impian yang bermanfaat bagi orang lain. Impian-impian yang kelak akan menjadi kenyataan satu-persatu. Impian-impian yang akan terus membuat kita bertahan hidup dan membuat hidup kita lebih berarti.

Sudah hampir seminggu sejak kita selesai bikin Bucket List itu, dan saya masih merasa bersemangat. Entahlah perasaan yang lain seperti apa, tapi saya senang. Merasa lebih dekat lagi, lebih bertujuan.

Kepada Abi dan Tito, semoga impian-impian kekanak-kanakan kita tercapai dan kita bisa lebih menghidupi lagi hidup kita. Tidak hanya hidup kita tentunya, tapi juga hidup banyak orang. Tidak sekedar sitkom dan dinamika anak muda yang biasa saja. Karena semangat persaudaraan haruslah dibagi-bagi. Seperti udara yang berpindah-pindah. Dihirup banyak orang, dan memberi kehidupan.

Aku terbisu ..
melihat ribuan pelayat pengantar Onyek… 
mereka berulos, 
mereka berjilbab, 
mereka berjas penghormatan, mereka berpeci. 

bertopi haji, mereka hitam, mereka putih sipit, 

mereka menangkupkan tangan khidmat, 
mereka membuat tanda salib… 
mereka menengadahkan tangan…
Kornel… 
Aku takjub, melihat mereka yang mengantarmu… 
mereka adalah Indonesia yang kau impikan…. 
Aku tak ingin menangis hari ini.

Aku, Sahat, dan Jeffrey (sahabat kesayanganmu)
tadi malam berjanji, 
tidak ada lagi airmata… 
namun aku gagal.. 
kembali airmata menetes..

bukan karena sedih..sobatku, bukan karena sedih.. 
tapi karena haru,, 
bangga melihat cinta orang-orang yang mengantarmu hari ini… 
mereka lah refleksi cintamu pada mereka… 

Seorang Pendeta Buddha 
dari forum lintas agama kulihat di sudut terisak dalam tangan yang memeluk tasbihnya.. 
Aku melihat saudara-saudara Tionghoa ku mendoakan dalam tunduk yang dalam, 
Aku terkejut melihat sahabat2 muslim mu yang demikian tulus mengantar.. 

Andai kita bisa melihat Tuhan tersenyum, 
kesinilah kawan2… 
Lihatlah Tuhan kita tengah tersenyum.. 
Berjajar malaikat menjemput ruh yang demikian murni dan lembut penuh cahaya cinta…

Inilah Indonesia yang sejati, dimana Tuhan menitipkan cintaNya yang paling rahasia di hati manusia-manusia sederhana yang penuh kasih.. 

Disinilah aku berurai airmata, bersisian dengan sahabat-sahabat Onye, berikrar.. 
Aku bertekad akan meneruskan semangat dan perjuangan mu.. 
Aku berjanji.. 
Aku berjanji.. 
Maafkan airmataku sahabat.. 
Pulanglah ke pelukan Tuhan yg tak sabar menantimu.. ingin memelukmu.. 
Pulanglah sayang, 
sahabat sayang…

TM Pandu, Bandung
24 Mei 2012

(Illon, Nila Ning)

 

Dibuat oleh Ibuku, untuk Kornelis Onyek Sihombing yang beristirahat di Gunung Salak. Dibacakan di kebaktian GKI minggu dan senin pagi.

Bukan soal kepercayaan, atau iman. Ini pluralisme. Inilah rahmatan lil alamin.