Figur dan Fasad

Jika premis “selebriti lebih pesolek dari fotonya”, atau, “lebih menawan ketika dilihat langsung” adalah benar, maka premis “seorang pemimpin politik nampak lebih kharismatik ketika bertemu langsung” adalah kebisajadian untuk jadi benar. Tentu definisi selebriti di sini semisal pelaku seni olah suara, seni musik, seni akting. Namun tidak termasuk seni lukis dan seni pahat karena tidak tahu siapa yang cukup pesolek. Bapak Sapardi pun bisa disangka Bapa Joko Pinurbo, pernah jadi seniman tulis menulis yang tampan pada umumnya, suka yang cantik pada umurnya, makan siang di kantin kampus bergengsi, sedikit ganteng namun sakit perut kronis, siapa yang tahu. Pesona yang dilihat di dunia nyata sepatutnya bertambah. Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa ada orang yang jelek di Instagram namun lebih pesolek di dunia nyata. Atau jelek di dunia nyata dan di Instagram hanya diikuti 89 orang. Mungkin memang absolut kurang disukai teman-temannya secara rupa. Atau captionnya tidak konsisten dengan perbuatannya. Kadang captionnya lucu tapi orangnya bikin meringis. Bisa jadi pula captionnya bawa-bawa ayat suci non fiksi tapi suka colak-colek wanita di stasiun.

Saya sendiri menyukai premis “orang tua terlihat sempurna di atas kertas dan di mata anak orang lain yang tidak bersyukur” atau “orang tua baru disadari semua kelebihan dan kehebatannya ketika sudah tidak ada dan anaknya bergumam dalam hati “apa yang orang tua saya bilang ternyata benar””. Walau pun premisnya saya buat sendiri dan saya tidak suka menggunakan kata “meninggal” sejak masih kecil, tidak menapiskan bahwa premis tersebut bisa jadi benar. Mengomentari dengan prasangka gelas “Greatest Dad in The World” atau “The World’s Best Mom” dapat berarti beberapa hal. Yaitu berarti kita menyangsikan bisnis legal gelas cantik yang menyebar energi positif. Dapat berarti kita tidak percaya bahwa orang tua kita adalah yang terbaik di dunia. Dapat pula berarti kita sudah mengubur dalam-dalam kenaifan yang mestinya disiram baik-baik dan dipupuki oleh rasa penasaran dan kebaikan agar terus berkembang. Atau bisa juga berarti saya adalah orang yang klise dan tersinggung dengan keberadaan gelas. Gelas yang mudah pecah karena pertengkaran di rumah atau hilang ketika pindah rumah.

Otak manusia memilih-memilih memori. Yang buruk-buruk diingat sampai lama, tapi begitu pula yang indah-indah. Yang penting-penting sering lupa ketika dibutuhkan. Ingatan baik makin sering diceritakan, makin bergeser ceritanya. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan jadi kebenaran. Kebohongan yang disompral-sompralkan, lama kelamaan jadi kebeneran. Kebeneran terjadi lalu menyesal. Seperti ucapan orang tua pada umumnya yang bilang “tidak tahu diuntung”. Mungkin kalimat itu berasal dari sinetron lalu terukir di otak para orang tua lalu viral ke generasi berikutnya. Atau karena memang sering diucapkan orang tua, lalu menginspirasi penulis naskah sinetron karena mereka tidak punya lagi referensi yang keren selain ucapan masa kecil dari orang tua mereka.

Kitab suci dijual di rak kitab suci karena kalau dipajang di rak buku-buku fiksi akan menyebabkan si pengusaha toko buku diarak sampai kelurahan. Kalau beruntung bisa sekalian ditemani kasirnya. Tapi kalau diletakkan di rak buku non-fiksi bisa dianggap mengerdilkan keberadaan satu sama lain. Kalau buku Tan Malaka dijual bersebelahan dengan biografi Nikolas Tesla, selain tidak terlalu nyambung, sepertinya mereka juga tidak keberatan. Kecuali ketika dipajang bersebelahan dengan buku “Tan Malaka Sang Nabi Palsu Meninggal di Tempat Pembacaan Proklamasi Karena Batuk Menahun” atau “Tesla dan Edison: Kisah Asmara Rahasia Abad 18”. Selain informasinya serba salah—dalam artian semua informasinya salah—tapi juga penuh fitnah dan niscaya memiliki kemungkinan laku di pasaran. Harga berhala lagi murah.

Teman baik saya pernah bilang bahwa tidak mau terlalu kenal dalam dengan saya, karena takut akan menghancurkan ilusi atas diri saya yang menurutnya cukup bagus. Membaca buku adalah menjalani sedikit perjalanan hidup seseorang sekaligus meninggali sepenggal ruangan di otak sang penulis. Tapi ruangannya adalah ruangan yang memang dibersihkan dan dihias untuk kemudian disewakan di Airyrooms atau Traveloka. Bukan kamar penuh privasi yang istri sendiri pun enggan tinggal karena bau bujangan. Pasti tidak sedikit penulis yang bermasalah rumah tangganya. Karena angka perceraian di Amerika kira-kira sampai 50%. Menjalani perkawinan hampir sama seperti berjudi koin. Kalau beruntung bisa saja koinnya jatuh dalam kondisi berdiri. Atau ketika koin dihempaskan ke udara, tiba-tiba sangkakala akhir zaman ditiup tepat saat koin menyentuh tanah. Anggap ada 20.000 penulis yang berkeluarga. Maka ada 10.000 penulis yang rumah tangganya pecah dan satu tukang blog yang harus belajar lagi mengenai statistik dasar, analisa data, dan analogi. Dan jumlah itu terlalu banyak.

Maka dari itu kisah sukses dipenuhi dengan banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tentu dalam dosis yang tepat. Membaca setiap kata di dalam buku lalu mengulang-ngulang setiap caturwulan, ditambah berbaring seharian dan tidak sempat mengobrol sama teman-teman, apalagi jalan-jalan pakai transportasi publik. Kelakuan seperti itu hanya akan meningkatkan risiko terkena borok di punggung yang sulit sembuh. Menonton film seri hingga beratus-ratus episode akan membuat kita merasa seperti telah kenal dengan sang pemeran utama selama bertahun-tahun. Padahal bagi para aktor, film seri itu hanya pekerjaan yang menghabiskan tidak sampai 10% waktu hidupnya. Kegiatan menulis, meski menghabiskan waktu bisa lebih dari 10% waktu hidup penulisnya, tetap bisa membuat kita merasa mengenalnya sejak lama, dan tetap tidak valid jika kita merasa sok kenal. Bukunya dibawa ke mana-mana, diajak makan, ngobrol, dan diceritakan ke orang-orang. Namun sesungguhnya tidak baik juga menilai seseorang dari tulisannya. Apalagi tulisannya di sosial media. Karena sangat mungkin bahwa Tere Liye adalah orang yang menyenangkan.

Saya sendiri belum pernah membelikan gelas-gelas cantik bagi orang tua saya yang dipersepsikan seperti selebriti bagi beberapa orang lain. Termasuk saya. Sepasang selebriti sekaligus pahlawan super dan pemimpin yang plot krisis kehidupan pribadi dan bagian ngobrolnya agak banyak. Karena itu lah saya masih bisa hidup tenang leha-leha karena percaya orang tua saya bisa melakukan apa saja bahkan mengeluarkan saya dari penjara jika terlibat huru-hara lalu lintas. Meski mereka belum juga menulis buku yang sudah diwacanakan sejak lama, ada seorang tua yang menulis buku non-fiksi dan tidak dipajang berbarengan dengan kitab suci. Bahkan mungkin tidak dijual di toko buku Indonesia.

Beliau menulis buku yang akhir-akhir ini sering sekali saya sebut, hingga hampir seperti kitab suci, padahal isinya saja tidak hapal dan tidak paham sepenuhnya. Saya memang tidak membaca sebanyak itu buku, sedikit di atas rata-rata kalau angka rata-rata orang sekitar saya adalah membaca 3 buku per tahun di luar buku pelajaran. Saya cukup yakin angkanya di bawah itu karena toko buku sepertinya tetap sintas karena jualan beragam pensil dan alat musik. Agak malu juga, karena menyebut hal yang sama berulang kali adalah tanda kekurangan. Seperti hanya satu kali piknik tapi diacu berulang kali. Baru nonton dua kali di bioskop dan filmnya diceritakan beberapa kali. Baca buku karena memang hanya 6 buku per tahun, jadi diacu berkali-kali. Paling tidak dua kali di atas rata-rata dan paling tidak beliau ini adalah 50% dari penulis yang rumah tangganya tidak pecah. Ternyata, selain saya krisis berhala, saya juga agak krisis membaca.

Hans Rosling menulis buku yang sebegitu menggugahnya hingga memori saya atas buku tersebut berputar-putar dan terdistorsi menjadi ilmu yang bisa jadi bahkan tidak tertulis di dalamnya. Saya menonton kuliahnya dan presentasinya tentang dunia ini yang secara langsung dan tidak langsung membuat saya lebih bahagia dan mau membuat perubahan dalam tujuan hidup. Tidak sampai satu minggu setelah saya memulai membaca buku paling baru beliau dan menonton beberapa tayangannya, saya mengetahui bahwa beliau sudah meninggal tahun lalu. Beberapa sesi menonton video berikutnya saya lalui dengan air mata. Saya baru bisa paham mengapa orang bisa merindukan Rasulullah yang bahkan mereka tidak pernah bertemu dan padahal baru baca bukunya satu saja. Sebab terlalu berat untuk baca buku hadits, Sunnah, dan kajian. Saya juga belum pernah baca bukunya yang lain.

Rasa rindu pada tokoh yang tidak pernah ditemui ini kemudian dijaga seperti perasaan teman saya terhadap saya yang tidak mau mendalami lebih jauh tentang kecacatan hidup sang penulis. Pun buku Tan Malaka belum pula selesai saya baca. Kelak nanti akan saya acu dan rindukan. Tapi buat saat ini sebijak-bijaknya adalah orang yang mengambil pelajaran dari “The World’s Best Mom” dan “Greatest Dad in The World”  sebanyak-banyaknya sebelum gelas itu jadi pajangan berharga yang kalau pecah bisa terbayang berhari-hari dan memorinya tercampur-campur.

 

 

 

Advertisements

Dari Kamar Sebelah

Kabel AUX yang longgar akan membuat transmisi listrik-atau-entah-namanya-di-dalam-kabel terganggu. Di dalam listrik itu, terdapat pola-pola dan kode-kode. Harap perhatikan, bahwa pola dan kode adalah hal yang berbeda. Yang satu, bersifat repetitif atau dapat diprediksi. Sementara yang satu lagi, bersifat menerjemahkan, atau menyimpan informasi. Satu hal pasti, dari kabel AUX murah warna-warni hingga yang hampir seharga gaji penjual kabel AUX itu sendiri, musik dapat dilewatkan dan dijejalkan ke dalam lubang sempit di banyak tempat (tentu tempat di sini bukan laut, gunung, atau toilet pusat perbelanjaan. Kecuali di laut, gunung, atau toilet itu ada pemutar musik yang dapat dicolok kabel AUX).

Dia memutar lagu dari perangkat elektroniknya yang canggih mandraguna dan berbayar, karena baginya tidak halal untuk membajak lagu dengan aplikasi lagu yang diakali agar bisa memutar segala jenis lagu tanpa membayar. Saya juga berpikir demikian, selain juga karena alasan keamanan, kita harus adil sejak dari mendengarkan musik. Kabel itu longgar. Lalu, dari sekeliling terdengar suara sayup-sayup. Seakan-akan ada konser musik dan sokley (Ayah saya menyebut lampu sorot konser menyala yang ditembakkan ke langit sebagai sokley) yang menyala-nyala. Suara dari kejauhan itu berasal dari kabel yang sudah usang.

Mendapatkan inspirasi saat buang air besar, atau saat memperhatikan air yang mengalir ke lubang pembuangan saat mandi, adalah suatu konsensus bagi masyarakat bahwa kita selamat sebagai umat karena renungan-renungan yang hadir saat kegiatan rutin itu berlangsung kadang bermanfaat. Saya sendiri banyak merenung di balik setir, selain di atas kloset dan di bawah pancuran air hangat. Entahlah, mungkin karena waktu dan rutinitas yang dialami lebih rutin. Di mana saya tidak mungkin ketiduran lalu tidak menyetir sementara ketika waktu buang air besar datang, saya bisa membuangnya di mana saja, dan ketiduran di banyak tempat adalah hal yang menyenangkan serta sulit dihentikan sebagai kebiasaan. Berbeda dengan berada di balik kemudi. Tentu sulit untuk merasakan renungan-renungan itu lagi, karena sampai satu tahun ke depan saya akan banyak berada di atas kursi penumpang beramai-ramai. Tempat baru akan mengubah seseorang. Jika saya masih melakukan kebiasaan yang sama, pasti lebih sulit untuk tidak menjadi sama. Meski keadaan saat ini agak problematik dan boros bensin. Terlihat juga dari beberapa tulisan terakhir saya yang dimulai dengan premis “di balik kemudi”.

Berbicara tentang konsensus, banyak sekali konsensus yang terjadi di antara kita semua tanpa kita sadari sepenuhnya. Seperti konsensus bahwa banyak orang tidak tahu definisi jelas dari konsensus, dan apakah konsensus sama dengan postulat. Atau konsensus dengan diri sendiri bahwa ketika ada orang yang berdebat dengan agama, lebih baik diam saja, karena kata agama sendiri pun perdebatan lebih baik dihindari. Apalagi dengan ide dan konsep yang belum terpetakan dengan rapi. Konsensus bahwa sebaiknya tidak menulis esai pribadi terlalu panjang, karena tidak akan ada yang membaca. Saya sendiri sering tidak menghormati tulisan-tulisan panjang di blog kawan dengan melewatinya karena terlalu panjang. Atau, konsensus tentang perasaan-perasaan spesifik yang tidak bisa kita jelaskan namun dapat dikonsensuskan sebagai “sangat paham”.

Kembali ke kabel AUX dan dia. Kedua hal tersebut adalah hal yang akhir-akhir ini sering memaksa saya merenung. Dia di sini adalah Ibu, Ayah, kekasih, sahabat satu-satunya, atau bahkan pengemudi di mobil sebelah yang memasang lagu sangat kencang. Suatu hari, saya terdampar ke salah satu kanal video yang berisi suara-suara dari kamar sebelah. Dalam arti harfiah. Di kanal itu, sang pemiliknya menyunting lagu-lagu populer menjadi terdengar seperti dari kamar sebelah. Atau dari dalam mobil di tengah hujan saat malam hari. Atau di pusat perbelanjaan yang sudah tidak ada orang karena entah mengapa jam tutup pusat perbelanjaan itu tidak disesuaikan dengan jam selesai pemutaran film paling akhir di bioskop lantai paling atas.

Suara-suara itu bergema, terdengar sayup-sayup, bising pelan, atau dengan sederhana; sepi. Menemukan hal-hal tersebut adalah kemewahan. Seperti kata konsensus “bahagia itu sederhana”, tentu, mendengarkan suara-suara yang memaksa merenung itu tidak datang dengan sederhana. Kita perlu situasi dan kesempatan-kesempatan yang tidak datang dengan murah.  Bahkan untuk mencapai ide seperti itu pun adalah kemewahan tersendiri.

Hal-hal spesifik ini, yang terkesan universal, dialami orang-orang dengan cara berbeda. Kepribadian dan cara berpikir saya pastinya terbentuk dari kenangan-kenangan tidak penting yang menempel begitu saja, tanpa alasan jelas, dan kadang disertai detail-detail yang mengherankan. Saya ingat bagaimana rasanya ada laptop yang ditinggal begitu saja di meja asrama, memutar lagu yang saya lupa namanya. Waktu itu saya merasa sedih. Seseorang telah menulis dan mendeskripsikan hal-hal seperti ini dalam “Dictionary of Obscure Sorrows”, dan mungkin sekaligus inti dari tulisan ini. Suara itu sayup-sayup menembus pintu banyak kamar dan kebetulan saja menempel pada salah satu orang yang mendengarnya.

Atau pada hari yang lain yang dialami orang lain. Dihadapkan dengan teman yang menangis, atau sakit, rasanya membingungkan. Kita menemaninya muntah-muntah di toilet, sambil terdengar sayup-sayup suara bising dari balik dinding. Kita bertengkar dengan pacar, hingga harus menjauh dari kebisingan sementara lagu-lagu dari panggung yang bertemakan kebahagiaan dalam berpasang-pasangan terus terdengar. Juga suara-suara dari pinggir kolam renang yang terdengar sangat pelan karena telinga kita terhalang air. Banyak lagi cerita yang tidak diingat, membekas tanpa sadar lalu bisa membentuk kesenangan yang terpanggil tanpa tahu alasannya. Banyak hal yang lebih baik tidak diceritakan atau dijelaskan.

Pada akhirnya, hal-hal ini dapat ditarik lagi dan disederhanakan. Menjadi kode yang sedemikian spesifiknya, memicu kode yang spesifik pula pada perasaan banyak orang. Kebetulan sekali, sang pemilik kanal membuat kode yang tepat dan menempatkan posisinya sebagai sang teman yang kebingungan di toilet. Saya kini merasa ketagihan dengan perasaan-perasaan yang menyulitkan ini. Apa yang tidak kita pahami, meski seringkali menakutkan, pada jarang sekali kejadian dapat bersifat menenangkan. Dan saya sangat tenang mendapati bahwa suara-suara itu datang dari kamar sebelah. Kamar dia.

Sabtu dan Minggu

“Ga akan sedetik pun lebih sayang sama Istri dibanding sayang sama Ibu.”

Ibu diam, mungkin senyum tapi tidak kelihatan. Mungkin gelisah karena anaknya naif sekali.

Beberapa tahun ke belakang, kadang saya tidak betah jika menghabiskan akhir minggu bersama keluarga. Kadang ingin main saja bersama teman-teman, atau teman spesial, begitulah. Mungkin karena krisis eksistensi dan pergaulan.

Tapi baru beberapa tahun akhir ini, saya benar-benar menunggu akhir minggu, untuk jumat malam sampai minggu malam yang akan dipenuhi cerita-cerita, haha-hihi ga jelas, dan omelan-omelan kecil Ibu Ayah. Jalan-jalan keliling Bandung, yang tempatnya memang ke situ situ lagi. Makan makanan yang itu lagi. Saya tidak peduli. Saya akan terus bersama mereka. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan di Bandung tanpa mereka.

Mereka hidup saya.

Tertekan

Kamu sedang berdiri di depan sebuah maha karya lukisan yang dibuat ratusan tahun lalu. Ada perjalanan hingga benda itu bisa sampai di depanmu. Perhatikan, setiap titik di lembaran yang bersatu membentuk cerita. Setiap goresan yang memberi warna. Setiap bulir debu yang telah dan sedang menempel di benda itu.

Bagus.

Kamu sedang memegang sebuah karya ilmu pengetahuan yang dicetuskan ratusan tahun lalu. Ada subjek, predikat, dan objek yang diatur dengan usaha. Perhatikan, setiap koma di lembaran yang bertabur membentuk makna. Setiap lekukan yang mengajarkan semesta. Setiap tetes keringat yang tidak mengetahui bahwa ia telah tertetes. Tertetes untuk selembar ilmu yang kamu sedang pegang itu.

Bagus.

Kamu tidak lagi berdiri atau memegang. Kamu dikubur. Tapi dia sedang memegang dan berdiri. Ada perjalanan yang telah kamu lewati hingga sepatumu menipis. Ada keringat yang telah tertetes. Ada debu-debu berterbangan yang pernah bersamamu di badan. Ada goresan dan titik-titik yang ditulis dengan tujuan. Tidak dengan kebetulan.

Kita selalu tertekan. Sampai di akhir tertekan tanah.

Tapi akan tiba saatnya kita berakhir pekan. Lalu tiba hilangnya lelah.

Karena kamu akan membawa cerita yang orang tak pernah dengar sebelumnya.

 

Pepohonan dan Bulan Juni

Saya lagi ngeliat keluar jendela bis saat sadar kalau itu adalah akhir juni. Jendela bis emang selalu bikin orang jadi mikir. Kata banyak orang di dunia, sih. Sambil ganti-ganti lagu, nyari lagu yang pas, saya lihat lagi kalender. Benar ternyata sudah hari terakhir bulan juni. Abah Iwan juga mengulang-ngulang tanggal ini saat memberikan pertunjukan motivasi. Acara keren kampus baru selesai, acara yang inspiratif, dan sedang perjalanan pulang.

                Kata Abah, intinya inspirasi itu datang dari diri kita sendiri. Baru kalimat pertama saja saya langsung berpikir. Beruntunglah orang-orang yang selalu menyempatkan diri untuk bengong. Untuk merenungi sekitarnya. Kata Abah, terimakasih sama pohon sudah ngasih oksigen. Saya lalu teringat sama pohon angsana favorit saya di Jalan Diponegoro, yang beberapa kali saya berikan pelukan terimakasih secara harfiah itu.  Selanjutnya saya lupa beliau bilang apa saja. Tapi saya ingat lagi kata teman saya. Bahwa sebuah momen itu ga perlu diingat bagaimana terjadinya, yang penting adalah momen itu meninggalkan kesan dan tau kalau ‘sesuatu’ dalam momen itu tinggal di dalam diri kita.

                Teringat itu hari terakhir bulan juni, juni taun ini juga memberikan banyak momen. Momen-momen yang ga perlu diceritain panjang-panjang, tapi bakal diingat terus sama saya potongan-potongannya. Lagu-lagu yang jadi jangkar, dan pemandangan yang jadi pemicu indera luar biasa. Momen pertemanan, momen penglihatan, momen kebosanan, momen barang rusak, momen keluarga, momen adik-adik, momen saat gelap datang, momen telepon, momen pak satpam, momen saat di tengah keramaian, momen kesepian, momen bahagia luar biasa, momen ujian, momen tertekan, momen martabak, momen susu beruang, momen desa yang jauh disana, momen awan, momen putus asa, momen hujan, momen berdarah, momen bintang-bintang, momen cahaya lampu, momen lampu jalanan, momen lampu mobil, momen kode-kode, momen kehangatan, momen inspirasi, momen terguncang-guncang, momen orang sakit, momen sakit, momen cemburu, momen nyanyi, momen pendengaran, momen di kendaraan-kendaraan. Saya tau kalau suatu kata diulang berkali-kali akan terasa hilang maknanya. Maafkan saya wahai momen-momen.

                 Perjalanan pulang berlanjut, saya melihat pepohonan di pinggir jalan, dan kabut yang menyemprot-nyemprot masuk lewat jendela bis. Kabutnya hilang, lalu saya lihat awan yang tertembus matahari di kejauhan sana. Mungkin orang di Kecamatan Cidaun ada yang lagi lihat awan itu juga. Tapi kayaknya nggak deh, terlalu jauh. Yang jelas saya sama Cidaun masih satu langit, satu pencipta. Saya cuma bisa berterimakasih kepada sang pencipta. Saya diciptakan disini dan mereka diciptakan disana. Ada bagiannya masing-masing. Saya diciptakan disini untuk terinspirasi, dan yang disana diciptakan untuk menginspirasi. Makasih ya pepohonan, makasih ya bulan juni, makasih ya sang bengong, dan makasih ya langit dan bumi Cidaun. Kalau ada sumur di ladang, boleh saya minta tolong ambilkan air. Kalau ada umur panjang, boleh saya minta tolong ambilkan bulan juni bu dan pedesaan tahun depan bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap dan gelap di malam hari.

Petualangan

Sabtu ini bolos Mabim Agama Islam, terus nonton lagi Petualangan Sherina. Ga kerasa ya waktu berjalan cepat banget. Udah 12 tahun sejak filmnya rilis, 12 tahun sejak pertama kali masuk SD, 12 tahun sejak Cici Khanza lahir. Banyak banget yang udah terjadi selama 12 tahun ini. Bahkan mungkin setiap ingatan dan kesan yang ada di diri saya, 90% lebih dari pengalaman 12 tahun terakhir ini.

Ngeliat suasana Lembang jaman dulu, dan Bosschanya yang megah, jadi pengen main kesana lagi. Sama keluarga atau sahabat-sahabat, atau sama seorang terkasih. Andai hidup semudah itu ya. Liat Sherina kecil, pengen lagi kayak waktu SD, yang diinget sih bahagia banget, tapi emang bahagia kenyataannya juga.

Jaman Petualangan Sherina, ke Bosscha sama Ifa dan Brina. Sekarang mereka apa kabar ya, jadi berjarak banget, padahal kalo akrab kayaknya asik juga. Banyak kenangan. Waktu itu jaman seneng-senengnya sama astronomi juga, dan takut-takutnya sama alien. Ke Bosscha main tapi diajakin nginep ga mau, masih manja sama Ibu Ayah.  Masih sering kumat asthma, pake-pake inhaler, kayak Saddam. Dulu Brina jadi Sherinanya, padahal dia juga kumat melulu asthmanya. Mereka centil, nyanyi-nyanyi lagu Sherina terus.

Dulu nonton Petualangan Sherina di bioskop low-end, terus bioskopnya penuh, asthma saya kambuh jadi aja keluar dulu digendong nangis bengek. Saddam juga di dalam lagi sesak napas. Tapi dia dikecup di kening sama Sherina. Saya dikecup keningnya sama Ibu, biar ga nangis lagi.  Bu, bentar lagi kiamat, ingin dikecup lagi biar horrornya pergi. Ingin pulang ke masa lalu. Tapi kecupan ibu jauh.