Secangkir air hangat
Dimasak dengan baik
Dengan nyata
Buat tamu yang baru tiba

Sebotol air biasa
Untuk orang yang biasa
Diminumnya
Dengan berdosa

Segalon
Bukan air

Cuma tanah
Pecah luka luka
Ditukas pria pemarah
Tidak menjaga perasaannya

Sebab yatim yang haus
Serta sekaligus
Harus dijaga perasaannya

Bergenggaman
Di antara tempat pizza dan pepohonan
Aku yang waktu itu sering berangan
Membuat tepuk tangan

Saling kesal
Di depan tukang roti dan minuman mahal
Aku kira kita gagal
Lupa kalau aku yang bebal

Mengenang
Di seberang gerai sepatu dan barang-barang
Katamu sangat ringan, seperti melayang
Sepatuku tebal, toh aku serasa mengambang

Bersyukur kamu masih tinggal
Karena di situ
Menyembul di antara pipimu
Lengkung halus sangat kukenal
Yang tidak jauh
Kesukaan

Hari-hari ini, saya makin terobsesi dengan para orang tua. Mungkin saya telat sadar, bukan mungkin, saya telat sadar, bahwa orang tua saya sangat menyayangi saya tanpa syarat apapun. Bertahun saya sering marah, kecewa pada orang tua saya tanpa alasan yang jelas, 22 tahun, rugi.

Mungkin saya baru tersadar beberapa bulan ini, karena mimpi buruk yang saya alami di April lalu, yang membuat saya berlari ke kamar Ibu dan Ayah sambil menangis. Lalu menelusup sesenggukan di antara mereka yang sedang tidur. Memeluk Ayah keras-keras. “Siapa ini, ade? Kok gede?” Kata Ayah yang bingung karena anaknya yang paling besar sudah tidak pernah lagi menangis saat tidur.

Mungkin karena buku Mitch Albom, For One More Day, yang membuat saya menahan air mata di tiap halamannya. Takut sekali, saya akan menjadi seperti tokoh utama di buku itu. Takut sekali, karena saya sangat sayang dengan Ibu serba bisa ini.

Mungkin.

Saya sedang melewati rotasi di stase anak. Walaupun saya lebih suka menamainya stase anak dan orang tuanya. Untuk setiap anak yang sakit, jika beruntung setidaknya ada 2 orang tua yang muram, dan penunggu pasien lain yang tak jelas siapa.

Ada tentang sakit, tentang ditunggui, tentang ibu muda yang matanya seperti nyaris lepas karena menangis, tentang suara singa yang keluar dari seorang ayah muda.

Jika saya lupa saya pernah belajar apa saja, dan hanya ingat rasa lelahnya jaga malam. Paling tidak, saya mendapatkan hal-hal paling penting, yang membuat saya berpikir kembali ke bertahun lalu.

Saya belajar lagi, bahwa Ibu dan Ayah tidak pernah bohong ketika mereka bilang bahwa mereka sangat menyayangi saya.

Pagi di bangsal enam
Waktu kamu masih terpejam
Ibu Ayahmu hanya ingin tentram
Tidak padam

Siang di bangsal depan
Merangsek kami masuk perlahan
Ibumu yang berharapan
Dan Ayah, tercekat.
Tertahan

Petang di bangsal yang sama
Namanya juga air mata
Senasib dengan jelangkung
Pulang tak diantar, datang tak terbendung

Malam di bangsal sialan
Aku harus pulang
Ayah Ibuku ingin aku pulang
Ayah Ibumu tidak ingin kamu pulang

Kamu malah ikut aku pulang

Untuk Kahfi, Yusuf, dan orangtua mereka
Jika terjadi hal paling buruk
Maafkan saya

6 Mei 2016
Kenanga 2

Bapak tidak mau lihat kemari
Lihat keringat teman kami
Kaus basah dorong-dorongan
Susah payah hujan-hujanan

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke dalam yang menyala-nyala
Hingga kan terbakar menari-nari
Seperti pedansa yang menggila

Bapak tidak mau lihat kemari
Ke bingkai kelam televisi
Balita yang menghisap palsunya nubuat
Tersesat

Bapak tidak mau lihat kemari
Hati dikubur rapat-rapat
Takut lihat pakai mata sendiri
Nyatanya sudah pada cacat

Bapak pasti akan lihat kemari
Saat keluarga bapak
Mati

Bapak perokok
Yang baru akan berhenti
Ketika terlambat

“Ga akan sedetik pun lebih sayang sama Istri dibanding sayang sama Ibu.”

Ibu diam, mungkin senyum tapi tidak kelihatan. Mungkin gelisah karena anaknya naif sekali.

Beberapa tahun ke belakang, kadang saya tidak betah jika menghabiskan akhir minggu bersama keluarga. Kadang ingin main saja bersama teman-teman, atau teman spesial, begitulah. Mungkin karena krisis eksistensi dan pergaulan.

Tapi baru beberapa tahun akhir ini, saya benar-benar menunggu akhir minggu, untuk jumat malam sampai minggu malam yang akan dipenuhi cerita-cerita, haha-hihi ga jelas, dan omelan-omelan kecil Ibu Ayah. Jalan-jalan keliling Bandung, yang tempatnya memang ke situ situ lagi. Makan makanan yang itu lagi. Saya tidak peduli. Saya akan terus bersama mereka. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan di Bandung tanpa mereka.

Mereka hidup saya.

Kemarin Bestie diadopsi orang.

Teman, kucing.

Nangisnya lama, sekarang pun kalau mau nangis bisa.

Kalau diangkat-angkat diam saja. Diusap-usap suka. Dipukul tambah manja. Senang air. Minum selalu berantakan. Mukanya ditutup tidak bisa napas, tapi ga berontak.

Saya tidak pernah bersihin kotorannya, mandiinya. Tapi suka tidur bersama. Masih banyak kucing di sana. Juga di rumah saya. Tapi saya maunya yang ini.

Anggap saja ya sudah pergi. Kayak Cosmo. Sugar. Tiger. Sule. Nanti ada Bebi, Boni, Bobi.

Kalau pacar diambil orang, orang mengerti, lagunya banyak dibikin orang. Kalau teman diambil orang, sudah basi, banyak ceritanya, sudah pernah merasakan.

Bestie pasti tidak ingat saya. Bestie jahat.

Tapi Bestie, Terbaik.