Nikmati Peraduan

Seperti menulis surat cinta untuk aku yang duduk di halaman, daun itu berputar-putar.

Bertumpuk dan berjajar, mereka jadi kecil.

Aku teringat dengan daun coklat-kehijauan yang jatuh bertahun lalu. Kalau tidak ada artinya, maka memang tidak ada artinya. Sama dengan daun kelapa yang dua kali jatuh, juga bertahun lalu.

Menghantam.

Nyeri punggungku masih sama. Mimpiku masih tentang mereka.

Hanya ingin bertanya pada pohon yang dulu.

Dari mana saja? Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.”

 

Advertisements

Dari Kamar Sebelah

Kabel AUX yang longgar akan membuat transmisi listrik-atau-entah-namanya-di-dalam-kabel terganggu. Di dalam listrik itu, terdapat pola-pola dan kode-kode. Harap perhatikan, bahwa pola dan kode adalah hal yang berbeda. Yang satu, bersifat repetitif atau dapat diprediksi. Sementara yang satu lagi, bersifat menerjemahkan, atau menyimpan informasi. Satu hal pasti, dari kabel AUX murah warna-warni hingga yang hampir seharga gaji penjual kabel AUX itu sendiri, musik dapat dilewatkan dan dijejalkan ke dalam lubang sempit di banyak tempat (tentu tempat di sini bukan laut, gunung, atau toilet pusat perbelanjaan. Kecuali di laut, gunung, atau toilet itu ada pemutar musik yang dapat dicolok kabel AUX).

Dia memutar lagu dari perangkat elektroniknya yang canggih mandraguna dan berbayar, karena baginya tidak halal untuk membajak lagu dengan aplikasi lagu yang diakali agar bisa memutar segala jenis lagu tanpa membayar. Saya juga berpikir demikian, selain juga karena alasan keamanan, kita harus adil sejak dari mendengarkan musik. Kabel itu longgar. Lalu, dari sekeliling terdengar suara sayup-sayup. Seakan-akan ada konser musik dan sokley (Ayah saya menyebut lampu sorot konser menyala yang ditembakkan ke langit sebagai sokley) yang menyala-nyala. Suara dari kejauhan itu berasal dari kabel yang sudah usang.

Mendapatkan inspirasi saat buang air besar, atau saat memperhatikan air yang mengalir ke lubang pembuangan saat mandi, adalah suatu konsensus bagi masyarakat bahwa kita selamat sebagai umat karena renungan-renungan yang hadir saat kegiatan rutin itu berlangsung kadang bermanfaat. Saya sendiri banyak merenung di balik setir, selain di atas kloset dan di bawah pancuran air hangat. Entahlah, mungkin karena waktu dan rutinitas yang dialami lebih rutin. Di mana saya tidak mungkin ketiduran lalu tidak menyetir sementara ketika waktu buang air besar datang, saya bisa membuangnya di mana saja, dan ketiduran di banyak tempat adalah hal yang menyenangkan serta sulit dihentikan sebagai kebiasaan. Berbeda dengan berada di balik kemudi. Tentu sulit untuk merasakan renungan-renungan itu lagi, karena sampai satu tahun ke depan saya akan banyak berada di atas kursi penumpang beramai-ramai. Tempat baru akan mengubah seseorang. Jika saya masih melakukan kebiasaan yang sama, pasti lebih sulit untuk tidak menjadi sama. Meski keadaan saat ini agak problematik dan boros bensin. Terlihat juga dari beberapa tulisan terakhir saya yang dimulai dengan premis “di balik kemudi”.

Berbicara tentang konsensus, banyak sekali konsensus yang terjadi di antara kita semua tanpa kita sadari sepenuhnya. Seperti konsensus bahwa banyak orang tidak tahu definisi jelas dari konsensus, dan apakah konsensus sama dengan postulat. Atau konsensus dengan diri sendiri bahwa ketika ada orang yang berdebat dengan agama, lebih baik diam saja, karena kata agama sendiri pun perdebatan lebih baik dihindari. Apalagi dengan ide dan konsep yang belum terpetakan dengan rapi. Konsensus bahwa sebaiknya tidak menulis esai pribadi terlalu panjang, karena tidak akan ada yang membaca. Saya sendiri sering tidak menghormati tulisan-tulisan panjang di blog kawan dengan melewatinya karena terlalu panjang. Atau, konsensus tentang perasaan-perasaan spesifik yang tidak bisa kita jelaskan namun dapat dikonsensuskan sebagai “sangat paham”.

Kembali ke kabel AUX dan dia. Kedua hal tersebut adalah hal yang akhir-akhir ini sering memaksa saya merenung. Dia di sini adalah Ibu, Ayah, kekasih, sahabat satu-satunya, atau bahkan pengemudi di mobil sebelah yang memasang lagu sangat kencang. Suatu hari, saya terdampar ke salah satu kanal video yang berisi suara-suara dari kamar sebelah. Dalam arti harfiah. Di kanal itu, sang pemiliknya menyunting lagu-lagu populer menjadi terdengar seperti dari kamar sebelah. Atau dari dalam mobil di tengah hujan saat malam hari. Atau di pusat perbelanjaan yang sudah tidak ada orang karena entah mengapa jam tutup pusat perbelanjaan itu tidak disesuaikan dengan jam selesai pemutaran film paling akhir di bioskop lantai paling atas.

Suara-suara itu bergema, terdengar sayup-sayup, bising pelan, atau dengan sederhana; sepi. Menemukan hal-hal tersebut adalah kemewahan. Seperti kata konsensus “bahagia itu sederhana”, tentu, mendengarkan suara-suara yang memaksa merenung itu tidak datang dengan sederhana. Kita perlu situasi dan kesempatan-kesempatan yang tidak datang dengan murah.  Bahkan untuk mencapai ide seperti itu pun adalah kemewahan tersendiri.

Hal-hal spesifik ini, yang terkesan universal, dialami orang-orang dengan cara berbeda. Kepribadian dan cara berpikir saya pastinya terbentuk dari kenangan-kenangan tidak penting yang menempel begitu saja, tanpa alasan jelas, dan kadang disertai detail-detail yang mengherankan. Saya ingat bagaimana rasanya ada laptop yang ditinggal begitu saja di meja asrama, memutar lagu yang saya lupa namanya. Waktu itu saya merasa sedih. Seseorang telah menulis dan mendeskripsikan hal-hal seperti ini dalam “Dictionary of Obscure Sorrows”, dan mungkin sekaligus inti dari tulisan ini. Suara itu sayup-sayup menembus pintu banyak kamar dan kebetulan saja menempel pada salah satu orang yang mendengarnya.

Atau pada hari yang lain yang dialami orang lain. Dihadapkan dengan teman yang menangis, atau sakit, rasanya membingungkan. Kita menemaninya muntah-muntah di toilet, sambil terdengar sayup-sayup suara bising dari balik dinding. Kita bertengkar dengan pacar, hingga harus menjauh dari kebisingan sementara lagu-lagu dari panggung yang bertemakan kebahagiaan dalam berpasang-pasangan terus terdengar. Juga suara-suara dari pinggir kolam renang yang terdengar sangat pelan karena telinga kita terhalang air. Banyak lagi cerita yang tidak diingat, membekas tanpa sadar lalu bisa membentuk kesenangan yang terpanggil tanpa tahu alasannya. Banyak hal yang lebih baik tidak diceritakan atau dijelaskan.

Pada akhirnya, hal-hal ini dapat ditarik lagi dan disederhanakan. Menjadi kode yang sedemikian spesifiknya, memicu kode yang spesifik pula pada perasaan banyak orang. Kebetulan sekali, sang pemilik kanal membuat kode yang tepat dan menempatkan posisinya sebagai sang teman yang kebingungan di toilet. Saya kini merasa ketagihan dengan perasaan-perasaan yang menyulitkan ini. Apa yang tidak kita pahami, meski seringkali menakutkan, pada jarang sekali kejadian dapat bersifat menenangkan. Dan saya sangat tenang mendapati bahwa suara-suara itu datang dari kamar sebelah. Kamar dia.

Kontroversi

Tidak ada yang tahu betul, hal apa yang menjadi faktor utama kesuksesan (yang didefinisikan berbeda-beda pula oleh setiap orang). Karena bahkan kesuksesan pun sama seperti kebahagiaan; setiap orang bebas mendefinisikannya. Tentu setiap kata juga demikian. Jika saya menganggap nongkrong adalah duduk dan ngobrol sambil minum kopi saset yang profitnya 150% bersama teman-teman baik, maka nongkrong adalah kebahagiaan yang juga merupakan kesuksesan jika misalnya kesuksesan adalah kebahagiaan. Mari kita potong omong kosongnya, karena tidak semua kata bisa didefinisikan seromantis hal-hal itu. Seperti halnya makan siang. Makan siang adalah makan yang dilakukan saat siang hari. Namun makan siang bersamamu tentu adalah kebahagiaan dan mungkin kesuksesan, dan mungkin juga dapat dikatakan sebagai nongkrong, karena menyangkut ketiga hal yang sama tidak jelasnya tadi. Saya juga kurang sukses menulis paragraf pertama ini yang kalimat pertamanya kurang menarik; seperti tulisan yang katanya dalam dan menggetarkan jiwa karena menurut tulisan itu, kesuksesan bukanlah diukur dengan banyaknya aset dan rekening sebelas digit. Ketidakmenarikan kalimat pertama saya dapat dikategorikan sebagai bukan-kesuksesan, yang dapat menuju ke bukan-kebahagiaan, dan mungkin akan membuat saya malas nongkrong kemudian. Walau saya tidak keberatan juga jika rekening saya 10 digit dan tubuh saya lebih sehat.

Malam ke rumah saya, sunyi. Kami nongkrong di pinggir jalan, lalu mengejawantahkan beberapa kejadian yang terjadi beberapa waktu ke belakang. Beberapa waktu di sini adalah beberapa hari, bulan, dan tahun yang meski tanggalnya lupa tapi kejadiannya ingat betul. Kami sering membicarakan ide, kejadian, dan orang-orang, yang orang-orangnya juga itu-itu lagi. Untungnya orang yang itu-itu lagi cukup menarik jadi kami tidak terjebak menjadi dialog drama anak SMP yang membicarakan orang yang itu-itu lagi namun orangnya tidak menarik.

Kalau orang yang pikirannya tidak baik, jalan berpikirnya tidak runut, kemampuan berlogikanya di bawah rata-rata, dan membuat kalimat dalam urutan kata-kata yang tidak jelas dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Maka, ke mana kah jalan akhir orang yang mendidik diri menjadi berpikiran baik, berpikiran runut, berlogika dengan baik, dan mampu membuat kalimat yang rapi. Paling tidak yang jelas saya bukan bagian dari orang yang membuat kalimat dengan terstruktur dan menulis tanpa salah ketij. Agak sedikit kurang adil, tapi toh yang penting masih bisa nongkrong.

Dalam kenaifan kami, ia bertanya. “Apa gunanya capek-capek?” Saya menjawab dengan sok bijak karena menjawab tidak tahu pun adalah jawaban yang cukup bijak, daripada menjawab asal jeplak, salah-salah ia mendapat tuntunan agar hidup porak poranda. Ketidakadilan ini pun hanya tertiup angin pada akhirnya.

Di lain hari, sebuah musibah datang. Berkaitan dengan seorang balita cantik berinisial T, sebut saja Tania. Nama asli tapi tidak penting untuk disamarkan. Ia berceloteh di dalam mobil bertempat duduk 14 buah yang isinya orang-orang sedih atau bosan karena harus menunggu kemacetan atau harus bepergian jauh meninggalkan hal-hal kesayangannya. Seperti bantal guling, colokan di dekat kasur, dan orang-orang baik. Dalam keributannya, sang ibu tidak kunjung menenangkan sang balita T alias Tania yang entah rewel, entah kurang ajar, entah sakit infeksi, atau entah tenggorokannya gatal jika tidak berteriak-teriak. Ibu tersebut melakukan hal-hal yang saya tidak suka. Tidak perlu dijelaskan di sini karena akan menjadi seperti orang yang berpikiran tidak baik, karena saya telah menjadi demikian di saat itu dan berakibat berkata kasar ke orang lain. Lagi pula menilai seseorang tidak baik atau mengacau hanya dari pertemuan beberapa jam tidak hanya merupakan sebuah kejahatan dalam berpikir, tapi juga sebuah cacat logika yang tidak akan habis diperdebatkan. Andaikan kebahagiaan bisa seperti debat. Pada akhirnya hanya terlihat seorang ibu yang bingung dan seorang anak yang sangat disayang. Sangat disayang hingga kelak semua makanan dan baju agak mahal dari mall-mall besar akan dibelikan saja agar anaknya cantik dan percaya diri hingga pria-pria yang kebetulan mapan akan datang dan berbagi sedikit kebahagiaan makan siang bersama, nongkrong, atau berbagi aset. Tapi jika demikian, ketidakadilan masih tertiup angin. Kali ini angin panas siang hari.

Ibu bilang, jangan suka ganggu orang. Kalau suka tidak apa-apa tapi jangan ganggu. Maka dari kecil jika menunggu di tempat kerja cukup membaca buku saja dan tidak rewel meski suka untuk rewel dan menganggu orang. Nanti tidak ada manusia mapan untuk berbagi tongkrongan untuk saya yang kurang suka bersolek, karena kebahagiaan meski tidak hanya didapat dari nongkrong, juga tidak hanya didapat dari hal-hal yang bisa dibeli dan tidak bisa dibeli (karena tidak ada uangnya). Dan karena peran saya adalah menjadi lelaki mapan yang berbagi tongkrongan dan bukan-kejahatan-dalam-berpikir. Kasih Ibu dan Ayah beda lagi karena tidak ternilai, beda dengan tidak bisa dibeli.

Anak itu belum juga berhenti berteriak. Saya juga ingin berteriak (karena tidak ternilai). Tapi saya memilih untuk diam saja dan mendengarkan tembang dari orang-orang yang senang nongkrong.

 

Repetisi

Saya menyetir melewati toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Meski pada akhirnya, saya selalu bertanya lagi setiap hendak membeli bunga di sana.

Gejolak sesaat atas kesempatan-mungkin-emas yang mungkin-akan-terjadi,  kembali mengundang rasa haru yang mengesalkan. Penemuan obat diabetes yang penuh kenaifan ditambah dengan kemungkinan ditemukannya jawaban atas pertanyaan yang tidak jelas juga apa yang ditanyakan hanya menambah rasa haru yang mengesalkan tersebut.

Anggap saja waktu itu hari kamis dan gejolak itu akan menemui wadahnya di hari sabtu. Sementara, saya sendiri pura-pura lupa dengan hari. “Saya tidak jumatan kemarin, karena kemarin hari minggu.”

Ketika seseorang hampir menangis, tentu  ada reaksi fisiologis yang patutnya sudah dikenali oleh segala macam manusia. Rasa yang kita kenal sejak kita baru mengenal orang tua, rumah, dan makanan enak atau tidak enak. Hidung yang kembang kempis dan menghembus-hembus. Merah di sudut sini dan sana, juga rasa tertindih di sekitar perut dan dada meskipun sedang berdiri. Tentu jika benar itu ketindihan, maka benda yang menindih akan jatuh lurus ke kaki dan membuat lecet alas kaki. Namun, lega lah dadanya.

Saya berusaha membedah perasaan-perasaan yang katanya tidak satu macam. Lalu berputar-putar dalam lingkaran satu macam. Mungkin itu sebabnya dinamakan pola pikir, bukan tebak-tebakan pikir. Lucu juga tidak.

Ketika tangisan sudah terjadi, biasanya di dada akan terasa ngilu dan nyeri tanggung. Mudah sekali mengeluarkan air mata yang sebelumnya sudah duluan keluar satu tetes. Meski, dosis setiap orang beda-beda, karena air mata lebih mirip dengan benang laba-laba yang memanjang lalu bandel menempel. Jika wajah tegak lurus ke bawah, lalu memfokuskan diri pada tetesan air mata yang terjun bebas ke lantai, mungkin orang yang sedang menangis tersebut akan lupa dengan laranya lalu meneteskan beberapa bulir yang besar, lalu bulir kecil, lalu habis, dan hanya tersisa lengket di mata. Orang tua, rumah, dan makanan enak. Lalu, merasa bodoh lah ia.

Saya akan berangkat. Lalu pulang dengan sehat. Pulang untuk kembali duduk-duduk dan bercerita. Kadang menceritakan orang yang lebih baik, atau lebih kurang baik. Karena cerita orang yang sama baik rasanya kurang menarik. Lebih baik pura-pura kagum dan melontarkan tebak-tebakan yang semoga belum pernah kita dengar sebelumnya.

Di dalam pikiran orang yang sedang lengket matanya, ada banyak sekali reaksi kimia yang membuat bentuk-bentuk orang jadi ajaib. Kadang pikirannya berputar, ke sarapan enak beberapa hari yang lalu, ke pertanyaan berapa tepatnya populasi mobil tangki bensin kiri dan tangki bensin kanan yang harusnya disesuaikan dengan jumlah kiri atau kanan pompa bensin atau bisa dikompensasi dengan selang bensin yang lebih panjang, ke tetesan air mata di lantai berdebu yang tidak tahu siapa yang menyapu, ke cerita-cerita lama yang tiba-tiba ingat.  Lalu lengket lagi.

Saya masih melakukan pekerjaan melamun tadi di tempat yang sama. Mungkin saya pernah berpikir tentang hal yang mirip di dalam baju yang sama. Baju yang ketika pertama dipakai membuat pemakainya merasa ganteng, namun setelah beberapa kali dipakai akan terasa biasa saja. Entah bajunya yang memburuk, atau orangnya yang semakin ganteng hingga baju itu tidak bisa mengejar ketertinggalan. Lebih baik ketinggalan baju dari pada ketinggalan teman. Ketinggalan baju tinggal beli lagi, sekalian beli kado untuk teman yang lupa tanggal ulang tahun dan nama lengkap namun tidak lupa memberi dukungan sehari-sehari 4 sehat 5 sila berbeda-beda namun tetap satu. Sementara, ketinggalan teman harus kembali menjemput atau lurus terus membungkus rasa tega baik-baik agar bisa dibekal dan dihabiskan sedikit-sedikit untuk perjalanan panjang. Kalau tertukar dengan yang disobek atau karetnya dua, mungkin perjalanannya akan butuh air dingin lebih banyak.

Tidak ada yang tahu betul kapan orang berhenti menangis. Ketika penelitian akan dilaksanakan, lalu peneliti memaksa responden untuk menangis, tentu ketika diukur dengan jam yang akurat pun para penangis akan kesal dan berteriak pada sang pengukur detik sehingga penghitungannya jadi bias. Sebut saja rata-rata orang menangis ada dalam rentang 4 hitungan hingga 11 kali lebaran. Dan, penyebabnya juga macam-macam. Dari salah makan sambal yang terlalu pedas. Tidak sempat bikin sambal. Sudah bikin sambal lalu diambil kucing. Sudah bikin sambal lalu hilang diambil kucing bersama kucing-kucingnya juga. Karena sambalnya tidak pedas. Karena tidak punya sambal. Karena sambalnya enak, tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, tapi ternyata sudah habis.

Saya ingin berhenti berputar-putar dalam lagu-lagu lama yang liriknya tidak pernah saya hapal, dalam keinginan menjadi orang terkenal yang sangat sibuk hingga tidak sempat mematikan lampu sebelum tidur, dalam penyesalan yang itu-itu lagi yang membuat menyesal kenapa harus menyesal atas hal yang itu-itu lagi. Konon, dalam tiga kali kelahiran ada satu kematian dan orang-orang juga memusingkan hal yang itu-itu lagi, padahal yang baru lahir dan yang sudah meninggal pun dibungkus kain. Bukan dibungkus sambal.

Namun, hal itu pasti berhenti dan gumpalan empuk yang jalan-jalan serta bekerja itu akan terbiasa.

Saya pergi ke tempat yang sama dua kali dalam rentang waktu satu minggu. Tempatnya jauh. Menepi sebentar ke toko bunga yang saya sudah tahu betul harganya. Menanyakan harganya karena memang sudah selalu begitu aturannya.

Ternyata bunga itu jadi mahal.

 

Bertolak Pinggang

Saya mengemudi pulang dari pusat kota ke perumahan kelas menengah tempat saya tinggal. Jalannya buruk, dua ratus juta rupiah yang mungkin dipakai Pak RW untuk anaknya beli Meikarta atau masuk kuliah. Jalannya sempit, dua ratus tahun peradaban dan kendaraan masih diparkir di pinggir jalan.

Manusia adalah pengemudi yang buruk. Memainkan handphone, mengganti kanal radio, atau bahkan bermain gitar kecil saat menunggu lampu merah berganti hijau. Lalu terlambat sepersekian detik yang menjadi sepersekian menit bagi ratusan pengemudi yang juga buruk di belakangnya. Beginilah sebab-sebab mobil otomatis terkomputerisasi dan angkutan moda massal taktis jadi khayalan yang ditunggu-tunggu untuk dipertengkarkan.

Mengurai kemacetan tidak seperti mengurai rambut kusut yang tinggal digunting jika frustasi, atau juga mainan teka-teki yang dengan mudahnya disumbangkan dengan kedok dermawan jika tidak kunjung selesai padahal karena kesal karena mainan itu gagal memenuhi fungsi utamanya yaitu mengurangi stress. Mengurai kemacetan harus dengan hati-hati yang penuh resiko kunjungan ketok mejik atau jalan-jalan mahal ke instalasi gawat darurat.

Dalam “broken window theory” yang sering sekali Ayah saya utarakan, bahwa ketika ada satu jendela pecah dan dibiarkan, maka jendela yang lain akan lebih rentan untuk pecah karena “toh sudah pecah juga”. Atau pada kasus sampah yang dibuang sembarangan. Awalnya satu kemasan kacang pilus yang tidak enak itu tergeletak, lalu karena kondisi psikologis jendela rusak, makin lama makin lumrahlah tumpukan kemasan kacang pilus. Kadang disertai kemasan teh di dalam gelas yang tidak enak juga rasanya.

Atau dalam cerita ini. Ketika orang-orang menjebakkan dirinya di dalam rantai panjang kendaraan, para pengemudi tidak mau berhenti sekedar mempersilahkan motor bebek lewat atau mobil LCGC menyeberangi mobil kita yang sebenarnya ketika kita maju pun tidak akan ke mana-mana, atau sekedar menunggu beberapa detik ketika berpapasan di jalan sempit agar kita tidak berselisihan dan lalu tersangkut bersama di bagian paling sempit dari jalannya. Dengan prinsip “ah sudah kacau juga”, kami sering maju tanpa otak, tunjang, dan asam padeh. Atau saat saya sempat dengan sekilas berpikir jahat, “seseorang akan membetulkan keramaian ini dan jendela-jendela pecah di dalamnya.” Banyak hal memang harus dialami baru dapat dimengerti. Dan banyak hal baru dipahami setelah ada lecet horizontal memanjang di sebelah kanan kendaraan.

Mobil di depan memberi tanda lampu kanan dan mobil yang di dalamnya berisi saya memberi tanda yang sama. Kami maju dengan pasukan di belakang yang sama-sama egois. Egois ketika salah satu anggota pasukan mengalami henti jantung lalu menabrak trotoar, maka itu adalah tontonan yang menarik bagi kawanan yang tidak tahu teknik resusitasi jantung paru. Beberapa juga bingung di bagian belakang pasukan karena adanya kemacetan, padahal sedang terburu-buru mengejar kelas jam 7 tentang resusitasi jantung paru.

Pengemudi itu maju. Penyiar radio yang bahagia tiap pagi itu berceloteh dan tertawa-tawa karena lampu-lampu sen yang menyala tadi sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Saya mengecilkan suara mereka dan menunggu selama beberapa detik. Puluhan detik. Lalu ratusan detik yang diikuti puluhan nyaring klakson dan ribuan rasa panik.

Saya sedang tidak dikejar apa-apa kecuali kepastian tentang masa depan. Belum cuci muka, apalagi mandi biar terlihat lebih tampan. Mungkin satu dari banyak momen yang mana saya dinilai dari rambut mencuat dan pakaian tidur kumal, bukan dari perbuatan yang dilakukan seseorang di balik pakaian tidur kaos panitia yang terkenal.

Di saat-saat kacau, diam adalah hal paling buruk yang bisa dilakukan. Saya sering diam. Baiklah tentu tidak sedikotomi itu jika ingin membela diri. Lagi pula, konon kata Ibu, kelembaman itu nyata adanya. Bahwa seseorang bergerak dengan kecepatan tetap hingga ada gaya yang menyebabkannya mengubah kecepatan atau arahnya. Didorong rute ke rumah makan, arah penasaran, kecepatan jatuh cinta, dorongan kebaikan yang murni, dan macam-macam bentuk dopamin yang semoga tidak dinamai munafik.  Apa lagi pada orang-orang yang jauh lebih dewasa, yang secara fisik pun otot-ototnya sudah lebih malas sekaligus sombong karena mengaku sudah lebih banyak jalan-jalan dan banting tulang ayam untuk makan opor sama anak-anaknya di hari lebaran. Kasihan. Jika nanti semua orang pada akhirnya hanya berbicara pada pohon.

Saya turun dari mobil. Menuntun perlahan-lahan para pengemudi dengan kelembaman tinggi yang sangat kasihan karena ditekan rutinitas dan dorongan kebaikan yang murni untuk anak-anak yang sama yang waktu itu makan opor di hari lebaran. Berbeda dengan saya yang turun dari mobil, belum punya rutinitas, anak-anak, uang, opor, hak untuk berkata “saya sudah mandi”, dorongan kebaikan, mobil dengan asuransi, dan sandal kain yang sudah dicuci. Paling tidak saya punya Ibu di rumah pagi itu dan semoga seterusnya, yang bertanya-tanya kenapa pagi ini agak lebih lama pulangnya. Juga punya teman yang semoga tidak akan pernah senewen di kursi sebelah kiri mobil ketika ada situasi seperti ini. Beda lagi ceritanya kalau kita nanti main rumah-rumahan di negara setir kiri dan musim panas sounds good. Kalau begitu ceritanya jadi teman tidak pernah senewen di kursi sebelah kanan mobil.

Belum ada yang turun lagi. Ada pengemudi motor yang marah. Mungkin ia marah karena sedang bermasalah dengan orang-orang penting di hidupnya. Lalu ada pemuda ganteng kalem dengan kacamata yang kalau kena matahari akan berubah jadi coklat. Sama seperti kulitnya jika kebanyakan dijemur akan jadi coklat eksotis kalau kata penggiat lifestyle. Dia hanya tersenyum santai dan berterima kasih namun tidak turun dari mobil gantengnya. Seperti saya dulu yang sudah lega ketika melihat ada orang yang mengatur keruwetan dan kebetulan dikejar oleh batas waktu cap jari pukul 8 pagi. Ada pengemudi mobil tua yang hebat sekali pendingin udaranya belum rusak karena ia menutup rapat-rapat jendelanya. Untung saja mau mundur sedikit membuka jalan karena jika tidak mungkin tangan saya bisa jadi alat pembuat pendingin udara manual menembus sembilan dimensi, selapis kaca film, sekaligus tiga kali pengadilan.

Lalu ada pengemudi panik yang turun lalu masuk lagi ke singgasana jok kulit dan dialuni musik jazz yang tidak tahu judulnya. Lalu ada pengemudi tua yang membantu mengibar-ngibarkan tangan dan semangat 45nya. Lalu ada pria 35 tahun yang mungkin sudah 40 tahun tapi terlihat 47 tahun karena hidupnya serius sekali dan mengetuk pintu warga untuk memindahkan mobil yang diparkir depan jalan. “Bukan mobil saya pak, mungkin rumah depan.” Bukan salah saya juga kalau di siang hari ternyata mobil rumah depan itu jadi mobil dia. Lalu ada saya yang bentuknya sudah diceritakan, watak sombongnya juga sudah kentara, namun hari itu sedang berbaik hati karena diberikan rasa lapang dada dan lapang sintetis dari kenikmatan duniawi yang non-futsal. Lalu ada seorang baik yang turun dari mobilnya. Lalu dua orang baik menambah beberapa orang baik yang sudah turun duluan. Saya tidak baik, hanya orang riya yang punya banyak waktu luang dengan rasa bersalah karena mengkhianati teman.

Jalanan kembali lancar. Saya tidak akan terlambat sampai ke rumah. Mungkin mereka yang marah dan kesal dan tersenyum dan kram betis dan sebagainya ada yang terlambat sampai ke tujuannya.

Tapi semoga kami semua jadi tahu. Bertolak pinggang hanya menghilangkan sedikit pegal.

Gelombang Gravitasi

Rainer Weiss, Kip S Thorne, dan Barry C Barish masing-masing berusia 85, 77, dan 81 tahun ketika mereka meraih penghargaan paling prestisius di muka bumi dan muka mereka. Nobel fisika yang keajaibannya tiap tahun hanya bertambah ajaib tanpa mengurangi keajaiban-keajaiban sebelumnya.

Saya belum mencari tahu seperti apa wajah mereka yang telah mengeluarkan teorema tentang gelombang gravitasi, atau bahkan mungkin mereka sebenarnya tidak membuat formulasi dan teori, tetapi bekerja sebagai pembuat alat pendeteksi gelombang gravitasi, yang notabene pasti memerlukan berbagai macam formulasi dan pengejawantahan matematis. Saya tidak paham. Saya juga tidak tahu jika mungkin ternyata mereka sudah meninggal saat hadiah Nobel 2017 diumumkan dan nama merekalah sebagai pemenangnya.

Saya tidak tahu apakah mereka bertiga berteman baik. Saya tidak tahu jika mereka pernah bertengkar saat mengajukan argumen dan hal-hal yang sama sekali tidak berbau Nobel seperti kopi yang kebanyakan gula atau salah satu dari mereka datang terlambat sehingga membuat kopi yang kebanyakan gula itu tidak terminum karena mereka yang sudah sangat tua tidak mau minum kopi duluan tanpa sahabat fisikawan yang terlambat karena kunci sepedanya lupa disimpan di mana. Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya gambaran romantisasi para peneliti di film yang memberikan gambaran salah pada anak muda di seluruh dunia bahwa ilmuwan punya kantor dan mesin-mesin besar dan rekan kerja yang berbicara di belakang.

Mereka mungkin berpelukan lalu mengundang anggota keluarga masing-masing yang belum meninggal karena komplikasi diabetes dan berharap cucu-cucu mereka yang mampu berkuliah tanpa hutang ke negara bisa datang, juga cucu-cucu yang tidak sepintar itu namun masih bisa diatur untuk acara makan-makan keluarga kakek fisikawan yang nanti melunasi tagihan kalkun dengan hadiah Nobel yang besarnya ratusan ribu mata uang entah apa. Saya banyak tidak tahu. Yang saya tahu para peraih Nobel tidak materialistis dan meributkan biaya transfer antar bank yang besarnya 6500 rupiah.

Mereka mungkin lolos dari berbagai lubang hitam di masa muda. Dengan kebetulan atau dengan keajaiban dan usaha setengah mampus, mereka bisa hidup sejauh itu dan membuat pilihan-pilihan yang syukurnya tidak berujung sial-sial amat. Saya sendiri tidak tahu. Masih elektromagnetik. Gelombang gravitasi bisa lolos dari lubang hitam menembus lengkung ruang dan waktu dan pilihan dan belokan dan lalu tiba menabrak entah di sudut rumah yang mana. Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa sekarang lebih banyak lagi ilmu pengetahuan yang saya tidak tahu dan meskipun kemungkinan manusia bisa piknik ke planet sebelah makin besar, tapi kemungkinan saya pun sekaligus makin kecil.

Mereka mungkin merasa bangga sekali atas pencapaian mereka, lalu makin bersemangat untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa yang punya akun Instagram namun nanti juga punya laman Wikipedia dengan kolom peraihan: Nobel fisika 2042. Saya tidak tahu. Yang saya tahu mereka sangat produktif dan tidak ikut-ikutan voting di bilik suara negara saya ataupun di kotak IG Story teman-teman saya.

Nanti saya akan berusia 82 tahun, itu pun jika belum tewas sengsara karena nyeri pinggang atau kesedihan akibat istri yang berangkat duluan karena komplikasi hipertiroid, mungkin saya akan tidur nyenyak jika nama saya dinobatkan sebagai pemenang Nobel perdamaian, sastra, atau kedokteran.
Nanti mungkin saya yang sudah menjadi gelombang gravitasi bisa tetap bangun dan hidup sehat dengan sepatu Nike hijau-kuning muda yang dijaga terus agar tidak lapuk, karena sudah terlalu banyak yang lapuk bekas jogging via lubang hitam yang bikin masuk angin.

Atau mungkin saya masih tidak tahu.
Atau mungkin saya akan sangat sedih, berharap istri dan orang tua dan sahabat saya belum pergi, karena mereka pasti sujud syukur dan melihat saya dengan penuh kasih, karena beberapa hal memang mustahil terjadi. Seperti cerita peraihan Nobel atau sekedar hidup sampai presiden berganti ke 11 kalinya. Mungkin anak atau cucu saya yang semoga tidak kurang ajar dan nakal masih mau berkunjung membawakan DVD edisi kolektor film drama musikal tahun 2016 lalu menonton dengan bapak dan kakeknya yang pemenang hadiah Nobel tapi masih suka sekali film warna-warni bernyanyi-nyanyi dari 60 tahun yang lalu.

Atau mungkin saya hanya merasa puas lalu tidak melakukan apa-apa lagi. Karena tidak mau apa-apa lagi. Tidak mau lagi mengajar karena akan mengingatkan saya pada masa lalu yang penuh semangat dan impian bersama istri. Pada impian mustahil tentang membangun sekolah dari hadiah uang Nobel yang jika dirupiahkan bisa membangun 37 SD akreditasi A gedung kecil sekaligus staf-stafnya yang harus pintar-pintar. Pada impian-impian berharga yang tidak ada gunanya jika dilakukan sendiri. Pada impian luar biasa yang tidak lengkap jika tidak ada orang tua yang akan melihat lalu bangga dan memeluk saya dengan erat. Lagi-lagi yang menjadi pembeda antara saya dan para kaum peraih.

Saya memang tidak tahu. Belum lagi 21 tahun pun. Juga 24.

Reuni Mahardika

Ini adalah respon atas tulisan dan keadaan problematikmu kemarin.

Kami bertemu di Cihampelas setelah maghrib. Sejujurnya saya tidak siap untuk bertemu hanya berdua saja dengannya. Mungkin karena saya belum cukup pandai merengkuh keheningan di antara pembicaraan dan berbasa-basi. Mungkin karena saya sedang marah. Saya selalu marah.

“Boleh ga ini pembicaraan untuk di atas jam 10 aja?”

Dia di gambaran saya adalah orang yang berbeda. Menyimpulkan bahwa saya memang tidak pernah sebenar-benarnya memasuki pikiran dan segala gesturnya dulu. Meski kami pernah sedekat itu; liburan keluarga bersama, 12 orang pertama yang membangun sekolah dasar kami, mandi bersama, mempertengkarkan hal-hal kecil karena kecemburuan, dan krisis-krisis anak kecil yang saat itu terasa sangat penting. Kami sudah sangat berbeda. Dari tinggi badan hingga pemikiran. Dari suara omongan dan juga dandanan. Baru. Tapi tidak asing.

Tidak semua orang cepat panas dan senang diserang sehingga saya menghentikan obrolan dan akhirnya bisa bertemu dengan teman baik yang satu lagi.

Piring-piring kotor dan botol kosong terbentang di antara kami bertiga. Saya yang lepas darinya hampir selama 10 tahun ini diserang rasa penasaran yang pedas.

Saya tidak tahu apa yang merubahnya. Berapa kali ia menangis selama 5 tahun kuliah. Kenapa memutuskan untuk berkarir seperti orang tua kami. Siapa saja yang telah menyakiti hatinya dan menginspirasinya. Bagaimana kabar Bude Rini yang asma dan juga obat-obatannya yang dulu sangat mahal. Saya hanya memandangnya lekat-lekat orang yang dulu memanggil saya dengan panggilan “abang”. Dan kini yang keluar dari pikirannya adalah “Lo kenapa deket banget sama dia, meski seperti pelayanan satu arah.” Seraya saya menuangkan Ginger Ale ke gelas teman di sebelah saya dan menggeser lilin ke arahnya. Kami memang punya peran masing-masing.

Teman di sebelah saya bertanya padanya apakah dia punya adik atau kakak. Sekedar memastikan. Saya mewakilinya dengan kata-kata dari sinetron Aladin bahwa maka dari itu anak adalah investasi paling berharga. Kadang bukan diri sendiri. Dan Ramadhan tidak lagi semagis waktu kita masih kecil.

“Gue nulis duluan itu. Hak cipta atas kekayaan intelektual yang sangat umum. Jangan ngaku-ngaku ramadhan milik sendiri.”

Saya memang menyalahkan diri sendiri atas ide umum yang tidak ditulis duluan sehingga harus seakan berebut pemikiran di antara pecahan tulang ayam.

Teman yang kini menenggak Ginger Ale tawar karena kebanyakan es yang dituang tadi memang sudah tidak menulis lagi. Dia mengaku tidak banyak membaca, tapi ia membaca. Beberapa ucapannya bertransformasi menjadi manusia di kiri dan kanannya kemarin yang sedikit banyak menubuhkan kata-katanya dalam layar digital. Lagi-lagi tentang menilai seseorang. Saya tidak menilai seperti apa dia atas masa lalu yang kita lalui bersama. Atau keluarga dan hal-hal yang dia lakukan sekarang.  Atau tulisan dan persona dalam baris-baris teks yang menggelitik. Atau buku-buku yang dulu kita saling tukar dan diskusikan sesanggupnya.

Dia sadar dan bersyukur atas kesehariannya dulu di sekolah dasar bau krayon dan kotoran kuda. Sekolah kami tidak merubah kami saat itu, tapi ketika kami mengambil beberapa langkah ke belakang, lalu mengulik detail yang terlupakan, maka revelasi dan kebijaksanaan lah yang muncul dari masa-masa singkat penuh persiapan assembly dan lomba sepak bola yang tidak pernah dimenangkan.

Meski tiap bulan puasa, kami bertemu saat suara-suara kecil setiap orang teredam amukannya oleh bising dunia karir luar negeri dan konsep penerbangan teranyar. Baru kali ini suara-suara kecil saling menyerang dan mempertanyakan alasan-alasan di balik pakaian yang kita pakai. Pertemuan kemarin dengan dia, terutama perlintasan dengan salah satu teman tersayang saya yang lebih jauh, adalah bel yang sangat keras. Mengingatkan bahwa dunia lebih menggerahkan dari sofa kontrakan, untuk bangkit namun tidak lupa mengecilkan diri di hadapan kerumunan bukit-bukit padat berlian.

“Ketemu lagi? Minggu? Senin? Nanti kita ga punya cerita lagi sih.”

Harga suatu komoditas melonjak ketika suplai tidak seimbang dengan kebutuhan. Saya punya kebutuhan yang banyak, mungkin beberapa hal tidak akan turun harganya. Namun minggu dan senin akan terasa seperti jersey Thailand kualitas tinggi yang tetap saja dari Thailand. Batas, akan orang-orang berharga yang memukul-mukul tiang listrik. Juga harga pengharapan saya atas teman tersayang di sana, yang sebabnya lah tulisan ini ditulis.

Dia tidak lagi hilang. Dia pulang hanya beberapa belas menit setelah jam 10 namun semua pertanyaan cukup menemukan tempatnya. Kami telah meredakan amarah-amarah masa lalu yang tidak pernah sadar bahwa ia selalu ada. Kami telah saling berkunjung.